Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Maafkan aku,” sela Edward, suaranya terperangah. Ia mengulurkan tangan dan menangkap bahu Eleazar saat ia hendak btrbalik lagi menuju pintu.”Tadi kau menyebut istriku apa?”

Eleazar menatap Edward dengan sikap ingin tahu, sejenak u berhenti mondarmandir. “Perisai, kupikir. Dia menghalangiku sekarang, jadi aku tak bisa memastikannya.”

Kutatap Eleazar dengan kening berkerut bingung. Perisai? Apa maksudnya aku menghalangi dia? Aku hanya berdiri di miu, di sebelahnya, sama sekali tak bersikap defensif.

“Perisai?” ulang Edward, tercengang.

“Ayolah, Edward! Kalau aku tidak bisa membaca pikirannya, aku ragu kau juga bisa. Bisakah kau mendengar pikirannya sekarang ini?” tanya Eleazar.

“Tidak,” gumam Edward. “Tapi aku memang tak pernah bisa membaca pikirannya. Bahkan sewaktu dia masih menjadi manusia.

“Tidak pernah?” Eleazar mengerjapkan mata. “Menarik. Itu mengindikasikan bakat laten yang sangat kuat, kalau sudah bermanifestasi bahkan sebelum transformasi. Aku rak bisa menembus perisainya sama sekali. Padahal dia masih hijau— dia kan baru berumur beberapa bulan.” Tatapan yang ditujukannya pada Edward sekarang nyaris putus asa. “Dan rupanya dia benar-benar tidak menyadari apa yang dia lakukan. Sama sekali tidak sadar. Ironis. Aro mengirimku ke seluruh penjuru dunia untuk mencari anomali-anomali semacam ini, tapi kau menemukannya begitu saja dan bahkan tidak menyadari apa yang kaumiliki,” Eleazar menggeleng-geleng tak percaya.

Keningku berkerut, “Maksudmu apa? Bagaimana bisa aku ini perisai? Apa artinya itu?” Yang ada dalam bayanganku hanya perisai baju zirah para kesatria abad pertengahan.

Eleazar menelengkan kepala sambil mengamatiku, “Kurasa kami dulu terlalu formal mengenainya sehubungan dengan pengawal. Sebenarnya, mengategorikan bakat adalah hal yang subjektif dan sedikit acak; setiap bakat itu unik, tidak pernah ditemukan dua bakat yang sama persis. Tapi kau, Bella, cukup mudah untuk diklasifikasikan. Bakat yang murni defensif, yang melindungi sebagian aspek pemiliknya, selalu disebut sebagai perisai. Pernahkah kau menguji kemampuanmu? Menghalangi orang lain selain aku dan pasanganmu?”

Butuh beberapa detik, walau bagaimanapun cepatnya otak baruku bekerja, untuk mengorganisir jawabanku,

“Ini hanya efektif dalam beberapa hal,” kataku, “Isi kepalaku bisa dibilang bersifat,,, pribadi. Tapi itu tidak menghalangi Jasper mempermainkan suasana hatiku atau Alice melihat masa depanku,”

“Murni pertahanan mental” Eleazar mengangguk-angguk, “Terbatas, tapi kuat,”

“Aro tak bisa mendengar pikirannya,” sela Edward, “Walaupun Bella masih manusia waktu mereka bertemu.”

Mata Eleazar membelalak.

“Jane mencoba menyakitiku, tapi tidak bisa,” aku menambahkan. “Menurut Edward, Demetri tak bisa menemukanku, dan Alec juga tidak bisa macam-macam denganku. Itu bagus, tidak?”

Eleazar, masih ternganga, mengangguk. “Sangat.”

“Perisai!” seru Edward, suaranya berlumur nada puas. “Tak terpikir olehku. Satusatunya perisai yang pernah kutemui sebelumnya adalah Renata, tapi yang dia lakukan sangat berbeda.”

Eleazar sedikit pulih dari kekagetan. “Ya, tak ada bakat yang bermanifestasi secara persis sama, karena tak ada orang yang pernah berpikir secara persis sama.”

“Siapa Renata? Apa yang dia lakukan?” tanyaku. Renesmee juga tertarik, mencondongkan tubuh menjauhi Carmen supaya ia bisa melihat tanpa terhalang Kate.

“Renata adalah pengawal pribadi Aro,” Eleazar menjelaskan. “Jenis perisai yang sangat praktis, dan sangat kuat.”

Samar-samar aku ingat sekelompok kecil vampir yang berdiri di dekat Aro di menara menyeramkan itu, sebagian pria, sebagian wanita. Aku tak ingat wajah para wanitanya dalam kenangan yang tidak mengenakkan dan menakutkan itu. Salah satu pasti Renata.

“Aku jadi penasaran,..,” renung Eleazar. “Begini, Renata perisai yang sangat kuat menangkis serangan fisik. Kalau ada yang mendekati dia—atau Aro, karena Renata selalu berada di samping Aro saat situasi genting—orang itu akan… dialihkan. Ada kekuatan di sekelilingnya yang bersifat menolak, meski nyaris tak kentara. Tahu-tahu kau mendapati dirimu melangkah ke arah yang berbeda dari yang kaurencanakan semula, dengan pikiran bingung mengapa kau ingin pergi ke sana. Ia bisa melontarkan perisainya beberapa merer darinya. Ia juga melindungi Caius dan Marcus kalau dibutuhkan, tapi prioritasnya adalah Aro.

“Tapi yang dia lakukan sebenarnya bukan secara fisik. Seperti sebagian besar bakat yang kita miliki, bakat itu berasal dari pikiran. Kalau dia berusaha menghalangimu untuk maju, aku penasaran siapa yang akan menang?”

“Momma, kau istimewa” Renesmee mengatakan padaku tanpa nada terkejut, seperti mengomentari warna bajuku saja.

Aku merasa kehilangan orientasi. Bukankah aku sudah mengetahui bakatku? Aku memiliki pengendalian diri super sehingga langsung bisa melewati tahun pertama yang mengerikan sebagai vampir baru. Vampir hanya memiliki paling banyak satu kemampuan ekstra, bukan?

Atau perkiraan Edward memang benar sejak awal? Sebelum Carlisle mengatakan pengendalian diriku bisa jadi bukan sesuatu yang natural, Edward menganggapnya hanya hasil persiapan yang baik—fokus dan sikap, begitu katanya waktu itu.

Mana yang benar? Apakah ada lagi yang bisa kulakukan? Nama dan kategori untuk bakat yang kumiliki?

“Bisakah kau memptoyeksikan?” tanya Kate tertarik.

“Memproyeksikan?” aku balas bertanya.

“Mendorongnya keluar dari dalam dirimu,” Kate menjelaskan. “Menamengi orang lain selain dirimu.”

“Aku tak tahu. Aku belum pernah mencobanya-Aku tidak tahu kalau seharusnya aku berbuat begitu.”

“Oh, mungkin juga kau tidak bisa,” Kate buru-buru berkata. ‘Asal tahu saja, aku sudah berlatih berabad-abad, tapi yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan aliran listrik ke sekujur tubuhku.”

Kupandangi dia, bingung.

“Kate memiliki keahlian menyerang” jelas Edward. “Hampir seperti Jane,”

Otomatis aku tersentak menjauhi Kate, dan ia tertawa.

“Aku tidak sadis dalam hal itu” ia meyakinkanku. “Itu hanya sesuatu yang bisa digunakan saat bertempur.”

Kata-kata Kate mulai meresap, mulai membentuk arti. Menamengi orang lain selain dirimu, begitu katanya tadi. Seolah-olah ada cara lain bagiku untuk memasukkan orang lain dalam pikiranku yang aneh dan sunyi ini.

Aku ingat bagaimana Edward menggeliat-geliat kesakitan di bebatuan kuno menara kastil keluarga Volturi. Walaupun itu ingatan manusia, namun gambaran itu lebih tajam, lebih menyakitkan daripada sebagian besar kenangan lain—seolah-olah gambaran itu sudah terpatri kuat dalam sel-sel otakku.

Bagaimana kalau aku bisa mencegah hal itu terulang kembali? Bagaimana kalau aku bisa melindungi Edward? Melindungi Renesmee? Bagaimana kalau ada sedikit saja kemungkinan aku bisa menamengi mereka juga?

“Kau harus mengajariku bagaimana melakukannya!” desakku, menyambar lengan Kate tanpa berpikir. “Kau harus menunjukkan padaku bagaimana caranya!”

Kate meringis karena cengkeramanku. “Mungkin—asal kau berhenti berusaha meremukkan tulang lenganku”

“Uuups! Maaf!”

“Kau menamengi, jelas,” kata Kate. “Gerakan itu seharusnya menyetrum lenganmu tadi. Kau tidak merasakan apa-apa barusan?”

“Sebenarnya itu tak perlu, Kate. Dia kan tidak bermaksud mencederaimu,” gerutu Edward pelan. Tak seorang pun dari kami menggubrisnya.

“Tidak, aku tidak merasa apa-apa. Memangnya kau tadi mengalirkan sengatan listrik?”

“Ya. Hmm. Aku belum pernah bertemu orang yang tidak bisa merasakannya, baik imortal maupun bukan.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.