Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Aku sudah berjanji akan mendengarkan, Edward,”

“Baiklah, kalau begitu. Bella? Bawa Renesmee, please”

Kakiku kebas, tapi aku tabu itu hanya perasaanku. Kupaksa diriku untuk tidak menahan langkah, tidak berjalan tersaruk-saruk, ketika aku berdiri dan berjalan beberapa meter mengitari sudut ruangan. Panas yang terpancar dari tubuh Jacob membara dekat di belakangku saat ia membayangi Langkah-langkahku.

Aku memasuki ruangan yang lebih besar kemudian membeku, tak mampu memaksa diriku maju lebih jauh lagi. Renesmee menghela napas dalam-dalam dan mengintip dari balik rambutku, bahunya yang kecil mengejang kaku, bersiap menghadapi penolakan.

Kusangka aku sudah siap menghadapi reaksi mereka. Siap menerima tuduhan, teriakan, atau perasaan tertekan yang membuat seseorang terpaku tak bisa bergerak.

Tanya bergerak mundur, cepat sekali, empat langkah, rambut stroberinya yang ikal bergetar, seperti manusia yang bertemu ular berbisa. Kate melompat jauh ke belakang, sampai ke pintu depan, dan berpegangan pada dinding di sana. Desisan sbock terlontar dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. Eleazar melontarkan dirinya di depan Carmen dengan posisi membungkuk yang protektif.

“Oh please” kudengar Jacob protes dengan suara pelan.

Edward merangkulku dan Renesmee, “Kalian sudah berjanji akan mendengarkan,” ia mengingatkan mereka.

“Ada hal-hal yang tidak bisa didengar!” seru Tanya. “Bisa-bisanya kau berbuat begitu, Edward? Apa kau tidak rahu apa artinya ini?”

“Kita harus pergi dari sini,” seru Kate cemas, tangannya memegang gagang pintu.

“Edward…” Eleazar sepertinya tak tahu harus mengatakan apa.

“Tunggu,” pinta Edward, suaranya lebih keras sekarang. Ingat apa yang kalian dengar, apa yang kalian cium, Renesmee tidak seperti yang kalian kira.”

“Tidak ada pengecualian dalam aturan ini, Edward,” Tanya balas membentak.

“Tanya,” sergah Edward tajam, “kau bisa mendengar detak jantungnya! Berhenti dan pikirkan apa artinya itu.”

“Detak jantungnya?” bisik Carmen, mengintip dari balik bahu Eleazar,

“Dia. bukan anak vampir murni,” jawab Edward, mengarahkan perhatiannya pada ekspresi Carmen yang tidak terlalu carang. “Dia setengah manusia”

Keempat vampir itu menatap Edward seolah-olah ia berbicara dalam bahasa yang tidak mereka pahami.

“Dengarkan aku.” Suara Edward berubah sehalus beledu, bernada membujuk, “Renesmee tak ada duanya. Aku ayahnya, bukan penciptanya—tapi ayah biologisnya,”

Tanya menggeleng-gelengkan kepala pelan. Sepertinya ia lidak menyadarinya.

“Edward, kau tak bisa mengharapkan kami untuk.,,,” Eleazar hendak berkata.

“Katakan padaku penjelasan lain yang lebih pas, Eleazar, Kau bisa merasakan panas tubuhnya di udara. Darah mengalir dalam pembuluh darahnya, Eleazar, Kau bisa menciumnya.”

“Bagaimana?” desah Kate,

“Bella adalah ibu biologisnya,” Edward menjelaskan, “Dia mengandung dan melahirkan Renesmee saat masih menjadi manusia. Pengalaman itu nyaris membuatnya terbunuh. Aku berjuang sekuat tenaga memasukkan racun ke jantung Bella untuk menyelamatkannya.”

“Aku belum pernah mendengar tentang hal semacam ini,” tukas Eleazar. Bahunya masih tegak, ekspresinya dingin.

“Hubungan fisik antara vampir dan manusia bukan hal lazim” jawab Edward, terdengar secercah nada humor dalam suaranya. “Manusia yang selamat dari hubungan semacam itu bahkan lebih jarang lagi. Kalian sependapat bukan, sepupu-sepupu?”

Baik Kate maupun Tanya memberengut padanya;

“Lihatlah, Eleazar. Kau tentu bisa melihat kemiripannya.”

Carmen-lah yang merespons perkataan Edward. Ia maju mengitari Eleazar, mengabaikan peringatannya yang tidak begitu jelas artikulasinya, dan berjalan hati-hati untuk berdiri tepat di depanku. Ia membungkuk sedikit, memandangi wajah Renesmee dengan saksama

“Sepertinya matamu mirip MATA ibumu,” kata Carmen dengan suara pelan dan tenang, “tapi wajahmu mirip ayahmu.” Kemudian, seolah, tak kuasa menahan diri, ia tersenyum pada Renesmee,

Renesmee menjawabnya dengan senyum cemerlang. Ia menyentuh wajahku tanpa memalingkan wajah dari Carmen. Ia membayangkan menyentuh wajah Carmen, bertanya apakah itu boleh.

“Apakah kau keberatan kalau Renesmee menceritakan padamu tentang dirinya?” tanyaku pada Carmen. Aku masih terlalu tertekan untuk berbicara lebih dari sekadar berbisik. “Dia punya kemampuan menjelaskan berbagai hak”

Carmen masih tersenyum pada Renesmee. “Kau bisa bicara, mungil?”

“Ya,” jawab Remesmee, suaranya melengking tinggi. Seluruh keluarga Tanya tersentak mendengar suaranya, kecuali Carmen, ” Tapi aku bisa menunjukkan padamu lebih daripada yang bisa kukatakan.”

Ia meletakkan tangan mungilnya yang montok ke pipi Carmen,

Carmen mengejang seperti kesetrum. Secepat kilat Eleazar langsung berdiri di sampingnya, kedua tangan memegang bahu Carmen seolah ingin menyentakkannya jauhjauh.

“Tunggu,” pinta Carmen terengah, matanya yang tidak berkedip terkunci pada mata Renesmee.

Beberapa saat Renesmee “menunjukkan’ penjelasannya kepada Carmen. Wajah Edward tekun menyimak saat ia menonton bersama Carmen, dan aku sangat berharap bisa mendengar apa yang didengarnya. Jacob bergerak-gerak tak sabar di belakangku, dan aku tahu ia juga mengharapkan yang sama.

“Apa yang ditunjukkan Nessie padanya?” gerutu Jacob pelan.

“Semuanya,” gumam Edward.

Satu menit lagi berlalu, kemudian Renesmee menurunkan tangannya. Ia tersenyum penuh kemenangan pada vampir yang terperangah itu.

“Dia benar-benar putrimu, ya?” desah Carmen, mengarahkan mata hijaunya yang lebar ke wajah Edward. “Sungguh bakat yang luar biasa! Itu hanya bisa diturunkan dari ayah yang sangat berbakat.”

“Percayakah kau pada apa yang dia tunjukkan?” tanya Edward, ekspresinya serius.

“Tanpa ragu,” jawab Carmen sederhana.

Wajah Eleazar kaku karena kalut, “Carmen!”

Carmen meraih kedua tangan Eleazar dan meremasnya, “Walaupun sepertinya mustahil, Edward mengatakan yang sebenarnya. Biarkan anak itu menunjukkannya sendiri padamu.”

Carmen menyenggol Eleazar agar lebih mendekat kepadaku, kemudian menganggukkan kepala pada Renesmee. “Tunjukkan padanya, mi querida”

Renesmee nyengir, jelas-jelas gembira melihat penerimaan Carmen, dan menyentuh dahi Eleazar dengan sentuhan ringan,

“Ay caray!” sembur Eleazar, melompat menjauhinya. “Apa yang dia katakan padamu?” tuntut Tanya, beringsut mendekat dengan sikap waswas. Kate juga ikut beringsut maju,

“Dia hanya ingin menunjukkan cerita tentang dirinya” Carmen memberitahu Eleazar dengan nada menenangkan.

Renesmee mengerutkan kening dengan sikap tak sabar, “lihat, picase” perintahnya pada Eleazar. Ia mengulurkan tangan, menyisakan sedikit jarak antara jari-jarinya dengan wajah Eleazar, menunggu.

Eleazar menarap Renesmee dengan pandangan curiga, kemudian melirik Carmen, minta pertolongan. Carmen mengangguk dengan sikap menyemangati. Eleazar menghela napas dalam-dalam lalu mencondongkan badan lebih dekat sampai keningnya menyentuh tangan Renesmee lagi.

Ia bergidik ketika itu dimulai, tapi kali ini ia tetap diam, memejamkan mata, berkonsentrasi.

“Ahhh,” desah Eleazar ketika matanya terbuka kembali beberapa menit kemudian. “Aku mengerti.”

Renesmee tersenyum padanya. Eleazar ragu-ragu, kemudian menyunggingkan senyum sedikit ragu sebagai balasan.

“Eleazar?” tanya Tanya.

“Itu semua benar, Tanya. Ini memang bukan anak imortah, dia setengah manusia. Mari. Lihat saja sendiri.”

Tanpa bersuara Tanya berdiri waswas di depanku, kemudian kate, keduanya tampak shock ketika gambar pertama menghantam mereka lewat sentuhan Renesmee.

Namun, sama seperti Carrnen dan Eleazar, tampaknya mereka langsung jatuh hati begitu Renesmee selesai menunjukkan semuanya.

Aku melayangkan pandangan ke wajah Edward yang datar, bertanya-tanya mungkinkah memang semudah ini. Mata emasnya tampak jernih, tidak berbayang. Tak ada tipuan dalam hal ini kalau begitu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.