Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Fache mengusap-usap ukiran Mawar dengan jemarinya, lalu mengangkat tutup kotak berhias itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah silinder dari batu dengan lempengan-lempengan berhuruf. Kelima lempengan itu diatur menyusun kata Sofia. mengangkat silinder itu Fache menatap lama pada kata itu, kemudian dari tempat penyimpanannya yang berlapis dan memeriksanya inci per inci. Lalu, sambil menarik kedua ujungnya perlahanlahan, Fache membuka salah satu tutupnya. Silinder itu kosong. Fache meletakkan silinder itu kembali pada kotaknya. Dari jendela jet dalam hanggar itu, dia menatap kosong ke luar. Dia merenungkan percakapan singkatnya dengan Sophie, juga informasi yang didapatnya dari PTS di Puri Villette. Suara teleponnya mengejutkannya dari lamunannya.

Itu dari operator DCPJ. Petugas itu meminta maaf. Presiden Bank Penyimpanan Zurich telah menelponnya berulang-ulang, dan walaupun dia sudah diberi tahu beberapa kali bahwa Kapten sedang berada di London untuk urusan pekerjaan, presiden itu tetap menelepon. Dengan ketus, Fache mengatakan kepada si petugas untuk menyambungkannya dengan presiden itu.

“Monsieur Vernet,” kata Fache, sebelum presiden itu berbicara. “Saya minta maaf karena tidak menelepon Anda lebih awal. Saya sangat sibuk. Seperti janji saya, nama bank Anda tidak muncul di media. Jadi, apa tepatnya yang Anda khawatirkan?”

Suara Vernet terdengar cemas saat dia menceritakan kepada Fache bagaimana Langdon dan Sophie Neveu telah mengeluarkan sebuah kotak kayu dari bank dan membujuk Vernet untuk membantu mereka melarikan diri. “Lalu ketika saya mendengar di radio bahwa mereka adalah penjahat,” kata Vernet, “saya berhenti dan meminta kotak kayu itu kembali, tetapi mereka menyerang saya dan mencuri truk itu.”

“Anda mengkhawatirkan kotak kayu itu,” kata Fache, sambil menatap ukiran Mawar di atas tutupnya dan sekali lagi dengan lembut membuka tutup kotak itu untuk mengeluarkan silinder putih di dalamnya. “Dapat Anda katakan apa isi kotak itu?”

“Isinya tidak penting,” seru Vernet. “Saya hanya mengkhawatirkan reputasi bank saya. Kami belum pernah dirampok. Itu juga akan menghancurkan kami jika saya tidak dapat mengembalikan kotak itu atas nama klien saya.”

“Anda mengatakan bahwa Agen Neveu dan Robert Langdon memiliki password dan juga kuncinya. Apa yang membuat anda menyebut mereka mencuri kotak itu?”

“Mereka membunuh orang tadi malam. Termasuk kakek Sophie Neveu. Kunci dan kata kunci itu pastilah telah mereka rampas dari pemiliknya.”

“Pak Vernet, orang-orang saya telah memeriksa latar berlakang Anda dan minat Anda. Anda jelas seorang yang bermartabat dan berbudi. Saya dapat bayangkan, Anda adalah orang terhormat, seperti juga saya. Saya berjanji sebagai perugas Polisi Judisial, bahwa kotak Anda, bersama dengan reputasi bank Anda, berada dalam tangan teraman.”

 

90

TINGGI DI atas loteng jerami di Puri Villette, Collet menatap komputer itu dengan kagum, “Sistem ini menyadap semua percakapan di seluruh tempat ini?”

“Ya,” kata Agen itu. “Tampaknya data-data telah dikumpulkan selama lebih dari setahun ini.” Tanpa berkata-kata, Collet membaca daftar itu lagi.

COLBERT SOSTAQUE—Kepala Penasihat Konstitusional JEAN CHAFFEE—Kurator, Museum Jeu de Paume EDOUARD DESROCHERS—Pengarsip Senior, Perpustakaan Mitterrand JACQUES SAUNIERE — Kurator, Museum Louvre MICHEL BRETON — Kepala DAS (Badan Intelijen Prancis)

Agen itu menunjuk pada layar monitor. “Nomor empat merupakan yang jelas harus kita perhatikan.” Collet mengangguk dengan kosong. Dia telah langsung melihatnya. Jacques Sauniere telah disadap. Dia melihat sisa daftar itu lagi. Bagaimana orang dapat menyadap orang-orang penting ini? “Pernah dengar soal fail audio?”

“Beberapa. Ini yang terbaru.” Agen itu kemudian mengklik beberapa tombol komputer. Pengeras suaranya gemerisik hidup. Lalu terdengar suara: “Kapten, seorang agen dari Departemen Kriptografi tiba.”

Collet tidak dapat mempercayai telinganya. “Itu aku! Itu suaraku” Collet teringat, ketika itu dia duduk di meja kerja Saunière dan menghubungi Fache di Galeri Agung untuk memperingatkan akan datangnya Sophie Neveu. Agen itu mengangguk. “Banyak dari penyelidikan kita di Louvre malam

itu akan terdengar jika ada seseorang yang tertarik juga.” “Kau sudah mengirim orang untuk membersihkan penyadapan ini?” “Tidak perlu. Aku tahu persisnya di mana.” Agen itu pergi ke sebuah tumpukan catatan lama dan cetak biru di atas meja kerja. Dia memilih selembar dan memberikannya kepada Collet. “Tampak pernah melihat?”

Collet kagum. Dia sedang memegang selembar fotokopi dari sehelai diagram skematis kuno, yang digambar oleh sebuah mesin kuno. Dia tidak dapat membaca tulisan tangan bahasa Italia, namun dia tahu apa yang sedang dilihatnya. Sebuah model untuk sebuah patung kesatria Prancis zaman abad pertengahan yang dapat berbicara. KesatriayangberdiridiatasmejakerjaSaunière! Mata Collet bergerak ke arah tepi. Di situ seseorang telah menuliskan catatan pada foto kopi dengan tinta merah. Catatan itu dalam bahasa Prancis dan tampaknya merupakan gagasan kasar tentang cara terbaik untuk menyisipkan alat sadap ke dalam patung kesatria itu.

 

91

SILAS DUDUK di bangku penumpang didalam limusin Jaguar yang diparkir di dekat Gereja Kuil. Tangannya terasa lembab pada batu kunci yang dipegangnya saat dia menunggu Remy selesai mengikat dan menyumbat Teabing di bagian belakang mobil dengan tali yang ditemukannya di bagasi.

Akhirnya, Rémy keluar dari bagian belakang mobil. Ia berjalan mengitari limo itu dan masuk ke bangku pengemudi di samping Silas. “Aman?” tanya Silas. Rémy tertawa. Dia menggoyangkan kepalanya untuk mengusir air hujan dari rambutnya dan melihat dari bahunya, melalui partisi yang terbuka, pada Leigh Teabing yang meringkuk di bagian belakang mobil, hampir tidak tampak di kegelapan. “Dia tidak akan pergi ke mana-mana.”

Silas dapat mendengar teriakan tersumbat Teabing dan dia kemudian sadar bahwa Remy menggunakan pita berperekat yang digunakan untuk menyumbat mulutnya semalam.

“Ferme ta gueule!” teriak Rémy melewati bahunya, menyuruh Teabing untuk diam. Tangannya meraih sebuah panel pengendali pada dasbor yang mewah itu, lalu dia menekan sebuah tombol. Sebuah partisi kaca tak tembus cahaya naik di belakang mereka, menutup bagian belakang mobil. Teabing menghilang, dan suaranya juga tak terdengar lagi. Rémy mengerling pada Silas. “Aku sudah mendengar rengekan seperti itu cukup lama.”

Beberapa menit kemudian, ketika limo Jaguar yang panjang itu meluncur dengan cepat di jalan, ponsel Silas bedering. Guru.Dia menjawabnya dengan gembira. “Halo?” “Silas,” aksen Prancis Guru yang akrab di telinganya berkata, “Aku senang mendengar suaramu. Ini artinya kau selamat.”

Silas juga sama nyamannya mendengar suara Guru. Sudah berjam-jam, dan operasi itu telah melenceng dengan liar tentu saja. Sekarang, tampaknya operasi itu sudah kembali ke jalurnya lagi. “Aku mendapatkan batu kunci itu.” “Ini berita besar,” kata Guru kepada Silas. “Rémy bersamamu?” Silas heran mendengar Guru menggunakan nama Remy. “Ya, Remy

membebaskan aku.” “Seperti yang kuperintahkan kepadanya. Aku minta maaf karena kau harus

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.