Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Aku memang baik hati,” sahut sebuah suara serak yang familier, menjawab dari kegelapan malam, “Boleh kusela?”

Tanganku terangkat ke leher, dan kalau saja saat itu Edward tidak memegangiku, aku pasti sudah jatuh pingsan.

“Jacob!” seruku dengan suara tercekat begitu bisa bernapas lagi. “Jacob!”

“Halo, Bella.”

Aku tersaruk-saruk menghampiri suaranya. Edward masih tetap memegangi sikuku sampai sepasang tangan lain yang kuat memegangiku di kegelapan. Panasnya kulit Jacob membakar menembus gaun satinku yang tipis saat ia menarik tubuhku mendekat. Ia bergeming, tidak berusaha berdansa, hanya memelukku sementara aku membenamkan wajah di dadanya. Ia membungkuk dan menempelkan pipinya di puncak kepalaku.

“Rosalie takkan memaafkanku kalau aku tidak mengajaknya berdansa,” gumam Edward, dan aku tahu ia sengaja meninggalkan kami. Itu hadiahnya untukku—momen bersama Jacob ini.

“Oh, Jacob.” Aku menangis sekarang; kata-kataku tidak terdengar dengan jelas. “Terima kasih.”

“Berhentilah menangis, Bella. Nanti gaunmu kotor. Ini kan hanya aku.”

“Hanya? Oh, Jake! Semuanya sempurna sekarang.”

Jacob mendengus. “Yeah—-pestanya bisa dimulai. Si bcstman akhirnya datang juga.”

“Sekarang semua orang yang kucintai datang.”

Aku merasakan bibirnya menyapu rambutku. “Maaf aku terlambat, Sayang.”

“Aku bahagia sekali kau datang!”

“Memang itulah tujuannya.”

Aku melirik ke arah para tamu, tapi tidak bisa melihat tempat aku terakhir kali melihat ayah Jacob di antara kerumunan para tamu yang asyik berdansa. Aku tidak tahu apakah ia masih berada di sini. “Apakah Billy tahu kau datang?” Begitu pertanyaan itu terlontar, seketika itu juga aku sadar Billy pasti tahu—hanya itu satu-satunya alasan mengapa ekspresinya begitu gembira tadi.

“Aku yakin Sam sudah memberitahu dia. Aku akan pergi menemuinya… begitu pesta selesai nanti.”

“Dia pasti senang sekali kau pulang.”

Jacob mundur sedikit dan menegakkan tubuhnya. Sebelah tangannya masih memegang punggungku, dan sebelah tangannya yang lain menyambar tangan kananku. Ia meletakkan tangan kami ke dadanya; aku bisa merasakan jantungnya berdetak di bawah telapak tanganku, dan aku merasa bahwa pasti bukan tanpa sebab ia meletakkan tanganku di sana.

“Entah apakah aku bisa mendapatkan lebih daripada hanya satu dansa ini,” kata Jacob, dan ia mulai menarikku berputar-putar dengan gerak lambat yang tidak seirama dengan musik di belakang kami. “Jadi aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin.”

Kami bergerak mengikuti irama detak jantungnya di bawah tanganku.

“Aku senang aku datang,” kata Jacob pelan beberapa saat kemudian. “Tadinya kupikir aku tidak akan datang. Tapi senang rasanya bisa bertemu denganmu sekali lagi. Ternyata tidak sesedih yang kukira.”

“Aku tidak mau kau merasa sedih.”

“Aku tahu itu. Dan kedatanganku malam ini bukan untuk membuatmu merasa bersalah.”

“Tidak—aku justru senang sekali kau datang. Ini hadiah terindah yang bisa kauberikan padaku,”

Jacob tertawa. “Baguslah kalau begitu, karena aku tidak sempat mencari hadiah sungguhan untukmu”

Mataku mulai bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan, jadi aku bisa melihat wajahnya sekarang, yang ternyata lebih tinggi daripada perkiraanku semula. Mungkinkah ia masih terus bertumbuh? Tinggi badannya sekarang pasti sudah dua meter lebih. Lega rasanya melihat garis-garis wajahnya yang familier itu lagi setelah sekian lama—sepasang mata yang menjorok ke dalam, dinaungi alis hitam lebat, tulang pipi tinggi, bibir penuh yang nyengir memamerkan sebaris gigi cemerlang, membentuk senyuman sarkastis yang sesuai dengan nada suaranya. Tampak ketegangan melingkari matanya—hati-hati; kentara sekali ia sangat berhati-hati malam ini. Sebisa mungkin ia berusaha membuatku bahagia, berhati-hati agar tidak terpeleset dan menunjukkan betapa banyak pengorbanannya malam ini.

Aku tak pernah melakukan apa-apa hingga layak mendapatkan teman seperti Jacob

“Kapan kau memutuskan untuk kembali?”

“Secara sadar atau tidak sadar?” Ia menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaannya sendiri. “Aku tidak begitu tahu. Kurasa sudah sejak beberapa waktu lalu aku berkeliaran lagi menuju ke sini, dan mungkin itu karena aku memang ingin mengarah ke sini. Tap baru tadi pagi aku mulai berlari Entah apakah aku bisa sampai tepat pada waktunya.” Ia tertawa. “Kau pasti tidak percaya betapa aneh rasanya— berjalan dengan dua kaki lagi. Dan mengenakan pakaian! Yang lebih mengherankan lagi, adalah karena itu terasa aneh. Aku sama sekali tidak menduganya. Aku sudah lama tidak melakukan hal-hal yang berkaitan dengan manusia.”

Kami berputar-putar teratur.

“Rasanya sayang melewatkan melihatmu seperti ini. Tidak sia-sia aku pulang. Kau terlihat mengagumkan, Bella. Cantik sekali.”

“Alice menginvestasikan banyak waktu untuk meriasku hari ini. Untung juga sekarang gelap.”

“Bagiku kan tidak begitu gelap, kau tahu sendiri,”

“Benar juga.” Indera werewolf. Mudah saja melupakan segala sesuatu yang bisa ia lakukan, karena ia tampak sangat manusiawi. Apalagi sekarang.

“Kau memotong rambutmu,” komentarku.

“Yeah. Lebih mudah begini. Kupikir sekalian saja, mumpung aku bisa menggunakan kedua tanganku.”

“Bagus kok” dustaku,

Jacob mendengus, “Yang benar saja. Aku mengguntingnya sendiri, dengan gunting dapur karatan.” Sesaat ia nyengir lebar, kemudian senyumnya memudar. Ekspresinya berubah serius. “Kau bahagia, Bella?”

“Ya.”

“Oke.” Bisa kurasakan ia mengangkat bahu, “Itu yang paling penting, kurasa.”

“Bagaimana keadaanmu, Jacob? Sebenarnya?”

“Aku baik-baik saja, Bella, sungguh. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Kau bisa berhenti merongrong Seth,”

“Aku tidak merongrong Seth hanya karena kau. Aku suka kok pada Seth,”

“Dia anak baik. Teman yang lebih menyenangkan daripada sebagian orang. Asal tahu saja, seandainya aku bisa mengenyahkan suara-suara dalam pikiranku, menjadi serigala akan sangat sempurna.”

Aku tertawa mendengarnya. “Yeah, aku juga tidak bisa menghentikan suara-suara dalam pikiranku.”

“Dalam kasusmu, itu berarti kau sinting. Tapi aku sudah tahu kau memang sinting,” godanya.

“Trims.”

“Menjadi sinting mungkin lebih mudah daripada mengetahui pikiran setiap anggota kawanan. Suara-suara dalam pikiran orang sinting tidak mengirim pengasuh bayi untuk mengawasi mereka.”

“Hah?”

“Sam ada di luar sana. Begitu juga sebagian yang lain. Hanya untuk berjaga-jaga, kau tahu.”

“Untuk berjaga-jaga apa?”

“Siapa tahu aku tidak bisa menguasai diri, semacam itulah. Siapa tahu aku memutuskan untuk mengamuk di pesta ini.” Jacob menyunggingkan senyum sekilas, mungkin menganggap pikiran itu menarik. “Tapi kedatanganku ke sini bukan untuk mengacaukan pestamu, Bella. Aku datang untuk…” Suaranya menghilang.

“Menyempurnakannya.”

“Itu terlalu berlebihan.”

“Kau memang selalu berlebihan.”

Jacob mengerang mendengar leluconku yang tidak lucu, kemudian menghela napas. “Aku datang hanya sebagai teman. Sahabatmu, untuk terakhir kalinya”

“Sam seharusnya tidak berprasangka yang bukan-bukan tentangmu.”

“Well, mungkin aku saja yang terlalu sensitif. Mungkin kalaupun tidak ada aku, mereka akan tetap berada di sini, untuk mengawasi Seth. Kan banyak sekali vampir di sini, Seth tidak terlalu menganggap serius hal itu, seperti seharusnya,”

“Seth tahu dia aman. Dia lebih memahami keluarga Cullen daripada Sam.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.