Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

” Tentu.”

“Charlie. Dengan huruf C. Seperti Carlisle dan Charlie dijadikan satu.”

Ccngiran Charlie yang membuat sudut-sudut matanya berkerut menghiasi wajahnya, sama sekali tak terduga. “Trims, Bell”

“Aku yang berterima kasih pada Dad. Banyak sekali yang berubah begitu cepat. Sampai sekarang pun aku masih bingung. Kalau aku tidak memiliki Dad sekarang, entah bagaimana aku bisa mempertahankan—kenyataan.” Hampir saja aku berkata mempertahankan diriku yang dulu. Mungkin itu lebih dari yang ia butuhkan.

Perut Charlie keroncongan.

“Pergilah makan, Dad. Kami akan berada di sini.” Aku ingat bagaimana rasanya— sensasi bahwa segala sesuatu akan lenyap begitu cahaya pertama matahari muncul.

Charlie mengangguk dan dengan enggan mengembalikan Renesmee padaku. Ia melayangkan pandangan melewatiku ke dalam rumah; matanya sejenak tampak liar saat memandangi ruangan besar yang terang benderang itu. Semua ada di sana, kecuali Jacob, yang bisa kudengar sedang mengobrak-abrik isi kulkas di dapur; Alice duduk-duduk di anak tangga paling bawah dengan kepala Jasper terbaring di pangkuan; Carlisle menunduk, membaca buku tebal yang diletakkan di pangkuan; Esme berdendang pelan sambil mencoret-coret di buku, setnentara Rosalie dan Emmett membuat fondasi sebuah rumah kartu yang monumental di bawah tangga; Edward sudah berada di balik piano dan memainkan musik yang sangat lembut, tak ada tanda-tanda hari ini akan berakhir, bahwa sekarang mungkin waktunya untuk makan atau -berganti aktivitas sebagai persiapan menghadapi malam. Terasa ada sesuatu yang tidak kentara telah mengubah suasana. Keluarga Cullen tidak berusaha sekeras biasanya—sandiwara mereka sebagai manusia sedikit berkurang, cukup bagi Charlie untuk merasakan perbedaannya.

Ia bergidik, menggeleng, dan mendesah. “Sampai ketemu besok, Bella.” Ia mengerutkan kening kemudian menambahkan, “Maksudku, bukan berarti kau tidak tampak… cantik. Nanti juga aku akan terbiasa.”

“Trims, Dad.”

Charlie mengangguk dan berjalan dengan sikap merenung menuju mobilnya. Aku mengawasi kepergiannya; setelah aku mendengar roda-rodanya melindas jalan tol, baru aku sadar aku telah berhasil melewati hari ini tanpa menyakiti Charlie. Dengan usahaku sendiri. Aku pasti mempunyai kekuatan super!

Rasanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Mungkinkah aku benar-benar bisa memiliki keduanya, keluarga baruku sekaligus keluarga lamaku? Padahal kusangka kemarin semua sudah sempurna.

“Wow,” bisikku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan merasakan lensa kontak ketigaku luruh.

Suara piano berhenti, dan lengan Edward merangkul pinggangku, dagunya diletakkan di bahuku.

“Aku baru saja hendak mengatakan hal yang sama.”

“Edward, aku berhasil!”

“Kau berhasil. Sungguh tak bisa dipercaya. Mengingat semua kekhawatiran menjadi vampir baru, kau malah melewati semuanya sekaligus,” Ia tertawa pelan.

“Jangankan vampir baru, aku bahkan tak yakin dia benar-benar vampir,” Emmett berseru dari bawah tangga. “Habis dia terlalu jinak sih,”

Semua komentar memalukan yang ia lontarkan di hadapan ayahku tadi kembali terngiang di telingaku, dan mungkin ada bagusnya juga aku sedang menggendong Renesmee, Tak mampu sepenuhnya mengendalikan reaksiku, aku menggeram pelan.

“Ooooo, takut…” Emmett terbahak.

Aku mendesis, dan Renesmee bergerak dalam pelukanku, la mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali, lalu memandang berkeliling, ekspresinya bingung. Ia mengendus, kemudian menggapai wajahku.

“Charlie akan kembali besok,” aku meyakinkan dia.

“Bagus sekali,” sergah Emmett. Rosalie tertawa bersamanya kali ini.

“Bukan hal yang bijaksana, Emmett,” kecam Edward dengan nada mengejek, mengulurkan kedua tangannya untuk meminta Renesmee dariku. Ia mengedip waktu aku ragu-ragu, kemudian, sedikit bingung, kuserahkan Renesmee padanya.

“Apa maksudmu?” tuntut Emmett.

“Bukankah menurutmu agak tolol membuat marah vampir paling kuat di rumah ini?”

Emmett melontarkan kepalanya ke belakang dan mendengus. “Please!”

“Bella,” bisik Edward sementara Emmett mendengarkan dengan saksama, “ingatkah kau, beberapa bulan yang lalu, aku memintamu melakukan sesuatu begitu kau berubah jadi imortal?”

Perkataannya menggemakan lonceng samar-samar. Aku memilah-milah pembicaraan samar kami saat aku masih menjadi manusia. Sejurus kemudian aku ingat dan terkesiap, “Oh!”

Alice mengumandangkan tawa merdu melengking yang panjang. Jacob melongokkan kepalanya dari sudut ruanga’n, mulutnya penuh makanan.

“Apa?” geram Emmett.

“Kau serius?” tanyaku pada Edward.

“Percayalah padaku,” ujar Edward.

Aku menghela napas dalam-dalam, “Emmett, bagaimana kalau kita bertaruh sedikit?”

Ia langsung berdiri. “Asyik. Ayo saja.”

Aku menggigit bibir sebentar. EMMETT kan besar sekali.

“Kecuali kau terlalu takut..,?” tantang Emmett.

Kutegakkan bahuku. “Kau. Aku. Adu panco. Di meja ruang makan. Sekarang”

Seringaian Emmet melebar membelah wajahnya.

“Eh, Bella,” Alice buru-buru menyergah, “kurasa itu meja kesayangan Esme. Itu antik.”

“Trims,” Esme mengucapkan kata itu tanpa suara.

“Bukan masalah,” tukas Emmett dengan senyum cemerlang. “Lewat sini, Bella.”

Aku mengikutinya keluar ke belakang, menuju garasi; bisa kudengar semua mengikuti di belakang. Berdiri di antara bebatuan dekat sungai, ada batu granit yang cukup besar, jelas ke sanalah tujuan Emmett. Walaupun batu besar itu sedikit bulat dan tidak beraturan, namun bisa dipakai.

Emmett meletakkan sikunya di atas batu dan melambaikan i.ingan padaku agar maju.

Begitu melihat otot-otot besar di lengan Emmett yang bertonjolan, aku langsung gugup, tapi aku tetap memasang wajah datar. Edward pernah memastikan aku akan lebih kuat daripada siapa pun untuk sementara waktu. Sepertinya ia sangat yakin akan hal ini, dan aku memang merasa kuat. Sekuat itukah? aku bertanya-tanya dalam hati, memandangi orot-otot biseps Emmett. Tapi aku bahkan belum berumur dua hari, jadi seharusnya itu berarti sesuatu. Kecuali tak ada yang normal tentang diriku. Mungkin aku tak sekuat vampir baru yang normal. Mungkin itulah sebabnya aku sangat mudah mengendalikan diri.

Aku berusaha memasang wajah tenang saat meletakkan sikuku di batu,

“Oke, Emmett,. Kalau aku menang, kau tak boleh mengataku! apa-apa lagi tentang kehidupan seksku pada siapa pun, bahkan tidak kepada Rose, Tidak ada lagi sindiran, katakata bersayap—pokoknya tidak ada,”

Mata Emmett menyipit. “Baiklah. Kalau aku menang, itu akan bertambah parah.”

Ia mendengar napasku tertahan dan nyengir jail. Tampak kilauan menantang di matanya.

“Masa kau segampang itu menyerah?” ejek Emmett menantang. “Ternyata kau

tidak terlalu liar, ya? Taruhan, pasti pondok kecil itu bahkan tidak tergores,” Ia tertawa,

“Pernahkah Edward memberitahu berapa rumah yang Rose dan aku hancurkan?”

Aku mengertakkan gigi dan menyambar tangannya yang besar. “Satu, dua…”

“Tiga,” geram Emmett, dan mendorong tanganku.

Tidak terjadi apa-apa.

Oh, aku bisa merasakan kekuatan yang ia kerahkan. Pikiran baruku sepertinya sangat lihai melakukan berbagai perhitungan, jadi aku tahu kalau ia tidak mendapatkan perlawanan apa pun, tangannya pasti akan menghantam batu tanpa kesulitan. Tekanannya semakin kuat, dan aku sempat penasaran apakah truk semen yang melaju dengan kecepatan 64 kilometer per jam saat menuruni turunan tajam juga akan memiliki kekuatan yang sama. Kalau delapan puluh kilometer per jam? Sembilan puluh enam? Mungkin lebih.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.