Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Dcngan sengaja Renesmee melambaikan tangan pada Charlie.

Charlie mengerjap tegang.

Jacob menyikutnya. “Sudah kubilang dia istimewa, kan?”

Charlie mengkeret, menjauhi sentuhan Jacob.

“Oh, ayolah, Charlie,” erang Jacob. “Aku orang yang sama seperti dulu. Anggap saja peristiwa siang tadi tak pernah terjadi,”

Ingatan itu langsung membuat bibir Charlie memutih, tapi m mengangguk. “Apa sebenarnya peranmu dalam semua ini, Jake?” tanyanya. “Berapa banyak yang diketahui Billy? Mengapa kau ada di sini?” Ditatapnya wajah Jacob, yang berseri-seri saat ia menatap Renesmee.

“Well, sebenarnya aku bisa saja memberitahukan semuanya padamu—tentu saja Billy tahu semua—tapi itu melibatkan banyak hal tentang werewolf.”

“Ughh!” protes Charlie, menutup telinga. “Sudahlah, tidak usah saja.”

Jacob nyengir. “Semua pasti akan beres, Charlie. Asal kau berusaha untuk tidak langsung memercayai apa pun yang kaulihat.”

Ayahku menggerutu tidak jelas.

“Wuuu!” Suara bass Emmett yang berat tiba-tiba menggelegar. “Maju terus, Gators!”

Jacob dan Charlie terlonjak. Kami yang lain-lain membeku.

Charlie pulih dari kagetnya, lalu memandang Emmett dari balik bahunya. “Florida menang, ya?”

“Baru saja membuat skor touchdown pertama’ Emmett membenarkan. Ia melayangkan pandangan ke arahku, memainkan alis dengan mimik jail. “Di sini juga ada yang kepingin mencetak skor.”

Kutelan kembali desisanku. Di depan Charlie? Benar-benar keterlaluan.

Tapi Charlie sudah tak bisa lagi menyadari arti petunjuk iseng dari Emmet. Kembali ia menarik napas dalam-dalam, mengisap udara seolah-olah ingin menariknya hingga jauh ke jari kaki. Iri benar aku padanya. Ia bergegas maju, mengitari Jacob, dan separo terjatuh ke kursi. “WeU” desahnya. “Kurasa ada baiknya kita lihat apakah mereka bisa bertalian memimpin.”

26. BERKILAU

“ENTAH sampai sejauh mana kita sebaiknya memberitahu Renee mengenai hal ini,” kata Charlie, ragu-ragu, satu kakinya melangkah ke luar pintu. Ia meregangkan ototnya, kemudian perutnya berbunyi.

Aku mengangguk. “Aku tahu. Aku tak ingin membuat Mom kalut. Lebih baik melindunginya. Hal-hal begini bukan untuk mereka yang penakut.”

Bibir Charlie mencebik dengan sikap muram. “Aku juga pasti akan berusaha melindungimu, seandainya aku tahu bagaimana. Tapi kurasa kau tak pernah masuk kategori penakut, ya?”

Aku balas tersenyum, menarik napas yang membakar tenggorokanku.

Charlie menepuk-nepuk perutnya dengan sikap sambil lalu. “Akan kupikirkan sesuatu. Kita punya waktu untuk mendiskusikannya, kan?”

“Benar,” aku berjanji padanya.

Ini hari yang sulit dalam beberapa hal, tapi juga sangat mudah dalam beberapa hal lain. Charlie terlambat makan malam—Sue yang memasak untuk dia dan Billy. Itu akan jadi malam yang canggung, tapi setidaknya ia akan makan makanan enak; aku senang ada yang berusaha menyelamatkan Charlie dari kemungkinan kelaparan karena tidak bisa memasak.

Ketegangan seharian membuat menit-menit berjalan lambat; bahu Charlie tak pernah rileks sedikit pun. Tapi ia juga tidak buru-buru ingin menyingkir dari sini. Ia menonton dua pertandingan—syukurlah perhatiannya begitu terserap pada pertandingan hingga sama sekali tidak menyadari lelucon-lelucon menyerempet Emmett yang semakin lama semakin terang-terangan dan semakin tak ada hubungannya dengan football— komentar ofisial dan pemain sehabis pertandingan, kemudian berita, tidak bergerak sampai Seth mengingatkannya sudah waktunya pergi.

“Kau takkan melupakan janjimu dengan Billy dan ibuku kan, Charlie.’ Ayolah. Kau kan bisa bertemu Bella dan Nessie lagi besok. Bagaimana kalau kita cabut?”

Tampak jelas di mata Charlie bahwa ia sama sekali tidak memercayai penilaian Seth, tapi dibiarkannya saja Seth mengajaknya keluar. Keraguan masih tampak saat ia berhenti sejenak sekarang. Awan-awan menipis, hujan sudah berhenti. Matahari bahkan mungkin muncul tepat sebelum terbenam.

“Kata Jake tadinya kalian berniat pergi meninggalkanku,” Charlie bergumam sekarang.

“Sebenarnya aku tak ingin melakukannya kalau memang masih ada jalan lain. Itulah sebabnya kami masih di sini.”

“Katanya, kau bisa tinggal di sini untuk sementara, tapi hanya kalau aku cukup kuat dan bisa menutup mulutku.”

“Benar… tapi aku tak bisa berjanji bahwa kami tidak akan pernah pergi, Dad. Persoalannya cukup rumit…”

“Hanya yang perlu kuketahui” ia mengingatkanku.

“Benar”

“Tapi kau akan tetap menjengukku, kan, meskipun kau harus pergi?”

“Aku janji, Dad. Sekarang setelah Dad cukup tahu, kurasa bisa dilakukan. Aku akan berusaha tetap berada sedekat mungkin dengan yang Dad inginkan.”

Charlie menggigit-gigit bibir selama setengah detik, lalu pelan-pelan mencondongkan badan ke arahku dengan kedua lengan terulur hati-hati. Kupindahkan Renesmee—yang sekarang sudah tidur—ke lengan kiriku, mengunci gigiku rapat-rapat, menahan napas, dan memekikkan lengan kananku dengan sangat ringan ke pinggang Charlie yang hangat dan lembut.

“Tetaplah dekat denganku, Bells,” gumamnya.

“Sangat dekat.”

“Aku sayang Dad,” bisikku dari sela-sela gigi. Charlie bergidik dan menarik tubuhnya. Kujatuhkan lenganku.

“Aku juga sayang padamu, Nak. Terlepas dari apa pun yang sudah berubah, yang satu itu tidak berubah.” Ia menyentuh pipi pink Renesmee dengan satu jari. “Dia jelas mirip sekali denganmu.”

Aku berusaha menunjukkan ekspresi biasa-biasa saja, meski .sama sekali tidak merasa begitu. “Lebih mirip Edward, kurasa.” Aku ragu-ragu, kemudian menambahkan, “Rambut ikalnya mirip Dad.”

Charlie terkejut, kemudian mendengus. “Hah. Benar juga. Kakek.” Ia menggelenggelengkan kepala ragu. ‘Apa aku boleh menggendongnya?”

Aku mengerjapkan mata shock, kemudian menguasai diri.

Setelah mempertimbangkan selama setengah detik dan menilai keadaan Renesmee —tampaknya ia benar-benar tidur pulas—aku memutuskan mungkin aku bisa memaksakan keberuntunganku, mengingat hari ini semua berjalan sangar lancar…

“Ini,” kataku, menyodorkan Renesmee. Charlie otomatis membuat semacam buaian kikuk dengan lengannya, dan kuletakkan Renesmee di sana. Kulit Charlie tidak sepanas kulit Renesmee, tapi kerongkonganku gatal merasakan kehangatan yang mengalir di bawah membran tipis itu. Di tempat kulitku bersentuhan dengan kulitnya, aku bergidik. Aku tak tahu apakah itu reaksi dari suhu tubuhku yang baru atau sepenuhnya karena alasan psikologis.

Charlie menggeram pelan saat merasakan bobot Renesmee, “Dia… kokoh.”

Keningku berkerut. Bagiku dia seringan bulu. Mungkin aku keliru.

“Kokoh itu bagus,” sergah Charlie, begitu melihat ekspresiku. Lalu ia bergumam sendiri, “Dia memang harus kuat, hidup dikelilingi semua hal sinting ini,” Ia mengayunayunkan lengannya pelan, menggerakkannya sedikit ke kanan dan ke kiri. “Bayi tercantik yang pernah kulihat, selain kau, Nak. Maaf, tapi itu benar.”

“Aku tahu itu benar.”

Aku bisa melihatnya di wajah Charlie—aku bisa melihatnya di sana. Charlie ternyata juga tak berdaya menampik daya tarik magis Renesmee, seperti kami semua. Baru dua detik dalam gendongannya, Renesmee sudah berhasil menawan hati Charlie.

“Boleh aku kembali besok?”

“Tentu, Dad. Tentu saja. Kami pasti ada di sini.”

“Sebaiknya begitu,” tukas Charlie kaku, tapi wajahnya lembut, masih menatap Renesmee. “Sampai ketemu besok, Nessie.”

“Aduh, masa Dad juga sih!”

‘Hah!”

“Namanya Renesmee, Seperti Renée dan Esme, dijadikan satu. Tak ada variasi.” Sekuat tenaga aku berusaha menenangkan diri tanpa menarik napas dalam-dalam kali ini. “Apakah kau ingin tahu nama tengahnya?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.