Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Cengiran lebar yang menghiasi wajah Alice samar-samar u-rasa akrab di otakku. Semua orang tiba-tiba tersenyum padaku—senyum Esme yang manis, Emmett yang kegirangan, Rosalie yang agak superior, Carlisle yang sabar, dan Edward yang penuh harap.

Alice melesat memasuki ruangan mendahului yang lain, I angannya terulur dan ketidaksabaran menghasilkan aura yang hampir bisa dilihat di sekelilingnya. Di telapak tangannya tergeletak anak kunci kuningan biasa, dihias pita satin pink berukuran sangat besar.

la menyodorkan kunci itu padaku, dan aku otomatis mendekap Renesmee lebih erat lagi di lengan kananku agar bisa membuka telapak tangan kiriku. Alice menjatuhkan kunci itu ke sana.

“Selamat ulang tahun!” pekik Alice.

Kuputar bola mataku. “Tidak ada yang menghitung ulang tahun dari tanggal kau dilahirkan” aku mengingatkan dia. “Ulang tahun pertamaku baru tahun depan, Alice.”

Cengiran Alice berubah jadi senyuman puas, “Kita bukan merayakan ulang tahunmu sebagai vampir. Belum. Sekarang tanggal 13 September, Bella. Selamat ulang tahun yang kesembilan belas!”

24. KEJUTAN

“Tidak, Tidak mau!” Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat kemudian melirik senyum puas suamiku yang berwajah bak pemuda tujuh belas tahun itu, “Tidak, ini tidak termasuk. Aku kan sudah berhenti menua tiga hari yang lalu. Aku akan berumur delapan belas tahun selamanya”

“Terserah,” tukas Alice, mengabaikan protesku dengan mengangkat bahu cepat. “Pokoknya kita akan tetap merayakan, jadi terima nasib sajalah ”

Aku mendesah. Jarang memang bisa menang berdebat melawan Alice.

Cengirannya semakin lebar begitu ia membaca sorot pasrah di mataku,

“Sudah siap membuka hadiahmu?” dendang Alice.

“Hadiah-hadiah” Edward mengoreksi, dan menarik anak kunci lain—kali ini lefiih panjang dan berwarna perak, dengan pita biru yang tidak terlalu norak—dari sakunya.

Susah payah aku menahan diri agar tidak memutar bola mataku. Aku langsung tahu kunci apa itu—“kunci mobil sesudah” Dalam hati aku bertanya-tanya apakah aku harus merasa girang. Rasanya perubahanku menjadi vampir tak lantas membuatku mendadak tertarik pada mobil-mobil sports.

“Punyaku duluan,” sergah Alice, lalu menjulurkan lidah, sudah bisa melihat jawaban yang akan dilontarkan Edward.

“Punyaku lebih dekat.”

“Tapi coba saja lihat caranya berpakaian” Kata-kata Alice nyaris berupa erangan. “Tanganku sampai gatal melihatnya seharian ini. Itu jelas prioritas.”

Alisku berkerut sementara dalam hati aku penasaran bagaimana bisa anak kunci membuatku mendapat baju-baju baru. Apakah ia menghadiahiku baju sebagasi penuh?

“Aku tahu—kita suit,” Alice menyarankan. “Batu, kertas, gunting.”

Jasper terkekeh dan Edward mendesah.

“Mengapa tidak kauhilang saja padaku siapa yang menang?” tukas Edward kecut.

Alice berseri-seri. “Aku yang menang. Bagus sekali.”

“Mungkin lebih baik aku menunggu sampai pagi saja.” Edward tersenyum miring padaku kemudian mengangguk kepada Jacob dan Seth, yang kelihatannya bakal tidur pulas sepanjang malam; aku jadi penasaran sudah berapa lama mereka tidak tidur kali ini. “Kurasa akan lebih menyenangkan kalau Jacob sudah bangun dan melihat kadonya dibuka? Jadi di sana ada orang yang bisa mengekspresikan antusiasme dengan tepat?”

Aku balas menyeringai. Edward tahu benar bagaimana aku.

“Yuhun!” dendang Alice. “Bella, berikan Ness—Renesmee pada Rosalie.”

“Biasanya dia tidur di mana?”

Alice mengangkat bahu. “Dalam gendongan Rose. Atau 11 ok Atau Esme. Kau tahu sendirilah. Seumur hidupnya dia buimu pernah diletakkan. Dia akan jadi makhluk separo vampir paling manja sepanjang eksistensi.”

Edward tertawa sementara Rosalie mengambil alih Renesmee dengan ahlinya dari pelukanku. “Dia juga makhluk separo vampir yang paling tidak manja,” sergah Rosalie. “Itulah enaknya menjadi makhluk yang tak ada duanya di dunia ini.”

Rosalie nyengir padaku, dan aku gembira melihat persahabatan baru di antara kami masih ada dalam senyumnya. Padahal awalnya aku tak yakin persahabatan kami akan bertahan setelah hidup Renesmee tak lagi terhubung denganku. Tapi mungkin kami sudah cukup lama berjuang di pihak yang sama sehingga kami akan selalu berteman sekarang. Akhirnya aku mengambil pilihan yang sama dengan yang akan diambilnya seandainya ia berada di tempatku. Sepertinya itu melenyapkan kebenciannya atas semua pilihanku yang lain.

Alice menyurukkan kunci berhias pita itu ke tanganku, lalu ia nyambar sikuku dan menggiringku ke pintu belakang. “Ayo, ayo,” serunya ceria.

“Di luar, ya?”

“Begitulah,” jawab Alice, mendorongku maju. “Nikmati hadiahmu,” seru Rosalie. “Itu dari kami semua. Terutama Esme.”

“Kalian tidak ikut?” Sadarlah aku tak seorang pun beran.

“Kami akan memberimu kesempatan menikmatinya sendiri,” jawab Rosalie. “Kau bisa menceritakannya pada kami… nanti.”

Emmett tertawa terbahak-bahak. Entah mengapa suara tawaya membuat pipiku memerah, walaupun aku tak tahu sebabnya.

Kusadari banyak bal tentang aku—seperti benar-benar membenci kejutan, dan cerlebih-lebih lagi, tidak menyukai hadiah secara umum—ternyata belum berubah sedikit pun. Sungguh melegakan mendapati banyak sifat dasarku ikut bersamaku dalam tubuh baruku ini.

Aku tidak mengira akan menjadi diriku sendiri. Aku tersenyum lebar.

Alice menarik-narik sikuku, dan aku tak bisaberhenti tersenyum saat mengikutinya memasuki malam yang ungu pekat. Hanya Edward yang ikut bersama kami.

“Itu baru antusias namanya,” gumam Alice menyetujui. Lalu ia melepaskan lenganku, melompat kecil dua kali, lalu melompat menyeberang sungai.

“Ayo, Bella,” serunya dari seberang sungai.

Edward melompat bersamaan denganku; ini sama menyenangkannya dengan siang tadi. Mungkin sedikit lebih menyenangkan karena malam mengubah segalanya jadi warnawarna baru yang kaya.

Alice berlari bersama kami yang menempel ketat di belakangnya, menuju ke arah utara. Lebih mudah mengikuti suara kakinya yang mendesir di tanah dan jejak baru aroma tubuhnya daripada melihatnya terus melalui vegetasi yang lebat.

Tanpa pertanda yang bisa kulihat, ia berbalik cepat dan merangsck kembali ke tempat aku berhenti.

“Jangan menyerangku,” ia memperingatkan, lalu melesat mendekatiku.

“Apa-apaan kau?” tuntutku, menggeliat-geliat saat ia bergegas menaiki punggungku dan menempelkan kedua tangannya ke wajahku. Aku merasakan dorongan untuk melemparkannya, tapi kutahan.

“Memastikan kau tak bisa melihat.”

“Aku bisa memastikan bal yang sama tanpa aksi teatrikal itu,” Edward menawarkan diri.

“Kau mungkin akan membiarkannya berbuat curang. Gandeng dia dan tuntun maju.”

“Alice, aku…”

‘Tidak usah membantah, Bella. Kita akan melakukannya, ini caraku.”

Aku merasakan jari-jemari Edward menyusup ke jari-jariku, lingual beberapa detik lagi, Bella. Kemudian dia bisa pergi dan membuat jengkel orang lain.” Edward menarikku maju. Aku mengikuti dengan mudah. Aku tidak takut menabrak pohon; pohonnya yang justru bakal roboh kalau kutabrak.

“Sebaiknya kau juga menunjukkan rasa terima kasihmu,” tegur Alice padanya. “Ini juga untukmu, bukan hanya untuk Bella.”

“Benar. Terima kasih sekali lagi, Alice.”

“Yeah, yeah. Oke.” Suara Alice tiba-tiba meninggi karena kegembiraan. “Berhenti di sana. Arahkan dia sedikit ke kanan. Ya, seperti itu. Oke. Kau siap?” serunya.

“Aku siap.” Ada bau-bau baru di sini, memicu perhatianku, meningkatkan rasa ingin tahuku. Bau-bau yang tak seharusnya ada di pelosok hutan. Kamperfuli. Asap.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.