Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Kedua vampir di depan pintu bertubuh kecil dan pendek, yang satu berambut gelap dan lainnya pirang yang sangat kelabu hingga nyaris terlihat abu-abu pucat. Kulit mereka juga tipis dan transparan seperti kulit keluarga Volturi, walaupun tidak terlalu kentara. Aku tak bisa memastikan; karena aku tak pernah melihat keluarga Volturi kecuali dengan mata manusiaku; aku tak bisa membandingkannya dengan sempurna. Mata mereka yang tajam dan sipit berwarna merah keunguan gelap, tanpa selaput putih bagai susu. Mereka mengenakan pakaian hitam yang terkesan modern tapi modelnya kuno.

Vampir yang berambut gelap menyeringai begitu aku muncul. “Well, well, Carlisle. Ternyata kau memang nakal, ya?”

“Dia bukan seperti yang kaukira, Stefan.”

“Dan kami tak peduli,” balas si pirang. “Seperti yang kami katakan sebelumnya”

“Kalau begitu kau bebas mengobservasi, Vladimir, tapi jelas kami tidak menentang keluarga Volturi, seperti yang kami katakan sebelumnya.”

“Kalau begitu, kami akan pasrah saja” Stefan memulai.

“Dan berharap kami beruntung,” Vladimir menyelesaikan.

Pada akhirnya kami berhasil mengumpulkan tujuh belas saksi—kelompok Irlandia, Siobhan, Liam, dan Maggie; kelompok Mesir, Amun, Kebi, Benjamín, dan Tia; kelompok

Amazon, Zafrina dan Senna; kelompok Rumania, Vladimir dan Stefan; serta kaum

nomaden, Charlotte, Peter, Garrett, Alistair, Marjl dan Randall—untuk melengkapi kesebelas anggota keluarga kami. Tanya, Kate, Eleazar, dan Carmen bersikeras dianggap sebagai bagian keluarga kami.

Selain keluarga Volturi, ini mungkin perkumpulan vampit dewasa terbesar yang bertemu dalam damai sepanjang sejarah makhluk imortal.

Kami semua mulai merasa memiliki sedikit harapan. Bahkan aku pun merasa begitu. Renesmee telah merebut hati begitu banyak orang dalam waktu sangat singkat. Keluarga Volturi hanya perlu mendengarkan tak sampai satu detik…

Dua anggota kelompok Rumania yang masih tersisa—terfokus hanya pada kebencian pahit mereka pada vampir-vampir yang telah menggulingkan kerajaan mereka seribu lima ratus tahun yang lalu—menyambut semuanya dengan gembira. Mereka tidak mau menyentuh Renesmee, tapi juga tidak menunjukkan sikap tidak suka padanya. Diamdiam mereka sepertinya senang melihar persekutuan kami dengan para werewolf. Mereka menontonku melatih perisaiku dengan Z.ifrina dan Kate, menonton Edward menjawab pertanyaan-Pertanyaan yang tidak diucapkan, menonton Benjamin menarik air mancur panas dari dalam sungai atau membuat embusan angin tajam dari udara yang tak bergerak hanya dengan pikirannya, dan mata mereka berkilat-kilat garang oleh harapan bahwa keluarga Volturi akhirnya menemukan lawan sepadan.

Meski tidak mengharapkan hal yang sama, tapi kami semua berharap.

33. PEMALSUAN

“CHARLIE, di rumah sekarang masih banyak tamu dan situasinya masih hanya yang perlu diketahui. Aku tahu sudah lebih dari seminggu Dad tidak bertemu Renesmee, tapi Dad belum bisa berkunjung ke sini sekarang. Bagaimana kalau aku saja yang membawa Renesmee menemui Dad?”

Charlie terdiam lama sekali sampai-sampai aku penasaran apakah ia mendengar ketegangan di balik suaraku.

Tapi kemudian ia menggerutu, “Hanya yang perlu diketahui, ugh,” dan sadarlah aku sikap antipatinya pada hal-hal supranatural-lah yang membuatnya lamban merespons.

“Oke, Nak,” sahut Charlie. “Bisakah kaubawa dia kemari pagi ini? Sue membawakan makan siang untukku. Dia sama ngerinya dengan masakanku seperti kau waktu pertama kali ke sini.”

Charlie tertawa dan mengembuskan napas mengenang masa lalu.

“Pagi ini akan sempurna.” Semakin cepat semakin baik. Aku sudah menundanya terlalu lama.

“Jake nanti ikut dengan kalian?”

Walaupun Charlie tak tahu apa-apa soal imprint tvercwolf, siapa pun bisa melihat kedekatan Jacob dan Renesmee.

“Mungkin.” Tak mungkin Jacob rela melewatkan siang bersama Renesmee tanpa para pengisap darah.

“Mungkin sebaiknya aku mengundang Billy juga,” Charlie berpikir-pikir. “Tapi… hmmm. Mungkin lain kali.”

Aku tidak begitu memerhatikan Charlie—tapi cukup untuk menyadari keengganan aneh dalam suaranya saat ia berbicara tentang Billy, tapi tidak cukup untuk mengkhawatirkan itu. Charlie dan Billy sudah dewasa; kalau ada apa-apa di antara mereka, mereka bisa membereskannya sendiri. Masih banyak hal penting lain yang perlu kupikirkan.

“Sampai ketemu nanti,” kataku, lalu menutup telepon.

Kepergianku ke sana lebih dari sekadar melindungi ayahku dari 27 vampir aneh— yang semua sudah bersumpah takkan membunuh siapa pun dalam radius tiga ratus mil, tapi tetap saja… Jelas tak boleh ada manusia di dekat-dekat kelompok ini. Itu alasan yang kuberikan pada Edward: membawa Renesmee ke Charlie supaya ia tidak memutuskan untuk datang ke sini. Alasan yang bagus untuk meninggalkan rumah, tapi bukan alasanku sesungguhnya.

“Mengapa kita tidak membawa Ferrari-mu saja?” protes Jacob waktu ia bertemu denganku di garasi. Aku sudah siap di Volvo milik Edward bersama Renesmee.

Edward sudah menunjukkan padaku mobil sesudahku; dan seperti telah diduga, aku tak mampu menunjukkan antusiasme yang tepat. Tentu saja mobilnya cantik dan jago ngebut, tapi aku lebih suka berlari*

“Terlalu mencolok,” jawabku. “Kita bisa jalan kaki, tapi itu akan membuat Charlie ngeri.”

Jacob menggerutu, tapi masuk juga ke jok depan. Renesmee merangkak dari pangkuanku ke pangkuannya,

“Bagaimana kabarmu?” aku bertanya padanya sambil mengeluarkan mobil dari garasi.

“Menurutmu bagaimana?” balas Jacob ketus, “Aku sudah muak dengan semua pengisap darah bau ini.” Ia melihat ekspresiku dan buru-buru bicara sebelum aku bisa menjawab. “Yeah, aku tahu, aku tahu. Mereka baik, mereka datang ke sini untuk membantu, mereka akan menyelamatkan kita semua. Bla bla bla, bla bla bla. Kau boleh bicara apa saja, tapi aku tetap menganggap Drakula Satu dan Drakula Dua bikin bulu kuduk merinding.”

Mau tak mau aku tersenyum. Kelompok Rumania juga bukan tamu favoritku. “Aku sependapat denganmu dalam hal itu.”

Renesmee menggeleng tapi tidak mengatakan apa-apa; tidak seperti kami yang lain, ia justru menganggap kelompok Rumania aneh rapi menarik. Ia berusaha mengajak mereka bicara karena mereka tak mau menyentuhnya. Renesmee menanyakan kulit mereka yang tidak biasa dan, walaupun takut mereka tersinggung, aku senang juga ia bertanya. Soalnya aku juga ingin tahu.

Sepertinya mereka tidak tersinggung oleh ketertarikan Renesmee. Mungkin hanya sedikit sebal.

“Kami duduk diam lama sekali, anakku,” jawab Vladimir, bersama Stefan yang mengangguk-angguk tapi tidak melanjutkan kalimat-kalimat Vladimir seperti yang sering ia lakukan. “Merenungkan kedewaan kami. Itu pertanda kami memiliki kuasa, bahwa segala sesuatu mendatangi kami. Buruan, diplomat, mereka yang membutuhkan bantuan kami. Kami duduk di singgasana dan menganggap diri dewa. Untuk waktu lama kami tidak menyadari bahwa kami berubah—hampir membatu. Kurasa keluarga Volturi berbuat baik pada kami waktu membakar kastil kami. Setidaknya Stefan dan aku tidak terus membatu. Sekarang mata keluarga Volturi diselubungi kabut kebejatan, tapi mata kami tetap jernih. Kubayangkan, kami jadi lebih berpeluang mencungkil mata mereka dari rongganya.”

Aku berusaha menjauhkan Renesmee dari mereka sesudah itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.