Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Mereka sudah pulang? Ibuku sudah datang?”

“Dia baru saja melewati pintu. Dia sedang naik kemari.”

Renée datang dua hari yang lalu, dan sebisa mungkin aku menghabiskan setiap menit bersamanya—dengan kata lain setiap menit yang tidak ia habiskan bersama Esme dan deko-msinya. Sepanjang pengamatanku ia gembira sekali, lebih d.iripada anak-anak yang dikurung di Disneyland selama satu malam. Di satu sisi, aku hampir-hampir merasa dikhianati, sama seperti yang dirasakan Charlie. Padahal aku sudah sangat ketakutan membayangkan reaksinya…

“Oh, Bella!” pekiknya sebelum tuntas melewati pintu. “Oh, Sayang, kau cantik sekali! Oh, aku jadi kepingin menangis! Alice, kau luar biasa! Kau dan Esme seharusnya membuka usaha wedding planner. Dari mana kau mendapatkan gaun ini? Antiknya! Sangat anggun, sangat elegan. Bella, kau seperti Ictftru keluar dari film Austen.” Suara ibuku rasanya datang duri tempat yang agak jauh dan segala sesuatu dalam ruangan itu sedikit kabur. “Idenya sungguh kreatif, merancang tema yang cocok dengan cincin Bella. Romantis benar! Apalagi mengingat cincin itu sudah jadi milik keluarga Edward sejak i.ilmn seribu delapan ratusan!”

Alice dan aku bertukar pandang penuh konspirasi. Komentar ibuku tadi sebenarnya melenceng jauh. Tema pernikahan 1111 sebenarnya bukan dipusatkan pada cincinnya, melainkan pada Edward sendiri.

Terdengar suara deham parau dari ambang pintu.

“Renée, kata Esme sudah waktunya kau turun ke bawah,” kata Charlie,

” Well, Charlie, tampan sekali kau!” seru Renée dengan nada yang terdengar nyaris shock, Mungkin karena itulah respons Charlie jadi terdengar garing.

“Alice memermakku habis-habisan,”

“Benarkah sekarang sudah waktunya?” tanya Renée pada dirinya sendiri, terdengar nyaris sama gugupnya dengan yang kurasakan. “Cepat sekali waktu berjalan. Aku merasa pusing.”

Berarti ada dua orang yang pusing.

“Peluk aku dulu sebelum aku turun” desak Renée. “Hati-hati, jangan sampai ada yang robek”

Ibuku meremas pinggangku dengan lembut, lalu berputar ke arah pintu, tapi setengah berputar lagi sehingga kembali menghadapku.

“Oh astaga, hampir saja aku lupa! Charlie, mana kotaknya?”

Ayahku merogoh-rogoh sakunya beberapa saat, kemudian mengeluarkan kotak kecil berwarna putih, yang ia berikan kepada Renée, Renée membuka tutupnya dan mengulurkan kotak itu padaku,

“Something blue,” kata Renée.

“Sekaligus something old. Itu milik Grandma Swan,” Charlie menambahkan. “Kami meminta seorang pengrajin perhiasan untuk mengganti batunya dengan safir.”

Di dalam kotak itu ada sepasang sirkam perak. Batu-batu safir biru dirangkai membentuk desain bunga rumit di atasnya.

Kerongkonganku tercekat. “Mom, Dad… seharusnya tidak perlu.”

“Alice melarang kami melakukan hal lain,” kata Renée. “Setiap kali kami mencoba, dia mengancam bakal mencabik-cabik leher kami.”

Tawaku meledak.

Alice maju dan cepat-cepat memasang kedua sirkam itu di rambutku, di bawah pinggiran kepang tebal. “Berarti sudah ada something old dan somethîng blue” renung Alice, mundur beberapa langkah untuk menggagumiku. “Dan gaunmu baru jadi tinggal ini —”

Ia melemparkan sesuatu padaku. Aku mengulurkan tangan, d.ui garter putih tipis mendarat di telapak tanganku.

” Itu punyaku dan harus dikembalikan,” kata Alice.

Pipiku memerah.

“Nah, sudah,” kata Alice dengan nada puas. “Sedikit warna—hanya itu yang kaubutuhkan. Kau sudah sempurna.” Sambil menyunggingkan senyum puas melihat hasil karyanya snudiri, ia berpaling kepada kedua orangtuaku. “Renée, kau harus segera turun.”

“Baik, Ma’am.” Renée melambaikan ciuman jauh untukku. Ia bergegas keluar pintu.

“Charlie, bisa tolong ambilkan buket bunganya, please?”

Begitu Charlie keluar dari ruangan, Alice mencomot garter itu dari tanganku, lalu menyusup masuk ke balik gaunku. Aku terkesiap dan terhuyung saat tangannya yang dingin menyambar tungkaiku; disentakkannya garter itu hingga terpasang di tempatnya.

la sudah berdiri lagi sebelum Charlie kembali dengan dua buket berwarna putih. Aroma mawar, orange blossom, dan fnrsia menyergap lembut hidungku.

Rosalie—musisi terbaik dalam keluarga selain Edward— mulai memainkan piano di bawah. Canon gubahan Pachelbel. Aku mulai sesak napas.

“Tenanglah, Bells,” Charlie menenangkan. Ia berpaling gugup kepada Alice. “Dia terlihat agak pucat. Menurutmu dia bisa menjalaninya atau tidak?”

Suara Charlie terdengar jauh sekali. Aku tidak bisa merasakan kakiku.

“Harus bisa.”

Alice berdiri tepat di depanku, berjinjit agar bisa menatap tepat ke mataku, dan mencengkeram pergelangan tanganku dengan tangannya yang keras.

“Fokus, Bella. Edward menunggumu di bawah sana.”

Aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri agar tenang.

Alunan musik perlahan-lahan bermetamorfosa menjadi lagu baru. Charlie menyenggolku. “Bells, kita harus segera mulai.”

“Bella?” ujar Alice, masih terus menatapku.

“Ya,” jawabku, suaraku mencicit. “Edward. Oke.” Kubiarkan Alice menarikku dari kamar, bersama Charlie yang memegangi sikuku.

Musik terdengar lebih keras di lorong. Melayang ke atas tangga bersama aroma sejuta bunga. Aku berkonsentrasi membayangkan Edward berdiri menungguku di bawah agar bisa menggerakkan kakiku maju.

Musiknya familier, wedding marcb tradisional gubahan Wagner, dengan improvisasi di sana-sini,

“Giliranku,” seru Alice. “Hitung sampai lima baru ikuti aku.” Ia mulai berjalan menuruni tangga dengan langkah lambat dan anggun. Seharusnya aku sadar, sungguh salah besar menjadikan Alice sebagai satu-satunya pendampingku. Aku bakal terlihat sangat kikuk berjalan di belakangnya.

Musik tiba-tiba menggema lebih megah dan anggun. Aku mengenalinya sebagai pertanda bagiku untuk turun.

“Jaga jangan sampai aku jatuh, Dad,” bisikku. Charlie menarik tanganku yang melingkari lengannya dan menggenggamnya erat-erat.

Melangkah satu-satu, kataku dalam hati saat kami mulai menuruni tangga, seirama dengan tempo musik yang lambat.

Aku tidak mengangkat mataku sampai kedua kakiku aman menjejak lantai dasar, walaupun aku bisa mendengar gumaman dan suara-suara bergemersik para tamu begitu aku muncul. Darahku mengalir deras ke pipiku mendengar suara ini; pasti aku akan dianggap sebagai pengantin yang wajahnya merah padam.

Begitu kedua kakiku meninggalkan tangga yang rawan, aku mencari Edward. Selama sedetik perhatianku sempat beralih ke bunga-bunga putih yang menghiasi segala sesuatu yang tidak hidup, dengan hiasan pita-pita putih lembut panjang, tapi aku mengalihkan mata dari kanopi sarat bunga itu dan mengedarkan pandangan ke deretan kursi berlapis kain satin—pipiku semakin memerah saat aku memandangi ke kerumunan wajah yang semuanya terfokus padaku—sampai aku akhirnya menemukan dia, berdiri di depan lengkungan yang berlimpah hiasan bunga dan pita.

Aku nyaris tidak menyadari kehadiran Carlisle yang berdiri di sampingnya, dan ayah Angela di belakang mereka berdua. Aku tidak melihat ibuku, padahal ia pasti duduk di deretan depan, atau keluarga baruku, atau para tamu—mereka semua harus menunggu sampai nanti.

Yang kulihat hanya wajah Edward; wajahnya memenuhi mataku dan menyarati pikiranku. Matanya lembut dan berkilauan bagai emas membara; wajahnya yang sempurna nyaris tenang oleh kedalaman emosinya. Kemudian, saat pandangan matanya bertemu dengan tatapan mataku yang memandangnya takjub, ia tersenyum—senyum bahagia yang membuat napasku lercekat.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.