Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku berbalik dan menyelubungi tubuh Renesmee yang tertidur dengan tubuhku, menutupinya dengan rambutku, mengubur wajahku ke rambutnya yang ikal.

“Pikirkan apa yang dilihatnya siang itu,” kataku dengan suara rendah, menginterupsi apa pun yang hendak dikatakan Emmett. “Di mata seseorang yang pernah kehilangan ibu gara-gara anak imortal, bagaimana dia memandang Renesmee?”

Segalanya kembali senyap saat yang lain-lain mulai memahami apa yang sudah lebih dulu kutangkap.

“Anak imortal,” bisik Carlisle.

Aku merasa Edward berlutut di sebelahku, mendekap kami .lengan kedua lengannya.

“Padahal dia keliru.” sambungku. “Renesmee tidak seperti anak-anak lain itu. Mereka membelai, sementara Renesmee justru tumbuh membesar setiap hari. Mereka tidak terkendali, tapi Renesmee tak pernah menyakiti Charlie atau Sue, atau bahkan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang mungkin ikan meresahkan mereka. Dia bisa menguasai diri. Dia bahkan lebih cerdas daripada kebanyakan orang dewasa. Jadi tak ada alasan…”

Aku mengoceh tidak keruan, menunggu mendengar ada yang mengembuskan napas lega, menunggu ketegangan di mangan mencair begitu mereka menyadari aku benar. Ruangan mi sepertinya semakin dingin. Akhirnya, suaraku yang kecil lenyap sendiri, membisu.

Lama sekali tak ada yang mengatakan apa-apa.

Kemudian Edward berbisik di rambutku. “Itu bukan jenis kejahatan yang ingin mereka sidangkan, Sayang,” ia menjelaskan dengan suara pelan. “Aro melihat bukti Irina dalam pikirannya. Mereka datang untuk menghancurkan, bukan untuk meminta penjelasan.”

“Padahal mereka salah,” sergahku keras kepala.

“Mereka takkan menunggu kita menunjukkan itu pada mereka.”

Suara Edward masih pelan, lembut, sehalus beledu… meski begitu, kepedihan dan kesedihan dalam suaranya tak bisa dihindari. Suaranya mirip mata Alice sebelumnya— seperti di liang kubur.

“Apa yang bisa kita lakukan?” tuntutku.

Renesmee begitu hangat dan sempurna dalam pelukanku, bermimpi dengan tenang. Padahal tadi aku takut memikirkan pertumbuhannya yang begitu cepat—khawatir ia hanya akan hidup satu dekade lebih sedikit… teror itu terkesan ironis sekarang.

Tak sampai satu bulan lagi…

Jadi ini batasnya, kalau begitu? Aku telah mengalami ke bahagiaan lebih daripada kebanyakan orang. Apakah ada semacam hukum alam yang menuntut porsi yang sama besar dari kebahagiaan dan penderitaan di dunia ini? Apakah ke gembiraanku merusak keseimbangan itu? Apakah hanya empat bulan aku bisa merasakan kebahagiaan?

Emmett-lah yang menjawab pertanyaan retorisku.

“Kita melawan.” ujar Emmet tenang.

“Kita tidak bisa menang,” geram Jasper. Bisa kubayangkan bagaimana wajahnya,

bagaimana tubuhnya melengkung secara protektif, melindungi tubuh Alice.

“Well, kita juga tidak bisa lari. Tidak bisa karena ada Demetri.” Emmett mengeluarkan suara seperti orang jijik, dan secara instingtif aku tahu ia bukan tidak suka membayangkan pelacak keluarga Volturi, tapi membayangkan melarikan din “Dan aku tak yakin kita memang tidak bisa menang tukasnya. “Ada beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan. Kita tidak perlu melawan sendirian.”

Aku mengentakkan kepalaku begitu mendengarnya. “Kita tidak perlu melibatkan suku Quileute ke dalam vonis mati kita, Emmett!”

“Tenang, Bella.” Ekspresinya tak berbeda dengan saat ia mempertimbangkan bertarung melawan anakonda. Bahkan ancaman pemusnahan massal tak mampu mengubah perspektif Emmett, kemampuannya menghadapi tantangan dengan penuh semangat. “Maksudku bukan kawanan itu. Bersikaplah realistis, tapi—apa kaukira Jacob atau Sam tidak peduli bila terjadi invasi? Walaupun misalnya tidak berkaitan dengan Ncssie? Belum lagi karena, gara-gara Irina, Aro tahu tentang persekutuan kita dengan kawanan itu sekarang. Tapi yang kumaksud adalah teman-teman lain”

Carlisle menggemakan perkataanku tadi dengan berbisik. ” leman-teman lain yang tidak perlu kita seret dalam vonis mati.”

“Hei, kita beri mereka kesempatan memutuskan sendiri,” kita Emmett dengan nada menenangkan. “Aku tidak mengatakan mereka harus bertempur bersama kita.” Bisa kulihat rencanA itu mulai terbentuk dalam pikirannya sementara ia berbicara. “Kalau mereka mau mendampingi kita, cukup lama untuk membuat keluarga Volturi ragu-ragu. Bagaimanapun Bella benar. Kalau kita bisa memaksa mereka berhenti dan mendengarkan. Walaupun itu mungkin akan mengenyahkan SEMUA alasan untuk bertempur…”

Tampak secercah senyuman di wajah Emmett sekarang. Kaget juga aku belum ada yang memukulnya. Ingin benar aku melakukannya.

“Ya,” sambut Esme penuh semangat. “Itu masuk akal, Emmett. Yang perlu kita lakukan adalah membuat keluarga Volturi berhenti sebentar saja. Cukup lama untuk mendengar-kan”

“Kalau begitu kita membutuhkan saksi dalam jumlah besar,” sergah Rosalie kasar, suaranya serapuh kaca.

Esme mengangguk setuju, seolah tidak mendengar nada sarkastis dalam suara Rosalie. “Kita toh bisa meminta teman-LEMAN kita. Hanya menjadi saksi.”

“Kalau diminta, kita pun pasti mau,” kata Emmett.

“Pasti mau, asal cara kita memintanya benar,” gumam Alice.

Aku menoleh dan melihat matanya kembali hampa. “Mereka harus ditunjukkan dengan sangat hati-hati.”

“Ditunjukkan?” tanya Jasper.

Alice dan Edward menunduk menatap Renesmee. Lalu mata Alice menerawang.

“Keluarga Tanya,” ujarnya. “Kelompok Siobhan. Amun. BeJ berapa kaum nomaden—Garrett dan Mary, sudah pasti Mungkin Alistair.”

“Bagaimana dengan Peter dan Charlotte?” tanya Jasper takut-takut, seolah berharap jawabannya adalah tidak dan kakak lelakinya tak perlu dilibatkan dalam pembantaian! besar-besaran yang bakal terjadi.

“Mungkin?”

“Kelompok Amazon?” tanya Carlisle. “Kachiri, Zafrina, daa Senna?”

Awalnya Alice seperti tenggelam dalam penglihatannya sehingga tak bisa menjawab; akhirnya ia bergidik, dan matanya berkedip-kedip, kembali ke masa kini. Ia menatap mata Carlisle sejenak, kemudian menunduk.

“Aku tidak bisa melihat.”

“Apa itu tadi?” tanya Edward, bisikannya bernada menuntut. “Bagian di dalam hutan itu. Apakah kita akan mencari mereka?”

“Aku tidak bisa melihat,” ulang Alice, tak berani menatap mata Edward. Secercah perasaan bingung melintas di wajali Edward. “Kita harus berpencar dan bergegas— sebelum salju menempel di tanah. Kita harus mengumpulkan siapa saja dan membawa mereka ke sini untuk menunjukkan pada mereka.” Ia kembali menerawang. “Tanyalah pada Eleazar. Ini lebih dari sekadar masalah anak imortal.”

Kesunyian yang panjang terasa menakutkan sementara Alice berada dalam keadaan trance. Setelah selesai ia mengerjap pelan-pelan, matanya tampak buram meskipun faktanya jelas berada di masa sekarang*

“Banyak sekali. Kita harus bergegas,” bisik Alice.

“Alice?” tanya Edward. “Tadi itu terlalu cepat—aku tidak mmgerti. Apa yang—?”

“Aku tidak bisa melihat!” bentak Alice pada Edward. “Jacob sudah hampir sampai!”

Rosalie maju selangkah ke pintu depan. “Biar aku yang mengurus…”

“Tidak, biarkan saja dia,” kata Alice cepat-cepat, suaranya semakin tegang dan melengking dalam setiap kata. Ia menyambar tangan Jasper dan mulai menariknya ke pintu belakang. ‘Aku akan bisa melihat lebih jelas bila jauh dari Nessie juga. Aku harus pergi. Aku benar-benar perlu berkonsentrasi. Aku harus melihat semua yang kubisa. Aku harus pergi. Ayo, Jasper, jangan buang-buang waktu!”

Kami bisa mendengar Jacob menaiki tangga. Dengan tak sabar Alice menyentak tangan Jasper, Jasper buru-buru mengikuti, sorot bingung terpancar dari matanya, sama seperti Edward. Mereka melesat ke luar pintu, memasuki malam yang keperakan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.