Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Sambil memegang Sophie dengan kuat, Silas menurunkan tangannya dari dada Sophie ke pinggang perempuan itu, dan menyelipkan tangannya ke dalam saku sweternya, meraba-raba. Silas dapat mencium harum lembut rambut Sophie. “Di mana batu kunci itu?” Silas berbisik.Batukunciituadadidalam sakusweaternyatadi.Jadidimanasekarang? “Di sini,” suara dalam Langdon bergema di ruangan itu. Silas menoleh dan melihat Langdon memegangcryptex hitam di depannya. mengayun-ayunkannya ke depan dan ke belakang seperti seorang matador menggoda hewan bodoh. “Letakkan di bawah,” perintah Silas. “Biarkan Sophie dan Leigh meninggalkan gereja ini,” jawab Langdon. “Kau dan aku dapat mengurus ini.”

Silas mendorong Sophie menjauh darinya dan mengarahkan pistolnya pada Langdon, sambil bergerak mendekatinya. “Jangan mendekat satu langkah pun,” kata Langdon. “Jangan, sebelum mereka meninggalkan gedung ini.” “Kau tidak dapat memerintahku.” “Aku tidak sependapat.” Lalu Langdon mengangkat cryptex itu tinggi di atas kepalanya. “Aku tidak akan ragu membanting ini di atas lantai dan sehingga botol kecil di dalamnya juga pecah.”

Walau Silas menggeram keras dari tenggorokannya, dia merasa takut juga. Ini tidak diduganya. Dia mengarahkan pistoinya pada kepala Langdon dan menjaga suaranya agar tetap tenang seperti tangannya yang tak gemetar. “Kau tidak akan memecahkan batu kunci itu. Kau sangat ingin menemukan Grail seperti juga aku.”

“Kau salah. Kau menginginkan ini lebih dariku. Kau telah membuktikannya dengan membunuh orang untuk mendapatkannya.”

Empat puluh kaki jauhnya dari kejadian itu, Remy muncul dari bangku gereja di ruang tambahan di dekat pintu lengkung. Remy Legaludec mulai merasa khawatir. Usaha itu tidak berjalan seperti yang telah mereka rencanakan, dan bahkan dari sini, dia dapat melihat Silas tampak tidak yakin mengatasi keadaan itu. Atas perintah Guru, Rémy telah melarang Silas untuk menembakkan senjatanya.

“Biarkan mereka pergi,” kata Langdon lagi, sambil tetap memegangi cryptex itu tinggi-tinggi melebihi kepalanya dan menatap pistol Silas.

Mata merah biarawan itu penuh ketakutan dan keputusasaan dan Rémy tegang karena mungkin saja Silas akan menembak Langdon ketika lelaki jangkung itu masih memegangiCryptex.Cryptexitutidakbolehjatuh!

Cryptex itu akan menjadi tiket kebebasan dan kemakmuran Rémy. Kirakira lebih dari setahun yang lalu, Rémy adalah seorang pelayan berusia 55 tahun yang tinggal di dalam dinding Puri Villette, melayani keanehan yang tak tertahankan dari Sir Leigh Teabing yang cacat. Lalu dia dibujuk dengan sebuah tawaran yang luar biasa. Hubungan Rémy dengan Sir Leigh Teabing–seorang sejarawan Grail yang sangat terkemuka di bumi ini—akan memberikan kepada Rémy segala yang pernah diimpikannya dalam hidup ini. Sejak itu, setiap saat yang dijalaninya di dalam Puri Villette telah membawanya ke arah itu lebih cepat lagi.

Aku sudah begitu dekat, kata Rémy pada dirinya sendiri, sambil menatap ke ruang di dekat altar Gereja Kuil dan pada batu kunci di tangan Robert Langdon. Jika Langdon menjatuhkannya, segalanya akan hilang.

Apakah aku akan memperlihatkan wajahku? Guru telah melarangnya dengan keras untuk itu. Rémy adalah satu-satunya yang mengenali identitas Guru.

“Kauyakin Silas yang harus melakukan tugas ini?” tanya Remy kepada Guru kurang dari setengah jam yang lalu, saat menerima perintah untuk mencuri batu kunci itu. “Aku sendiri mampu.”

Guru memastikan. “Silas telah melakukan tugasnya dengan baik dengan membunuh empat anggota Biarawan. Dia akan menyelamatkan batu kunci itu. Kau harus tetap tak dikenal. Jika ada yang melihatmu, mereka harus mati juga. Jangan ada pembunuhan lagi. Jangan perlihatkan wajahmu.”

Wajahku dapat diubah, pikir Rémy. Dengan bayaran yang kaujanjikan kepadaku, aku akan menjadi orang yang sama sekali baru. Operasi bahkan dapat mengubah sidik jari, Guru pernah mengatakan itu kepadanya. Dia akan bebas segera—seraut wajah tak dikenali, berkeringat di bawah matahari pantai. “Aku mengerti” kata Rémy. “Aku akan membantu Silas dan balik kegelapan.”

“Ini untuk kauketahui sendiri, Rémy,” kata Guru, “makam yang dicari tidak berada di Gereja Kuil. Jadi, jangan takut. Mereka mencari di tempat yang salah.” Rémy terpaku. “Dan kautahu di mana makam itu?” “Tentu saja. Nanti aku akan mengatakannya padamu. Untuk saat ini, kau harus bertindak cepat. Jika mereka tahu tempat makam yang sesungguhnya, dan meninggalkan gereja sebelum kau membawa cryptex itu, kita dapat kehilangan Grail selamanya.”

Rémy tidak peduli pada Grail, namun Guru tidak akan membayarnya sebelum dia menemukan Grail itu. Rémy merasa pening setiap kali mengingat sejumlah uang yang akan diterimanya segera. Sepertiga dari 20 juta euro.Cukupbanyakuntukmenghilangselamanya. Rémy telah membayangkan kota pantai Côte d’Azur, tempat dia merencanakan untuk menghabiskan hari-harinya dengan berjemur di bawah matahari sambil dilayani oleh orang lain.

Sekarang Rémy sudah berada di Gereja Kuil, tetapi dengan Langdon yang mengancam akan memecahkan cryptex itu, masa depannya masih berada dalam bahaya. Karena tidak tahan membayangkan akan kehilangan segalanya padahal sudah begitu dekat, Rémy memutuskan untuk bertindak keras. Pistol di tangannya merupakan senjata yang dapat disembunyikan, kaliber kecil, Jframe Medusa, tetapi sangat mampu membunuh dari jarak dekat.

Remy keluar dari persembunyiannya, lalu berjalan memasuki ruang bundar dan mengarahkan pisol itu tepat pada kepala Teabing. “Orang tua, aku sudah menunggu lama sekali untuk melakukan ini.”

Jantung Sir Leigh Teabing betul-betul berhenti melihat Rémy mengarahkan sepucuk pistol padanya. Apa yang dilakukannya? Teabing mengenali Medusa kecil itu sebagai miliknya, yang disimpannya di tempat penyimpanan sarung tangan yang terkunci di limosinnya, untuk keamanannya. “Rémy?” Teabing terbatuk karena sangat terkejut. “Ada apa ini?”

Langdon dan Sophie tampak sama tercengangnya.

Rémy memutar di belakang Teabing dan menyodokkan laras pistolnya ke

punggung majikannya, tepat di belakang jantung. Teabing merasa otot-ototnya tercekam karena takut. “Remy, aku tidak—” “Akan kujelaskan dengan sederhana,” sergah Rémy, sambil menatap Langdon melalui bahu Teabing. “Letakkan batu kunci itu, atau akan kutarik pelatuk pistol ini.”

Langdon tampak lumpuh sesaat. “Batu kunci ini tidak ada artinya untukmu,” bentak Langdon. “Kau tidak mungkin membukanya.”

“Orang sombong yang tolol,” desis Rémy. “Apakah kau tidak tahu, aku mendengarkan semalam suntuk diskusi kalian tentang puisi itu? Aku mendengar segalanya, dan aku telah membagi formasi itu dengan orang lain. Mereka tahu lebih banyak dari kalian. Kalian bahkan tidak mencarinya di tempat yang benar. Makam yang kalian cari berada di tempat lain!” Teabing merasa panikApamaksudnya? “Mengapa kau menginginkan Grail?” tanya Langdon. “Untuk

menghancurkannya? Sebelum Hari Akhir?” Rémy berseru pada si biarawan. “Silas, ambil batu kunci dari Pak

Langdon.” Bagitu biarawan albino itu bergerak maju, Langdon melangkah mundur,

menaikkan batu kunci itu, tampak siap membantingnya ke lantai. “Aku lebih senang menghancurkannya,” kata Langdon. “Daripada

melihatnya berada di tangan yang salah.” Sekarang Teabing merasa sangat ketakutan. Dia dapat melihat pekerjaan yang sudah dilakukan seumur hidupnya menguap begitu saja di depan matanya. Semua mimpinya akan berantakan.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.