Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Alice memutuskan untuk meninggalkan kita,” bisik Carlisle,

“Apa?” pekik Rosalie,

Carlisle membalik kertas itu ke arah kami supaya kami semua bisa membacanya.

Jangan cari kami. Jangan buang-buang waktu. Ingat: Tanya., Siobhan, Amun, Alistair,, semua, vampir kaum nomaden. yang bisa. kailan terumkan. Kami akasi mencari Peter dan Charlotte dalam perjalanan. Kami sangat menyesal karena, harus meninggalkan kalian dengan cara, seperti ini, tanpa, pamit atau penjelasan,. Hanya, ini satu-satunga, jalan bagi kami. Kami menyayangi kalian.

Lagi-lagi kami membeku, kesunyian begitu senyap, yang terdengar hanya detak jantung para serigala serta embusan napas mereka. Pikiran mereka pasti juga lantang, Edward-lah yang pertama bergerak, merespons apa yang didengarnya dalam benak Sam.

“Ya, keadaan memang sangat berbahaya.”

“Cukup berbahaya hingga membuatmu tega meninggalkan keluargamu!?” Sam bertanya dengan suara keras, nadanya mengecam. Jelas ia tidak membaca surat itu sebelum memberikannya kepada Carlisle, Ia tampak marah sekarang, menyesal karena telah menuruti kata-kata Alice.

Ekspresi Edward kaku—di mata Sam itu mungkin akan terlihat marah atau arogan, tapi aku bisa melihat kepedihan di wajahnya.

“Kita tak tahu apa yang dilihatnya,” kata Edward. “Alice bukan orang yang tidak punya perasaan atau pengecut. Dia hanya tahu lebih banyak daripada kami.”

“Kami tidak…,” Sam mulai berkata.

“Kalian terikat dengan cara berbeda dengan kami.” bentak Edward. “Kami masingmasing memiliki kehendak bebas.”

Dagu Sam terangkat, matanya tiba-tiba terlihat datar dan hitam.

“Tapi sebaiknya kalian mengindahkan peringatan ini,” lanjut Edward. “Kalian pasti tak ingin melibatkan diri dalam hal ini. Kalian masih bisa menghindari apa yang dilihat Alice.”

Sam tersenyum masam. “Kami rak pernah melarikan diri.” di belakangnya, Paul mendengus.

“Jangan sampai seluruh keluargamu dibantai hanya gara-gara keangkuhan,” Carlisle menyela pelan.

Sam menatap Carlisle dengan ekspresi lebih lembut. “Seperti yang telah ditegaskan Edward tadi, kami tidak memiliki kebebasan seperti kalian. Renesmee sudah menjadi bagian keluarga kami sekarang, sama halnya seperti dia bagian keluarga kalian. Jacob tak mungkin meninggalkannya, dan kami tak bisa meninggalkan Jacob.” Matanya melirik surat Alice, bibirnya terkatup rapat, membentuk garis lurus.

“Kau tidak kenal Alice,” tukas Edward.

“Memangnya kau kenal?” balas Sam blakblakan.

Carlisle memegang bahu Edward. “Banyak yang harus kira lakukan, Nak. Apa pun keputusan Alice, sungguh tolol bila kita tidak mengikuti nasihatnya sekarang. Ayo kita pulang dan mulai bekerja.”

Edward mengangguk, wajahnya masih kaku akibat kesedihan. Di belakangku, aku bisa mendengar sedu sedan Esme yang tanpa air mata.

Aku tak tahu bagaimana caranya menangis dalam tubuh ini. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memandangi. Belum ada perasaan apa-apa. Segalanya terkesan tidak nyata, seolah-olah aku kembali bermimpi setelah beberapa bulan tak pernah lagi bermimpi. Bermimpi buruk.

“Terima kasih, Sam” kata Carlisle.

“Maafkan aku,” jawab Sam. “Seharusnya kami tidak mengizinkannya lewat.”

“Kau sudah melakukan yang benar,” kara Carlisle. “Alice bebas melakukan apa saja yang dia inginkan. Aku takkan merenggut kebebasan itu darinya.”

Selama ini aku selalu memandang keluarga Cullen sebagai satu kesatuan, unit yang tidak bisa dipecah-pecah. Mendadak aku ingat bahwa tidak selamanya begitu. Carlisle menciptakan Edward, Esme, Rosalie, dan Emmert; Edward menciptakan aku. Secara fisik kami terikat oleh darah dan racun vampir. Aku tak pernah membayangkan Alice dan Jasper sebagai kelompok terpisah—yang diadopsi ke dalam keluarga. Tapi sebenarnya, justru Alice yang mengadopsi keluarga Cullen. Ia muncul dengan masa lalu yang tak ada hubungannya sama sekali dengan mereka, membawa Jasper yang memiliki masa lalu sendiri, dan masuk ke dalam keluarga yang sudah lebih dulu ada. Baik Alice maupun Jasper tahu ada kehidupan lain di luar keluarga Cullen. Apakah ia benar-benar memilih menjalani hidup baru setelah melihat kehidupan bersama keluarga Cullen telah berakhir.’

Habislah kami kalau begitu, benar bukan? Tak ada harapan sama sekali. Tidak ada sedikit atau secercah harapan pun yang bisa meyakinkan Alice bahwa ia memiliki peluang untuk selamat bila tetap bersama kami.

Udara pagi yang cemerlang mendadak terasa pengap, jadi lebih gelap, seolah-olah secara fisik jadi semakin gelap akibat kesedihanku,

“Aku takkan menyerah begitu saja tanpa melawan,” Emmett menggeram pelan. “Alice menyuruh kita melakukan sesuatu. Mari kita lakukan.”

Yang lain mengangguk dengan ekspresi penuh tekad, dan sadarlah aku, mereka semua berharap pada entah kesempatan apa yang diberikan Alice pada kami. Bahwa mereka tak mau menyerah begitu saja tanpa harapan dan menunggu datangnya kematian.

Ya, kami semua akan melawan. Apa lagi yang bisa kami I ilurkan? Dan rupanya kami akan melibatkan yang lain, ka-ioi.i itulah yang dikatakan Alice sebelum ia pergi meninggal-l.in kami.

Kami akan melawan, mereka akan melawan, dan kita se-inn.i akan mati.

Aku tidak merasakan tekad yang sama seperti yang tampaknya dirasakan yang lain. Alice tahu seberapa besar peluangnya, la memberi kami satu-satunya kesempatan yang bisa dilihatnya, tapi kesempatan itu terlalu riskan baginya untuk dipertaruhkan.

Aku sudah merasa babak-belur saat berbalik memunggungi wajah Sam yang penuh kritik dan mengikuti Carlisle menuju ke rumah.

Kami berlari sekarang, tapi tidak panik seperti sebelumnya. Saat kami mendekati sungai, kepala Esme terangkat. “Ada jejak lain. Masih baru.”

Ia mengangguk ke depan, ke tempat yang dikatakannya tadi pada Edward dalam perjalanan ke sini. Ketika kami berlari untuk menyelamatkan Alice…

“Pasti jejak itu baru ditinggalkan dini hari tadi. Hanya Alice, tanpa Jasper,” kata Edward lesu.

Wajah Esme berkerut, dan ia mengangguk.

Aku bergerak ke kanan, agak tertinggal di belakang. Aku yakin Edward benar, tapi selain itu… Bagaimanapun juga, mana bisa pesan Alice ditulis di halaman yang dirobek dari bukuku?

“Bella?” tanya Edward dengan suara tanpa emosi ketika melihatku ragu-ragu.

“Aku ingin mengikuti jejaknya,” kataku padanya, mencium bau samar Alice yang melenceng dari jalur awalnya. Aku baru dalam hal ini, tapi baunya sama persis dalam penciumanku, hanya minus bau Jasper,

Mata keemasan Edward kosong. “Mungkin jejaknya hanya mengarah kembali ke rumah.”

“Kalau begitu aku akan bertemu denganmu di sana,”

Mulanya kusangka ia akan membiarkanku pergi sendirian, tapi kemudian, setelah aku bergerak beberapa langkah, mata kosong Edward mengerjap, kembali tersadar.

“Aku akan menemanimu” ujar Edward pelan. “Sampai ketemu nanti di rumah, Carlisle.”

Carlisle mengangguk, dan yang lain-lain pergi. Kutunggu sampai mereka lenyap dari pandangan, kemudian berpaling pada Edward dengan tatapan bertanya.

“Aku tak mungkin membiarkanmu pergi tanpaku,” ia menjelaskan dengan suara pelan. “Membayangkannya saja aku sudah sedih.”

Aku mengerti. Aku mencoba membayangkan berpisah dengannya dan menyadari aku juga akan merasakan kesedihan yang sama, tak peduli betapa pun singkatnya perpisahan itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.