Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

menghancurkan hidup ayahku.

“Hei, guys!” sapa Jacob, nyengir.

Suasana sunyi senyap.

Leah dan Seth menyelinap di belakangnya, dalam wujud manusia—untuk sekarang ini; tangan mereka gemetar karena tegangnya suasana di dalam ruangan.

“Rose,” pintaku, mengulurkan kedua lenganku. Tanpa berkata apa-apa Rosalie menyerahkan Renesmee padaku. Aku mendekapnya erat-erat ke jantungku yang tak berdetak, memeluknya seperti jimat untuk mencegah perbuatan sembrono. Aku akan tetap mendekapnya dalam pelukanku sampai yakin keputusanku membunuh Jacob sepenuhnya didasari pada penilaian rasional, bukan amarah semata-mata.

Renesmee diam tak bergerak, menonton dan mendengarkan. Berapa banyak yang ia mengerti?

“Sebentar lagi Chadie akan sampai di sini,” Jacob menyampaikan padaku dengan nada biasa-biasa saja. “Sekadar pemberitahuan. Asumsiku, Alice pasti sudah membelikanmu kacamata hitam atau sebangsanya?”

“Kau berasumsi terlalu jauh” aku menyemburkan kata-kataku dari sela-sela gigiku. “Apa. Yang. Sudah. Kaulakukan?”

Senyum Jacob goyah, tapi ia masih terlalu tegang untuk menjawab dengan serius. “Si pirang dan Emmett membangunkanku tadi pagi dengan ocehan mereka tentang rencana pindah ke luar kota. Seolah-olah aku akan membiarkanmu pergi saja. Persoalan terbesarnya adalah Charlie, kan? Well, masalahnya sudah diatasi.”

“Apakah kau tidak menyadari akibat perbuatanmu? Bahaya yang kautimbulkan baginya?”

Jacob mendengus. “Aku sama sekali tidak membahayakan dia. Kecuali darimu. Tapi kau kan memiliki semacam pengendalian diri yang supranatural, benar? Tidak sebagus membaca pikiran, kalau kautanya pendapatku. Kurang asyik.”

Saat itulah Edward bergerak, melesat menyeberangi ruangan dan berdiri persis di depan wajah Jacob. Walaupun ia setengah kepala lebih pendek daripada Jacob, Jacob mundur selangkah menghindari amarah Edward, seakan-akan Edward menjulang tinggi di atasnya.

“Itu hanya teori, anjing,” geramnya. “Kaukira kami harus mengetesnya pada Charlie? Tidakkah kau mempertimbangkan kesakitan fisik yang kautimbulkan pada Bella, kalaupun dia bisa menolaknya? Atau kesakitan emosional, kalau dia tidak bisa? Kurasa apa yang terjadi pada Bella tak ada urusannya lagi denganmu!” Edward menyemburkan kata terakhir itu.

Renesmee menempelkan jari-jarinya dengan cemas ke pipiku, keresahan mewarnai pemutaran ulang adegan tadi dalam kepalanya.

Kata-kata Edward akhirnya berhasil menembus suasana hati Jacob yang berapi-api. Mulutnya tertarik ke bawah, cemburu. “Memangnya Bella akan kesakitan?”

“Seperti menyurukkan setrika panas ke tenggorokannya!”

Aku tersentak, teringat bau darah manusia murni.

“Aku tak tahu kalau akan seperti itu,” bisik Jacob.

“Kalau begitu mungkin sebaiknya kantanya dulu,” geram Edward dari sela-sela giginya.

“Kau pasti akan menghentikanku.”

“Kau seharusnya memang dihentikan…”

“Masalahnya bukan aku,” selaku. Aku diam tak bergerak, menggendong Renesmee dan mempertahankan kewarasanku. “Masalahnya adalah Charlie, Jacob. Bagaimana mungkin kau bisa membahayakan hidupnya seperti ini? Sadarkah kau seka-r.mg dia harus menghadapi pilihan antara mati atau menjadi vampir juga?” Suaraku bergetar karena air mata yang tak bisa keluar lagi.

Jacob masih terganggu oleh tudingan Edward, tapi tuduhan-ku sepertinya bukan masalah sama sekali baginya. “Rileks, Bella. Aku tidak memberitahu dia apa pun yang tidak ingin kauceritakan padanya.”

“Tapi dia datang ke sini!”

“Ya, memang itu tujuannya. Bukankah membiarkannya berasumsi yang salah’ adalah bagian dari rencanamu? Kupikir aku hanya menyediakan umpannya saja, bisa dibilang begitu.”

Jari-jariku membuka menjauhi tubuh Renesmee. Aku me-lengkungkannya kembali. “Katakan yang sebenarnya, Jacob. Kesabaranku sudah habis.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa tentang kau, Bella. Tidak juga. Aku menceritakan padanya tentang aku. Well, menunjukkan mungkin istilah yang lebih tepat,”

“Dia berubah wujud di hadapan Charlie,” desis Edward, Aku berbisik, “Kau apa?”

“Charlie pemberani. Pemberani seperti kau. Tidak pingsan, atau muntah, atau apa. Harus kuakui, aku terkesan. Tapi coba kaulihat wajahnya waktu aku mulai membuka pakaian. Tak ternilai,” Jacob terkekeh-kekeh.

“Dasar tolol! Bisa-bisa dia kena serangan jantung, tahui”

“Charlie baik-baik saja kok. Dia kuat. Kalau kau mau berpikir satu menit saja, akan kaulihat bahwa sebenarnya aku membantumu.”

“Kau punya waktu setengahnya, Jacob.” Suaraku datar dan kaku. “Kau punya waktu tiga puluh detik untuk menceritakan padaku setiap kata yang kauucapkan sebelum aku memberikan Renesmee pada Rosalie dan menebas kepala tololmu itu. Seth takkan sanggup menghentikanku kali ini.”

“Ya ampun, Bells. Dulu kau tidak sok melodramatis begini. Itu ciri khas vampir, ya?”

“Dua puluh enam detik.”

Jacob memutar bola matanya dan mengempaskan diri ke kursi terdekat. Kawanan kecilnya beranjak dan berdiri mengapitnya, sikap mereka sama sekali tidak serileks Jacob; mata Leah tertuju padaku, memamerkan sedikit giginya.

“Jadi tadi pagi aku mengetuk pintu rumah Charlie dan mengajaknya jalan-jalan. Dia bingung tapi waktu kubilang ini tentang kau, dan bahwa kau sudah kembali ke kota, dia mengikutiku ke hutan. Kubilang padanya kau tidak sakit lagi, dan situasinya agak sedikit aneh, tapi bagus. Dia sudah berniat langsung pergi menengokmu, tapi kukatakan aku harus menunjukkan sesuatu padanya dulu. Kemudian aku berubah wujud.”

Gigiku terasa seperti catok yang mengatup rapat. “Aku ingin dengar setiap kata, monster.”

“Well, kaubilang tadi aku hanya punya waktu tiga puluh detik—oke, oke.” Ekspresiku pasti meyakinkan dia bahwa aku tak sedang ingin bercanda. “Baiklah… aku berubah wujud kembali dan berpakaian, kemudian setelah Charlie mulai bisa bernapas lagi, aku bilang begini, ‘Charlie, kau tidak tinggal di dunia seperti yang selama ini kaukira. Kabar baiknya adalah, tak ada yang berubah—kecuali sekarang kau sudah tahu. Hidup akan berjalan seperti biasa. Kau bisa kembali berpura-pura tidak percaya pada hal-hal seperti ini’

“Butuh beberapa saat bagi Charlie untuk memikirkan semuanya, kemudian ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, dengan penyakit langka itu. Kubilang kau memang pernah sakit, tapi sekarang sudah sembuh-—bahwa kau berubah sedikit dalam proses menjadi sembuh itu. Dia ingin tau apa yang kumaksud dengan ‘berubah-dan kubilang padanya sekarang kau lebih mirip Esme daripada Renée.”

Edward mendesis sementara aku menatapnya ngeri; pembicaraan ini menuju ke arah berbahaya.

“Beberapa menit kemudian dia bertanya, suaranya pelan sekali, apakah kau juga berubah menjadi binatang. Dan kujawab, “Dia sih berharap bisa sekeren ini.” Jacob terkekeh.

Rosalie mengeluarkan suara seperti orang jijik.

“Aku mulai menceritakan padanya tentang werewolf, tapi aku bahkan tak sempat mengucapkan kata itu sampai selesai—Charlie keburu memotongku dan berkata dia ‘lebih suka tidak tahu secara spesifik.’ Lalu dia bertanya apakah kau sudah tahu kau melibatkan dirimu ke dalam apa waktu menikahi Edward, dan kujawab, ‘Tentu, dia sudah tahu tentang semua ini sejak bertahun-tahun lalu, sejak pertama kali datang ke Forks.’ Charlie tidak begitu suka mendengarnya. Kubiarkan dia marah-marah sampai hatinya lega. Setelah tenang kembali, dia hanya menginginkan dua hal. Dia ingin bertemu denganmu, dan kubilang lebih baik kalau dia memberiku kesempatan memberitahu kalian lebih dulu.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.