Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Pikiran tak logis pertama yang muncul dalam benakku .ulilah Alice sedang mencandai kami. Karena tidak mungkin Alice tidaic sengaja menjatuhkan vas itu. Aku sendiri bisa melesat ke seberang ruangan untuk menangkap vas itu, kalau aku tidak berasumsi ia sendiri yang akan menangkapnya. Dan bagaimana vas itu bisa terlepas dari jari-jarinya? Jari-jarinya kan manrap sekali—

Belum pernah aku melihat vampit secara tak sengaja menjatuhkan apa pun. Tidak pernah.

Kemudian Alice menghadap kami, memutar badannya begitu cepat.

Matanya separo di sini dan separo lagi terkunci ke masa depan, membelalak, memandang, mengisi wajahnya yang kurus hingga wajah itu nyaris tak bisa menampung semuanya. Menatap matanya seperti melihat ke luar lubang kubur dari dalam; aku terkubur dalam teror, kengerian, dan ketakutan melihat tatapannya.

Kudengar Edward tersentak; suaranya pecah dan separo tersedak.

“Apa?” geram Jasper, melompat ke sisi Alice dalam gerakan kabur, meremukkan kristal yang pecah itu dengan kakinya. Disambarnya bahu Alice dan diguncangkannya keras-keras. Alice seperti mainan tanpa suara di tangan Jasper. “Apa, Alice?”

Emmett masuk dalam pandanganku, menyeringaikan gigi sementara matanya berkelebat ke jendela, mengantisipasi datangnya serangan.

Sementara Esme, Carlisle, dan Rose hanya bisa diam, membeku kaku seperti aku.

Jasper kembali mengguncang tubuh Alice, Ada apa?”

“Mereka datang menemui kita,” Alice dan Edward berbisik berbarengan dengan sempurna. “Mereka semua.”

Sunyi.

Kali itu akulah yang paling cepat memahami—karena ada sesuatu dalam kata-kata mereka yang memicu penglihatanku sendiri. Sebenarnya hanya kenangan lama dari sebuah mimpi—samar, transparan, tidak jelas, seolah-olah aku berusaha mengintip dari balik bebatan kain kassa tebal… Dalam benakku aku melihat barisan makhluk berjubah hitam menghampiriku, hantu dari mimpi buruk manusiaku yang sudah separo dilupakan. Aku tak bisa melihat kilau mata merah mereka karena kepala mereka mengenakan selubung, atau kilatan gigi mereka yang basah dan tajam, tapi aku tahu di mana kilauan ini seharusnya berada..*

Lebih kuat daripada kenangan penglihatan adalah kenangan wurasaan—kebutuhan sangat luar biasa untuk melindungi makhluk berharga di. belakangku.

Aku ingin menyambar Renesmee ke dalam pelukanku, menyembunyikannya di balik kulit dan rambutku, membuatnya takk terlihat. Tapi aku bahkan tak bisa berbalik untuk melihat-fiya. Aku tidak merasa seperti batu, tetapi es. Untuk pertama kali sejak terlahir kembali sebagai vampir, aku merasa dingin.

Aku nyaris tak mendengar konfirmasi dari ketakutanku. Aku tidak membutuhkannya. Aku sudah tahu.

“Keluarga Volturi,” erang Alice.

“Mereka semua,” Edward mengerang pada saat bersamaan. “Mengapa?” Alice berbisik kepada diri sendiri. “Bagaimana?”

“Kapan?” bisik Edward.

“Mengapa?” Esme menirukan.

“Kapan?” ulang Jasper dengan suara bagai serpihan es. Mata Alice tak berkedip sedikit pun, tapi seolah-olah ada yang menutupinya; wajahnya tampak benar-benar kosong. Hanya mulutnya yang mengangga dengan ekspresi ngeri.

“Tidak lama,” ia dan Edward menjawab serempak. Kemudian Alice berbicara sendirian. “Tampak salju di hutan, salju di kota. Kurang dari sebulan lagi.”

“Mengapa?” Kali ini Carlisle yang bertanya, Esme menjawab. “Mereka pasti punya alasan. Mungkin untuk melihat…”

“Ini bukan tentang Bella,” kata Alice hampa. “Mereka semua akan dacang—Aro, Caius, Marcus, setiap anggota pengawal, bahkan istri-istri mereka.”

“Para istri tak pernah meninggalkan menara,” Jasper menyanggah perkataan Alice dengan suara datar. “Tidak pernah. Bahkan saat pemberontakan selatan pun tidak. Juga tidak ketika vampir Rumania berusaha menggulingkan mereka. Bahkan tidak ketika mereka memburu anak-anak imortal. Tidak pernah.”

“Sekarang mereka datang,” bisik Edward.

“Tapi mengapa?” tanya Carlisle lagi. “Kita tidak melakukan apa-apa! Dan kalaupun melakukan sesuatu, perbuatan apa yang kita lakukan hingga bisa mendatangkan ini bagi kita?”

“Jumlah kita banyak sekali,” Edward menjawab muram. “Mereka ingin memastikan bahwa…” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya.

“Itu tidak menjawab pertanyaan paling krusial! Mengapa?”

Rasanya aku tahu jawaban pertanyaan Carlisle, namun pada saat bersamaan juga tidak tahu. Renesmee-lah alasannya. Entah bagaimana sejak awal pun aku tahu mereka pasti akan datang mencarinya. Alam bawah sadarku sudah memberi peringatan sebelum aku tahu aku mengandung dia. Aku merasakan perasaan mengharapkan yang ganjil. Seakan-akan selama ini aku sudah tahu keluarga Volturi akan datang dan merenggut kebahagiaanku.

Namun tetap saja itu tidak menjawab pertanyaan.

“Kembalilah, Alice,” Jasper memohon. “Cari pemicunya. Cari.”

Alice menggeleng lambat-lambat, bahunya terkulai. “Penglihatan itu muncul begitu saja, Jazz. Aku tidak mencari penglihatan tentang mereka, atau bahkan tentang kita. Aku hanya mencari Irina. Dia tidak berada di tempat yang kuharapkan…”

Suara Alice menghilang, matanya kembali berkelana. Matanya sesaat kembali menerawang.

Kemudian kepalanya tersentak, matanya sekeras batu api. Kudengar Edward tersentak.

“Dia memutuskan pergi menghadap mereka,” kata Alice. “Irina memutuskan pergi menemui keluarga Volturi. Kemudian mereka akan memutuskan… Seolah-olah mereka memang menunggu kedatangan Irina. Seakan-akan mereka sudah mengambil keputusan, dan hanya menunggunya…”

Suasana kembali sunyi sementara kami mencerna kata-katanya. Apa yang akan dikatakan Irina kepada keluarga Volturi yang akan berakibat pada penglihatan Alice yang mengerikan ?

“Kita bisa menghentikannya?” tanya Jasper.

“Tidak sempat lagi. Dia sudah hampir sampai ke sana.”

“Apa yang dia lakukan?” tanya Carlisle, tapi aku tak lagi memerhatikan diskusi itu. Seluruh perhatianku tercurah pada gambaran yang perlahan-lahan mulai menyatu dalam benakku.

Aku membayangkan Irina berdiri di tebing, mengawasi. Apa yang dilihatnya saat itu? Vampir dan werewolf yang bersahabat. Aku terfokus pada gambaran itu, gambaran yang pasti menjelaskan reaksinya. Tapi bukan hanya itu yang dilihatnya.

Dia juga melihat seorang anak. Bocah yang sangat memesona, menunjukkan kebolehannya di tengah hujan salju, jelas lebih daripada manusia…

Irina… kakak-beradik yang yatim-piatu… Carlisle pernah bercerita pengalaman kehilangan ibu mereka karena keadilan yang diterapkan keluarga Volturi telah membuat Tanya, Kate, ilan Irina menaati hukum tanpa kompromi.

Baru setengah menit yang lalu Jasper sendiri mengatakannya: Bahkan tidak ketika mereka memburu anak-anak imortal… Anak-anak imortal—kutuk yang tidak boleh disebut, sesuatu yang tabu untuk dibicarakan…

Dengan masa lalu Irina, bagaimana mungkin ia menerjemahkan apa yang dilihatnya hari itu di lapangan sempit secara berbeda? Waktu itu ia tidak berada cukup dekat untuk bisa mendengar detak jantung Renesmee, merasakan panas yang terpancar dari tubuhnya. Pipi Renesmee yang kemerahan bisa jadi hanya trik yang kami lakukan untuk mengecohnya, begitu mungkin yang ia kira.

Bagaimanapun, keluarga Cullen berhubungan baik dengan kaum werewolf. Dari sudut pandang Irina, mungkin itu berarti kami tak segan-segan melakukan apa saja…

Irina, meremas-remas tangannya di tengah hutan bersalju— ternyata tidak sedang berdukacka mengenang Laurent, tapi tahu sudah kewajibannya melaporkan keluarga Cullen, tahu apa yang akan menimpa mereka bila ia melakukannya. Rupanya, nuraninya mengalahkan persahabaran yang sudah terjalin berabad-abad.

Dan respons keluarga Volturi terhadap pelanggaran ini begitu otomatis, sehingga sudah diputuskan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.