Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Cepat!” ia berseru pada kami. “Kalian harus menemukan mereka semua!”

“Menemukan apa?” tanya Jacob, menutup pintu depan setelah ia masuk. “Alice ke mana?”

Tak ada yang menjawab; kami hanya memandanginya.

Jacob mengibas rambut basahnya dan memasukkan kedua i angannya ke lengan T-shirt, matanya tertuju pada Renesmee, Hai, Bells! Kusangka kalian sudah pulang malammalam begini…”

Akhirnya ia menengadah padaku, mengerjapkan mata, kemudian menatap kami. Kulihat ekspresinya waktu akhirnya ia menyadari suasana dalam ruangan itu. Ia menunduk, matanya membelalak, melihat air yang menggenang di lantai, bunga-bunga mawar yang berserakan, serta serpihan kristal di mana-mana. Jari-jarinya bergetar.

“Apa?” tanyanya datar. “Apa yang terjadi?”

Aku tak tahu harus mulai dari mana. Yang lain juga tidak sanggup mengatakan apaapa.

Jacob melintasi ruangan dalam tiga langkah lebar dan jatuh berlutut di samping Renesmee dan aku. Aku bisa merasakan panas merambati tubuhnya saat getaran mengguncang kedua lengan hingga ke tangannya.

“Dia baik-baik saja?” tuntut Jacob, menyentuh dahi Renesmee, menelengkan kepala saat ia mendengarkan detak jantungnya. “Jangan main-main denganku, Bella, pleasel”

“Tak ada yang salah dengan Renesmee,” jawabku tersendat-sendat.

“Kalau begitu siapa?”

“Kami semua, Jacob,” bisikku. Dan nada itu juga terdengar dalam suaraku—suara dari liang kubur. “Sudah berakhir. Kami semua divonis mari.”

29. DITINGGAL

KAMl duduk di sana sepanjang malam, patung-patung yang dilanda kengerian dan kesedihan, dan Alice tak pernah kembali.

Kami sudah tak tahan—saking takutnya hingga diam tak bergerak sama sekali. Carlisle saja nyaris tak bisa menggerakan bibir untuk menjelaskan semuanya pada Jacob. Menjelaskan kembali seakan-akan membuat keadaan semakin buruk; bahkan Emmett berdiri diam dan membeku sejak saat ini.

Baru setelah matahari bersinar dan aku tahu Renesmee sebentar lagi akan bergerak dalam gendonganku, untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya mengapa Alice pergi begitu lima. Aku berharap akan mengetahui jawabannya sebelum menghadapi keingintahuan putriku. Bahwa ada jawaban dari keherananku. Hanya secuil, secuil harapan bahwa aku bisa tersenyum dan menjaga agar kebenaran tidak membuat Nessie ketakutan.

Aku merasa wajahku kaku, membentuk topeng permanen yang kupakai sepanjang malam. Entah apakah aku mampu tersenyum lagi.

Jacob mendengkur di sudut ruangan, gunungan bulu di lantai, berkedut-kedut gelisah dalam tidurnya. Sam tahu semuanya—para serigala bersiap-siap menghadapi apa yang bakal terjadi. Walaupun persiapan itu takkan menghasilkan apa-apa kecuali membuat mereka ikut terbunuh bersama seluruh keluargaku.

Cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela belakang, berkilau di kulit Edward, Mataku belum beranjak sedikit pun darinya sejak kepergian Alice. Kami saling menatap sepanjang malam, merasa tak sanggup kehilangan diri masing-masing. Kulihat bayanganku terpantul di matanya yang menderita saat matahari menyentuh kulitku.

Alisnya bergerak sedikit, lalu bibirnya.

“Alice,” ujarnya.

Suara Edward terdengar seperti es yang pecah karena mencair. Kami bergerak sedikit, mengendurkan kekakuan sedikit. Bergerak lagi.

“Lama sekali dia pergi,” gumam Rosalie, terkejut.

“Di mana dia kira-kira?” tanya Emmett, berjalan selangkah menuju pintu.

Esme meletakkan tangan di lengannya. “Kita tidak ingin mengusik…”

“Dia kan belum pernah pergi selama ini,” kata Edward. Kekhawatiran baru menggores topeng yang menutupi wajah aslinya. Wajahnya kembali hidup, matanya tibatiba membelalak oleh ketakutan baru, kepanikan ekstra. “Carlisle, mungkinkah menurutmu —serangan pendahuluan? Mungkinkah Alice sempat melihat jika mereka mengirim orang untuk mencarinya?”

Kulit transparan Aro memenuhi benakku. Aro, yang pernah melihat seluruh isi pikiran Alice hingga ke sudut-sudutnya, yang tahu semua yang bisa ia lakukan…

Emmett memaki dengan suara nyaring, membuat Jacob terlonjak kaget dan berdiri sambil menggeram. Di halaman, geramannya digemakan kawanannya. Keluargaku bergerak secepat kilat hingga gerakan mereka kabur.

Tetaplah bersama Renesmee!” aku menjerit sekuat tenaga pada Jacob sambil berlari keluar pintu.

Aku masih lebih kuat daripada mereka semua, dan kekuatan itu untuk memacu diriku. Dalam beberapa detik aku sudah berhasil menyusul Esme, dan Rosalie beberapa langkah kemudian. Aku menghambur menembus hutan lebat sampai berada persis di belakang Edward dan ‘ .irlisle.

“Mungkinkah mereka bisa melakukan sesuatu tanpa Alice mengetahuinya lebih dulu?” tanya Carlisle, suaranya datar seolah-olah ia berdiri diam tak bergerak, bukannya sedang berlari dengan kecepatan penuh.

“Sepertinya tidak mungkin,” jawab Edward. “Tapi Aro mengenal Alice lebih daripada siapa pun. Lebih daripada aku.”

Apakah ini jebakan?” seru Emmett dari belakang kami.

“Mungkin,” jawab Edward. “Tidak ada bau lain selain bau Alice dan Jasper. Ke mana perginya mereka?”

Sejak Alice dan Jasper melengkung membentuk lekukan lebar; pertama membentang ke timur rumah, tapi mengarah ke seberang sungai, kemudian kembali lagi ke barat selelah beberapa kilometer. Kami kembali menyeberangi sungai, keenamnya melompat, masing-masing dengan jeda sedetik. Elward berlari paling depan, berkonsentrasi penuh.

“Kau mencium bau itu tidak?” seru Esme beberapa saat setelah kami melompati sungai untuk kedua kalinya. Ia berada paling belakang, di ujung kiri rombongan. Ia melambaikan tangan ke arah tenggara,

“Tetaplah di jalur utama—kita sudah hampir sampai ke perbatasan Quileute,” Edward memerintahkan dengan nada tegang. “Jangan berpencar. Lihat apakah mereka berbelok ke utara atau selatan.”

Tidak seperti mereka, aku rak tahu persis di mana garis perbatasan, tapi aku bisa mencium secercah bau serigala dalam angin yang bertiup dari timur. Edward dan Carlisle memperlambat lari sedikit karena kebiasaan, dan aku bisa melihat mereka menoleh ke kiri dan ke kanan, menunggu jejak berbelok.

Kemudian bau serigala tiba-tiba menguat, dan Edward tiba-tiba menyentakkan kepala. Ia mendadak berhenti. Kami semua ikut membeku.

“Sam?” tanya Edward datar, “Ada apa ini?”

Sam keluar dari balik pepohonan beberapa ratus meter dari situ, dengan langkah cepat ia menghampiri kami dalam wujud manusia, diapit dua serigala besar—Paul dan Jared. Cukup lama juga waktu yang ia butuhkan untuk mencapai kami; wujud manusianya membuatku tak sabar. Aku tidak ingin memikirkan apa yang terjadi. Aku ingin terus bergerak, melakukan sesuatu. Aku ingin memeluk Alice, ingin mengetahui dengan pasti bahwa ia selamat.

Kulihat wajah Edward berubah pasi ketika ia membaca pikiran Sam. Sam mengabaikannya, memandang Carlisle lurus-lurus begitu ia berhenti berjalan dan mulai bicara.

“Tepat selepas tengah malam, Alice dan Jasper datang ke tempat ini dan meminta izin menyeberangi tanah kami untuk mencapai samudera, Kuizinkan, dan aku sendiri yang menganut-mereka ke tepi pantai. Mereka langsung masuk ke air dan tidak kembali. Dalam perjalanan menuju ke sana, Alice berpesan agar tidak memberitahu Jacob bahwa aku telah bertemu dengannya sampai aku berbicara dengan kalian. Aku harus menunggu di sini sampai kalian datang mencarinya, kemudian memberikan surat ini. Dia memintaku menaatinya seakan-akan nyawa kamilah taruhannya kalau kami melanggar.”

Wajah Sam muram ketika ia mengulurkan kertas terlipat, IMMF-huruf hitam kecil bertebaran di seluruh permukaannya. Kertas yang dirobek dari buku; mataku yang tajam membaca kata-kata yang tercetak di sana sementara Carlisle membuka lipatan kertas itu untuk melihat di baliknya. Sisi yang menghadap ke arahku adalah halaman copyright The Merchant of Venice. Secercah bauku berembus dari kertas itu ketika C Carlisle mengguncangkan untuk melicinkannya. Sadarlah aku kertas itu dirobek dari salah satu bukuku. Aku memang membawa beberapa benda dari rumah Charlie ke pondok; beberapa setel baju normal, semua surat dari ibuku, juga buku-buku favoritku. Koleksi novel Shakespeare-ku yang sudah usang tersimpan dalam rak buku ruang duduk di pondokku yang mungil kemarin pagi…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.