Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Berikutnya giliran Angela dan Ben menyelamati kami, diikuti orangtua Angela, kemudian Mike serta Jessica—dan yang mengejutkan, mereka bergandengan tangan. Aku tidak mendengar kabar mereka berpacaran lagi. Baguslah kalau begitu.

Di belakang teman-teman manusiaku berdiri sepupu-sepupu baruku, keluarga Denali. Sadarlah aku bahwa aku menahan napas saat vampir yang berdiri paling depan— Tanya, asumsiku, kalau menilik semburat merah stroberi di rambut pirangnya yang ikal— mengulurkan tangan untuk memeluk Edward. Di sebelahnya, tiga vampir lain dengan mata keemasan memandangiku dengan sikap ingin tahu yang terang-terangan. Yang seorang berambut pirang pucat, lurus seperti rambut jagung. Wanita yang lain dan laki-laki yang berdiri di sampingnya berambut hitam, kulit mereka yang seputih kapur memiliki rona sewarna buah zaitun.

Dan mereka begitu rupawan hingga perutku mulas.

Tanya masih memeluk Edward.

“Ah, Edward,” ujarnya. “Aku rindu padamu.”

Edward tertawa kecil dan dengan luwes melepaskan diri dari pelukan Tanya, meletakkan tangannya di bahu Tanya dan mundur selangkah, seperti hendak melihat lebih jelas. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Tanya. Kau kelihatan segar.”

“Kau juga.”

“Izinkan aku memperkenalkan kalian pada istriku.” Itu untuk pertama kalinya Edward menyebut kata itu sejak kami resmi menjadi suami-istri; ia kelihatan seperti mau meledak saking puasnya bisa menyebutku istrinya. Keluarga Denali tertawa renyah menanggapinya. “Tanya, kenalkan, ini Bellaku.”

Seperti yang sudah bisa kubayangkan dalam mimpi terburukku, Tanya memang cantik jelita. Ia mengamatiku dengan tatapan spekulatif kemudian mengulurkan tangan untuk menjabat tanganku.

“Selamat datang di keluarga kami. Bella.” Ia tersenyum, senyumnya sedikit muram. “Kami menganggap diri kami bagian dari keluarga besar Carlisle, dan aku sangat menyesal tentang, eh, insiden baru-baru ini ketika kami bersikap tidak semestinya. Seharusnya sudah sejak dulu kami bertemu denganmu. Kau bisa memaafkan kami?”

“Tentu saja,” jawabku dengan napas tertahan. “Senang sekali berkenalan denganmu”

“Keluarga Cullen sekarang genap jumlahnya. Mungkin berikutnya giliran kami, bagaimana, Kate?” Ia nyengir pada wanita yang berambut pirang.

“Mimpi saja terus,” tukas Kate sambil memutar bola matanya yang keemasan, ia meraih tanganku dari genggaman Tanya dan meremasnya pelan. “Selamat datang, Bella.”

Wanita yang berambut hitam meletakkan tangannya di atas tangan Kate. “Aku Carmen, ini Eleazar. Kami sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu.”

“A—aku juga” sahutku terbata-bata.

Tanya melirik orang-orang yang menunggu di belakang— wakil Charlie, Mark, dan istrinya. Mata mereka membelalak saat melihat klan Denali.

“Nanti saja kita semakin saling mengenal. Kita punya waktu berabad-abad” tawa Tanya sementara ia dan keluarganya beranjak pergi

Semua tradisi standar dipertahankan. Mataku sampai silau oleh kilatan lampu blitz saat kami bersiap memotong kue pengantin yang spektakuler—terlalu mewah, pikirku, untuk pesta yang hanya dihadiri beberapa teman dekat dan anggota keluarga. Kami bergantian saling menyuapkan kue; Edward dengan jantan menelan kue jatahnya sementara aku memandanginya dengan tatapan tidak percaya. Kulempar buket bungaku dengan keahlian tak terduga, mendarat persis di tangan Angela yang terkejut. Emmett dan Jasper tertawa melolong-lolong melihat wajahku yang memerah saat Edward melepas garter pinjamanku—yang sudah kuturunkan sampai hampir mendekati pergelangan kaki— dengan sangat hati-hati menggunakan giginya. Lalu setelah mengedip cepat padaku, ia langsung melempar garter itu ke wajah Mike Newton.

Dan ketika musik mulai mengalun, Edward menarikku ke dalam pelukannya untuk tradisi dansa pertama setelah resmi sebagai suami-istri; aku menurut, walaupun sebenarnya takut berdansa—apalagi di depan orang banyak—bahagia karena berada dalam pelukannya. Ia yang melakukan semuanya, dan aku berputar mulus di bawah sinar lampulampu kanopi dan kilatan lampu-lampu blitz.

“Menikmati pesta, Mrs. Cullen?” bisik Edward di telingaku.

Aku tertawa. “Butuh waktu membiasakan diri dengan panggilan itu.”

“Kita punya banyak waktu,” ia mengingatkanku, suaranya gembira, dan ia membungkuk untuk menciumku sementara kami berdansa. Kamera-kamera berebut mengabadikan momen itu.

Musik berganti, dan Charlie menepuk bahu Edward.

Tak semudah itu berdansa dengan Charlie. Ia tidak lebih luwes daripadaku, jadi untuk amannya kami hanya bergerak ke kiri dan ke kanan, membentuk formasi bujursangkar kecil. Edward dan Esme berp utar-putar mengitari kami bagaikan Fred Astaire dan Ginger Rogers.

“Aku pasti akan merindukanmu di rumah, Bella. Belum-belum aku sudah merasa kesepian.”

Aku berbicara dengan leher tercekat, berusaha mengubahnya menjadi canda. ‘Aku merasa sangat tidak enak membiarkan Dad memasak sendiri—bisa dibilang itu tindakan kri-minaL Dad bisa menangkapku karena itu.”

Charlie nyengir. “Soal makanan masih bisa kuatasi. Tapi telepon aku kapan saja kau bisa.”

“Aku berjanji”

Rasanya aku sudah berdansa dengan semua orang. Senang rasanya bertemu dengan semua teman lamaku, tapi aku benar-benar ingin bersama Edward, lebih dari hal lain. Aku senang ia akhirnya menyela, hanya setengah menit setelah aku baru mulai berdansa dengan seseorang.

“Kau masih saja tidak suka pada Mike, ya?” aku berkomentar saat Edward menarikku menjauhinya.

“Tidak kalau aku harus mendengarkan pikirannya. Masih untung aku tidak menendangnya. Atau yang lebih parah lagi daripada itu.”

“Yeah, yang benar saja.”

“Apa kau tidak sempat melihat bayangan wajahmu sendiri?”

“Eh. Tidak, kurasa tidak. Mengapa?”

“Kalau begitu kurasa kau tidak sadar betapa luar biasa cantik dan memesonanya kau malam ini. Aku tak heran Mike jadi berpikir yang tidak-tidak tentang wanita yang sudah menikah. Aku benar-benar kecewa Alice tidak memaksamu melihat ke cermin.”

“Kau sangat bias, tahu.”

Edward mendesah kemudian terdiam, lalu membalikkan badan hingga menghadap ke arah rumah. Dinding kaca memantulkan bayangan pesta seperti cermin panjang. Edward menuding ke pasangan yang berada persis di depan kami.

“Aku bias, begitu ya?”

Sekilas aku melihat bayangan Edward—duplikat sempurna dari wajahnya yang sempurna—dengan wanita cantik berambut gelap di sampingnya. Kulitnya putih kemerahan, matanya membesar penuh kebahagiaan dan dibingkai bulu mata tebak Gaun putihnya yang gemerlapan mengembang lembut di bagian ekor, nyaris menyerupai calla lily terbalik, dipotong dengan begitu ahlinya hingga tubuhnya terlihat elegan dan anggun— saat sedang tidak bergerak, setidaknya.

Belum lagi aku sempat mengerjap dan membuat wanita cantik itu berubah kembali menjadi aku, tubuh Edward tiba-tiba tegang dan otomatis ia berbalik ke arah lain, seolaholah ada yang memanggil namanya.

“Oh!” ucapnya. Alisnya berkerut sesaat dan sejurus kemudian lurus kembali,

Tiba-tiba senyum cemerlang merekah di wajahnya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Ada hadiah pernikahan kejutan.”

“Hah?”

Edward tidak menjawab; ia mulai berdansa lagi, memutarku ke arah berlawanan, menjauh dari lampu-lampu dan memasuki kegelapan yang mengeliling lantai dansa yang bermandikan cahaya.

Ia tidak berhenti hingga kami sampai ke sisi gelap salah satu pohon cedar raksasa. Lalu Edward memandang lurus ke bayang-bayang yang paling gelap.

“Terima kasih,” kata Edward ke arah kegelapan, “Kau sungguh… baik hati.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.