Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Jacob,” kataku, berusaha mengajaknya bicara lagi sementara Renesmee menarinari di depan kami menuju daerah terbuka yang panjang, mencari bau yang disukainya. “Kau punya kewajiban di sini. Seth, Leah…”

Jacob mendengus. “Aku kan bukan pengasuh bayi kawananku. Mereka semua toh punya tanggung jawab masing-masing di La Push.”

“Seperti kau? Apakah kau sudah resmi berhenti sekolah kalau begitu? Kalau kau ingin bisa mengimbangi Renesmee, kau harus belajar lebih keras lagi.”

“Hanya cuti sebentar. Aku akan kembali ke sekolah setelah keadaan… tenang kembali.”

Konsentrasiku buyar waktu ia mengatakannya, dan otomatis kami menoleh kepada Renesmee. Ia sedang memandangi kepingan-kepingan salju yang berguguran tinggi di atas kepalanya, mencair sebelum sempat menempel di rerumputan kuning di lapangan terbuka berbentuk anak panah tempat kami berdiri. Gaun putih gadingnya yang berkerut hanya sedikit lebih gelap daripada salju, dan rambut ikalnya yang cokelat kemerahan tetap berpendar, walaupun matahari tersembunyi jauh di balik awan.

Kami melihatnya membungkuk sebentar kemudian melejir empat setengah meter ke udara. Kedua tangannya yang mungil meraup sekeping salju, dan ia mendarat ringan di kedua kakinya, la berbalik menghadap kami dengan senyum mengagetkan—jelas, kau takkan pernah terbiasa melihatnya—dan membuka telapak tangannya untuk menunjukkan bintang es bersudut delapan yang sempurna bentuknya sebelum kemudian mencair.

“Cantik,” seru Jacob kagum, “Tapi kurasa kau sengaja mengulur-ulur waktu, Nessie.”

Renesmee berlari-lari kembali kepada Jacob; Jacob mengulurkan kedua lengannya tepat saat Renesmee melompat ke dalam pelukannya. Gerakan mereka sangat sinkron. Ia melakukannya bila ada yang ingin ia katakan. Ia masih lebih suka tidak berbicara.

Renesmee menyentuh wajah Jacob, merengut menggemaskan sementara kami mendengarkan suara seekor rusa kecil berjalan semakin jauh ke dalam hutan.

“Pastilah kau tidak haus, Nessie,” jawab Jacob sedikit menyindir, tapi sekaligus juga sedikit memanjakan. “Kau hanya takut aku akan menangkap yang paling besar lagi!”

Renesmee melompat mundur dari gendongan Jacob, mendarat ringan dengan dua kaki, dan memutar bola matanya— ia sangat mirip Edward waktu melakukannya. Kemudian ia melesat ke pepohonan.

“Baik,” seru Jacob sementara aku mencondongkan badan seperti hendak mengikuti. Ia merenggut kausnya sambil berlari mengikuti Renesmee memasuki hutan, sekujur tubuhnya mulai bergetar. “Kalau kau curang tidak masuk hitungan, ya,” teriaknya kepada Renesmee,

Aku tersenyum pada daun-daun yang menggeletar di belakang mereka, menggeleng-gelengkan kepala. Terkadang Jacob lebih mirip anak-anak dibanding Renesmee.

Aku terdiam sejenak, memberi kesempatan kepada para pemburuku. Mudah saja melacak keberadaan mereka, dan Rencsmee senang sekali mengagetkanku dengan ukuran buruannya.

Lapangan sempit itu sunyi senyap, kosong melompong. Salju yang berguguran mulai menipis di atasku, nyaris lenyap. Alice mendapat penglihatan bahwa salju rianya akan bertahan beberapa minggu lagi.

Biasanya Edward dan aku pergi berburu bersama-sama. Tapi Edward sedang bersama Carlisle hari ini, merencanakan perjalanan ke Rio, berbicara di balik punggung Jacob… aku mengerutkan kening. Kalau kembali nanti, aku akan berpihak kepada Jacob. Ia seharusnya ikut bersama kami. la juga mempertaruhkan banyak hal di sini, sama seperti kami—seluruh hidupnya dipertaruhkan, sama seperti hidupku.

Sementara pikiranku berkelana ke masa depan, mataku menyapu kawasan pegunungan, sesuatu yang rutin kulakukan, mencari buruan atau bahaya. Aku tidak memikirkannya; do-imigan itu otomatis saja kulakukan.

Atau mungkin memang ada alasan mengapa mataku menjelajahi kawasan itu, karena ada semacam pemicu kecil yang berhasil tertangkap indraku yang setajam silet sebelum aku sempat menyadarinya.

Ketika mataku menjelajahi tepian tebing di kejauhan, yang menjulang tinggi dengan warna biru-kelabu mencolok berlatar belakang hutan hijau kehitaman, kilauan warna perak—atau mungkin emas?—menarik perhatianku.

Pandanganku tertuju pada warna yang seharusnya tak ada di sana, begitu jauh di balik naungan kabut hingga elang pun pasti takkan mampu melihatnya. Aku memandanginya.

Ia balas memandangku.

Bahwa ia vampir, itu sudah jelas. Kulitnya seputih marmer, teksturnya jutaan kali lebih halus daripada kulit manusia. Bahkan di bawah naungan awan, kulitnya berpendar redup. Seandainya bukan kulit yang membuat identitasnya diketahui, tubuhnya yang diam tak bergerak pasti akan membuatnya ketahuan. Hanya vampir dan patung yang bisa berdiri diam tak bergerak seperti itu.

Rambutnya pucat, pirang pucat, nyaris perak. Itulah kilauan yang tertangkap mataku tadi. Rambut itu tergerai lurus seperti penggaris hingga ke dagu, dibelah persis di tengah.

Aku tidak mengenalnya. Aku sangat yakin belum pernah melihatnya sebelum ini,

balikan sebagai manusia. Tak ada wajah dalam ingatan kaburku yang mirip wajah ini. Tapi

aku Langsung tahu siapa dia dari mata emasnya yang gelap.

Ternyata Irina memutuskan untuk datang juga.

Sejenak aku hanya bisa menatapnya, dan ia balas memandangiku. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah ia akan langsung mengenaliku juga. Aku baru mengangkat tangan, bermaksud melambai, tapi bibirnya terpilin sedikit, membuat wajahnya mendadak terlihat jahat.

Aku mendengar jerit kemenangan Renesmee dari hutan, mendengar lolongan Jacob yang menggema, dan melihat wajah Irina tersentak ketika suara itu bergema beberapa detik kemudian. Tatapannya bergerak sedikit ke kanan, dan aku tahu apa yang dilihatnya. Seekor werewolf cokelat kemerahan besar, mungkin werewolf yang sama yang membunuh Laurent-nya. Sudah berapa lama ia mengawasi kami? Cukup lama untuk melihat hubungan kami yang bersahabat tadi, aku yakin. Wajah Irina berkerut pedih.

Terdorong oleh insting, aku membuka kedua tanganku de-iij’an sikap meminta maaf. Ia berpaling menghadapiku, dan bibirnya tertarik ke belakang, memamerkan giginya. Rahangnya terbuka saat ia menggeram.

Ketika suara samar itu mencapai telingaku, ia sudah ber-b.ilik dan lenyap ke dalam hutan.

“Sialan!” erangku.

Aku melesat memasuki hutan, mencari Renesmee dan Jaccob, tak ingin mereka lepas dari pandanganku. Aku tidak tahu arah mana yang diambil Irina, atau seberapa marahnya iai sekarang. Balas dendam adalah obsesi yang lumrah dilakukan vampir, yang tidak mudah diredam.

Berlari dengan kecepatan penuh, aku hanya butuh dua detik untuk mencapai mereka.

“Punyaku lebih besar” kudengar Renesmee berseru sementara aku menerobos semak-semak berduri lebat menuju lapangan terbuka kecil tempat mereka berdiri.

Telinga Jacob terlipat begitu melihat ekspresiku; ia merunduk ke depan, menyeringai memamerkan giginya—moncongnya berlepotan darah hewan buruannya. Matanya menjelajahi seisi hutan. Bisa kudengar suara geraman muncul di kerongkongannya.

Renesmee sama sigapnya dengan Jacob. Meninggalkan begitu saja bangkai rusa jantan di kakinya, ia melompat ke lenganku yang terkembang menunggunya, menempelkan tangannya yang ingin tahu ke pipiku.

“Aku bereaksi berlebihan,” aku buru-buru meyakinkan mereka. “Tidak apa-apa, kurasa. Tunggu.”

Kukeluarkan ponselku dan kutekan tombol “Speed Dial” Edward langsung menjawab pada dering pertama. Jacob dan Renesmee mendengarkan dengan saksama di sampingku sementara aku menceritakan apa yang terjadi pada Edward.

“Datanglah, ajak Carlisle,” kataku dengan kecepatan tinggi hingga dalam hati sempat bertanya-tanya apakah Jacob bisa mengikuti perkataanku atau tidak. “Aku melihat Irina, dan dia melihatku, tapi kemudian dia melihat Jacob, lalu marah dan lari menjauh, kurasa. Dia tidak muncul di sini—belum, setidaknya—tapi dia tampak sangat marah jadi mungkin saja dia akan muncul. Kalau dia tidak muncul, kau dan Carlisle harus menemuinya dan bicara dengannya. Aku merasa sangat tidak enak.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.