Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Tiba-tiba, genggaman Charlie di tanganku sajalah yang membuatku tidak berlari menghambur sepanjang lorong.

Alunan wedding march terasa terlalu lambat sementara aku berusaha menyamakan langkahku dengan iramanya. Untunglah, lorongnya sangat pendek. Kemudian, akhirnya, akhirnya, sampai juga aku di sana. Edward mengulurkan tangan. Charlie meraih tanganku dan, dalam tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad, meletakkannya di tangan Edward. Aku menyentuh keajaiban kulitnya yang dingin, dan sampailah aku di tempat seharusnya aku berada.

Janji setia kami sederhana, kata-kata tradisional yang sudah diucapkan jutaan kali, meskipun belum pernah diucapkan oleh pasangan seperti kami. Sebelumnya kami sudah meminta Mr, Weber untuk membuat perubahan kecil, la bersedia mengganti kalimat “sampai maut memisahkan kami” dengan kalimat lain yang lebih sesuai “selama kami berdua hidup”.

Pada momen itu, saat pendeta mengucapkan bagiannya, duniaku, yang sudah sekian lama jungkir-balik, kini seolah menjejak dalam posisi yang benar. Aku melihat betapa tololnya aku karena selama ini takut pada pernikahan—seakan-akan itu hadiah ulang tahun yang tidak diinginkan atau pameran yang memalukan, seperti prom. Kutatap mata Edward yang memancarkan sorot kemenangan, dan tahu bahwa aku juga menang. Karena tidak ada hal lain yang berarti kecuali bahwa aku bisa bersama dengannya.

Aku baru sadar diriku menangis setelah tiba waktunya bagiku untuk mengucapkan janji setia.

“Saya bersedia,” berhasil juga akhirnya aku mengucapkan janjiku dengan suara berbisik yang nyaris tidak terdengar, me-ngerjap-ngerjap untuk menyingkirkan air mara agar aku bisa melihat wajah Edward.

Ketika tiba giliran Edward bicara, kata-katanya berdentang jernih dan bernada menang.

“Saya bersedia,”janjinya.

Mr. Weber menyatakan kami sah sebagai suami-istri, kemudian kedua tangan Edward terangkat, merengkuh wajahku dengan hati-hati, seolah-olah wajahku serapuh kelopak bunga putih di atas kepala kami. Aku berusaha mencerna, walaupun air mata mengaburkan pandanganku, fakta indah bahwa sosok yang luar biasa ini adalah milikku. Mata emasnya menatapku seolah-olah ia juga ingin menangis, seandainya hal itu tidak inustahil terjadi, la menurunkan kepalanya ke kepalaku, dan aku berjinjit, mengulurkan kedua lenganku—sambil masih memegang buket bunga—memeluk lehernya.

Ia menciumku dengan lembut dan mesra; aku langsung melupakan para tamu, tempat ini, waktu, alasan… yang kuingat hanyalah bahwa ia mencintaiku, menginginkan aku, dan bahwa aku miliknya.

Edward yang memulai menciumku, dan ia pula yang harus mengakhirinya; aku menggelayut mesra padanya, tak memedulikan decakan dan dehaman para tamu. Akhirnya, kedua tangan Edward menahan wajahku dan ia menarik wajahnya— terlalu cepat—dan menatapku. Di permukaan, senyumnya yang mendadak terlihat geli, nyaris seperti mengejek. Tapi di balik semua itu, ada kebahagiaan mendalam yang sama seperti yang kurasakan.

Para tamu bersorak, dan Edward memutar tubuh kami sehingga menghadap ke arah teman-teman dan kerabat. Aku tak mampu mengalihkan pandanganku darinya untuk melihat mereka.

Ibukulah yang pertama memelukku, wajahnya yang berlinang ait mata adalah hal pertama yang kulihat waktu akhirnya aku berhasil juga mengalihkan pandangan dari Edward, meski sebenarnya tidak ingin. Kemudian aku diserahkan ke kerumunan para tamu, berpindah dari satu pelukan ke pelukan lain, hanya samar-samar mengenali orang yang memelukku, karena perhatianku terpusat pada tangan Edward yang menggenggam erat tanganku. Namun aku mengenali perbedaan antara pelukan hangat dari teman-teman manusiaku, serta pelukan lembut dan dingin dari keluarga baruku.

Satu pelukan panas membara terasa berbeda dari yang lain-lain—Seth Clearwater dengan gagah berani menerobos kerumunan para vampir untuk menggantikan posisi teman werewolf-ku yang hilang.

4. KEJUTAN

PERNIKAHAN beralih dengan mulus ke pesta resepsi—bukti perencanaan Alice yang sempurna. Senja baru saja turun melingkupi sungai; upacara pernikahan berjalan tepat waktu, memberi kesempatan pada matahari untuk terbenam di balik pepohonan. Lampu-lampu di pepohonan berpendar-pendar saat Edward membimbingku melewati pintu kaca belakang, membuat bunga-bunga putih betkilauan. Di luar sini ada lagi kira-kira sepuluh ribu bunga, berfungsi sebagai tenda yang semerbak dan lapang di atas lantai dansa yang didirikan di rumput, di antara dua pohon cedar tua.

Suasana sedikit mereda, rileks saat malam bulan Agustus yang hangat mengitari kami. Kerumunan kecil menyebar di bawah temaram lampu yang berkelap-kelip, dan kami disambut lagi oleh teman-teman yang tadi memeluk kami. Sekarang waktunya mengobrol dan terrawa-tawa.

“Selamat, guys” Seth Clearwater menyelamati kami, merundukkan kepala di bawah hiasan karangan bunga. Ibunya, Sue, menempel ketat di samping Seth, mengawasi para tamu dengan sikap waswas. Wajahnya kurus dan garang, ekspresi yang semakin dipertegas pocongan rambutnya yang pendek dan kaku; sependek rambut putrinya, Leah—dalam hati aku penasaran apakah ia memotongnya seperti itu untuk menunjukkan solidaritas. Billy Black, yang berdiri di samping Seth, tidak setegang Sue.

Setiap kali aku memandang ayah Jacob, aku selalu merasa seperti melihat dua orang, bukan satu. Yang satu adalah lelaki tua di kursi roda berwajah keriput dengan senyum putih cemerlang seperti yang dilihat semua orang. Dan satu lagi sosok seorang keturunan kepala suku yang kuat dan magis, berselubungkan otoritas yang diwarisinya sejak lahir. Walaupun kemagisan itu—karena tidak adanya pemicu—melompati generasinya, Billy masih menjadi bagian dari kekuatan dan legenda. Keajaiban itu melewatinya. Mengalir ke putranya, pewaris keajaiban, yang justru menolaknya. Tinggallah Sam Uley yang bertindak sebagai kepala suku para legenda dan magis…

Billy terlihat santai, kalau mengingat para tamu dan acaranya—matanya yang hitam berbinar-binar seakan-akan ia baru saja mendengar kabar baik. Aku kagum melihat ketenangannya. Pernikahan ini pasti hal yang sangat buruk, yang terburuk yang bisa terjadi pada putri sahabatnya, dalam pandangan Billy.

Aku tahu tak mudah bagi Billy untuk menahan perasaannya, mengingat pernikahan ini akan melahirkan tantangan bagi kesepakatan kuno antara keluarga Cullen dan suku Quileute—kesepakatan yang melarang keluarga Cullen men-ciptakan vampir baru. Para serigala tahu kesepakatan itu akan dilanggar, tapi keluarga Cullen sama sekali tidak tahu bagaimana reaksi mereka nanti. Sebelum mereka bersekutu, itu berarti serangan langsung. Perang. Tapi sekarang setelah mereka saling mengenal lebih baik, mungkinkah akan ada pengampunan?

Seolah menjawab pikiranku, Seth mencondongkan tubuh kepada Edward dengan kedua tangan terulur. Edward balas merangkul Seth dengan sebelah tangannya yang bebas.

Kulihat Sue bergidik sedikit.

“Senang melihat semuanya berjalan lancar, man” kata Seth. “Aku ikut bahagia.”

“Terima kasih, Seth. Itu sangat berarti bagiku.” Edward melepaskan diri dari pelukan Seth, lalu memandang Sue dan Billy. “Terima kasih juga pada kalian. Karena telah mengizinkan Seth datang. Karena telah mendukung Bella hari ini.”

“Sama-sama,” balas Billy dengan suaranya yang berat dan serak, dan aku terkejut mendengar nada optimis dalam suaranya. Mungkin akan ada gencatan senjata yang lebih kuat lagi.

Mulai terbentuk antrean, maka Seth pun berpamitan dan mendorong kursi roda Billy ke meja hidangan. Kedua tangan Sue memegangi mereka.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.