Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Itu tak cukup kuat untuk menggerakkanku. Tangan Emmett mendorong tanganku dengan kekuatan luar biasa, tapi rasanya biasa-biasa saja. Anehnya, malah terasa menyenangkan. Sejak terakhir kali terbangun, aku sangat berhati-hati, berusaha keras tidak merusak apa pun. Jadi ini menjadi semacam kelegaan yang aneh untuk otot-ototku. Membiarkan kekuatanku mengalir daripada berjuang keras menahannya.

Emmett menggeram; keningnya berkerut dan sekujur tubuhnya mengejang kaku dengan target menyingkirkan halangan berupa tanganku yang tak bergerak. Kubiarkan ia berkeringat—secara harfiah—sebentar sementara aku menikmati sensasi dahsyatnya kekuatan yang mengalir di lenganku.

Beberapa detik kemudian aku mulai merasa sedikit bosan. Kulenturkan otot-ototku; tangan Emmett terdorong dua setengah sentimeter.

Aku tertawa. Emmett menggeram kasar dari sela-sela giginya.

“Tutup mulutmu,” aku mengingatkan dia, kemudian menghantamkan tangannya ke batu besar. Bunyi berderak yang sangar keras menggema ke pepohonan. Batu itu bergetar, dan sepotong—ukurannya kira-kira seperdelapan massa batu—pecah dan menghantam tanah. Pecahan batu itu jatuh menimpa kaki Emmett dan aku tertawa mengejek. Aku juga bisa mendengar suara tawa tertahan Jacob dan Edward.

Emmett menendang pecahan batu itu ke seberang sungai. Pecahan batu itu mengiris pohon maple yang masih muda menjadi dua sebelum membentur kaki pohon cemara besar, yang langsung goyah dan jatuh menimpa pohon lain,

“Pertandingan ulang. Besok.”

“Kekuatanku takkan pudar secepat itu” kataku. “Mungkin sebaiknya kautunda dulu

satu bulan.”

Emmett menggeram, memamerkan giginya. “Besok”

“Hei, terserah kau saja.”

Sewaktu berbalik untuk menghambur pergi, Emmett meninju batu granit itu, menciptakan guguran kepingan dan debu batu. Keren juga kelihatannya, walaupun kekanak-Linakan.

Terpesona oleh bukti tak terbantahkan bahwa aku lebih kuat daripada vampir paling kuat yang pernah kukenal, aku meletakkan tanganku, jari-jarinya terbuka lebar, ke atas batu. Kemudian aku membenamkan jariku pelan-pelan ke dalam kitu, meremukkan, bukan menggali; konsistensinya mengingatkanku pada keju keras. Hasilnya adalah segenggam batu kerikil,

“Keren,” gumamku.

Dengan seringaian di wajah, aku tiba-tiba berbalik dan menyarangkan pukulan ala karate ke batu itu dengan bagian samping tanganku. Batu itu berderak, mengerang, dan— diiringi kepulan besar debu—terbelah menjadi dua.

Aku mulai rerkikik.

Aku tak begitu menggubris suara tawa di belakangku sementara aku meninju dan menendangi batu yang tersisa menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku terlalu asyik, tertawatawa gembira. Baru setelah aku mendengar suara tawa kecil yang baru, dentangan lonceng yang melengking tinggi, aku menghentikan permainan konyolku itu, “Benarkah dia baru saja tertawa?”

Semua orang memandangi Renesmee dengan ekspresi terperangah yang sama seperti yang pasti terpancar dari wajahku. “Ya,” jawab Edward.

“Siapa yang tidak tertawa?” gerutu Jake, memutar bola matanya.

“Kau juga sedikit kalap waktu pertama kali berubah wujud, kan, anjing,” goda Edward, tak ada nada antagonis sama sekali dalam suaranya,

“Itu lain,” tukas Jacob, dan dengan kaget kulihat ia berpura-pura meninju bahu Edward. “Bella kan seharusnya sudah dewasa. Sudah menikah, sudah jadi ibu, dan lain sebagainya. Berwibawa sedikit, kenapa sih?”

Renesmee mengerutkan kening, dan menyentuh wajah Edward.

“Apa yang dia inginkan?” tanyaku,

“Tak perlu terlalu menahan diri,” jawab Edward sambil nyengir. “Dia senang melihatmu bersenang-senang seperti tadi.”

“Aku lucu, ya?” tanyaku pada Renesmee, bergegas menghampiri dan meraihnya saat ia menggapai padaku. Kuambil ia dari pelukan Edward dan kuberikan padanya kepingan batu di tanganku. “Kau mau mencoba?”

Renesmee menyunggingkan senyumnya yang berseri-seri dan mengambil batu itu dengan dua tangan. Ia meremasnya, lekukan kecil terbentuk di antara alisnya sementara ia berkonsentrasi.

Terdengar suara seperti gerinda berputar, dan sedikit debu mengepul. Renesmee mengerutkan kening, kemudian mengacungkan potongan batu itu padaku.

“Biar aku saja,” kataku, lalu mencubit batu itu menjadi pasir.

Renesmee bertepuk tangan dan tertawa; suaranya yang menyenangkan membuat kami semua ikut tertawa.

Matahari mendadak muncul dari balik awan, menyorotkan sinar merah emasnya yang panjang ke kami bersepuluh, dan perhatianku langsung beralih ke indahnya kulitku di bawah cahaya matahari terbenam. Terpesona olehnya.

Renesmee mengelus-elus kulitku yang halus dan berpendar-pendar bagai berlian, lalu meletakkan lengannya di sebelah lenganku. Kulitnya berpendar redup, tak terlalu kentara dan misterius. Ia tak perlu bersembunyi di dalam ruangan saat matahari bersinar terik, tidak seperti kulitku yang berkilauan sekarang ini, Renesmee menyentuh wajahku, memikirkan perbedaan itu dan merasa tidak senang karenanya,

“Kau yang paling cantik,” aku meyakinkan dia.

“Sepertinya aku tidak sependapat,” kata Edward, dan waktu aku berpaling untuk menjawabnya, cahaya matahari di wajahnya membuatku rerpesona hingga rak mampu mengatakan .ipa-apa.

Jacob menaungi wajahnya dengan tangan, berpura-pura melindungi matanya dari kilauan yang menyilaukan. “Bella si makhluk aneh,” komentarnya,

“Dia sungguh makhluk yang sangar menakjubkan,” gumam Edward, nyaris menyetujui, seolah-olah komentar Jacob tadi dimaksudkan sebagai pujian. Ia memesona sekaligus terpesona.

Sungguh perasaan yang aneh—tidak mengejutkan, kurasa, karena semua terasa aneh sekarang—merasa alami dalam sesuatu hal. Sebagai manusia aku belum pernah menjadi yang terbaik dalam hal apa pun. Aku berhubungan baik dengan Renée, tapi

mungkin banyak orang lain bisa melakukan yang lebih baik lagi; Phil sepertinya bisa

bertahan. Aku murid yang baik, meski tak pernah menduduki peringkat pertama. Jelas aku juga tak bisa dibilang atletis. Aku juga tidak artistik, tidak pandai bermain musik, tidak punya bakat yang bisa dibanggakan. Tak ada yang pernah memberiku piala karena banyak membaca buku. Setelah delapan belas tahun menjadi biasa-biasa saja, aku terbiasa jadi orang rata-rata. Baru sekarang aku sadar bahwa sudah sejak lama aku melupakan aspirasiku untuk berkilau dalam bidang apa pun. Aku hanya melakukan yang terbaik yang aku bisa, tak pernah benar-benar cocok dengan duniaku.

Jadi ini benar-benar berbeda. Sekarang aku luar biasa—terhadap mereka dan diriku sendiri. Seakan-akan aku memang dilahirkan untuk menjadi vampir. Pikiran itu membuatku ingin tertawa, tapi juga membuatku ingin menyanyi. Aku telah menemukan tempat sejatiku di dunia, tempat di mana aku bisa cocok, tempat di mana aku berkilau.

27. RENCANA PERJALANAN

Aku mempelajari Mitologi jauh lebih serius sejak menjadi vampir.

Seiring kali, kalau aku menengok kembali masa tiga bulan pertamaku sebagai makhluk abadi, aku membayangkan bagaimana benang kehidupanku terlihat dalam tenunan Takdir— siapa yang tahu hal semacam itu benar-benar ada? Aku yakin benangku pasti sudah berubah warna; kupikir mungkin awalnya berwarna beige lembut, pokoknya warna yang lembut dan tidak terlalu mencolok, yang akan terlihat manis sebagai latar belakang. Sekarang warnanya pasri merah tua, atau mungkin emas mengilat.

Permadani keluarga dan teman-temanku yang terjalin mengelilingiku adalah sesuatu yang indah dan berkilau, penuh warna-warni cemerlang yang saling melengkapi.

Kaget juga aku melihat beberapa benang yang kulibatkan dalam hidupku, Para werewolf, dengan warna-warna kayu mereka yang gelap, benar-benar tak kusangka akan menjadi bagian hidupku; Jacob, tentu saja, Seth juga. Tapi teman-teman lamaku, Quil dan Embry, juga menjadi bagian dari permadani itu setelah mereka bergabung dengan kawanan Jacob, bahkan Sam serta Emily pun baik padaku-Ketegangan di antara keluarga kami sudah mereda, sebagian besar karena Renesmee. Mudah sekali mencintainya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.