Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Hei,” seru Edward riang, berusaha menyembunyikan tanda-tanda kesakitan dalam suaranya. Apa saja rela ia lakukan agar aku tak perlu berlatih bertempur. “Itu tadi nyaris tidak terasa. Bagus, Bella.”

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menangkap apa tepatnya yang kulakukan dengan benar. Aku menguji gelang karet itu, berusaha keras memaksanya tetap solid sementara merentangkannya jauh-jauh dariku.

“Lagi, Kate,” geramku dari sela-sela gigi yang terkatup rapat.

Kate menekankan telapak tangannya ke bahu Edward. Edward mengembuskan napas lega. “Kali ini tidak terasa apa-apa.”

Kate mengangkat alisnya. “Padahal sengatanku tadi juga tidak pelan.”

“Bagus,” aku megap-megap.

“Siap-siap,” kata Kate padaku, lalu mengulurkan tangan l’ kepada Edward.

Kali ini Edward bergidik, dan desisan pelan terlontar dari sela-sela giginya,

“Maaf! Maaf! Maaf!” seruku, menggigit bibir. Mengapa tidak bisa-bisa juga?

“Kau sudah hebat kok, Bella,” kata Edward, mendekapku erat-erat ke dalam pelukannya. “Kau baru berlatih beberapa hari, tapi kau sudah bisa melontarkannya secara sporadis. Kate, katakan padanya betapa hebatnya dia.”

Kate mengerucutkan bibir. “Entahlah. Jelas dia memiliki kemampuan luar biasa, tapi kita baru bisa menyentuh permukaannya saja. Dia bisa melakukan yang lebih baik, aku yakin. Dia hanya kurang motivasi,”

Kutatap Kate tidak percaya, bibirku melengkung, menunjukkan gigi-gigiku. Bisabisanya ia menganggapku kurang punya motivasi padahal ia menyetrum Edward tepat di depan mataku?

Aku mendengar gumaman dari para penonton yang semakin banyak menontonku berlatih—awalnya hanya Eleazar, Garmen, dan Tanya, tapi kemudian Garrett bergabung, disusul Benjamin dan Tia, Siobhan dan Maggie, dan sekarang bahkan Alistair pun mengintip dari jendela di lanrai riga. Para penonton itu sepakat dengan Edwardj mereka menganggapku cukup baik.

“Kate,..,” tegur Edward dengan nada memperingatkan saat ide baru muncul dalam benak Kate, tapi Kate telanjur bergerak. Ia melesat ke kelokan sungai tempat Zafrina, Senna, dan Renesmee sedang berjalan-jalan lambat, Renesmee bergandengan dengan Zafrina sementara mereka saling bertukar gambar. Jacob membayangi mereka beberapa meter di belakang.

“Nessie,” seru Kate—para tamu dengan cepat memanggilnya dengan nama panggilan yang menjengkelkan itu—”kau mau membantu ibumu, tidak?”

“Jangan,” aku separo menggeram.

Edward memelukku dengan sikap menenangkan, Kutepis dia tepat saat Renesmee berlari melintasi halaman menyambut-ku, bersama Kate, Zafrina, dan Senna tepat di belakangnya.

“Benar-benar tidak boleh, Kate,” desisku.

Renesmee menggapai padaku, dan aku membentangkan kedua tanganku. Ia meringkuk dalam pelukanku, menempelkan kepalanya ke lekukan di bawah bahuku.

“Tapi Momma, aku ingin membantu,” katanya dengan suara penuh tekad. Tangannya memegang leherku, menegaskan keinginannya dengan gambar-gambar kami berdua bersama, sebagai satu tim.

“Tidak,” tolakku, mundur dengan cepat. Kate sudah maju selangkah ke arahku, tangannya terulur ke arah kami.

“Jangan dekati kami. Kate,” aku mengingatkan dia,

“Tidak.” Kate mulai maju. Ia tersenyum seperti pemburu menyudutkan buruan.

Kupindahkan Renesmee sehingga ia sekarang bergayut di punggungku, terus berjalan mundur menjauhi Kate. Sekarang kedua tanganku bebas, dan kalau Kate ingin kedua tangannya tetap tersambung dengan pergelangannya, lebih baik ia menjauh.

Kate mungkin tidak mengerti, karena ia tak pernah merasakan betapa besar keinginan seorang ibu untuk melindungi anaknya. Ia pasti tidak sadar dirinya sudah kelewatan. Aku marah sekali sampai-sampai pandanganku tersaput warna merah dan lidahku seperti logam terbakar. Kekuatan yang biasanya selalu berusaha kuredam mengalir ke segenap ototku, dan aku tahu aku bisa meremukkannya jadi onggokan sekeras berlian kalau dia memaksaku terus.

Amarah membuat setiap aspek diriku lebih terfokus. Aku bahkan bisa merasakan perisaiku semakin elastis sekarang— merasakan perisai itu bukan sebagai gelang, melainkan lapisan, selubung tipis yang membungkusku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dengan amarah mengguncang tubuh, aku bisa lebih merasakannya, lebih mengendalikannya. Aku mengulur-kannya ke sekeliling tubuhku, keluar dari tubuhku, membungkus Renesmee rapat-rapat di dalamnya, berjaga-jaga siapa tahu Kate bisa menembus pertahananku.

Kate maju selangkah lagi dengan penuh perhitungan, dan geraman buas terlontar dari tenggorokanku, melewati sela-sela gigiku yang terkatup rapat.

“Hati-hati, Kate,” Edward mewanti-wanti.

Kate maju selangkah lagi, kemudian melakukan kesalahan yang bahkan bisa dikenali orang yang tidak berpengalaman seperti aku. Hanya tinggal satu lompatan kecil dariku, ia berpaling, mengalihkan perhatiannya dariku ke Edward.

Renesmee aman di punggungku; aku melengkungkan tubuh, siap menerjang.

“Bisakah kau mendengar pikiran Nessie?” Kate bertanya kepada Edward, suaranya kalem dan tenang.

Edward menghambur ke ruang di antara kami, menghalangi jalanku ke Kate.

“Tidak, tidak sama sekali,” jawab Edward. “Sekarang, beri kesempatan pada Bella untuk menenangkan diri. Kate. Seharusnya kau tidak memaksanya seperti itu. Aku tahu dia memang lebih terkendali daripada vampir baru umumnya, tapi usia Bella baru beberapa bulan.”

“Kita tidak punya waktu melakukannya dengan hati-hati.

“Edward. Kita memang harus memaksa Bella. Kita hanya punya waktu beberapa minggu, padahal dia punya potensi untuk…”

“Mundur dulu sebentar, Kate,”

Kate mengerutkan kening tapi menanggapi peringatan I idward lebih serius daripada peringatanku.

Tangan Renesmee menempel di leherku; ia mengingat serangan Kate, menunjukkan padaku bahwa Kate tidak berniat mencederainya, bahwa Daddy juga ikut ambil bagian di dalamnya…

Itu tidak membuatku tenang. Spektrum cahaya yang kulihat tampaknya masih ternoda warna merah. Tapi aku lebih bisa mengendalikan diri, dan bisa memahami kebijaksanaan yang terkandung dalam kata-kata Kate tadi. Amarah itu membantuku. Aku bisa lebih cepat belajar bila berada dalam tekanan.

Tapi bukan berarti aku menyukainya.

“Kate,” geramku. Kuletakkan tanganku di punggung Edward. Aku masih bisa merasakan perisaiku seperti selubung yang kuat dan elastis, menyelubungi Renesmee dan aku. Kudorong selubung itu semakin jauh, kupaksa agar melingkupi Edward juga. Tak ada tanda-tanda kerusakan di selubung yang meregang itu, tak ada ancaman bakal koyak. Aku terengah-engah sekuat tenaga, dan kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar seperti kehabisan napas, bukan marah. “Lagi,” kataku pada Kate, “Edward saja.”

Kate memutar bola mata tapi bergegas maju dan menempelkan telapak tangannya ke bahu Edward.

“Tidak ada,” kata Edward. Aku mendengar senyum dalam suaranya.

“Kalau sekarang?” tanya Kate,

“Masih tidak ada.”

“Kalau sekarang?” Kali ini, suara Kate tetdengar seperti mengerahkan segenap tenaga.

“Tidak ada sama sekali,”

Kate menggeram dan mundur menjauh.

“Kau bisa melihat ini?” tanya Zafrina dengan suara liarnya yang berat, menatap tajam kami bertiga. Bahasa Inggris-nya beraksen aneh, kata-katanya meninggi di tempattempat yang tidak lazim.

“Aku tidak melihat apa pun yang seharusnya tidak kulihat,” jawab Edward.

“Dan kau, Renesmee?” tanya Zafrina.

Renesmee tersenyum pada Zafrina dan menggeleng.

Amarahku sudah nyaris reda sepenuhnya, dan aku mengatupkan gigi rapat-rapat, napasku semakin memburu ketika aku mendorong kuat-kuat perisai elastis itu; semakin lama aku menahannya, semakin berat rasanya. Perisai itu tertarik kembali, menyeret ke arah dalam.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.