Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Berapa lama kita akan berada di rumah Charlie?” tanya Jacob, menginterupsi pikiranku. Ia terlihat rileks ketika mobil meninggalkan rumah dan seluruh penghuni barunya. Membuatku bahagia bahwa ia tidak benar-benar menganggapku vampir. Bagi Jacob, aku tetap Bella.

“Lumayan lama, sebenarnya.”

Nada suaraku menarik perhatian Jacob.

“Memangnya ada urusan lain selain mengunjungi ayahmu?”

“Jake, kau tahu caranya mengendalikan pikiranmu di sekitar Edward?”

Jacob mengangkat alisnya yang hitam tebal. “Yeah?”

Aku hanya mengangguk, melirik Renesmee. Ia sedang memandang ke luar jendela, dan aku tak tahu seberapa tertarik dirinya dengan percakapan kami, tapi aku memutuskan untuk tidak mengambil risiko dengan berbicara lebih jauh.

Jacob menungguku mengatakan hal lain, tapi kemudian bibir bawahnya mencebik memikirkan perkataanku yang sedikit tadi.

Sementara kami melaju dalam keheningan, aku menyipitkan mata melalui lensa kontak yang menjengkelkan ini untuk bisa menembus hujan yang dingin; cuaca belum cukup dingin untuk salju. Mataku tidak semengerikan pada awalnya—jelas lebih mendekati Jingga kemerahan pudar daripada merah darah cemerlang. Sebentar lagi warnanya akan berubah jadi kekuningan hingga aku tak perlu lagi mengenakan lensa kontak. Aku berharap perubahan itu tidak akan terlalu membuat Charlie panik.

Jacob masih sibuk memikirkan percakapan kami yang sepotong tadi waktu kami tiba di rumah Charlie. Kami tidak berbicara saat berjalan dengan langkah-langkah cepat layaknya manusia menembus hujan. Ayahku sudah menunggu; ia membukakan pintu sebelum aku sempat mengetuk,

“Hei, anak-anak! Rasanya sudah bertahun-tahun tidak ketemu! Coba lihat kau, Nessie! Mari sini, Grandpa gendong! Sumpah, kau tambah tinggi 25 senti! Dan kau kelihatan kurus, Ness.” Charlie memandang garang padaku. “Memangnya kau tidak diberi makan ya di sana?”

“Itu hanya karena dia cepat sekali bertumbuh,” gumamku. “Hai, Sue.” Aku berseru ke balik bahu Charlie. Aroma ayam, tomat, bawang putih, dan keju merebak dari dapur; mungkin bagi orang lain baunya sangat lezar. Sementara bagiku baunya seperti pinus segar dan gabus pengganjal.

Renesmee tersenyum memamerkan lesung pipinya. Ia tidak pernah berbicara di depan Charlie.

“Well, masuklah, jangan berdingin-dingin di luar, anak-anak. Mana menantuku?”

“Sedang menemani para tamu,” jawab Jacob, kemudian mendengus. “Kau sangat beruntung tidak perlu berada di sana, Charlie, Hanya itu yang akan kukatakan.”

Kutinju pinggang Jacob pelan sementara Charlie meringis.

“Aduh,” keluh Jacob pelan; well, kusangka aku meninjunya dengan pelan.

“Sebenarnya, Charlie, aku harus mengurus beberapa hal.”

“Terlambat belanja hadiah Natal ya, Betis? Kau hanya punya waktu beberapa hari lho.”

“Yeah, belanja hadiah Natal,” jawabku asal. Pantas saja ada bau gabus pengganjal. Charlie pasti sudah memasang dekorasi Natal lama.

“Jangan khawatir, Nessie,” bisik Charlie di telinganya. “Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu, untuk berjaga-jaga kalau ibumu lupa.”

Aku memurar bola mataku padanya, tapi terus terang, aku sama sekali tidak berpikir tentang Natal.

“Makan siang sudah siap di meja,” Sue berseru dari dapur. “Ayo, semua,”

“Sampai nanti, Dad,” aku berpamitan, lalu melirik Jacob sekilas. Walaupun ia tak bisa tidak memikirkan hal ini saat berdekatan dengan Edward nanti, setidaknya tak banyak yang bisa ia ceritakan padanya. Ia tidak tahu apa yang akan kulakukan.

Tenru saja, pikirku dalam hati saat naik ke mobil, sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu.

Jalanan licin dan gelap, tapi menyetir tak lagi membuatku takut. Refleksku jadi sangat bagus dalam mengemudi, dan aku tak perlu terlalu memerhatikan jalan. Yang menjadi persoalan adalah menjaga agar kecepatanku tidak menarik perhatian bila aku sedang bersama orang lain. Aku ingin menyelesaikan misi hari ini, menuntaskan misteri itu sehingga bisa kembali ke tugas utamaku untuk belajar. Belajar melindungi beberapa hal, belajar membunuh yang lain.

Semakin lama aku semakin pintar mengendalikan perisaiku. Kate tak merasa perlu memotivasiku lagi—tidak sulit menemukan alasan untuk marah, setelah sekarang aku tahu itulah kuncinya—jadi aku lebih sering berlatih dengan Zafrina.

Ia senang melihatku bisa memperluas area perlindunganku; aku bisa melingkupi area seluas tiga puluh meter selama lebih dari satu menit, walaupun itu membuatku letih. Tadi pagi ia berusaha mencari tahu apakah aku bisa menepiskan perisai itu dari pikiranku sepenuhnya. Aku tidak melihat kegunaannya, tapi menurut Zafrina, itu akan membantu menguatkanku, seperti melatih otot-otot perut dan punggung, bukan sekadar otot lengan. Pada akhirnya kau bisa mengangkat beban yang lebih berat kalau otot-ototmu lebih kuat.

Aku tak pandai melakukannya. Aku hanya sempat melihat sekilas sungai dalam hutan yang coba ditunjukkan Zafrina padaku.

Tapi ada beberapa cara untuk bersiap menghadapi apa yang sebentar lagi akan terjadi, dan dengan hanya dua minggu tersisa, aku khawatir jangan-jangan aku telah mengabaikan hal terpenting. Hari ini aku akan memperbaiki kelalaian itu.

Aku sudah menghafal petanya, dan aku tidak mendapat kesulitan menemukan alamat yang tidak ada di Internet, yaitu alamat J. Jenks. Langkah berikut adalah mendatangi Jason Jenks di alamat yang lain, yang tidak diberikan Alice padaku.

Mengatakan itu bukan lingkungan yang baik rasanya kurang tepat. Mobil keluarga Cullen yang paling sederhana sekalipun akan tetap terlihat mencolok di jalanan ini. Chevy tuaku akan terlihat sehat di sini. Jika masih menjadi manusia, aku pasti akan mengunci semua pintu dan tancap gas secepat mungkin bila melintasi kawasan ini. Namun sekarang aku justru sedikit takjub. Aku mencoba membayangkan Alice datang ke tempat ini untuk alasan apa pun, tapi gagal.

Bangunan-bangunannya—semua berlantai tiga, semua sempit, semua agak miring seperti membungkukkan badan diterpa hujan—sebagian besar berupa rumah tua yang dibagi-bagi menjadi beberapa apartemen. Sulit mengenali warna bangunan itu karena catnya sudah mengelupas. Semua sudah memudar menjadi berbagai nuansa kelabu. Beberapa bangunan lantai dasarnya dijadikan tempat usaha: bar kotor dengan jendelajendela dicat hitam, toko perlengkapan paranormal lengkap dengan gambar tangan dan kartu tarot dari lampu neon yang menyala, salon tato, dan tempat penitipan anak yang kaca jendela depannya pecah dan direkatkan kembali dengan lakban. Tak ada lampu sama sekali di bagian dalam ruangan-ruangan itu, walaupun di luar suasana cukup muram sehingga manusia seharusnya membutuhkan lampu. Aku bisa mendengar suara-suara gumaman pelan di kejauhan; kedengarannya seperti suara TV.

Ada beberapa orang di sekitar situ, dua tersaruk-saruk menembus hujan menuju arah berlawanan, satu duduk di teras pendek kantor pengacara murahan, membaca koran yang basah sambil bersiul-siul. Suaranya terlalu ceria untuk lingkungan yang muram itu.

Saking takjubnya melihat orang yang bersiul-siul riang itu, awalnya aku tak menyadari bahwa bangunan terbengkalai iru adalah alamar tempat yang kucari seharusnya berada. Tak ada nomor di bangunan bobrok itu, tapi salon tato yang terletak persis di sebelahnya hanya berbeda dua nomor dari alamat yang kucari.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.