Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Jangan ada yang panik,'” Zafrina mengingatkan kelompok kecil yang sedang menontonku. “Aku ingin melihat seberapa jauh Bella bisa mengembangkan perisainya.”

Terdengar suara-suara terkesiap sbock dari semua orang di sana—Eleazar, Carmen, Tanya, Garrett, Benjamin, Tia, Siobhan, Maggie—semua kecuali Senna, yang sepertinya sudah siap menerima apa pun yang akan dilakukan Zafrina. Mata mereka kosong, ekspresi mereka cemas.

“Angkat tangan kalau sudah bisa melihat lagi” Zarrina memerintahkan. “Sekarang, Bella. Kita lihat berapa banyak yang bisa kautamengi.”

Napasku memburu. Kate berada paling dekat denganku selain Edward dan Renesmee, tapi bahkan dia jauhnya tiga meter dariku. Aku mengunci rahang dan mendorong sekuat i r naga, berusaha mendorong perisai pelindung yang berat itu m-makin jauh dariku. Senti demi senti aku mengarahkannya pada Kate, melawan reaksi dorongan balik dengan setiap bagian yang berhasil kuperoleh. Aku hanya memandangi ekspresi cemas Kate sambil berusaha, dan aku mengerang pelan Lirena lega ketika matanya mengerjap dan kembali terfokus, l.I mengangkat tangan.

“Hebat sekali!” gumam Edward pelan. “Seperti cermin satu arah» Aku bisa membaca semua yang mereka pikirkan, tapi mereka tidak bisa meraihku di baliknya. Dan aku bisa mendengar Renesmee, walaupun aku tidak bisa melakukannya bila aku berada di luar. Berani bertaruh, Kate pasti bisa menyetrumku sekarang, karena dia juga berada di bawah perisai. Tapi aku tetap tak bisa mendengar pikiranmu.,, hmmmm. Bagaimana cara kerjanya, ya? Aku jadi penasaran apakah…”

Edward terus bergumam sendiri, tapi aku tak bisa mendengar kata-katanya. Aku mengenakkan gigi, berjuang keras mengulurkan perisaiku ke Garrett, yang berada paling dekat dengan Kate. Tangannya terangkat.

“Bagus sekali,” Zafrina memujiku. “Sekarang…”

Tapi ia berbicara terlalu cepat; dengan terkesiap kaget aku merasakan perisaiku meloncat seperti karet gelang yang diregangkan terlalu jauh, mengentak, dan kembali ke bentuk aslinya. Renesmee, mengalami untuk pertama kalinya kebutaan yang ditimbulkan Zafrina pada yang lain-lain, gemetar dx punggungku. Dengan letih aku melawan tarikan elastis itu, berusaha keras agar perisai itu menyelubunginya lagi.

“Boleh minta waktu sebentar?” aku terengah-engah. Sejak menjadi vampir, aku tak pernah merasakan kebutuhan untuk beristirahat sekali pun sebelum ini. Sangat aneh bagaimana aku bisa merasa begitu lelah, tapi juga begitu kuat pada saat yang sama.

“Tentu saja” jawab Zafrina, dan para penonton kembali rileks setelah ia membuat

mereka bisa melihat lagi.

“Kate,” seru Garrett ketika yang lain-lain bergumam dan beringsut sedikit menjauh, merasa terganggu oleh kebutaan sesaat tadi; vampir tidak terbiasa merasa rapuh. Garrett yang jangkung dan berambut cokelat pasir adalah satu-satunya makhluk imortal tak berbakat yang sepertinya tertarik pada sesi-sesi latihanku. Aku penasaran apa gerangan yang menarik minat sang advonturir.

“Aku tidak akan berbuat begitu, Garrett,” Edward mewanti-wanti.

Garrett terus maju menghampiri Kate, walaupun sudah diperingatkan, bibirnya mengerucut berspekulasi, “Mereka bilang kau bisa membuat vampir terjengkang.”

“Benar,” Kate membenarkan. Kemudian, dengan senyum licik ia menggoyanggoyangkan jarinya dengan gaya bercanda, “Ingin tahui1”

Garrett mengangkat bahu, “Itu sesuatu yang belum pernah kulihat. Sepertinya itu sedikit melebih-lebihkan»,”

“Mungkin,” ujar Kate, wajahnya tiba-tiba serius. “Mungkin itu hanya bisa memengaruhi vampir lemah arau muda, lintahlah. Tapi kau kelihatan kuat. Mungkin kau sanggup menahan bakatku.” Ia mengulurkan tangan kepada Garrett, telapak tangan ditengadahkan—jelas merupakan undangan. Bibirnya berkedut-kedut, dan aku sangat yakin ekspresi muramnya merupakan upaya untuk mengelabui Garret,

Garrett nyengir ditantang seperti itu. Dengan penuh percaya diri ia menyentuh telapak tangan Kate dengan telunjuknya.

Dan kemudian, sambil memekik kaget, lutut Garrett tertekuk tl.m ia terpelanting ke belakang. Kepalanya membentur jM.mit dengan suara nyaring. Mengagetkan melihatnya. Instingku meringis melihat makhluk imortal dilumpuhkan si’perii itu; sungguh tidak bisa diterima,

“Kubilang juga apa,” gerutu Edward.

Kelopak mata Garrett bergetar beberapa detik, kemudian matanya terbuka lebar. Ia mendongak memandangi Kate yang icrsenyum mengejek, dan senyum takjub membuat wajah C iarrett berbinar-binar*

“Wow,” puji Garrett.

“Kau menikmatinya?” tanya Kate skeptis.

“Aku kan tidak gila,” Garrett terbahak, menggeleng-gelengkan kepala sambil berdiri pelan-pelan, “tapi itu tadi benar-benar hebat!”

“Memang begitu kata orang,”

Edward memutar bola matanya.

Kemudian terdengar suara ribut-ribut pelan di halaman depan. Aku mendengar Carlisle bicara di tengah suara-suara riuh bernada kaget.

“Apakah Alice yang mengirim kalian?” tanyanya pada seseorang, suaranya tidak yakin, agak kesal.

Lagi-lagi tamu tak terduga?

Edward melesat masuk ke rumah, diikuti sebagian besar yang lain. Aku mengikuti dengan langkah lebih lambat, Renesmee masih bertengger di punggungku. Aku ingin memberi Carlisle waktu beberapa saat. Memberinya kesempatan menyambut tamu baru itu, memberi penjelasan kepadanya tentang apa yang akan dilihatnya nanti.

Kutarik Renesmee ke dalam gendonganku sementara aku berjalan hati-hati mengitari rumah untuk masuk melalui pintu dapur, mendengarkan apa yang tidak bisa kulihat,

“Tidak ada yang mengirim kami” kata sebuah suara dalam yang seperti berbisik, menjawab pertanyaan Carlisle. Aku langsung teringat pada suara-suara kuno Aro dan Caius, dan aku membeku di dapur.

Aku tahu ruangan depan penuh—hampir semua o pergi untuk melihat tamu-tamu terbaru itu—tapi nyaris tid terdengar suara apa pun. Hanya tarikan napas pendek-pendek, itu saja.

Suara Carlisle kecut saat ia merespons. “Kalau begitu apa yang membawamu ke sini sekarang?”

“Berita cepat menyebar,” suara lain menjawab, sama tipisnya dengan suara pertama. “Kami mendengar petunjuk yang mengatakan keluarga Volturi akan menyerbu kalian. Ada rumor yang mengatakan kalian takkan berdiri sendiri. Ternyata rumor itu benar. Sungguh perkumpulan yang mengesankan.”

“Kami tidak menentang keluarga Volturi,” bantah Carlisle tegang. “Yang terjadi hanya salah paham, itu saja. Salah paham yang sangat serius, pastinya, tapi kami berharap bisa membereskannya. Yang kalian lihat adalah saksi-saksi. Kami hanya ingin keluarga Volturi mendengarkan. Kami tidak…”

“Kami tidak peduli apa yang mereka katakan telah kalian lakukan,” potong suara pertama. “Dan kami tidak peduli bila kalian melanggar hukum.”

“Tak peduli seberapa pun parahnya,” sambung yang kedua.

“Kami sudah menanti satu setengah milenium, menunggu sampai ada yang mau menentang para jahanam Italia itu,” tukas yang pertama. “Kalau ada kemungkinan mereka jatuh, kami harus ada di sana untuk menyaksikan.”

“Atau batikan membantu mengalahkan mereka,” imbuh yang kedua. Mereka berbicara sambung-menyambung, suara mereka sangat mirip sehingga telinga yang tidak begitu sen-sitif pasti mengira hanya satu orang yang berbicara, “Kalau menurut kami kalian rriemiliki peluang untuk berhasil.”

“Bella?” Edward berseru memanggilku dengan suara keras. “Bawa Renesmee ke sini, pfrase. Mungkin sebaiknya kita uji ucapan para tamu Rurnania kita,”

Cukup membantu tnengetahui bahwa mungkin setengah vampir di ruangan lain bakal membela Renesmee bila vampir-vampir Rumania ini kesal padanya. Aku tidak menyukai suara mereka, atau kebengisan yang tersirat dalam kata-kata mereka. Waktu aku berjalan memasuki ruangan, kentara sekali bukan aku satu-satunya yang menilai begitu. Sebagian besar vampir yang diam tak bergerak menatap dengan sorot mata bermusuhan, dan beberapa di antaranya—Carmen, Tanya. Zafrina, dan Senna—tnemosisikan diri dalam pose-pose defensif yang tidak kentara antara para pendatang baru dan Renesmee.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.