Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Ekspresi kosong Charlie mengatakan betapa aneh suaraku. Matanya terpaku padaku dan membelalak.

Aku membaca berbagai emosi yang melintasi wajahnya.

Sbock. Tidak percaya. Sedih. Kehilangan. Tak,ut, Marah. Curiga. Sedih lagi.

Aku menggigit bibir. Rasanya aneh. Gigi baruku sekarang lebih tajam di kujit granitku daripada gigi manusiaku dulu di bibir manusiaku yang lembut.

“Itu benar kau, Bella?” bisiknya.

“Yep,” Aku meringis mendengar suaraku yang seperti genta angin. “Hai, Dad.”

Charlie menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

“Hai, Charlie” Jacob menyapanya dari sudut ruangan. “Apa kabar?”

Charlie melotot garang pada Jacob, bergidik mengingat apa yang terjadi, kemudian menatapku lagi.

Lambat-lambat Charlie melintasi ruangan sampai jaraknya hanya tinggal beberapa meter dariku. Ia melayangkan pandangan menuduh pada Edward, kemudian matanya berkelebat kembali padaku. Suhu tubuhnya mulai menghantamku dengan setiap denyut jantungnya.

“Bella?” tanyanya lagi.

Aku berbicara dengan suara lebih pelan, berusaha agar tidak terdengar seperti dentang lonceng. “Ini benar-benar aku.” Rahang Charlie terkunci. “Maafkan aku, Dad,” ujarku.

“Kau baik-baik saja?” tuntutnya.

“Sangat dan benar-benar baik” janjiku. “Segar bugar dan sehat walafiat.”

Habis sudah oksigenku.

“Jake mengatakan padaku bahwa ini… perlu. Bahwa kau sekarat!” Ia mengucapkan kata-kata itu dengan sikap seolah-olah ia sama sekali tak percaya.

Aku menguatkan diri, memfokuskan pikiran pada Renesmee yang hangat, mencondongkan tubuh kepada Edward untuk meminta dukungan, dan menarik napas dalam-dalam.

Aroma Charlie bagaikan tinju api, langsung menohok ke kerongkonganku. Bukan hanya sakit. Tapi sekaligus gairah yang panas dan menusuk. Aroma Charlie jauh lebih menggiurkan daripada apa pun yang pernah kubayangkan. Kalau para hiker yang kutemui ketika berburu itu saja sudah menggiurkan, bau Charlie dua kali lebih menggoda. Dan ia hanya beberapa meter dariku, tubuhnya memancarkan panas dan cairan yang menitikkan air liur ke udara yang kering.

Tapi aku tidak sedang berburu sekarang. Dan ini ayahku.

Edward meremas pundakku dengan sikap bersimpati, sementara Jacob melayangkan pandangan meminta maaf padaku dari seberang ruangan.

Aku berusaha menguasai diri dan mengabaikan rasa sakit sekaligus dahaga yang berteriak minta dipuaskan. Charlie menunggu jawabanku.

“Apa yang dikatakan Jacob benar.”

“Kalau begitu, ada juga di antara kalian yang jujur,” geram C harlie.

Aku berharap Charlie bisa melihat, bahwa di balik segala perubahan di wajah baruku, ada penyesalan yang dalam di sana.

Di bawah rambutku Renesmee mengendus-endus saat aroma tubuh Charlie tercium olehnya. Kupeluk ia semakin erat,

Charlie melihatku menunduk cemas dan mengikuti arah pandangku. “Oh” ujarnya, dan semua amarah lenyap dari wajahnya, berganti sbcck. “Ini dia. Anak yatim-piatu yang kata Jacob kalian adopsi.”

“Keponakanku,” dusta Edward lancar. Ia pasti memutuskan kemiripannya dengan

Renesmee terlalu nyata untuk diabaikan begitu saja. Yang terbaik adalah menyatakan mereka memiliki hubungan keluarga sejak awal.

“Lho, kusangka kau kehilangan seluruh anggota keluargamu,” sergah Charlie, nada menuduh kembali terdengar dalam suaranya.

“Aku kehilangan kedua orangtuaku. Kakak lelakiku diadopsi, sama seperti aku. Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah itu. Tapi pengadilan berhasil menemukanku setelah dia dan istrinya tewas dalam kecelakaan mobil, meninggalkan anak tunggal mereka yang sebatang kara.”

Edward lihai sekali memberi alasan. Suaranya tenang, bahkan ada sedikit keluguan di dalamnya. Aku harus berlatih kalau ingin bisa seperti itu.

Renesmee mengintip dari balik rambutku, mengendus-endus lagi. Malu-malu diliriknya Charlie dari balik bulu matanya, lalu bersembunyi lagi.

“Dia… dia, well, dia cantik.”

“Memang,” Edward membenarkan.

“Meski begitu lumayan berat juga tanggung jawabnya. Kalian kan baru saja menikah.”

“Apa lagi yang bisa kami lakukan?” Edward membelai pipi Renesmee, Kulihat ia menyentuh bibir bocah itu sekilas—unmk mengingatkan. “Kalau kau jadi kami, apa kau tega menolaknya.””

“Hmph. Well” Charlie menggeleng. “Kata Jake, kalian memanggilnya Nessie?”

“Tidak, itu tidak benar,” bantahku, suaraku terlalu tajam dan melengking. “Namanya Renesmee.”

Perhatian Charlie kembali tertuju padaku. “Bagaimana perasaanmu terhadap hal ini? Mungkin Carlisle dan Esme lusa…”

“Dia milikku,” potongku. “Aku menginginkan dia.”

Charlie mengerutkan kening. “Masa kau akan membuatku jali kakek di usia muda?”

Edward tersenyum. “Carlisle juga sudah jadi kakek.”

Charlie melayangkan pandangan tak percaya pada Carlisle, yang masih berdiri di samping pintu depan; ia terlihat bagaikan adik dewa Zeus yang lebih muda dan lebih tampan.

Charlie mendengus kemudian tertawa. “Kurasa itu membuatku merasa lebih baik.”

Matanya tertuju kembali pada Renesmee, “Aku yakin dia pasti cantik sekali.”

Renesmee mencondongkan badan ke arah bau itu, menyibak rambutku dan menatap wajah Charlie untuk pertama kali, Charlie tersentak.

Aku tahu apa yang dilihat Charlie. Mataku—matanya— terrcetak sangat sempurna di wajah Renesmee.

Charlie mulai megap-megap. Bibirnya bergetar, dan aku bisa membaca angkaangka yang ia ucapkan tanpa suara. Ia menghitung ke belakang, berusaha memasukkan hitungan sembilan bulan ke satu bulan. Berusaha mencari penjelasan yang masuk akal tapi tak bisa memaksa bukti yang berada lepat di depannya untuk menjadi masuk akal.

Jacob bangkit dan menghampiri Charlie, menepuk-nepuk punggungnya. Ia membungkuk untuk membisikkan sesuatu di telinga Charlie; hanya saja Charlie tak tahu kami semua bisa mendengarnya.

“Hanya yang perlu diketahui, Charlie. Semua beres. Aku jamin.”

Charlie menelan ludah dan mengangguk. Kemudian matanya berapi-api waktu ia maju selangkah menghampiri Edward dengan dua tangan terkepal.

“Aku tidak ingin mengetahui semuanya, tapi aku sudah muak dengan kebohongan!”

“Maafkan aku,” kata Edward kalem, “tapi kau lebih perlu mengetahui cerita versi publik daripada yang sebenarnya. Kalau kau ingin menjadi bagian rahasia ini, cerita versi publik adalah yang terpenting. Itu untuk melindungi Bella dan Renesmee, juga kami semua. Bisakah kau menerima semua kebohongan itu demi mereka?”

Ruangan itu dipenuhi patung-patung. Kusilangkan tungkaiku.

Charlie mendengus dan mengarahkan tatapan garangnya padaku. “Seharusnya kau bisa memberiku peringatan dulu, Nak.”

“Apakah itu akan membuat keadaan jadi lebih mudah?”

Charlie mengerutkan kening, lalu berlutut di lantai, di depanku. Aku bisa melihat darah mengalir di lehernya, di bawah kulitnya. Aku bisa merasakan denyutan hangatnya.

Begitu juga Renesmee, Ia tersenyum dan mengulurkan telapak tangannya yang pink kepada Charlie. Kutarik Renesmee, Ia menekankan tangannya yang lain ke leherku, dahaga, keingintahuan, dan wajah Charlie berkecamuk dalam pikirannya. Ada sedikit kegelisahan dalam pesan itu, yang membuatku berpikir ia sepenuhnya mengerti perkataan Edward; ia mnmnjukkan bahwa ia haus, tapi langsung menyingkirkan itu dari pikirannya.

” Wow,” Charlie terkesiap, matanya tertuju pada deretan gigi Renesmee yang sempurna. “Umur berapa dia?”

“Hh..”

“Tiga bulan,” jawab Edward, kemudian menambahkan lambat-lambat, “atau lebih tepatnya, ukuran tubuhnya mirip bayi tiga bulan, kurang-lebih. Dia lebih muda dalam beberapa hal, sekaligus lebih matang dalam hal-hal lain.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.