Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Renesmee memutar tubuhnya dalam gendongan Jacob untuk menyentuh pipinya.

“Aku tidak tahu apakah teman-teman Carlisle mau datang. Mudah-mudahan saja. Kedengarannya kita sedikit kekurangan orang sekarang,” bisik Jacob pada Renesmee.

Kalau begitu Renesmee tahu. Ia sudah bisa memahami dengan jelas apa yang terjadi. Fakua bahwa werewolf yang ter-impr’mt akan meluluskan apa pun yang diminta objek imprint-nya lama-lama membuatku kesal juga. Bukankah melindungi Renesmee jauh lebih penting daripada menjawab pertanyaan-per tanyaannya ?

Kutatap wajahnya dengan hati-hatL Renesmee tidak terlihat takut, hanya gelisah dan sangat serius saat ia berbicara dengan Jacob dengan caranya yang tidak bersuara itu.

“Tidak, kita tidak bisa membantu; kita hatus tinggal di sini,” sambung Jacob. “Orang-orang akan datang untuk melihatmu, bukan melihat pemandangan.”

Renesmee mengerutkan kening.

“Tidak, aku tidak perlu pergi ke mana-mana” kata Jacob. I.alu ia berpaling kepada Edward, wajahnya terperangah oleh kesadaran bahwa bisa jadi ia salah. “Benar, kan?”

Edward ragu-ragu.

“Katakan saja” kata Jacob, suaranya parau karena tegang, la sudah nyaris tak tahan lagi, sama seperri kami semua.

“Para vampir yang datang untuk membantu tidak ‘sama dengan kami,” Edward menjelaskan. “Keluarga Tanya adalah satu-satunya selain keluarga kami yang menghargai nyawa manusia, tapi bahkan mereka tidak begitu peduli pada were-tvolf. Kurasa akan lebih aman…”

‘Aku bisa menjaga diri,” sela Jacob.

“Lebih aman untuk Renesmee,” sambung Edward, “kalau pilihan untuk memercayai cerita kita tentang dia tidak dinodai dengan persahabatan dengan werewolf”

“Teman macam apa itu. Jadi mereka tega melaporkan kalian hanya karena dengan siapa kalian bergaul?”

“Kurasa sebagian besar dari mereka bisa bersikap toleran bila situasinya normal-normal saja. Tapi kau harus mengerti— menerima Nessie mungkin tidak mudah bagi mereka. Untuk apa membuatnya semakin sulit?”

Carlisle sudah menjelaskan hukum tentang anak-anak imortal kepada Jacob semalam. “Seburuk itukah anak-anak imortal?” tanyanya.

“Kau tak bisa membayangkan dalamnya luka yang mereka tinggalkan bagi kondisi kejiwaan para vampir,”

“Edward…” Masih aneh rasanya mendengar Jacob menyebut nama Edward tanpa kegetiran,

“Aku tahu, Jake. Aku tahu berat sekali berjauhan dengan Renesmee. Kita lihat saja nanti—bagaimana reaksi mereka terhadapnya. Pokoknya, Nessie harus menyembunyikan identitasnya dalam beberapa minggu ke depan. Dia harus berada di pondok sampai tiba saat yang tepat bagi kami untuk memperkenalkannya. Asal kau bisa menjaga jarak yang aman ‘lengan rumah utama…”

“Baiklah kalau begitu. Besok pagi kalian akan kedatangan tamu ?”

“Ya, Teman-teman terdekat kami. Dalam kasus ini, mungkin lebih baik kami membeberkan semuanya sesegera mungkin. Kau bisa tetap di sini. Tanya kan kenal padamu. Dia bahkan sudah pernah bertemu Seth.”

“Benar.”

“Sebaiknya kauberitahu Sam apa yang terjadi. Akan banyak orang asing berdatangan di hutan sebentar lagi.”

“Pikiran bagus. Walaupun aku berhak merasa kesal padanya gara-gara semalam.”

“Mendengarkan perkataan Alice biasanya adalah hal yang tepat.”

Jacob mengenakkan gigi, dan bisa kulihat ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Sam atas apa yang dilakukan Alice dan Jasper.

Sementara mereka berbicara, aku berjalan menuju deretan jendela belakang, berusaha menunjukkan sikap linglung dan gelisah. Bukan hal yang sulit dilakukan. Aku menyandarkan kepalaku di dinding yang melengkung dari ruang duduk ke arah ruang makan, persis di sebelah salah satu meja komputer. Kularikan jari-jariku di atas keyboard sementara mataku memandang ke arah hutan, berusaha tampak seolah-olah sedang melamun. Apakah varnpir pernah melamun? Sepertinya tak ada yang memerhatikanku, tapi aku tidak berbalik untuk memastikan. Monitor menyala. Kularikan lagi jari-jariku ke atas keyboord. Kemudian aku melarikan jari-jariku pelan di atas meja kayu, bersikap seolah-olah aku ridak sedang melakukan apa-apa. Beberapa sentuhan lagi pada tomboltombol keyboord.

Kuamati layar monitor.

Tidak ada J. Jenks di sana, tapi kalau Jason Jenks ada. Pengacara, Kusapukan tanganku ke ATAS keyboard, berusaha membuatnya terdengar berirama, seperti mengeluselus kucing yang kau lupa ada di pangkuanmu. Jason Jenks memiliki situs web yang keren untuk kantor pengacaranya, tapi alamat yang tertera di homepage-nyu salah. Memang di Seattle, tapi kode posnya berbeda. Kulihat nomor teleponnya, kemudian kusapukan lagi tanganku ke atas keyboard. Kali ini aku mencari alamatnya, tapi tak ada yang muncul, seakan-akan alamat itu tidak ada. Aku ingin melihat peta, tapi kupikir sudah cukup aku memaksakan keberuntunganku. Satu sentuhan lagi, untuk menghapus semua history…

Aku terus saja memandang ke luar jendela dan mengetuk-ngetuk meja kayu beberapa kali. Kudengar langkah-langkah ringan melintasi ruangan menghampiriku, dan aku berbalik dengan ekspresi yang kuharap akan terlihat sama seperti sebelumnya.

Renesmee mengulurkan tangan padaku, dan kubuka kedua lenganku lebar-lebar. Ia melompat ke dalam pelukanku, bau werewolf menyeruak tajam dari tubuhnya, dan kudekap kepalanya di leherku.

Entah apakah aku sanggup menghadapi ini semua. Walaupun aku takut memikirkan keselamatanku, keselamatan Edward, juga keselamatan seluruh anggota keluarga yang lain, itu semua tak ada apa-apanya dibandingkan perasaan ngeri memikirkan keselamatan putriku. Pasti ada cara untuk menyelamatkannya, walaupun hanya itu satu-satunya yang bisa kulakukan.

Tiba-tiba aku tahu inilah yang kuinginkan. Aku masih sanggup menahan segala hal kalau memang harus, tapi tidak kalau nyawa Renesmee harus dikorbankan. Yang itu tidak.

Ia satu-satunya yang harus kuselamatkan.

Tahukah Alice bagaimana perasaanku?

Tangan Renesmee menyentuh pipiku lembut.

Ia menunjukkan padaku wajahku, wajah Edward, Jacob, Rosalie, Esme, Carlisle, Alice, Jasper, menampilkan wajah seluruh anggora keluarga kami, semakin lama semakin cepat. Seth dan Leah. Charlie, Sue, dan Billy. Berulang kali. Khawatir, seperri yang dirasakan kami semua. Tapi ia hanya merasa khawatir. Sejauh yang kulihat, Jake tidak memberitahu bagian yang terburuk padanya. Bagian tentang bagaimana kami tidak mempunyai harapan, bagaimana kami semua akan mati dalam tempo satu bulan.

Ia menunjukkan wajah Alice, rindu dan bingung. Di mana Alice?

“Aku tidak tahu,” bisikku. “Tapi dia Alice. Dia melakukan hal yang tepat, seperti biasa.”

Hal yang tepat untuk Alice, setidaknya. Aku tidak suka berpikir begitu tentang Alice, tapi bagaimana lagi situasi ini bisa dimengerti?

Renesmee mendesah, dan kerinduan itu semakin menjadi-jadi.

‘Aku juga rindu padanya.”

Aku merasa wajahku bergerak, berusaha menemukan eskpresi yang sejalan dengan kesedihan yang kurasakan dalam hatiku. Mataku terasa aneh dan kering; mengerjapngerjap, berusaha menyingkirkan perasaan tak nyaman itu. Aku menggigit bibir. Waktu menarik napas, kerongkonganku tercekat, seolah-olah aku tercekik udara.

Renesmee mundur sedikit untuk memandangiku, dan aku melihat wajahku tecermin dalam benak dan matanya. Aku terlihat seperti Esme tadi pagi.

Jadi begini rasanya menangis.

Mata Renesmee berkilau basah ketika ia menyentuh wajahku. Ia membelai-belai wajahku, tidak menunjukkan apa-apa, hanya mencoba menenangkanku.

Aku tak pernah mengira akan melihat ikatan kasih ibu dan anak di antara kami akan terbalik posisinya, seperti yang selalu terjadi antara Renée dan aku. Tapi memang aku tak bisa membayangkan bagaimana masa depan kami nanti.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.