Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Air mata menggenang di sudut mata Renesmee. Kuhapus dengan ciuman. Ia menyentuh matanya dengan takjub dan melihat ujung jarinya yang basah.

“Jangan menangis,” kataku. “Semua pasti beres. Kau akan baik-baik saja. Aku akan mencarikan jalan keluar untukmu.”

Kalaupun tak ada hal lain yang bisa kulakukan, aku tetap akan bisa menyelamatkan Renesmee. Aku yakin sekali inilah yang diberikan Alice padaku. Ia pasti tahu. Alice pasti akan meninggalkan jalan keluar untukku.

30. MENGGEMASKAN

Banyak sekali yang harus dipikirkan.

Bagaimana aku bisa mencari waktu sendiri untuk melacak keberadaan J. Jenks dan mengapa Alice ingin aku tahu mengenai dia?

Kalau petunjuk Alice tak ada hubungannya dengan Renesmee, apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan putriku?

Bagaimana Edward dan aku bisa menjelaskan duduk masalahnya pada keluarga Tanya besok pagi? Bagaimana kalau mereka bereaksi seperti Irina? Bagaimana kalau pertemuan besok berubah menjadi pertarungan?

Aku tidak tahu bagaimana caranya bertarung. Bagaimana aku bisa mempelajarinya hanya dalam satu bulan? Apakah ada kesempatan supaya aku bisa diajari cukup cepat sehingga bisa menjadi ancaman bagi anggota keluarga Volturi? Atau aku sudah ditakdirkan menjadi sesuatu yang sia-sia? Hanya vampir baru yang bisa disingkirkan begitu saja?

Begitu banyak jawaban yang kubutuhkan, tapi aku tidak mendapat kesempatan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.

Ingin agar situasi tetap normal bagi Renesmee, aku bersikeras mengajaknya pulang ke pondok kami pada jam tidur. Jacob merasa lebih nyaman dalam wujud serigalanya saat ini; ia lebih mudah menghadapi tekanan bila merasa siap bertempur. Kalau saja aku bisa merasakan hal yang sama, bisa merasa siap. Ia berlari di hutan, berpatroli lagi.

Setelah Renesmee tidur nyenyak, aku membaringkannya di tempat tidur, kemudian pergi ke ruang depan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaanku pada Edward. Pertanyaan yang bisa kulontarkan, setidaknya; salah satu hal tersulit adalah menyembunyikan sesuatu dari Edward, walaupun aku beruntung ia tak bisa membaca pikiranku.

Edward berdiri membelakangiku, memandangi api unggun.

“Edward, aku…”

Ia berbalik dan secepat kilat berjalan melintasi ruangan, tak sampai satu detik. Aku baru mengenali ekspresi wajahnya yang garang ketika detik berikut bibirnya sudah melumat bibirku, dan kedua lengannya memelukku erat seperti capitan baja.

Aku tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaanku lagi sepanjang sisa malam itu. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memahami suasana hatinya, bahkan merasakan hal yang sama persis seperti yang ia rasakan.

Mulanya aku mengira butuh bertahun-tahun untuk menata gairah meluap-luap yang kurasakan secara fisik terhadapnya. Kemudian berabad-abad untuk menikmatinya. Kalau kami hanya punya waktu satu bulan untuk bersama… Well, entah bagaimana aku bisa menerima bahwa ini bakal berakhir. Saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali bersikap egois. Yang kuinginkan hanya mencintainya sebanyak mungkin selagi masih punya waktu.

Sulit rasanya melepaskan diri dari pelukannya kerika matahari terbit, tapi ada tugas yang harus kami lakukan, tugas y.mg mungkin lebih sulit daripada pencarian yang dilakukan seluruh anggota keluarga kami yang lain digabung menjadi satu. Begitu membiarkan diriku memikirkan apa yang bakal icrjadi, aku langsung tegang; urat-urat sarafku seperti diren-langkan di atas rak, semakin lama semakin tipis.

“Kalau saja ada cara mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari Eleazar sebelum kita menceritakan kepada mereka tentang Nessie,” gumam Edward sementara kami terburu-buru berpakaian di ruang ganti berukuran besar yang mengingatkanku pada Alice, sesuatu yang sedang tak ingin kuingat sekarang. “Untuk berjaga-jaga saja.”

“Tapi dia tidak akan memahami pertanyaan itu untuk bisa menjawabnya,” aku sependapat. “Menurutmu mereka mau memberi kita kesempatan untuk menjelaskan?”

“Entahlah.”

Kuangkat Renesmee yang masih tidur dari ranjangnya dan kudekap erat-erat hingga rambut ikalnya menempel di wajahku; tubuhnya wangi sekali, begitu dekat, mengalahkan bau lainnya.

Aku tak bisa membuang-buang waktu sedetik pun. Banyak jawaban yang kubutuhkan, dan aku tak tahu apakah aku akan punya banyak waktu berduaan saja dengan Edward hari ini. Kalau semua berjalan baik dengan keluarga Tanya, mudah-mudahan kami akan kedatangan tamu untuk jangka panjang.

“Edward, maukah kau mengajariku bertarung?” tanyaku, tubuhku tegang menunggu reaksinya, ketika Edward sedang membukakan pintu untukku.

Reaksinya persis seperti yang kuduga. Ia membeku, lalu menyapukan pandangannya kepadaku, seperti baru melihatku pertama kali. Matanya berhenti pada putri kami yang tertidur dalam dekapanku.

“Kalaupun terjadi pertarungan, tak banyak yang bisa kita lakukan,” elak Edward.

Aku menjaga suaraku tetap datar, “Apa kau tega membiarkan aku tidak bisa membela diri?”

Edward menelan ludah susah payah, lalu pintu itu bergetar, engsel-engselnya berderit nyaring, sementara tangannya mencengkeram kuat. Lalu ia mengangguk. “Kalau menurutmu begitu… kurasa kita bisa segera mulai berlatih begitu ada kesempatan.”

Aku mengangguk dan kami berjalan menuju rumah besar. Kami tidak terburu-buru.

Aku bertanya-tanya dalam hati apa yang bisa kulakukan yang kuharap bisa membuat perbedaan. Aku agak istimewa, dengan caraku sendiri— kalau memiliki pengendalian diri yang supranatural bisa benar-benar dianggap istimewa. Apakah aku bisa menggunakan kemampuan itu untuk sesuatu yang berguna?

“Menurutmu, apa keuntungan terbesar mereka? Apakah mereka memiliki kelemahan?”

Edward tak perlu bertanya untuk tahu bahwa yang kumaksud adalah keluarga Volturi,

“Alec dan Jane adalah senjata mereka yang paling hebat,” jawab Edward tanpa emosi, seolah-olah kami sedang membicarakan tim basket. “Para pemain belakang mereka jarang melihat aksi sungguhan yang sebenarnya,”

“Karena Jane bisa membakarmu di tempat—secara mental, paling tidak. Apa yang dilakukan Alec? Bukankah kau dulu pernah berkata dia bahkan lebih berbahaya daripada Jane?”

“Ya. Bisa dibilang, dia penangkal Jane. Jane membuatmu merasakan kesakitan yang tak terbayangkan. Alec, sebaliknya, membuatmu tidak merasakan apa-apa. Sama sekali tidak melasakan apa-apa. Kadang-kadang, kalau keluarga Volturi sedang merasa ingin berbuat baik, mereka menyuruh Alec menganestesi seseorang sebelum orang itu dieksekusi. Kalau orang itu sudah menyerah atau menyenangkan mereka dengan cara lain.”

“Anestesi? Tapi bagaimana bisa itu malah lebih berbahaya daripada Jane?”

“Karena dia mematikan semua pancaindramu. Tidak merasa kesakitan, tapi juga tidak bisa melihat, mendengar, ataupun mencium apa-apa. Benar-benar kehilangan sensor. Kau hanya sendirian di tengah kegelapan. Kau bahkan takkan merasakannya bila mereka membakarmu.”

Aku bergidik. Inikah hal terbaik yang bisa kami harapkan? Tidak melihat atau merasakan kematian ketika kematian itu datang?

“Itu membuat Alec sama berbahayanya dengan Jane,” sambung Edward, masih dengan nada datar, “dalam hal mereka berdua bisa melumpuhkanmu, menjadikanmu target yang tak berdaya. Perbedaan di antara mereka adalah seperti Aro dan aku, Aro hanya bisa mendengar pikiran satu orang. Jane hanya bisa menyakiti satu objek. Sementara aku bisa mendengar pikiran semua orang pada saat bersamaan.”

Aku merasa tubuhku dingin waktu memahami arah pembicaraan Edward. “Dan Alec bisa melumpuhkan kita semua sekaligus pada saat bersamaan?” bisikku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.