Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Mawar. Serbuk gergaji? Ada bau mirip logam juga. Bau subur tanah, digali dan itip.ipor udara. Aku mencondongkan tubuh ke arah misteri.

Alice melompat turun dari punggungku, melepaskan tangannya yang menutupi mataku.

Aku memandang kegelapan berwarna ungu tua itu. Di sana di lapangan terbuka kecil di tengah hutan, berdiri pondok batu mungil, abu-abu keunguan di bawah taburan cahaya bintang.

Pondok itu terlihat sangat pantas berada di sini, seperti tumbuh dari batu, formasi alami. Kamperfuli merayapi satu bagian dinding seperti pola-pola geometris, meliuk-liuk tinggi sampai ke atas atap papan yang tebal. Mawar-mawar akhir musim panas berkembang di sepetak taman mungil di bawah sepasang jendela gelap yang menjorok ke dalam. Ada jalan setapak kecil tersusun dari batu-batu ceper, berwarna amethyst di keremangan malam, yang mengarah ke pintu kayu melengkung yang aneh.

Kuremas kunci di tanganku, shock,

“Bagaimana menurutmu?” Suara Alice lembut sekarang; pas sekali dengan pemandangan yang tenteram dan damai seperti dalam buku-buku dongeng.

Kubuka mulut tapi tidak berkata apa-apa.

“Esme berpendapat mungkin kita ingin punya tempat tinggal sendiri untuk sementara waktu, tapi dia tidak ingin kita terlalu jauh,” bisik Edward. “Dan dia senang ada alasan untuk melakukan renovasi. Pondok kecil ini setidaknya sudah berdiri sejak seratus tahun lalu, menjadi rongsokan,”

Aku terus saja memandangi pondok itu, mulutku megap-megap seperti ikan.

“Kau tidak suka, ya?” Wajah Alice berubah kecewa. “Maksudku, aku yakin kami bisa menatanya dengan cara berbeda, kalau kau mau. Emmett sebenarnya sudah siap menambah ruangan beberapa ratus meter persegi lagi, membuat lantai dua, tiang-tiang dan menara, tapi Esme berpendapat kau lebih suka penampilan pondok ini sebagaimana adanya.” Suaranya mulai meninggi, semakin cepat. “Kalau dia keliru, kita bisa kembali bekerja. Tidak butuh waktu lama kok,,.”

“Ssst!” akhirnya aku bisa juga bersuara.

Alice mengatupkan bibir rapat-rapat dan menunggu. Butuh beberapa detik bagiku untuk memulihkan diri dari kekagetan.

“Kalian memberiku rumah untuk hadiah ulang tahun?” bisikku.

“Kita,” Edward mengoreksi. “Dan ini hanya pondok, tidak lebih. Menurutku yang namanya rumah harus lebih besar daripada ini.”

“Tak boleh menghancurkan rumahku,” bisikku padanya. Alice langsung berseriseri. “Kau menyukainya.” Aku menggeleng. “Suka sekali?” Aku mengangguk.

“Aku tidak sabar lagi ingin segera memberitahu Esme!”

“Mengapa dia tidak datang?”

Senyum Alice sedikit memudar, tidak seceria tadi, seolah-olah pertanyaanku sulit dijawab. “Oh, kau tahu sendirilah.,, mereka semua ingat bagaimana tanggapanmu kalau diberi hadiah. Mereka tak ingin membuatmu tertekan dan merasa harus menyukainya.”

“Tapi tentu saja aku sangat menyukainya. Bagaimana tidak?”

“Mereka pasti senang mendengarnya.” Alice menepuk-nepuk lenganku. “Omongomong, lemari pakaianmu sudah terisi lengkap. Gunakan dengan bijaksana. Dan… kurasa hanya i m.”

“Memangnya kau tidak akan masuk ke dalam?”

Alice melenggang mundur beberapa meter dengan santai. “Edward bisa menunjukkannya padamu. Aku akan mampir… nanti. Telepon aku kalau kau tak bisa memadupadankan bajumu dengan benar.” Ia melayangkan pandangan ragu padaku, lalu tersenyum, “Jazz ingin berburu. Sampai nanti.”

Ia melesat ke terigali pepohonan, bagaikan peluru paling anggun.

“Aneh,” ujarku setelah suara kepergian Alice lenyap sama sekali. “Benarkah aku separah itu? Mereka tak perlu sampai tidak ikut. Sekarang aku jadi merasa bersalah. Aku bahkan tidak mengucapkan terima kasih dengan benar. Sebaiknya kita kembali, mengatakan pada Esme…”

“Bella, jangan konyol. Tak ada yang menganggapmu tidak tahu berterima kasih.”

“Kalau begitu apa…”

“Waktu untuk berdua adalah hadiah mereka yang lain. Alice berusaha mengatakannya secara halus tadi.”

“Oh.”

Perkataan itu cukup untuk membuat rumah itu lenyap. Kami bisa berada di mana saja. Aku tidak melihat pohon-pohon, batu-batu, atau bintang-bintang. Yang ada hanya Edward.

“Mari kutunjukkan apa yang telah mereka lakukan,” kata Edward, menarik tanganku. Tidakkah ia menyadari arus listrik yang berdenyut-denyut di sekujur tubuhku seperti darah yang terpacu adrenalin?

Sekali lagi aku merasa gamang, menunggu reaksi yang tak mampu lagi diberikan tubuhku. Saat ini jantungku seharusnya menggemuruh seolah-olah ada mesin uap hendak menabrak kami. Memekakkan telinga. Seharusnya pipiku saat ini berubah warna jadi merah terang.

Selain itu, seharusnya aku merasa letih. Hari ini hari paling melelahkan seumur hidupku.

Aku tertawa keras-keras—hanya tawa kecil shock—begitu menyadari hari ini takkan pernah berakhir.

“Apa kau akan memberitahukan leluconnya padaku?”

“Leluconnya tidak begitu bagus kok” kataku saat Edward nieuuntunku ke pintu kecil bundar, “Aku tadi hanya berpikir—hari ini adalah hari pertama dan terakhir dari selamanya. Agak sulit mencernanya dalam pikiranku. Bahkan walaupun ada ruang ekstra di dalamnya untuk berpikir.” Lagi-lagi aku tertawa.

Bdward ikut terkekeh. Ia mengulurkan tangan ke kenop pintu, memberiku kehormatan untuk membukanya. Kumasukkan kunci ke lubang kunci dan kuputar.

“Kau sangat alami dalam hal ini, Bella; aku lupa betapa s.ingat aneh pastinya semua ini bagimu. Seandainya aku bisa mendengarnya’.’ Ia merunduk dan menyambar tubuhku, membopongnya, begitu cepat sampai aku tidak menyadari maksud lidward—dan itu benar-benar hebat.

“Hei!”

“Ambang pintu adalah bagian dari tugasku,” Edward mengingatkan. “Tapi aku penasaran. Katakan padaku apa yang kaupikirkan sekarang.”

Ia membuka pintu—pintu terbuka nyaris tanpa berderit— dan melangkah memasuki ruang tamu mungil berdinding batu.

“Semuanya,” kataku. “Semua pada saat betsamaan, kau tahu. Hal-hal baik, hal-hal yang perlu dikhawatirkan, dan hal-hal baru. Bagaimana aku terus-menerus menggunakan terlalu banyak kata-kata yang berlebihan dalam kepalaku. Sekarang ini yang kupikirkan adalah bahwa Esme seniman. Ini benar-benar sempurna!”

Ruangan dalam pondok itu terkesan seperti berada di negeri dongeng. Lantainya seakan tertutup permadani halus dari batu yang datar. Langit-langitnya yang rendah terbuat dari balok-balok kayu panjang yang terbukai. Orang setinggi Jacob kepalanya pasti akan terbentur. Dinding-dindingnya kayu hangat di beberapa tempat, mosaik batu di tempattempat lain. Perapian berbentuk sarang lebah yang terletak di sudut ruangan masih menyisakan api kecil yang menggeletar pelan. Pembakarannya menggunakan drijtwood— apinya yang kecil berwarna biru dan hijau karena garam.

Perabotannya semua ekletik, tak satu pun yang sama, namun tetap harmonis. Satu kursi tampaknya seperti berasal dari abad pertengahan, sementara sebuah ottoman rendah yang diletakkan dekat perapian modelnya lebih kontemporer, dan rak buku yang penuh berisi buku di jendela ujung sana mengingatkanku pada setting film-film yang lokasi syutingnya di Italia. Entah bagaimana setiap perabot serasi satu sama lain bagaikan puzzle besar tiga dimensi. Ada beberapa lukisan di dinding yang kukenali—sebagian adalah lukisan favoritku dari rumah besar. Tak diragukan lagi, itu lukisan-lukisan asli yang tak ternilai harganya, tapi sepertinya lukisan-lukisan itu memang seharusnya berada di sini, seperti semua perabotan lain.

Ini tempat di mana setiap orang bakal percaya keajaiban benar-benar ada. Tempat di mana kau berharap akan melihat Putri Salju mendadak muncul sambil memegang apel di tangan, atau unicom datang memakan semak mawar.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.