Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Mereka membiarkan Eleazar pergi?” tanyaku. “Begitu saja?”

Senyum Edward lebih gelap sekarang, sedikit terpilin. “Keluarga Volturi bukan penjahat seperti anggapanmu. Mereka pondasi kedamaian dan peradaban kita. Setiap prajurit memilih melayani mereka. Itu sangat prestisius; mereka semua bangga berada di sana, sama sekali tidak dipaksa” Aku menunduk dan memberengut.

“Mereka hanya dianggap bengis dan kejam oleh para kriminal, Bella.”

“Kita bukan kriminal.” Jacob mendengus setuju, “Mereka tidak tahu itu,”

“Apa kau benar-benar yakin kita bisa membuat mereka berhenti dan mendengarkan?”

Edward ragu-ragu sejenak, kemudian mengangkat bahu. “Kalau kita bisa mendapatkan cukup banyak teman yang mau bersaksi untuk kita. Mungkin.”

Kalau. Mendadak aku merasakan betapa mendesaknya apa yang harus kami lakukan hari ini. Edward dan aku mulai bergerak lebih cepat, berlari. Jacob menyusul dengan cepat,

“Sebentar lagi Tanya pasti datang,” kata Edward. “Kita harus bersiap-siap.”

Tapi bersiap-siap bagaimana, Kami mengatur dan mengatur ulang, berpikir dan berpikir ulang. Renesmee dilihat secara utuh? Atau disembunyikan lebih dulu? Jacob di dalam ruangan? Atau di luar? Ia sudah meminta para anggota kawanannya untuk berjagajaga di dekat situ, tapi tidak kelihatan. Apakah sebaiknya ia juga melakukan hal yang sama?

Akhirnya, Renesmee, Jacob—dalam wujud manusianya lagi—dan aku menunggu di sudut yang berseberangan dengan pintu depan di ruang makan, duduk di depan meja besar yang berpelitur mengilat. Jacob membiarkanku memangku Renesmee; ia ingin menjaga jarak kalau-kalau harus berubah wujud dengan cepat.

Walaupun aku senang bisa mendekap Renesmee dalam pelukanku, itu membuatku merasa tidak berguna. Mengingatkan aku bahwa dalam pertarungan dengan vampir dewasa, aku tak lebih dari target yang mudah dilumpuhkan; aku tak perlu membebaskan tanganku dari memegang apa pun.

Aku berusaha mengingat Tanya, Kate, Carmen, dan Eleazar di pernikahanku. Wajah mereka kabur dalam kenanganku yang buram. Yang kutahu hanyalah bahwa mereka-rupawan, dua berambut pirang dan dua lagi cokelat. Aku tak ingat apakah ada sorot kebaikan di mata mereka.

Edward bersandar tak bergerak di dinding jendela belakang, matanya menerawangi pintu depan. Ia tidak terlihar seperti sedang menatap ruangan di hadapannya.

Kami mendengarkan mobil-mobil melesat di jalan tol, tak satu pun memperlambat laju mereka.

Renesmee meringkuk di leherku, tangannya memegangi pipiku tapi tidak ada gambar apa-apa di kepalaku. Ia tidak memiliki gambaran untuk menjelaskan perasaannya sekarang.

“Bagaimana kalau mereka tidak suka padaku?” bisik Renesmee, dan mata kami tertuju padanya.

“Tentu saja mereka akan…” Jacob mulai berkata, tapi kubungkam dia dengan tatapanku.

“Mereka tidak memahamimu, Renesmee, karena mereka belum pernah bertemu seseorang seperti kau,” kataku, tak ingin membohonginya dengan janji-janji yang mungkin takkan terkabul. “Masalahnya adalah, bagaimana membuat mereka mengerti.”

Renesmee mendesah, dalam benaknya berkelebat gambar-gambar kami dalam satu ledakan besar. Vampir, manusia, iverewolf. Ia tidak termasuk di mana pun.

“Kau istimewa, itu bukan hal buruk.”

Renesmee menggeleng tidak setuju. Ia memikirkan wajah-wajah kami yang muram dan berkata, “Ini salahku.”

“Bukan,” Jacob, Edward, dan aku menyanggah berbarengan, tapi sebelum bisa berdebat lebih jauh, kami mendengar suara yang kami tunggu-tunggu: suara mesin mobil melambat di jalan tol, roda-roda berpindah dari aspal ke tanah gembur.

Edward melesat ke sudut untuk berdiri menunggu di dekat pintu, Renesmee bersembunyi di rambutku. Jacob dan aku berpandang-pandangan dari seberang meja, wajah kami tampak putus asa.

Mobil itu melaju cepat menembus hutan, lebih cepat daripada kalau Charlie atau Sue yang mengemudi. Kami mendengar mobil itu memasuki padang rumput dan berhenti di teras depan. Empat pintu terbuka dan menutup. Mereka tidak berbicara saat melangkah mendekati pintu. Edward sudah membukanya sebelum mereka sempat mengetuk.

“Edward!” seru suara wanita penuh semangat.

“Halo, Tanya. Kate, Eleazar, Carmen.”

Ketiganya menggumamkan sapaan.

“Kata Carlisle dia perlu bicara dengan kami secepatnya,” suara pertama berkata; Tanya. Aku bisa mendengar mereka masih di luar. Aku membayangkan Edward berdiri di pintu, menghalangi jalan masuk. “Ada apa? Persoalan dengan werewolf?”

Jacob memutar bola matanya.

“Tidak,” jawab Edward. “Gencatan senjata kami dengan para werewolf justru lebih kuat daripada yang sudah-sudah.” Seorang wanita terkekeh,

“Kau tidak mau mempersilakan kami masuk, ya?” tanya Tanya. Lalu ia melanjutkan tanpa menunggu jawaban. “Mana Carlisle?”

“Carlisle harus pergi.”

Sejenak tidak terdengar apa-apa.

“Apa yang terjadi sebenarnya, Edward?” tuntut Tanya.

“Kuharap kalian mau mendengarkan dulu” Edward menjawab. “Ada sesuatu yang sulit dijelaskan, dan aku ingin kalian membuka pikiran sampai kalian mengerti.”

“Carlisle baik-baik saja, kan?” suara lelaki bertanya cemas. Eleazar,

“Tak seorang pun di antara kami baik-baik saja, Eleazar” jawab Edward, lalu ia menepuk-nepuk sesuatu, mungkin bahu Eleazar. “Tapi secara fisik Carlisle baik-baik saja,”

“Secara fisik?” tanya Tanya tajam, “Apa maksudmu?”

“Maksudku seluruh keluargaku berada dalam bahaya besar. Tapi sebelum menjelaskan, kuminta kalian berjanji. Dengarkan semua yang kukatakan sebelum kalian bereaksi. Kumohon kalian mendengarkan penjelasanku.”

Kesunyian yang lebih lama menyambut petmintaannya. Di tengah kesunyian yang menyesakkan itu, Jacob dan aku saling memandang tanpa kata. Bibir Jacob yang merah memucat.

“Kami akan mendengarkan,” kata Tanya akhirnya. “Kami akan mendengar semua penjelasanmu sebelum menghakimi.”

“Terima kasih. Tanya,” seru Edward sungguh-sungguh. “Kami takkan melibatkanmu dalam masalah ini seandainya kami punya pilihan.”

Edward menepi. Kami mendengar empat pasang kaki berjalan melewati ambang pintu.

Seseorang mengendus. “Aku tahu para werewolf itu terlibat,” gerutu Tanya.

“Benar, dan mereka ada di pihak kami. lagi.”

Peringatan itu membungkam Tanya.

“Mana Bella-mu?” tanya salah seorang wanita. “Bagaimana keadaannya?”

“Dia akan bergabung dengan kita sebentar lagi. Dia baik-baik saja, terima kasih. Dia menjalani kehidupan barunya sebagai makhluk imortal dengan sangat baik”

“Ceritakan pada kami tentang bahaya itu, Edward,” pinta Tanya pelan. “Kami akan mendengarkan, dan kami akan ada di pihakmu, karena memang di sanalah tempat kami.”

Edward menghela napas dalam-dalam. “Aku ingin kalian bersaksi untuk diri kalian dulu. Dengar—di ruangan lain. Apa yang kalian dengar?”

Suasana senyap, kemudian terdengar gerakan.

“Dengarkan dulu, please” pinta Edward.

“Werewolf, dugaanku. Aku bisa mendengar detak jantungnya,” kata Tanya.

“Apa lagi?” tanya Edward,

Sejenak tak terdengar apa-apa.

“Suara apa itu yang menggelepar-gelepar?” Kate atau Carmen bertanya. “Apakah itu… semacam burung?”

“Bukan, tapi ingatlah apa yang kalian dengar. Sekarang, kalian mencium bau apa? Selain bau werewolf?”

“Apakah ada manusia di sana?” bisik Eleazar.

“Bukan,” sergah Tanya. “Itu bukan manusia… tapilebih dekat ke manusia daripada bau-bau lain yang ada di sini. Apa itu, Edward? Rasanya aku tak pernah mencium bau itu sebelumnya”

“Memang belum pernah, Tanya. Please, please ingat bahwa ini sesuatu yang sepenuhnya baru bagi kalian. Buang jauh-jauh segala prasangka kalian.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.