Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku menghambur menghampirinya. “Bagaimana kau melakukannya?”

“Denim kan punya bau khas, sama seperti yang lain. Sekarang… kaus?”

Ia mengikuti penciumannya ke rak pendek, mengeluarkan sehelai T-shirt putih berlengan panjang. Dilemparkannya kaus itu padaku.

“Trims,” ujarku penuh terima kasih. Kuhirup setiap kain, menghafal baunya kalau aku perlu mencarinya lagi di tengah semua kegilaan ini. Aku ingat bau sutra dan satin; aku akan menghindarinya.

Hanya butuh beberapa detik untuk menemukan baju Edward—seandainya aku belum pernah melihatnya tanpa |ukaian, aku berani bersumpah rak ada yang lebih menawan daripada Edward dalam balutan celana khaki dan putlover pulih gading pucat— kemudian ia menggandeng tanganku. Kami melesat melewati taman, dengan enteng melompati dinding itu, dan berlari secepat kilat menembus hutan. Kutarik tanganku dari genggamannya supaya kami bisa berlomba pulang. Edward mengalahkanku kali ini.

Renesmee sudah bangun; ia duduk di lantai, ditemani Rose d.m Emmett yang memerhatikan, bermain-main dengan perabotan makan dari perak yang sudah bengkokbengkok. Ia membengkokkan sendok di tangan kanannya. Begitu melihatku dari balik kaca, ia melemparkan sendok itu ke lantai—lemparannya meninggalkan lekukan di kayu— dan menunjuk ke arahku dengan sikap angkuh. Para penontonnya tertawa; Alice, Jasper, Esme, dan Carlislc duduk di sofa, menontonnya seolah-olah ia film yang sangat menarik.

Aku sudah masuk ke rumah bahkan sebelum mereka mulai lertawa, melesat melintasi ruangan dan meraup Renesmee dari lantai pada detik yang sama. Kami saling menyunggingkan senyum lebar.

Ia berbeda, tapi perbedaannya tak terlalu banyak. Lagi-lagi agak lebih panjang, proporsi tubuhnya bergeser dari seperti bayi menjadi seperti anak-anak. Rambutnya bettambah panjang lima senti, ikalannya bergoyang seperti pegas setiap kali bergerak. Aku tadi membiarkan imajinasiku terlalu liar dalam perjalanan kembali ke sini, dan aku membayangkan yang

lebih parah daripada ini. Untunglah, ketakutanku yang overdosis membuat perubahan-perubahan kecil ini nyaris melegakan. Bahkan tanpa diukur Carlisle, aku yakin perubahannya lebih lambat daripada kemarin.

Renesmee menepuk-nepuk pipiku. Aku meringis. Ia lapar lagi.

“Sudah berapa lama dia bangun?” tanyaku sementara Edward menghilang ke balik pintu dapur. Aku yakin ia ke dapur mengambilkan sarapan untuk Renesmee, karena ia bisa melihat pikiran Renesmee sama jelasnya denganku. Dalam hati aku penasaran apakah Edward akan menyadari kelebihan kecil Renesmee, seandainya dia satu-satunya yang mengenalnya. Bagi Edward, mungkin sama saja seperti mendengar pikiran orang-orang lain.

“Sebentar lagi, ya,” kata Rose. “Sebenarnya kami berniat memanggilmu sejak tadi. Dia sudah berulang kali menanyakan-mu—menuntut mungkin lebih tepat. Esme sampai mengorbankan peralatan makan peraknya yang nomor dua paling bagus supaya si monster kecil tidak rewel.” Rose tersenyum pada Renesmee dengan perasaan sayang, sehingga perkataannya tadi sama sekali tidak menyinggung perasaan, “Kami tidak ingin… eh, mengganggumu.”

Rosalie menggigit bibir dan membuang muka, berusaha menahan tawa. Bisa kurasakan tawa Emmett yang tanpa suara di belakangku, membuat fondasi rumah bergetar.

Kuangkat daguku tinggi-tinggi. “Kita akan segera membereskan kamarmu,” kataku pada Renesmee. “Kau pasti menyukai pondok itu. Suasananya sangat magis.” Aku mendongak pada Esme. “Terima kasih, Esme. Terima kasih banyak. Pondok yang sempurna sekali.”

Belum lagi Esme sempat menjawab, Emmett sudah tertawa lagi–kali ini tidak lagi tanpa suara.

“Jadi pondoknya masih berdiri?” tanyanya di sela-sela tawanya yang heboh. “Kusangka pondok itu sudah tinggal puing gara-gara kalian. Apa yang kalian lakukan semalam? Membicarakan masalah utang negara?” Ia tertawa melolong-lolong.

Aku mengenakkan gigi dan mengingatkan diriku sendiri [•ada konsekwensi negatif kalau aku membiarkan amarahku tak terbendung seperti kemarin. Tentu saja, Emmett tidak ic-rapuh Seth…

Ingatan tentang Seth membuatku penasaran. “Di mana serigala-serigala hari ini?” Aku melirik dinding yang berjendela, tapi waktu pulang tadi, aku tidak melihat sedikit pun landa-tanda kehadiran Leah.

“Jacob pergi pagi-pagi sekali tadi,” Rosalie menjawab pertanyaanku, sedikit kerutan terbentuk di dahinya. “Seth mengikutinya keluar.”

“Apa yang membuatnya begitu kalut?” tanya Edward sambil berjalan memasuki ruangan dengan cangkir Renesmee. Pasti ada lebih banyak hal dalam ingatan Rosalie daripada yang kulihat dalam ekspresinya.

Tanpa bernapas, kuserahkan Renesmee pada Rosalie. Mungkin aku memiliki pengendalian diri super, tapi cidak mungkin aku bisa memberi Renesmee makan. Belum.

“Aku tidak tahu—atau peduli,” gerutu Rosalie, tapi ia menjawab pertanyaan Edward secara lebih lengkap. “Jacob sedang menonton Nessie tidur, mulutnya menganga seperti orang tolol—dan ia memang tolol—lalu tanpa alasan apa-apa tahu-tahu dia melompat berdiri—yang bisa kulihat, setidaknya— dan menghambur keluar. Aku sih senang-senang saja dia pergi. Semakin banyak waktu yang dia habiskan di sini, semakin kecil kemungkinan kita akan bisa menyingkirkan baunya.”

“Rose,” tegur Esme lembut.

Rosalie mengibaskan rambutnya. “Kurasa itu bukan masalah. Kita toh takkan berada di sini lebih lama lagi.”

“Aku masih berpendapat sebaiknya kita langsung saja berangkat ke New Hampshire untuk membereskan semuanya,” kata Emmett, jelas melanjutkan pembicaraan sebelumnya, “Bella kan sudah terdaftar di Dartmouth. Kelihatannya dia tidak butuh waktu lama untuk bisa kuliah.” Ia berpaling padaku dengan cengiran menggoda. “Aku yakin kau pasti bisa lulus secara gemilang dari setiap mata kuliah.., kelihatannya tak ada hal menarik yang bisa kaulakukan pada malam hari kecuali belajar.”

Rosalie terkikik.

Jangan satnpai amarahmu meledak, jangan sampai amarahmu meledak, batinku berulang-ulang. Dan aku bangga pada diriku sendiri karena tetap tenang.

Jadi aku kaget sekali waktu Edward justru tidak.

Ia menggeram—raungan kasar yang tiba-tiba—dan ekspresi marah yang garang menggelapkan wajahnya seperti awan badai.

Sebelum kami sempat merespons, Alice sudah berdiri.

“Apa sih yang dia lakukan? Apa yang dilakukan anjing itu sehingga menghapus jadwalku sepanjang hari? Aku tidak bisa melihat apa-apal Tidakr Ia melayangkan pandangan tersiksa padaku. “Lihat dirimu! Kau butuh aku untuk menunjukkan bagaimana caranya menggunakan lemari pakaianmu.”

Sesaat aku mensyukuri apa pun yang dilakukan Jacob.

Kemudian kedua tangan Edward mengepal dan ia menggeram, “Dia bicara pada Charlie. Ia mengira Charlie mengikutinya. Datang ke sini. Hari ini.”

Alice mengatakan sesuatu yang kedengarannya sangat ganjil diucapkan oleh suaranya yang bak burung berkicau dan lady-like itu.

“Dia memberitahu Charlie?” aku tersentak. “Tapi… tidakkah kau mengerti? Tegateganya dia berbuat begitu!” Charlie tak pernah tahu tentang aku! Tentang vampir! Itu akan membuat Charlie masuk dalam daftar orang-orang yang harus disingkirkan, dan bahkan keluarga Cullen pun takkan bisa menyelamatkannya. “Tidak!”

Edward berbicara dengan mulut terkatup rapat. “Sebentar Jacob sampai.”

Agak ke timur, hari pasti hujan. Jacob masuk melewati pintu sambil mengibasngibaskan rambutnya yang basah seistri anjing, butir-butir air berjatuhan membasahi karpet dan isn/a dan menghasilkan titik-titik berwarna kelabu di bagian yang berwarna putih. Giginya cemerlang, kontras dengan bibirnya yang gelap; matanya bersinar-sinar dan penuh semangat. Ia berjalan dengan gerak kaku, seperti orang yang kelewat senang bisa

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.