Baca Novel Online

The Da Vinci Code

menderita terlalu lama akibat penangkapan itu.” “Ketidaknyamanan jasmani tidak ada artinya. Yang penting batu kunci itu

milik kita sekarang.” “Ya. Aku membutuhkannya untuk segera diantar. Waktu adalah intinya.” Silas sangat senang bisa bertatap muka dengan Guru akhirnya. “Ya, Pak, aku akan merasa terhormat.” “Silas, aku ingin Rémy yang mengantarkannya padaku.” Rémy? Silas tertunduk. Setelah segala yang dia kerjakan untuk Guru, dia percaya bahwa dialah yang akan menyerahkan batu kunci itu. Guru lebih menyukaiRémy?

“Aku merasakan kekecewaanmu,” kata Guru. “Itu berarti kau tidak mengerti maksudku.” Guru merendahkan suaranya menjadi bisikan. “Kau harus percaya bahwa aku sesungguhnya lebih suka menerima batu kunci darimu—seorang lelaki pengikut Tuhan, bukan seorang kriminal—tetapi Rémy harus dilibatkan. Dia telah membangkang kepadaku dan membuat kesalahan besar sehingga membahayakan misi kita.”

Silas merasa tenang dan mengerling pada Rémy. Menculik Teabing bukanlah bagian dari rencana, dan memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap Teabing merupakan masalah baru.

“Kau dan aku adalah pengikut Tuhan,” bisik Guru, “tujuan kita harus terlaksana.” Lalu Guru terdiam, lama. “Hanya karena alasan inilah aku meminta Remy untuk mengantarkan batu kunci kepadaku. Kau mengerti?”

Silas merasakan kemarahan Guru dalam suaranya dan heran juga kenapa Guru tidak mengerti.Rémyterpaksamemperlihatkanwajahnya, Silas berpikir. Dia melakukan apa yang harus dia lakukan. Dia menyelamatkan batu kunci. “Aku mengerti, “ akhirnya Silas mengatakannya.

“Bagus. Demi keselamatanmu sendiri, kau harus menghindar dari jalanan, segera. Polisi akan segera mencari limusin itu, dan aku tidak mau kau tertangkap. Opus Dei mempunyai tempat tinggal di London, bukan?” “Tentu saja.” “Kau akan diterima dengan baik di sana?” “Seperti saudara.” “Kalau begitu, pergilah ke sana dan bersembunyi. Aku akan meneleponmu

begitu aku telah memiliki batu kunci dan telah mengatasi masalah baruku.” “Guru ada di London?” “Kerjakan apa yang kukatakan, dan segalanya akan beres.” “Ya, Pak.” Guru mendesah, seolah sangat menyesali apa yang harus dia kerjakan

sekarang. “Waktunya aku berbicara dengan Rémy.” Silas menyerahkan ponselnya kepada Rémy, dan merasa ini adalah telepon

terakhir yang akan diterima Rémy. Begitu Rémy menerima telepon itu, dia tahu bahwa biarawan malang dan sinting ini tidak tahu sama sekali nasib apa yang menunggunya sekarang sehingga dia mau melaksanakan tugasnya. Gurumemanfaatkanmu,Silas. Danuskupmumerupakanbidak. Rémy masih mengagumi kemampuan Guru membujuk orang lain. Uskup Aringarosa telah mempercayakan segalanya kepadanya. Uskup telah dibutakan oleh keputusasaannya sendiri. Aringarosa terlalu bersemangat untuk mempercayai Guru. Walau Rémy tidak terlalu menyukai Guru, dia merasa bangga karena mendapatkan kepercayaan dari Guru dan menjadi orang penting yang dapat menolongnya.Akusekarangberhakmendapatkanupahku.

“Dengarkan baik-baik,” kata Guru. “Antarkan Silas ke rumah tinggal Opus Dei. Turunkan dia dari mobil beberapa blok dari situ. Lalu pergi ke taman St. James’s. Tepat di depan Gedung Parlemen dan Big Ben. Kau dapat memarkir limusin itu di Horse Guards Parade. Kita akan bicara di sana.” Dan komunikasi pun terputus.

 

92

KING’S COLLEGE, didirikan oleh Raja George IV pada tahun 1829, menempatkan Fakultas Teologi dan Studi Keagamaannya berhadapan dengan Parlemen di atas tanah pemberian Raja. Departemen Agama King’s College bangga bukan hanya karena memiliki pengalaman pengajaran dan penelitian selama 150 tahun, namun juga karena mendirikan Institut Penelitian dalam Teologi Sistematis pada tahun 1982, yang memiliki perpustakaan elektronik yang terlengkap dan terdepan di dunia untuk penelitian keagamaan.

Langdon masih merasa gemetar ketika dia dan Sophie datang di saat hujan dan masuk ke perpustakaan. Seperti dijelaskan oleh Teabing, ruang penelitian utama merupakan ruang segi delapan yang besar dan didominasi oleh meja bundar raksasa yang dulu pernah digunakan dengan nyaman oleb Raja Arthur bersama kesatria-kesatrianya. Namun sekarang meja bundar itu ditimbuni oleh dua belas monitor-komputer datar. Di ujung ruangan, seorang petugas perpustakaan baru saja menuangkan teh dari tekonya dan bersiap menjalankan tugasnya hari ini.

“Selamat pagi,” kata petugas perpustakaan itu dengan ceria, sambil meninggalkan tehnya dan berjalan menyambut Sophie dan Langdon. “Ada yang dapat saya bantu?” tanya perempuan itu. “Ya, terima kasih,” jawab Langdon. “Nama saya—” “Robert Langdon.” Sambung petugas itu sambil tersenyum ramah. “Saya

tahu siapa Anda.” Sesaat Langdon sempat khawatir jangan-jangan Fache telah menyiarkan wajahnya di televisi Inggris juga, namun senyum petugas perpustakaan itu menyatakan tidak. Langdon masih saja belum terbiasa dengan saat-saat dimana dia menjadi selebriti. Dan 1agi-lagi, jika ada orang di bumi ini mengenali wajahnya, pastilah orang itu petugas perpustakaan di bagian referensi religius.

“Pamela Gettum,” kata petugas perpustakaan itu sambil mengulurkan tangannya. Wajahnya tampak terpelajar dan ramah, suaranya berirama, enak didengar. Kacamata tebal berbingkai tulang tergantung pada lehernya.

“Senang berkenalan dengan Anda,” kata Langdon. “Ini teman saya, Sophie Neveu.”

Kedua perempuan itu saling menyapa, dan Gettum segera menoleh pada Langdon. “Saya tidak tahu Anda akan datang.”

“Kami juga tidak tahu akan datang. Jika tidak terlalu merepotkan, kami minta tolong untuk menemukan beberapainformasi.”

Gettum bergeser, tampak tidak yakin. “Biasanya pelayanan kami harus didahului oleh surat permohonan atau perjanjian, kecuali Anda tamu dari seseorang di universitas ini. Anda tamu?”

Langdon menggelengkan kepalanya. “Saya menyesal, kami telah datang tanpa pemberitahuan. Seorang teman saya sering memuji Universitas ini. Sir Leigh Teabing?” Langdon merasa muram ketika menyebutkan nama temannya itu. “Sejarawan Bangsawan Inggris. Anda mengenalnya?” Wajah Gettum menjadi ceria sekarang, lalu tertawa. “Ya ampun, ya, saya kenal. Ilmuwan dengan karakter hebat. Seorang yang fanatik. Setiap kali datang, dia selalu mencari informasi yang sama. Grail. Grail. Grail. Saya sangat yakin, sampai mati dia tidak akan berhenti menanyakan itu.” Petugas itu mengedipkan matanya. “Waktu dan uang mampu membeli kemewahan yang menyenangkan, bukan begitu? Seorang Don Quixote yang menyenangkan, beliau itu.” “Bisakah Anda membantu kami?” tanya Sophie. “Ini sangat penting.” Gettum mengamati mengedipkan matanya sekeliling perpustakaan yang sunyi itu dan kepada mereka berdua. “Wah, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya sedang sibuk sekarang, bukan? Selama Anda mendaftarkan diri, kurasa tidak ada yang keberatan. Apa yang Anda perlukan?” “Kami sedang berusaha mencari sebuah makam di London.” Gettum tampak ragu. “Kami punya kira-kira 20 ribu makam. Dapat lebih

khusus?” “Makam seorang kesatria. Kami tidak punya namanya.” “Seorang kesatria. Itu khusus. Lebih khusus lagi.” “Kami tidak punya banyak informasi tentang kesatria yang kami cari,” kata Sophie, “tetapi inilah yang kami ketahui.” Lalu Sophie mengeluarkan secarik kertas yang telah ditulisinya dengan dua baris puisi itu.

Sesungguhnya mereka ragu untuk memperlihatkan keseluruhan puisi itu kepada orang asing. Karena itu Langdon dan Sophie hanya memperlihatkan dua baris pertama, yang menyatakan tentang kesatnia itu.Kryptografiterbagi. Begitu Sophie menyebutnya. Ketika seorang sebuah kode yang memuat data sensitif, agen intelijen memasukkan masing-masing kriptografer mengerjakan satu bagian rahasia dari keseluruhan kode itu. Dengan cara ini, ketika mereka masing-masing berhasil memecahkannya, tak satupun dari kriptografer itu memiliki secara utuh pesan yang sudah terpecahkan itu.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.