Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku menghirup napas dalam-dalam. “Lalu apa lagi yang dia inginkan?”

Jacob tersenyum. “Kau pasti suka mendengarnya. Permintaan utamanya adalah agar dia diberitahu sesedikit mungkin tentang semua ini. Kalau memang tidak terlalu esensial baginya mengetahui sesuatu, kau tak perlu memberitahunya. Hanya yang perlu diketahui.”

Aku merasakan kelegaan untuk pertama kalinya sejak Jacob melangkah masuk. “Aku bisa mengatasi bagian yang itu.”

“Selain itu, dia hanya ingin berpura-pura keadaan normal-normal saja.” Senyum Jacob berubah menjadi seringai penuh kemenangan; ia pasti sudah mengira aku akan mulai merasa sedikit berterima kasih padanya,

“Apa yang kaukatakan padanya mengenai Renesmee?” Susah payah aku berusaha tetap memperdengarkan nada galak, melawan keinginan untuk berterima kasih. Masih terlalu dini. Masih banyak yang salah dalam situasi ini. Bahkan intervensi Jacob mendatangkan reaksi yang lebih baik dari Charlie daripada yang selama ini kuharapkan.»

“Oh yeah. Aku juga memberitahu dia bahwa kau dan Edward mewarisi mulut kecil baru untuk diberi makan.” Diliriknya Edward. “Dia anak perwalianmu yang yatim-piatu— seperti Bruce Wayne dan Dick Grayson,” Jacob mendengus. “Kurasa kau tidak keberatan aku berbohong. Itu semua bagian dari permainan, kan?” Karena Edward tidak meresponsnya sama sekali, Jacob melanjutkan. “Pada tahap ini Charlie sudah tidak bisa shock lagi, tapi dia sempat bertanya apakah kalian mengadopsi dia, ‘Maksudmu anak perempuan? Maksudmu aku sudah jadi kakek?* adalah kata-kata persisnya. Aku mengiyakan. ‘Selamat, Kek,’ dan lain sebagainya. Dia bahkan sempat tersenyum sedikit.”

Mataku kembali perih, tapi kali ini bukan karena takut dan sedih. Charlie tersenyum membayangkan dirinya sudah jadi kakek? Charlie akan bertemu Renesmee?

” Tapi Renesmee berubah sangat cepat” bisikku*

“Kubilang pada Charlie Renesmee jauh lebih istimewa daripada kita semua dijadikan satu,” Jacob menerangkan dengan lembut. Ia berdiri dan menghampiriku, melambaikan tangan pada Leah dan Seth waktu mereka bermaksud mengikutinya. Renesmee menggapai-gapai padanya, tapi kupeluk ia ‘semakin erat. “Kubilang padanya, ‘Percayalah padaku, kau tak ingin tahu tentang ini. Tapi kalau kau bisa mengabaikan semua yang aneh, kau akan takjub. Renesmee orang paling menakjubkan di seluruh dunia.’ Kemudian kukatakan padanya bahwa kalau dia bisa menerima hal itu, kau akan tetap di sini untuk sementara waktu, jadi dia akan bisa mengenal bocah ini. Tapi kalau itu terlalu berat baginya, kau akan pergi. Charlie berkata asal tak ada orang yang memaksa menjejalkan terlalu banyak informasi padanya, dia oke-oke saja.”

Jacob memandangiku dengan senyum separo terkembang, menunggu,

“Aku tidak akan berterima kasih padamu,” tukasku. “Kau tetap membahayakan hidup Charlie”

“Aku benar-benar menyesal kalau itu menyakitimu. Aku sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Bella, keadaan kita berbeda sekarang, tapi kau akan selalu jadi sahabatku, dan aku akan selalu mencintaimu. Tapi aku mencintaimu dengan cara yang benar sekarang. Akhirnya ada keseimbangan. Kita berdua memiliki orang-orang yang tanpa mereka, kita tidak bisa hidup.”

Ia menyunggingkan senyum Jacob-nya yang istimewa. “Kita masih berteman, kan?”

Mengerahkan segenap kemampuanku untuk menolak, aku harus membalas senyumnya. Senyum kecil saja.

Jacob mengulurkan tangan: sebuah tawaran.

Aku menarik napas dalam-dalam dan memindahkan Renesmee ke tangan yang lain. Aku menyalaminya dengan tangan kiriku—ia bahkan tidak tersentak metasakan kulitku yang dingin, “Kalau aku tidak membunuh Charlie malam ini, akan kupertimbangkan untuk

memaafkanmu atas ulahmu ini.”

“Kalau kau tidak membunuh Charlie malam ini, kau berutang budi padaku,”

Aku memutar bola mataku.

Ia mengulurkan tangannya yang lain pada Renesmee, kali ini berupa permintaan. “Bolehkah aku?”

“Sebenarnya aku menggendongnya supaya kedua tanganku tidak bebas membunuhmu, Jacob. Mungkin nanti saja.”

Jacob mendesah tapi tidak memaksaku. Bijaksana juga dia.

Saat itulah Alice menghambur memasuki pintu, kedua tangannya bergerak-gerak dan ekspresinya mengisyaratkan amarah.

“Kau, kau, dan kau,” bentak Alice, memandang garang pada para werewolf. “Kalau kalian memang harus tetap di sini, ming-gir ke pojok sana dan tetaplah di sana selama beberapa waktu. Aku harus bisa melihat. Bella, sebaiknya kauberikan bayimu padanya. Kau tidak boleh memegang apa-apa.”

Jacob menyeringai penuh kemenangan.

Perasaan takut yang amat kuat mencengkeram perutku saat menyadari betapa besarnya tanggung jawab yang kuimbau saat ini. Aku akan mempertaruhkan pengendalian

Diriku yang rapuh dengan ayahku yang seratus persen manusia sebagai kelinci percobaan. Kata-kata Edward kembali terngiang di telingaku.

Tidakkah kau mempertimbangkan kesakitan fisik yang kau-mahalkan pada Bella, kalau ia bisa menolaknya? Atau kesakitan

Emosional, kalau ia tidak bisa?

Tak terbayangkan olehku betapa sakitnya kalau aku gagal. Napasku tersengal.

“Bawa dia,” bisikku, menyodorkan Renesmee ke pelukan Jacob.

Jacob mengangguk, keprihatinan membuat keningnya berkerut. Ia membeli isyarat pada yang lain-lain, dan mereka beranjak ke sudut ruangan. Seth dan Jake langsung duduk di lantai, tapi Leah menggeleng dan mengerucutkan bibir.

“Boleh aku pergi?” gerutunya. Ia terlihat tidak nyaman dalam tubuh manusianya, memakai T’shirt kotor dan celana pendek katun yang sama yang dipakainya waktu ia datang memarahiku ketika itu, rambut pendeknya berantakan. Kedua tangannya masih gemetar.

“Tentu saja,” jawab Jake.

“Tetaplah berada di timur agar tidak melintasi jalur Charlie,” Alice menambahkan.

Sedikit pun Leah tidak melirik Alice; ia merunduk melewati pintu belakang dan menghambur ke semak-semak untuk berubah wujud.

Edward sudah kembali di sebelahku, membelai-belai wajahku. “Kau bisa melakukannya. Aku tahu kau bisa. Aku akan membantumu; kami semua akan membantumu.”

Kutatap mata Edward dengan wajah meneriakkan kepanikan. Apakah ia cukup kuat untuk menghentikanku kalau aku melakukan gerakan yang salah?

“Kalau aku tidak percaya kau bisa mengatasinya, kita pasti sudah tidak berada di sini sekarang. Menit ini juga. Tapi kau bisa. Dan kau akan lebih bahagia kalau memiliki Charlie dalam hidupmu.”

Aku berusaha memperlambat deru napasku.

Alice mengulurkan tangan. Di telapak tangannya ada kotak putih kecil, “Ini akan membuat matamu iritasi—tidak sakit, tapi akan membuat matamu betkabut. Menjengkelkan memang, Warnanya juga tak sama persis dengan warna matamu dulu, tapi tetap lebih baik daripada merah terang, kan?”

Ia melemparkan kotak lensa kontak itu dan kutangkap.

“Kapan kau…”

“Sebelum kau berangkat berbulan madu. Aku sudah siap dengan beberapa kemungkinan.”

Aku mengangguk dan membuka wadah itu. Aku belum pernah memakai lensa kontak, tapi pasti tidak terlalu sulit. Kuambil bulatan lensa berwarna cokelat itu dan kutempelkan ke bola mata, sisi yang cekung di bagian dalam.

Aku mengerjap-ngerjap, dan kabut itu menghalangi penglihatanku. Aku masih bisa melihat tentu saja, tapi aku juga bisa melihat tekstur selaputnya yang tipis. Mataku berulang kali terfokus pada goresan-goresan mikroskopik dan bagian-bagian yang melengkung.

“Aku mengerti maksudmu,” gumamku sambil menempelkan lensa satunya. Kali ini aku berusaha tidak mengerjap. Mataku otomatis ingin mengeluarkan gangguan itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.