Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Edward tertawa, pelan dan lembut, “Sulit menemukan seseorang yang kurang sedih dibandingkan aku sekarang. Mustahil, aku berani bertaruh. Tak banyak orang bisa mendapatkan semua yang mereka inginkan, ditambah hal-hal yang tak terpikirkan sama sekali oleh mereka, pada hari yang sama.”

“Kau menghindari pertanyaanku, ya?”

Edward menempelkan tangannya ke wajahku. “Kau hangat kok,” ia memberitahuku.

Itu ada benarnya. Bagiku, tangan Edward memang hangat. ‘ Tidak seperti

menyentuh kulit Jacob yang panas membara, tapi lebih menyenangkan. Lebih natural.

Kemudian ia menarik jari-jarinya pelan sekali menuruni wajahku, dengan lembut menyusuri rahang hingga ke leher dan terus turun ke pinggang. Mataku sedikit membeliak.

“Kau juga lembut.”

Jari-jarinya bagaikan satin di kulitku, jadi aku bisa mengerti maksudnya.

“Sementara mengenai bau, well, tak bisa dibilang aku merasa kehilangan. Ingatkah kau bau para hiker saat kita sedang berburu waktu itu?”

“Selama ini aku berusaha keras untuk tidak mengingatnya.”

“Bayangkan saja berciuman dengan orang yang baunya seperti itu.”

Kobaran api seolah membakar kerongkonganku, seperti menarik tali balon udara.

“Ok”

“Tepat sekali. Jadi jawabannya tidak. Aku sangat bahagia, karena aku tidak kehilangan apa-apa. Tidak ada yang memiliki lebih dari yang kumiliki sekarang.”

Aku baru hendak melontarkan satu pengecualian, tapi bibirku tiba-tiba sangat sibuk.

Ketika kolam kecil berubah warna menjadi seputih mutiara seiring dengan terbitnya matahari, muncul pertanyaan lagi dalam benakku.

“Ini akan berlangsung berapa lama? Maksudku, Carlisle dan Esme, Em dan Rose, Alice dan Jasper—mereka tidak mengunci diri di kamar seharian. Mereka keluar, berpakaian lengkap, setiap saat. Apakah… keinginan ini akan pernah berakhir?” Aku meliukkan tubuhku lebih dekat padanya—bisa dibilang itu keberhasilan tersendiri—untuk menunjukkan dengan jelas maksudku.

“Sulit mengatakannya. Setiap orang berbeda dan, well, sejauh ini kaulah yang paling berbeda dari semuanya. Rata-rata vampir baru terlalu terobsesi pada dahaga untuk memerhatikan hal lain selama beberapa waktu. Itu sepertinya tidak berlaku bagimu. Bagi rata-rata vampir lain, setelah tahun pertama barulah kebutuhan lain muncul. Baik dahaga maupun gairah lain tidak pernah benar-benar memudar. Tinggal bagaimana menyeimbangkannya saja, belajar membuat prioritas dan mengaturnya.»”

“Berapa lama?”

Edward tersenyum, mengernyitkan hidung sedikit, “Rosalie dan Emmett yang paling parah. Butuh satu dekade penuh haru aku tahan berada dalam radius delapan kilometer dari mereka. Bahkan Carlisle dan Esme pun tidak tahan. Mereka akhirnya terpaksa mengusir pasangan yang berbahagia itu, Esme membuatkan rumah juga untuk mereka. Jauh lebih besar daripada ini, tapi Esme tahu kesukaan Rose, dan dia tahu apa yang kausukai.”

“Lalu, setelah sepuluh tahun bagaimana?” Aku sangat yakin Rosalie dan Emmett tak ada apa-apanya dibanding kami, tapi kedengarannya sombong kalau membuat perkiraan lebih lama dari satu dekade. “Semua orang kembali normal? Seperti mereka sekarang?”

Lagi-lagi Edward tersenyum. “Well, aku tak yakin apa yang kaumaksud dengan notmal. Kau sudah melihat bagaimana keluargaku beraktivitas sehari-hari secara lumayan normal, Tapi selama ini kan kau selalu tidur pada malam hari.” Ia mengedipkan mata. “Banyak sekali waktu tersisa kalau kau tak perlu tidur. Itu membuatmu lebih mudah menyeimbangkan… ketertarikan-ketertarikan lain. Bukan tanpa alasan aku musisi terbaik di keluargaku, mengapa—selain Carlisle—aku yang paling banyak membaca buku, paling banyak mempelajari sains, paling banyak menguasai bahasa asing… Emmett membuatmu percaya aku tahu semua karena bisa membaca pikiran, tapi sebenarnya itu karena aku punya banyak waktu luang.”

Kami tertawa bersama, dan tubuh kami yang berguncang-guncang karena tawa menimbulkan hal-hal menarik pada tubuh kami yang saling menempel, dan itu langsung mengakhiri pembicaraan kami.

25. BANTUAN

BARU beberapa saat kemudian Edward mengingatkanku pada prioritasku yang lain.

Ia hanya perlu mengucapkan satu kata,

“Renesmee…”

Aku mendesah. Sebentar lagi ia bangun. Sekarang pasti sudah hampir jam tujuh pagi. Apakah ia akan mencariku? Tiba-tiba, sesuatu yang menyerupai kepanikan membuat tubuhku membeku. Akan seperti apa ia hari ini?

Edward merasakan perhatianku telah teralih sepenuhnya karena tertekan. “Tidak apa-apa. Sayang. Lekaslah berpakaian, kita akan sampai di rumah dalam dua detik.”

Aku mungkin terlihat kocak, caraku bangkit berdiri secara tiba-tiba, kemudian berpaling kembali padanya—tubuhnya yang bagaikan berlian berkilau samar di bawah sinar matahari yang menyebar—lalu ke arah barat, tempat Renesmee menunggu, lalu berpaling padanya lagi, lalu kembali ke Renesmee, kepalaku bolak-balik menoleh setengah lusin kali dalam sedetik, Edward tersenyum, tapi tidak tertawa; ia lelaki yang kuat.

“Semuanya adalah masalah keseimbangan, Sayang. Kau sangat hebat dalam semua ini, jadi kupikir tak lama lagi kau ikan bisa meletakkannya dalam perspektif yang benar.”

“Dan kita punya waktu sepanjang malam, bukan?”

Senyum Edward semakin melebar. “Kaupikir aku rela membiarkanmu berpakaian sekarang kalau bukan karena itu?”

Itu sudah cukup membuatku bertahan melewati pagi dan siang hari. Aku akan menyeimbangkan gairah yang begitu menggelora ini agar bisa bersikap baik—sulit sekali memikirkan kata yang tepat. Walaupun Renesmee sangat nyata dan vital dalam hidupku, masih saja sulit membayangkan diriku sebagai ibu. Tapi kurasa siapa pun akan merasa seperti itu, jika tak punya waktu sembilan bulan untuk membiasakan diri (.lengan pemikiran menjadi ibu. Dan dengan anak yang berubah setiap jam.

Memikirkan Renesmee yang bertumbuh sangat cepat langsung membuatku stres. Aku bahkan tidak berhenti sejenak di pintu ganda berhias ukiran rumit untuk mengatur napas sebelum bersiap melihat apa yang telah dilakukan Alice. Aku langsung masuk, bertekad mengenakan pakaian pertama yang kusentuh. Seharusnya aku tahu takkan semudah ini.

“Yang mana baju-bajuku?” desisku. Seperti sudah dikatakan Edward tadi, ruangan itu lebih besar^daripada kamar tidur kami. Mungkin bahkan lebih besar (daripada sisa pondok ini dijadikan satu, tapi aku harus menganggapnya sebagai hal positif. Sempat terbayang olehku bagaimana Alice berusaha membujuk Esme untuk mengabaikan proporsi ruangan klasik dan membiarkan ruangan besar aneh ini dibangun. Aku penasaran bagaimana Alice memenangkan hal ini.

Segala sesuatu terbungkus dalam kantong-kantong garmen, putih bersih, berderetderet.

“Sepanjang pengetahuanku, semua kecuali yang ada di rak ini”—Edward menyentuh tiang yang membujur sepanjang setengah dinding di kiri pintu—”adalah milikmu.”

“Semua ini?”

Edward mengangkat bahu.

“Alice,” ujar kami berbarengan. Edward mengucapkan nama itu dengan nada seolah menjelaskan; aku mengucapkannya dengan nada seru.

“Baiklah,” gerutku, dan menarik ritsleting kantong terdekat. Aku menggeram pelan waktu melihat gaun sutra semata kaki di dalamnya—berwarna baby pink.

Bisa-bisa butuh seharian hanya untuk menemukan baju yang normal untuk dipakai!

“Biar kubantu,” Edward menawarkan diri. Ia mengendus udara dengan hati-hati dan mengikuti bau itu ke bagian belakang ruangan yang panjang. Di sana ada lemari berlaci built-in. Ia mengendus lagi, lalu membuka laci. Dengan seringai penuh kemenangan, ia menyodorkan jins belel.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.