Baca Novel Online

The Da Vinci Code

“Robert, jangan!” seru Teabing. “jangan! Yang kau pegang itu Grail! Rémy tidak akan menembakku. Kami telah saling mengenal selama sepuluh…”

Rémy mengarahkan pistolnya ke langit-langit dan menembakkan Medusanya. Suara ledakannya sangat keras bagi pistol sekecil itu. Suaranya bergema seperti guntur di dalam ruangan batu itu. Semua orang membeku. “Aku tidak sedang main-main,” kata Rémy. “Tembakan berikutnya adalah

pada punggungnya. Berikan batu kunci itu pada Silas.” Dengan enggan Langdon mengulurkan cryptex itu. Silas melangkah maju dan mengambilnya; Mata merahnya berkilauan karena merasa puas akan pembalasannya. Lalu dia menyimpan cryptex itu di dalam saku jubahnya, kemudian mundur, masih tetap menodong Langdon dan Sophie dengan pistolnya.

Teabing merasa tangan Rémy menjepit di sekitar lehernya ketika pelayannya itu mulai melangkah mundur menuju keluar gedung dengan menyeret tuannya. Pistol Rémy masih menempel pada punggung Teabing. “Lepaskan dia,” pinta Langdon. “Kami bawa Pak Teabing berjalan-jalan,” kata Rémy, masih berjalan mundur. “Jika kau menelepon polisi, dia akan mati. Jika ikut carnpur, dia akan mati. Jelas?”

“Bawa aku saja,” pinta Langdon lagi. Suaranya serak karena emosi. “Lepaskan Leigh.”

Rémy tertawa. “Aku rasa tidak. Dia dan aku memiliki sejarah yang manis. Lagi pula, mungkin saja dia masih berguna.”

Silas juga mundur sekarang, dengan tetap menodongkan pistolnya pada Langdon dan Sophie. Ketika Rémy menyeret Teabing ke arah pintu, tongkatnya juga terseret mengikutinya. Suara Sophie tidak bergetar. “Kau bekerja untuk siapa?” Pertanyaan itu membuat Rémy menyeringai. “Kau akan terkejut, Mademoiselle Neveu.”

 

87

Perapian diruang tamu Puri Villete sudah padam, namun Collet masih saja

jalan hilir-mudik didepannya begitu dia membaca faks dari Interpol. Sama sekali tidak seperti yang diharapkannya. Andre Vernet, menurut catatan resmi adalah seorang warga terhormat. Tidak punya catatan kejahatan, bahkan tidak pernah menerima tilang parker. Belajar di sekolah terkemuka dan di Sorbonne, dia lulus dengan cum laude dari fakultas ilmu keuangan internasional. Interpol mengatakan, nama Vernet sering muncul di media massa, tetapi selalu dalam pemberitaan yang positif. Tampaknya lelaki itu telah menolong merancang parameter keamanan yang membuat Bank Penyimpanan Zurich menjadi yang terdepan dalam pengamanan elektronik ultramodern. Pemakaian kartu kredit Vernet menunjukkan minat tingginya pada buku-buku seni, anggur mahal, dan CD musik klasik—paling banyak Brahm—yang dinikmatinya dengan menggunakan sistem stereoHighend yang dibelinya beberapa tahun lalu. Nol, Collet mendesah. Satu-satunya bendera merah malam ini dari interpol adalah sekumpulan sidik jari yang tampaknya milik pelayan Teabing. Kepala penyelidikan PTS membaca laporan itu sambil duduk di kursi nyaman di ruangan itu juga. Collet menatapnya. “Ada?” Penyelidik itu menggerakkan bahunya. “Sidik jari itu milik Rémy Legaludec. Diburu karena kejahatan kecil. Tidak ada yang serius. Tampaknya dia pernah dikeluarkan dari sebuah universitas karena mengakali telepon umum untuk mendapatkan sambungan gratis … setelah itu dia mencuri kecilkecilan. Pernah melarikan diri dari tagihan rumah sakit untuk perawatan tracheotomy di unit gawat darurat.” Lalu dia menatap Collet sambil tertawa. “Alergi kacang.”

Collet mengangguk. Ia mengingat sebuah penyelidikan polisi di sebuah restoran yang lupa mencatat pada menunya bahwa resep sambalnya mengandung minyak kacang. Seorang pelanggan secara tak disangka-sangka telah meninggal dunia karena anaphylactic shock begitu dia menyantap sesendok makanan itu.

“Legaludec mungkin saja tinggal di sini untuk menghindari penangkapan itu.” Penyelidik itu tampak senang. “Malam keberuntungannya”

Collet mendesah. “Baiklah, kau sebaiknya mengirimkan ini kepada Kapten Fache.”

Penyelidik itu pergi tepat ketika agen PTS lainnya masuk dengan tergesa ke ruangan itu. “Letnan, aku menemukan sesuatu di gudang.” Dari wajah yang tampak cemas itu, Collet hanya dapat menerka. “Mayat?” “Bukan, Pak. Sesuatu yang lebih …“ Dia ragu. “Tidak terduga.” Sambil menggosok matanya, Collet mengikuti agen itu keluar menuju gudang. Ketika mereka memasuki ruangan yang pengap dan tinggi itu, si agen menunjuk pada pusat ruangan. Disana sekarang tampak ada tangga kayu yang menanjak tinggi ke kasok, menyandar pada birai loteng jerami yang tergantung tinggi di atas mereka. “Tangga itu tidak ada di sana tadi,” kata Collet. “Memang tidak, Pak. Aku yang memasangnya. Saat kami sedang memeriksa sidik jari di dekat Rolls, aku melihat tangga itu tergeletak di lantai. Aku tidak akan tertarik kalau saja anak tangganya tidak tampak baru terpakai dan berlumpur. Tangga ini kelihatannya sering dipakai. Ketinggian loteng jerami itu sesuai dengan panjang tangga ini, jadi kutegakkan dan kupanjati untuk memeriksa di atas sana.”

Mata Collet memanjati anak tangga itu sampai ke loteng jerami. Ada orang yang ke atas sana secara teratur? Dari bawah sini loteng itu tampak seperti landasan tidak terpakai, namun semua yang ada di sana memang tidak dapat terlihat dari bawah sini.

Seorang agen PTS senior muncul pada puncak anak tangga dan melihat ke bawah. “Kau pasti ingin melihat ini, Letnan,” katanya sambil melambai pada Collet dengan tangannya yang bersarung tangan karet, mengajak Collet untuk ke atas dan melihat.

Collet mengangguk letih, lalu berjalan ke anak tangga terbawah dari tangga tua itu dan mencengkeram anak tangganya. Tangga itu melancip ke atas; semakin Collet memanjat, semakin menyempit tangga itu. Ketika dia hampir tiba di puncak, Collet hampir kehilangan pijakannya pada anak tangga yang tipis. Gudang di bawahnya seperti berputar. Dia segera memusatkan perhatiannya, lalu melanjutkan panjatannya, sampai akhirnya tiba di atas. Agen di atasnya mengulurkan tangannya, menawarkan pergelangan tangannya untuk diraih. Collet meraihnya dan memanjat ke loteng itu dengan kikuk.

“Di sebelah sana,” agen PTS itu berkata, sambil menunjuk pada area yang sangat bersih. “Hanya satu set sidik jari yang ada di sini. Kita akan mendapatkan identitasnya segera.”

Collet mempertajam pandangannya melewati area remang-remang ke arah dinding. Apa-apaan ini? Pada dinding yang jauh dari tempatnya berdiri, terpasang satu set komputer yang besar—dua CPU, video monitor berlayar datar dengan pengeras suara, sederetan hard drive, dan audio console multi saluran yang tampaknya memiliki catu dayanya sendiri.

Mengapa adaorang mau bekerja di tempat yang sangatterpencilseperti ini? Collet bergerak ke peralatan itu. “Kau sudah memeriksa sistemnya?” “lni pos mendengarkan.” Collet berputar. “Penyadapan?” Agen itu mengangguk. “Penyadapan yang sangat canggih.” Lalu dia menunjuk pada meja proyek panjang yang tertimbun oleh komponenkomponen eletronik, manual, peralatan, kabel, solder listrik, dan komponen elektronik lainnya. “Orang ini jelas tahu apa yang dikerjakannya. Banyak dari peralatan ini sama canggihnya dengan peralatan kita juga. Mikrofon mini, selular recharging untuk foto elektrik, chip-chip RAM yang berkapasitas tinggi. Bahkan, dia juga punyahanddrive baru.” Collet kagum. “Inilah sistem lengkapnya,” kata agen itu, sambil memberikan kepada Collet sebuah instalasi yang tak lebih besar daripada sebuah kalkulator kantong. Kabel sepanjang sepuluh kaki dengan sepotong kertas timah bekas pembungkus wafer yang menempel pada ujungnya tergantung pada alat itu. “Basisnya merupakan sistem perekaman audio hard disk berkapasitas tinggi dengan batere yang dapat diisi ulang. Sobekan kertas timah pada ujung kabel itu merupakan kombinasi dari microfon dan foto elektrik selular yang dapat diisi ulang.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.