Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Sedikit sekali waktu yang tersisa untuk bersama.

Kuulurkan tanganku padanya, dan Edward meraihnya.

“Ayo cepat,” katanya. “Sebentar lagi Renesmee bangun,”

Aku mengangguk, dan kami berlari lagi.

Mungkin ini tindakan tolol, membuang-buang waktu jauh dari Renesmee hanya demi memuaskan rasa ingin tahu. Tapi surat itu mengusikku. Sebenarnya Alice bisa saja mengukir catatan di batu besar atau batang pohon seandainya ia tidak punya peralatan untuk menulis. Ia bisa saja mencuri Post-it dari rumah mana pun di sepanjang tepi jalan raya. Mengapa harus bukuku? Kapan ia mengambilnya?

Benar saja, jejak Alice mengarah kembali ke pondok dengan mu-memutar yang jauh dari rumah keluarga Cullen dan para srigala di hutan dekat situ. Alis Edward bertaut bingung ke jejak itu mengarah ke mana,

la berusaha menjelaskan keheranannya. “Alice meninggalkan dan menyuruhnya menunggu sementara dia kemari?”

Kami sudah hampir sampai di pondok sekarang, dan aku merasa gelisah. Aku senang bisa menggandeng tangan edward, tapi aku juga merasa seharusnya aku sendirian di kini. Ganjil rasanya, merobek selembar halaman buku dan imnibawanya lagi ke Jasper, Rasanya seperti ada pesan dalam undakannya itu—yang sama sekari tidak kumengerti. Tapi itu bukuku, jadi pesan itu pasti ditujukan untukku. Kalau itu sesuatu yang Alice ingin agar diketahui Edward, bukankah ia akan merobek halaman salah satu buku Edward…?

“Beri aku waktu sebentar,” kataku, menarik tanganku dari gandengan Edward begitu kami sampai di depan pintu.

Kening Edward berkerut. “Bella?”

“Please? tiga puluh detik saja,”

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku langsung melesat masuk, lalu menutup pintu rapat-rapat. Aku langsung menuju rak buku. Bau Alice masih segar—kurang dari satu hari. Api yang tidak kunyalakan berkobar di perapian, kecil tapi panas. Kusentakkan The Merchant of Venice dari rak dan membuka halaman judul.

Di sana, di sebelah bekas-bekas robekan halaman, di bawah kalimat The Merchant of Venice by William Shakespeare tertulis sebuah pesan.

Hancurkan ini

Di bawahnya tertulis nama dan alamat seseorang di Seattle.

Ketika Edward masuk hanya setelah tiga belas detik berlalu, bukan tiga puluh, aku sedang memandangi buku itu terbakar. “Ada apa, Bella?”

“Alice tadi datang ke sini. Ia merobek selembar halaman dari bukuku untuk menuliskan pesan.”

“Mengapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Mengapa kau membakarnya?”

“Aku… aku…” Keningku berkerut, membiarkan semua perasaan frustrasi dan sedih muncul di wajahku. Aku tak mengerti apa yang ingin disampaikan Alice, kecuali bahwa ia berusaha keras menyembunyikannya dari orang lain selain aku. Satu-satunya orang yang pikirannya rak bisa dibaca Edward. Jadi ia pasti ingin agar Edward tidak tahu, dan mungkin ada alasan kuat di baliknya. “Sepertinya itu hal yang tepat untuk dilakukan.”

“Kita tidak tahu apa yang dia lakukan,” kata Edward pelan.

Mataku menerawang menatap lidah api. Akulah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa membohongi Edward. Itukah yang Alice inginkan dariku? Permintaan terakhirnya?

“Sewaktu kami berada di pesawar menuju Italia,” aku berbisik—ini bukan dusta, kecuali mungkin dalam konteksnya— “dalam perjalanan untuk menyelamatkanmu… dia berbohong kepada Jasper supaya Jasper tidak mengikuti kami. Dia tahu bila Jasper menghadapi keluarga Volturi, Jasper bakal mati. Alice rela dirinya saja yang mari daripada membahayakan hidup Jasper. Rela bila aku yang mati juga. Rela bila kau yang mati.”

Edward tidak menyahut.

“Dia punya prioritas sendiri,” kataku. Sakit hatiku menyadari penjelasanku tidak terasa seperti kebohongan.

“Aku tak percaya,” sergah Edward. Ia tidak mengatakannya dengan maksud mendebatku—ia mengatakannya seperti sedang berdebat dengan dirinya sendiri. “Mungkin hanya Jasper yang berada dalam bahaya. Rencana Alice pasti bisa menyelamatkan kita semua, tapi Jasper bakal mati kalau dia tetap di sini. Mungkin…”

“Kalau benar begitu, dia kan bisa mengatakannya pada kita. Menyuruh Jasper pergi.”

“Tapi apakah Jasper mau pergi? Mungkin Alice membohonginya lagi”

“Mungkin,” aku pura-pura sependapat. “Sebaiknya kita pulang. Tak ada waktu lagi.”

Edward menggandeng tanganku, dan kami pun lari.

Pesan Alice tidak membuatku merasa berharap. Kalau saja ada cara menghindari pembantaian yang akan datang, Alice pasti akan tetap tinggal. Aku tidak melihat kemungkinan lain. Jadi ini pasti sesuatu yang punya tujuan lain. Bukan jalan untuk meloloskan diri. Tapi apa lagi yang menurutnya pasti kuinginkan? Mungkin cara untuk menyelamatkan sesuatu? Adakah yang masih bisa kuselamatkan?

Carlisle dan yang lain tidak berdiam diri saja selama kepergian kami. Kami hanya berpisah dengan mereka selama lima menit, tapi mereka sudah siap berangkat. Di sudut ruangan Jacob sudah kembali menjadi manusia, bersama Renesmee di pangkuan, keduanya memandangi kami dengan mata membelalak.

Rosalie sudah mengganti gaun lilit sutranya dengan jins yang kelihatannya tangguh, sepatu olahraga, dan kemeja berbahan tebal yang biasa digunakan backpacker untuk melakukan perjalanan jauh. Esme juga mengenakan pakaian yang sama. Di meja terletak bola dunia, tapi mereka sudah selesai mengamatinya, hanya menunggu kami.

Atmosfer terasa lebih positif sekarang daripada sebelumnya; mereka senang bisa melakukan sesuatu. Mereka menggantungkan harapan pada instruksi Alice.

Kupandangi bola dunia itu dan bertanya-tanya dalam hati, ke mana kami akan pergi lebih dulu.

“Kami harus tinggal di sini?” tanya Edward, menatap Carlisle. Kedengarannya ia kesal.

“Kata Alice, kita harus menunjukkan Renesmee pada orang-orang, dan bahwa kita harus berhati-hati mengenainya,” jawab Carlisle. “Kami akan mengirim siapa pun yang bisa kami temukan ke sini—Edward, kaulah yang paling mampu menjaga pertahanan ‘ladang ranjau’ itu,”

Edward mengangguk kaku, tetap saja merasa tidak senang. “‘Banyak sekali wilayah yang harus didatangi,”

“Kami akan berpencar,” jawab Emmett, “Rose dan aku akan mencari para vampir nomaden.”

“Kalian akan sibuk sekali di sini,” kata Catliste, “Keluarga Tanya besok pagi akan datang, dan mereka sama sekali tidak tahu mengapa. Pertama, kau harus membujuk mereka agar tidak bereaksi seperti Irina. Kedua, kau harus mencari tahu apa yang dimaksud Alice tentang Eleazar. Kemudian, setelah semua itu, maukah mereka tetap berada di sini untuk menjadi saksi bagi kita? Hal yang sama akan terulang lagi begitu yang lain datang—kalau kami bisa membujuk mereka untuk datang ke sini.” Carlisle mendesah. “Tugas kalian mungkin yang paling sulit. Kami akan kembali untuk membantu sesegera mungkin.”

Carlisle meletakkan tangannya cU bahu Edward sebentar, kemudian mengecup keningku. Esme memeluk kami berdua, rim i Emmett meninju lengan kami. Rosalie menyunggingkan ci-nyum kaku pada Edward dan aku, memberi ciuman jauh untuk Renesmee, lalu melontarkan seringaian perpisahan pada bcob.

“Semoga beruntung,” kata Edward pada mereka.

“Kalian juga,” sahut Carlisle. “Kita semua membutuhkan keberuntungan.”

Kupandangi kepergian mereka, berharap aku bisa merasakan entah harapan apa yang menyemangati mereka, dan berharap kalau saja aku bisa menggunakan komputer sendirian. Aku lurus mencari tahu siapa si J. Jenks ini dan mengapa Alice begitu bersusah payah memberikan namanya hanya padaku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.