Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Edward selalu menganggap dirinya berasal dari dunia kisah-kisah horor. Tentu saja, aku sudah tahu ia keliru besar. Jelas ia berasal dari SINI. Dari negeri dongeng.

Dan sekarang aku berada dalam dongeng itu bersamanya.

Aku baru saja hendak memanfaatkan fakta bahwa ia belum sempat menurunkanku dan” gendongannya dan bahwa wajahnya yang rupawan hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajahku waktu mendadak Edward berkata, “Kita beruntung bahwa terpikir oleh Esme untuk membuat ruang tambahan. Tak ada yang merencanakan kehadiran Ness— Renesmee.”

Aku mengerutkan kening padanya, pikiranku mengarah pada jalur yang kurang menyenangkan*

“Masa kau juga memanggilnya begitu,” protesku.

“Maaf, Sayang. Aku mendengarnya dalam pikiran mereka setiap saat, kau tahu itu. Jadi lama-lama terpengaruh juga.”

Aku mengeluh. Bayiku, si monster danau. Mungkin memang tak tertolong lagi, Well, aku tidak mau menyerah.

“Aku yakin kau pasti sudah tak sabar lagi ingin segera melihat isi lemari. Atau setidaknya aku akan memberitaku Alice bahwa kau merasa begitu, untuk menyenangkan hatinya.”

“Apakah sebaiknya aku merasa takut?”

“Ketakutan.”

Edward membopongku menyusuri lorong batu sempit dengan lengkunganlengkungan kecil di langit-langit, seperti miniatur kastil milik kami sendiri.

“Nanti itu akan jadi kamar Renesmee,” tunjuk Edward, mengangguk ke kamar kosong dengan lantai kayu berwarna pucat. “Mereka belum sempat merapikannya, berhubung banyak werewolf yang marah di luar sana…”

Aku tertawa pelan, takjub melihat betapa cepatnya keadaan membaik setelah segalanya terlihat bagaikan mimpi buruk seminggu yang lalu.

Sialan Jacob, membuat semuanya sempurna dengan cara seperti ini.

“Ini kamar kita. Esme berusaha membawa sebagian pulaunya kembali ke sini untuk kita. Dia sudah bisa menebak bahwa kita akan terikat dengan pulau itu.”

Tempat tidurnya besar dan putih, dengan tirai putih menerawang menjuntai dari kanopi ke lantak Lantai kayunya yang pucat sama seperti yang ada di kamar lain, dan baru sekarang aku menyadari warnanya sama persis dengan pasir pantai yang murni. Dindingdindingnya berwarna seperti bari yang bermandikan cahaya matahari, biru yang nyaris putih, dan dinding belakang memiliki pintu-pintu kaca besar yang mengarah ke taman mungil tersembunyi. Mawar-mawar yang merambat dan kolam kecil bundar, permukaannya halus bagaikan kaca dan dikelilingi bebatuan mengilap. “Samudera” kecil kami yang tenang.

Yang bisa kuucapkan hanya, “Oh.”

“Aku tahu,” bisik Edward.

Kami berdiri di sana selama satu menit, mengenang. Walaupun itu kenangan manusia dan kabur, kenangan-kenangan itu mengambil alih pikiranku sepenuhnya.

Edward menyunggingkan senyum lebar berseri, kemudian tertawa. “Lemarinya lewat pintu ganda itu. Aku wajib mengingatkan—ukurannya lebih besar daripada kamar ini.”

Aku bahkan tidak melirik pintu-pintu itu. Tak ada lagi hal lain di dunia kecuali dia —kedua lengannya memeluk di bawahku, embusan napasnya manis menerpa wajahku, bibirnya hanya beberapa sentimeter dari bibirku—dan tak ada yang bisa mengalihkan perhatianku sekarang, tak peduli aku ini vampir baru atau bukan.

“Nanti kita bilang Alice bahwa aku langsung menyerbu baju-baju itu,” bisikku, menyusupkan jari-jariku ke rambutnya dan menarik wajahku lebih dekat ke wajahnya. “Akan kita katakan padanya bahwa aku menghabiskan berjam-jam di sana, menjajal bajubaju. Kita akan berbohong”

Edward langsung menangkap suasana hatiku, atau mungkin ia memang sudah merasakan hal yang sama, dan hanya memberiku kesempatan untuk mengapresiasi hadiah ulang tahunku dengan leluasa, layaknya seorang gcntleman. Ia menarik wajahku, sikapnya tiba-tiba ganas, lenguhan pelan terlontar dari kerongkongannya. Suara itu membuat sekujur tubuhku seperti disengat listrik, seolah-olah aku tidak cukup cepat mendekatinya.

Kudengar bunyi kain robek oleh tangan kami, dan aku seuang bajufew, setidaknya, memang sudah compang-camping. Sudah terlambat menyelamatkan pakaian Edward. Agak kurang ajar rasanya mengabaikan ranjang putih cantik itu, tapi kami tak mungkin sempat sampai ke sana.

Bulan madu kedua ini takkan jadi seperti yang pertama.

Waktu kami di pulau menjadi lambang hidup manusiaku. Yang terbaik darinya. Ketika itu aku sudah sangat siap memanfaatkan waktuku sebagai manusia, hanya untuk memper-lahankan apa yang kumiliki bersamanya sedikit lebih lama lagi. Karena bagian fisik takkan sama lagi.

Seharusnya aku sudah bisa menduga, setelah mengalami hari seperti hari ini, bahwa hal itu justru akan membaik.

Aku bisa benar-benar mengapresiasi dia sekarang—bisa dengan tepat melihat setiap garis indah wajahnya yang sempurna, tubuhnya yang panjang dan mulus dengan mata baruku yang tajam, setiap sisi dan setiap lekuk tubuhnya. Aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang murni dan tajam dengan lidahku dan merasakan kelembutan kulit pualamnya yang menakjubkan itu dengan ujung-ujung jariku yang sensitif.

Kulitku juga sangat sensitif di bawah belaian tangannya.

Ia benar-benar jadi sosok yang baru dan berbeda saat tubuh kami bertaut jadi satu dengan anggunnya di lantai yang sewarna pasir pucat. Udak perlu harus berhati-hati, tidak ada yang harus ditahan-tahan. Tidak ada ketakutan—terutama tidak ada itu. Kami bisa mencintai bersama—kedua belah pihak sama-sama menjadi partisipan aktif. Setara pada akhirnya.

Seperti ciuman kami sebelumnya, setiap sentuhan lebih daripada selama ini.

Ternyata selama ini banyak sekali yang ia tahan-tahan. Memang perlu ketika itu, tapi aku tak percaya sungguh banyak yang terlewatkan olehku.

Aku berusaha tetap ingat bahwa aku lebih kuat daripada Edward, tapi sulit memfokuskan pikiran pada hal lain dengan sensasi yang begitu intens, menarik perhatianku ke jutaan tempat berbeda di tubuhku setiap detiknya; kalaupun aku menyakitinya, ia tidak mengeluh.

Bagian yang amat sangat kecil dalam otakku memunculkan pikiran yang menarik dalam situasi ini. Aku takkan pernah lelah, begitu juga dia. Kami tidak perlu berhenti untuk mengatur napas, beristirahat, makan, atau bahkan menggunakan kamar mandi; tidak ada lagi kebutuhan mendasar manusia yang harus diurus. Ia memiliki tubuh paling indah dan sempurna di dunia, dan ia milikku seutuhnya, dan rasanya aku takkan pernah menemukan titik di mana aku akan berpikir, Nah, sudah cukup untuk hari ini. Aku pasti akan selalu menginginkan lebih. Dan hari ini takkan pernah berakhir. Jadi, dalam situasi seperti itu, bagaimana kami akan berhenti?

Sama sekali bukan masalah kalau aku tak tahu jawabannya.

Aku agak menyadari kapan langit mulai terang. Samudera kecil di luar berubah warna dari hitam menjadi abu-abu, dan burung pagi mulai berkicau di suatu tempat di dekat sini— mungkin bersarang di semak-semak mawar.

“Kau merasa kehilangan, tidak?” tanyaku pada Edward ketika nyanyian burung pagi itu berhenti.

Bukan baru kali ini saja kami bicara, tapi kami tidak bisa dibilang mengobrol juga.

“Kehilangan apa?” gumam Edward,

“Semuanya—kehangatan, kulit yang lembut, bau yang menggiurkan… aku sih tidak merasa ada yang hilang sama sekali, dan aku hanya penasaran apakah kau metasa agak sedih karena kau kehilangan sesuatu,”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.