Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Bagaimana penampilanku sekarang?”

Edward tersenyum. “Memesona. Tentu saja…”

Ya, ya, dia selalu terlihat memesona,” Alice menyelesaikan pikiran Edward dengan sikap tak sabar. “Lebih baik daripada marah, tapi itu pujian tertinggi yang bisa kuberikan.

Seperti lumpur. Warna cokelatmu jauh lebih cantik. Ingat Bella bahwa warna itu takkan bertahan selamanya—racun tubuhmu akan meluruhkan warnanya dalam beberapa jam, kalau Charlie berada di sini lebih lama dari itu, kau harus permisi sebentar untuk menggantinya. Ada bagusnya sih, karena manusia kan perlu ke kamar mandi sesekali.” Alice menggeleng-gelengkan kepala. “Esme, beri dia beberapa acuan tentang bagaimana bersikap seperti manusia sementara aku memasukkan lensa-lensa kontak ke powder room”

“Aku punya waktu berapa lama?”

“Charlie akan sampai di sini lima menit lagi. Jadi yang simpel simpel sajalah.”

Esme mengangguk, menghampiri lalu menggandengku. “Yang paling penting jangan duduk terlalu diam atau bergerak terlalu cepat,” ia menasihatiku.

“Duduk kalau dia duduk,” sela Emmett. “Manusia tidak mungkin hanya berdiri.”

“Meliriklah setiap tiga puluh detik sekali, kurang-lebih,” Jasper menambahkan. “Manusia tak mungkin menatap sesuatu terlalu lama.”

“Silangkan kaki kira-kira setiap lima menit sekali, lalu julurkan tungkai selama lima menit berikutnya,” kata Rosalie.

Aku mengangguk mendengar setiap saran. Aku juga melihat mereka melakukan hal yang sama kemarin. Kupikir aku bisa meniru tingkah mereka.

“Dan kedipkan mata sekurang-kurangnya tiga kali dalam semenit,” imbuh Emmett, Ia mengerutkan kening, lalu menghampiri meja kecil tempat remote control diletakkan.

Ia menyalakan TV yang menayangkan pertandingan fcctball antaruniversitas, dan mengangguk.

“Gerakkan tanganmu juga. Kibaskan rambut atau pura-puralah menggaruk sesuatu,” kata Jasper.

“Tadi aku menyuruh Esme” protes Alice begitu ia kembali. “Kalian hanya akan membuat Bella bingung,”

“Tidak, kurasa aku sudah paham semuanya,” kataku. “Duduk, melirik, mengerjap, bergerak-gerak.”

“Benar,” Esme membenarkan. Ia merangkul pundakku.

Jasper mengerutkan kening. “Kau harus menahan napas selama mungkin, tapi kau perlu menggerakkan bahumu sedikit agar terlihat sedanalah kau bernapas.”

Aku menarik napas kemudian mengangguk lagi.

Edward merangkulku dari sisi berbeda. “Kau pasti bisa melakukannya,” ia mengulangi kata-katanya, membisikkan kalimat yang menguatkan itu di telingaku.

“Dua menit,” kata Alice. “Mungkin sebaiknya kau mulai duduk di sofa. Kau kan pura-puranya habis sakit. Dengan begitu, dia tidak perlu langsung melihatmu bergerak.”

Alice menarikku duduk di sofa. Aku berusaha bergerak pelan-pelan, menggerakkan tungkai secara lebih canggung. Alice memutar bola mata gemas, jadi gerakanku pasti kurang meyakinkan.

“Jacob, aku membutuhkan Renesmee,” kataku,

Jacob mengerutkan kening, bergeming.

Alice menggeleng. “Bella, aku tidak bisa melihat kalau begitu.”

“Tapi aku membutuhkan dia. Dia membuatku tenang.” Tak salah lagi, terdengar secercah nada panik dalam suaraku.

“Baiklah,” erang Alice, “Peluk dia dan usahakan jangan terlalu banyak bergerak dan aku akan mencoba melihat di sekitarmu” Ia mengembuskan napas letih, seperti diminta kerja lembur pada hari libur. Jacob ikut-ikutan mengembuskan napas, tapi toh membawa Renesmee padaku, kemudian cepat-cepat mundur kembali begitu dipelototi Alice.

Edward duduk di sebelahku, merangkul Renesmee dan aku. mencondongkan tubuh dan menatap mata Renesmee dengan sangat serius.

“Renesmee, seseorang yang istimewa akan datang menemuimu dan ibumu,” katanya dengan nada takzim, seolah Renesmee memahami setiap perkataannya. “Tapi dia tidak seperti kita, atau bahkan seperti Jacob. Kita harus sangat berhati-hati dengannya. Kau tidak boleh bercerita padanya seperti kau bercerita pada kami.”

Renesmee menyentuh wajah Edward,

“Tepat sekali,” ujar Edward. “Dan dia akan membuatmu haus. Tapi kau tidak boleh menggigitnya. Dia tidak akan sembuh seperti Jacob.”

“Apakah dia bisa memahamimu?” bisikku.

‘Dia mengerti Kau akan berhati-hati, bukan, Renesmee? dan akan membantu kami?”

Renesmee menyentuh Edward lagi.

“Tidak, aku tidak peduli kalau kau menggigit Jacob. Itu tidak apa-apa.” Jacob terkekeh.

“Mungkin sebaiknya kau pergi, Jacob,” sergah Edward dingin, memandangnya garang. Edward belum memaafkan Jacob, karena ia tahu tak peduli apa pun yang terjadi sekarang, aku akan tetap merasa sakit. Tapi dengan senang hati akan kutanggung rasa sakit seperti terbakar kalau memang itu hal terburuk yang harus kuhadapi malam ini.

“Aku sudah bilang pada Charlie bahwa aku akan di sini,” tukas Jacob, “Dia membutuhkan dukungan moral.”

“Dukungan moral apa,” dengus Edward. “Sepanjang yang diketahui Charlie, kau monster paling menjijikkan dibandingkan kami semua.”

“Menjijikkan?” protes Jacob, kemudian ia tertawa pelan.

Kudengar bunyi ban mobil berbelok keluar jalan raya dan memasuki jalan tanah yang sunyi dan lembap, menuju rumah keluarga Cullen. Napasku kembali memburu. Kalau masih berfungsi, jantungku pasti sudah bertalu-talu. Aku jadi gelisah karena tubuhku tidak bereaksi sebagaimana mestinya.

Aku berkonsentrasi pada detak jantung Renesmee yang teratur untuk menenangkan diriku sendiri. Teknik itu ternyata sangat jitu.

“Bagus sekali, Bella,” Jasper berbisik setuju.

Edward mempererat rangkulannya di pundakku.

“Kau yakin?” tanyaku.

“Positif. Kau bisa melakukan apa saja” Edward tersenyum dan mengecupku.

Walaupun kecupannya tidak persis di bibir, namun reaksi khas vampirku yang liar lagi-lagi membuatku terperangah. Bibir Edward bagaikan zat kimia adiktif yang disuntikkan langsung ke sistem sarafku. Seketika itu juga aku menginginkan lebih. Dibutuhkan segenap konsentrasi untuk mengingat bayi dalam dekapanku ini.

Jasper merasakan perubahan suasana hatiku. “Eh, Edward, mungkin ada baiknya kau tidak membuat konsentrasinya pecah sekarang. Bella harus bisa fokus.”

Edward menjauhkan dirinya dariku. “Uuups,” ujarnya.

Aku tertawa. Padahal dulu akulah yang selalu bilang begitu, dari sejak awal sekali, sejak ciuman yang pertama.

“Nanti,” kataku, dan antisipasi membuat perutku mengelui.

‘Fokus, Bella” desak Jasper.

“Baik.” Kusingkirkan perasaan gemetar itu jauh-jauh. “ Charlie, itu yang utama sekarang. Amankan Charlie hari ini. Kami punya waktu sepanjang malam…

“Bella”

‘Maaf, Jasper.” Emmett tertawa.

Suara mobil patroli Charlie semakin dekat. Semua terdiam. Aku menyilangkan kaki dan berlatih mengerjap-ngerjapkan mata.

Mobil berhenti di depan rumah dan mesinnya tetap menyala selama beberapa detik. Dalam hati aku penasaran apakah Charlie juga sama gugupnya denganku. Sejurus kemudian mesin dimatikan, dan terdengar bunyi pintu ditutup. Tiga langkah melintasi rerumputan, kemudian delapan dentuman langkah yang bergema di tangga kayu. Empat langkah lagi melintasi teras. Lalu sepi. Charlie menarik napas dalam-dalam berkali-kali.

Tok, tok, tok.

Aku menghela napas, mungkin untuk terakhir kali. Renesmee meringkuk semakin rapat dalam pelukanku, menyembunyikan wajahnya di rambutku.

Carlisle membukakan pintu. Ekspresi tertekannya berubah menjadi ekspresi selamat datang, seperti mengubah channel di televisi.

“Halo, Charlie,” sapa Carlisle, berlagak bingung. Soalnya, harusnya kami berada di Atlanta, di Center for Disease Control. Charlie tahu ia dibohongi.

“Carlisle,” sapa Charlie kaku, “Mana Bella?”

“Di sini, Dad.”

Ugh! Suaraku sangat berbeda. Tambahan lagi, aku menghabiskan suplai udaraku. Cepat-cepat aku mereguk udara lagi, lega bau Charlie belum memenuhi ruangan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.