Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Itu ilusi yang sangat apa adanya,” Edward menjelaskan setelah diketahui bahwa ternyata aku tidak bisa melihat apa-apa, seperti biasa. Zafrina tertarik sekaligus takjub melihat imunitasku—sesuatu yang tak pernah ia temui sebelumnya— dan ia berdiri gelisah di dekatku sementara Edward melukiskan apa yang terlewatkan olehku. Mata Edward sedikit tidak fokus waktu melanjutkan, “Zafrina bisa membuat sebagian besar orang melihat apa pun yang dia ingin mereka lihat— melihat itu, dan bukan hal lain. Sebagai contoh, sekarang ini aku seperti sedang berdiri sendirian di tengah-tengah hutan hujan. Gambarannya sangat jelas hingga aku mungkin memercayainya, kecuali fakta bahwa aku masih bisa merasakanmu dalam pelukanku.”

Bibir Zafrina berkedut-kedut dan membentuk senyum Liku. Sedetik kemudian mata Edward kembali terfokus, dan i.i balas menyeringai.

“Mengesankan,” puji Edward.

Renesmee sangat tertarik mengikuti perbincangan ini, dan i.i menggapai-gapai tanpa takut ke arah Zafrina,

“Bolehkah aku melihat?” tanya Renesmee.

“Kau ingin melihat apa?” tanya Zafrina.

“Apa yang kautunjukkan pada Daddy tadi”

Zafrina mengangguk, dan dengan cemas kulihat mata Renesmee menerawang kosong. Sederik kemudian, senyum memesona Renesmee berseri-seri menghiasi wajahnya.

“Lagi,” perintahnya.

Sesudah itu sulit menjauhkan Renesmee dari Zafrina dengan gambar-gambar indahnya. Aku jadi khawatir, karena aku yakin Zafrina mampu menciptakan gambargambar yang sama sekali tidak indah, lapi melalui pikiran-pikiran Renesmee aku bisa melihat visi Zafrina—sejelas pikiran Renesmee sendiri, seperti nyata—jadi aku bisa menilai apakah gambar-gambar itu patut dilihat Renesmee atau tidak.

Walaupun aku tak segampang itu menyerahkan Renesmee, harus kuakui aku senang Zafrina membuat Renesmee terhibur. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Banyak sekali yang harus kupelajari, baik secara fisik maupun mental, padahal waktunya sangat singkat.

Upaya pertamaku belajar bertempur tidak berjalan dengan baik.

Edward berhasil memitingku hanya dalam dua detik. Tapi bukannya membiarkan aku berjuang membebaskan diri sendiri—yang pasti bisa kulakukan—Edward malah melompat berdiri dan melepaskanku. Aku langsung tahu ada yang tidak beres: ia berdiri diam seperti batu, memandang ke seberang padang rumput tempat kami berlatih, “Maafkan

aku. Bella,” ujarnya.

“Tidak, aku tidak apa-apa kok,” sergahku. “Ayo kita mulai lagi.”

“Tidak bisa,”

“Apa maksudmu, tidak bisa? Kita kan baru saja mulai,”

Edward tidak menjawab.

“Dengar, aku tahu aku kurang bagus dalam hal ini, tapi aku takkan jadi lebih baik kalau kau tidak membantuku.”

Edward tidak berkata apa-apa. Dengan sikap bercanda, ku-terjang dia. Ia sama sekali tidak melawan, dan kami berdu-i terjerembap ke tanah. Ia tidak bergerak waktu aku menempelkan bibirku ke lehernya.

“Aku menang,” seruku.

Matanya menyipit, tapi tidak mengatakan apa-apa. “Edward? Ada apa? Mengapa kau tidak mau mengajariku?”

Setelah satu menit penuh baru ia berbicara lagi, “Aku hanya tidak… tahan. Pengetahuan Emmett dan Rosalie juga sama banyaknya denganku. Tanya dan Eleazar mungkin malah lebih banyak. Minta orang lain saja mengajarimu.”

“Itu tidak adil! Kau bagus dalam hal ini. Kau pernah membantu Jasper sebelumnya —kau berkelahi dengannya dan dengan yang lain-lain juga. Mengapa denganku tidak? Memangnya aku salah apa?”

Edward mendesah, putus asa. Matanya gelap, nyaris tak ada warna emas untuk menerangi warna hitamnya.

“Memandangimu seperti itu, menganalisismu sebagai target. Melihat berbagai caraku bisa membunuhmu…” Edward terumuk. “Semuanya jadi terlalu nyata bagiku. Kita tidak punya h.inyak waktu, jadi tidak masalah siapa gutumu. Siapa pun hi.s.i mengajarkan dasar-dasarnya padamu.” Aku merengut.

Edward menyentuh bibir bawahku yang mencebik dan terburi-buru “Lagi pula, itu tidak penting. Keluatga Volturi akan I terhenti. Mereka akan dibuat mengerti.”

“Tapi bagaimana kalau mereka tidak mau mengerti! Aku harus belajar bertarung”

“Cari saja guru lain”

Itu bukan pembicaraan terakhir kami berkaitan dengan topik itu, tapi aku tak pernah berhasil membuat Edward mengubah keputusan.

Emmett sangat bersedia membantuku, walaupun caranya mengajar seperti balas dendam gara-gara kalah adu panco u-mpo hari. Seandainya aku masih bisa memar, mungkin sekujur tubuhku, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, sudah memarmemar semua. Rose, “lanya, dan Eleazar—semua sabar dan mendukung. Pelajaranpelajaran mereka mengingatkanku pada instruksi-instruksi Jaspcr kepada yang lain bulan Juni lalu, walaupun kenangan itu kabur dan tidak jelas, lieberapa tamu merasa mendapat hiburan dengan menontonku belajar, dan beberapa bahkan menawarkan bantuan. Si nomaden Garrett beberapa kali mengambil giliran—yang mengejutkan, ternyata ia pandai mengajar; secara umum ia berinteraksi dengan sangat mudah dengan yang lain-lain sehingga aku sempat heran mengapa ia tak pernah bergabung dalam kelompok tertentu. Aku bahkan pernah bertempur sekali dengan Zafrina sementara Renesmee menonton dari gendongan Jacob, Aku mempelajari beberapa trik, tapi tak pernah meminta bantuannya lagi. Sejujurnya, walaupun aku sangat menyukai Zafrina dan tahu ia takkan benar-benar menyakitiku, namun wanita liar itu membuatku sangat takut.

Aku belajar beberapa hal dari guru-guruku, tapi aku punya firasat pengetahuanku masih sangat mendasar. Aku tak tahu berapa detik aku sanggup bertahan melawan Alec dan Jane. Aku hanya bisa berdoa itu cukup lama untuk membantu.

Setiap menit di siang hari yang tidak kulewatkan bersama Renesmee atau belajar bertempur, aku berada di halaman belakang, berusaha dengan Kate, berusaha mendorong perisai internalku keluar dari orakku untuk melindungi otang lain. Edward mendorongku melatih kemampuanku ini. Aku tahu ia berharap aku akan menemukan cara lain untuk memberi kontribusi yang memuaskan sekaligus menjauhkanku dari bahaya.

Tapi itu sulit sekali. Tak ada yang bisa dijadikan pegangan, tak ada pijakan yang solid. Aku hanya memiliki keinginan yang kuat untuk berguna, untuk bisa membuat Edward, Renesmee, dan sebanyak mungkin anggota keluarga yang lain aman bersamaku. Berulang kali aku berusaha memaksa perisai samarku menamengi hal-hal lain di luar diriku, namun tak banyak berhasil. Rasanya seperti berusaha menarik gelang karet yang tidak kasatmata—gelang yang sewaktu-waktu akan berubah dari sekeras baja menjadi tak berwujud seperti asap.

Hanya Edward yang bersedia menjadi kelinci percobaan— unruk menerima sengatan demi sengatan dari Kate sementara aku berjuang keras dengan isi kepalaku. Kami berlatih selama berjam-jam setiap kali, dan aku merasa seharusnya aku berkeringat karena kecapekan, tapi tentu saja tubuhku yang sempurna tak bisa berkeringat lagi. Keletihanku hanya ada dalami pikiran.

Sulit bagiku melihat Edward harus menderita, kedua lenganku memeluknya sia-sia sementara ia meringis-ringis kesakitan akibat sengatan listrik “berdaya rendah” yang dilontarkan Kate. Aku berusaha sekuat-tenaga mendorong perisaiku untuk menamengi kami berdua; sesekali aku berhasil, tapi kemudian lepas lagi.

Aku benci sekali latihan ini, dan berharap kalau saja Zafrina yang membantu, bukan Kate. Dengan begitu Edward hanya perlu melihat ilusi-ilusi Zafrina sampai aku bisa membuatnya berhenti melihat ilusi-ilusi itu. Tapi Kate bersikeras aku membutuhkan motivasi yang lebih kuat—dan itu berarti kebencianku melihat Edward kesakitan. Aku mulai meragukan pernyataannya pada hari pertama kami bertemu—bahwa ia tidak sadis dalam menggunakan bakatnya. Sepertinya ia lebih menikmati ini semua daripada aku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.