Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Remy menggelengkan kepalanya, menertawakan kesalahan itu. “Kuharap aku punya kekuasaan itu. Bukan, aku bukan Guru. Seperti kau juga, aku melayaninya. Tetapi Guru selalu memujimu. Namaku Remy.”

Silas kagum. “Aku tidak mengerti. Jika kau bekerja pada Guru, mengapa Langdon membawa batu kunci itu ke rumahmu?”

“Bukan rumahku. Itu rumah seorang sejarawan Grail yang paling terkenal, Sir Leigh Teabing.” “Tetapi kautinggal di sana. Anehnya …“ Rémy tersenyum, tampaknya dia tidak heran dengan kebetulan yang terjadi—Langdon memilih rumah itu sebagai tempat pelariannya. “Itu semua sangat dapat diduga. Robert Langdon memegang batu kunci, dan dia membutuhkan bantuan. Tempat mana lagi yang mungkin dipikirkannya selain rumah Leigh Teabing? Karena kebetulan aku tinggal di sana juga, maka Guru menghubungiku lebih dulu.” Dia terdiam sesaat. “Menurutmu, bagaimana Guru bisa tahu begitu banyak tentang Grail?”

Fajar menyingsing sekarang, dan Silas terpaku. Guru telah menempatkan seorang pelayan yang mempunyai akses ke semua yang diselidiki Teabing. Sangat cemerlang.

“Ada banyak yang harus kukatakan padamu,” kata Remy sambil menyerahkan pistol Heckler Koch yang berisi peluru. Kemudian, melalui partisi yang terbuka, Rémy meraih dan mengeluarkan sepucuk revolver kecil seukuran telapak tangan dari kotak penyimpanan sarung tangan. “Tetapi pertama-tama, kau dan aku punya tugas yang harus dikerjakan.”

Kapten Fache turun dari pesawat yang membawanya ke Biggin Hill dan mendengarkan dengan tidak percaya cerita Inspektur kepala Kent tentang apa yang terjadi di hanggar pribadi pribadi Teabing. “Aku memeriksa pesawat itu sendiri,” tegas inspektut itu, “dan tidak ada seorang pun di dalam.” Nadanya meninnggi “Dan aku harus menambahkan bahwa jika Sir Leigh Teabing menuntutku, aku akan ….“ “Apakah kau menginterogasi pilotnya?” “Tentu saja tidak. Dia orang Prancis, dan yurisdiksi kami memerlukan…” “Bawa aku ke pesawat itu.” Tiba di hanggar itu, Fache hanya memerlukan enam puluh menit untuk menemukan ceceran darah pada lantai hanggar dekat tempat limusin diparkir tadi. Fache berjalan ke arah pesawat dan berteriak keras sambil menghadap ke badan pesawat. “Ini kapten Polisi Judisial Prancis. Buka pintu!” Pilot yang ketakutan itu membuka pintu dan menurunkan tangganya.

Fache naik. Tiga menit kemudian, dengan bantuan pistolnya, dia sudah mendapatkan gambaran tentang biarawan albino yang diikat. Dan sebagai tambahan, pilot itu melihat Sophie dan Langdon telah meninggalkan sesuatu di tempat penyimpanan Teabing di belakang, sebuah kotak kayu atau sejenisnya. Walaupun meyangkal bahwa dia tahu apa isi kotak itu, si pilot mengaku bahwa kotak itu telah menjadi pusat perhatian Langdon selama penerbangan ke London. “Buka lemari itu.” Fache meminta. Pilot itu tampak ketakutan. “Aku tidak tahu kombinasinya!” “Sayang sekali. Aku baru saja mau menawarkan agar kau tetap

mempunyai izin terbang.” Pilot itu meremas-remas tangannya. “Aku kenal beberapa orang di bagian

pemeliharaan di sini. Mungkin mereka bisa mengebornya?” “Kau punya waktu setengah jam.” Pilot itu loncat menyambar radionya. Fache berjalan ke belakang pesawat dan menuang minuman keras untuknya sendiri. Ini masih terlalu pagi, tetapi dia belum tidur …. Sambil duduk di kursi yang sangat lunak, Fache menutup matanya, mencoba membayangkan apa yang terjadi. Kegagalan Polisi Kent dapat sangat merugikanku. Sekarang semua orang sedang mencari limusin Jaguar hitam.

Telepon Fache berdering, padahal dia mengharapkan kedamaian sesaat saja.“Allo?”

“Aku dalam perjalanan ke London.” Itu Uskup Aringarosa. “Aku akan tiba dalam satu jam.” Fache duduk tegak. “Kupikir kau akan terbang ke Paris.” “Aku sangat khawatir. Aku mengubah rencana.” “Kau tidak boleh begitu.” “Kau sudah bertemu Silas?” “Tidak. Penangkapnya berhasil lolos dari polisi Kent sebelum aku

mendarat.” Kemarahan Aringarosa berdering tajam. “Kau meyakinkan aku bahwa kau

akan menghentikan pesawat itu!” Fache merendahkan suaranya. “Uskup, mengingat keadaanmu, aku sarankan kau jangan menguji kesabaranku hari ini. Aku akan menemukan Silas dan yang lainnya secepat mungkin. Kau akan mendarat di mana?”

“Sebentar.” Aringarosa menahan teleponnya, lalu menyambungnya lagi. “Pilot mengatakan dia akan mencoba mendarat di Heathrow. Aku satu-satunya penumpangnya, tetapi tujuan baru kami tidak terdaftarkan.”

“Katakan kepada pilot itu untuk mendarat di lapangan terbang eksekutif Biggin Hill di Kent. Aku akan mintakan izin untukmu.” “Terima kasih.” “Seperti yang kunyatakan ketika kita pertama kali berbicara, Uskup, kau harus mengingatnya baik-baik, bahwa kau bukanlah satu-satunya orang yang berisiko kehilangan segalanya.”

 

85

KAU MENCARI bola yang seharusnya ada dimakam itu.

Setiap pahatan kesatria di Gereja Kuil itu berbaring terlentang, dengan kepala mereka terletak pada sebuah bantal batu segi empat. Sophie merasa ngeri. Kata bola dalam puisi itu membangkitkan ingatan Sophie pada perstiwa di ruang bawah-tanah puri kakeknya. HierosGamos.Bola. Sophie bertanya-tanya apakah ritual itu pernah dilakukan di gereja ini. Ruang bundar itu tampak dibuat sesuai dengan pesanan untuk melakukan ritual pagan semacam itu. Sebuah bangku dari batu mengelilingi area kosong di tengah-tengah.Sebuahteaterbundar, seperti yang disebut Robert tadi. Sophie membayangkan ruangan ini pada maalam hari penuh dengan orang-orang bertopeng, menyanyi di bawah sinar obor, semua menyaksikan “penyatuan suci” di tengah-tengah ruangan. Sophie berusaha menghilangkan pikiran itu dari benaknya. Dia lalu mendahului Langdon dan Teabing menuju ke kelompok makam kesatria yang pertama. Walau Teabing berkeras bahwa penyelidikan mereka harus dilakukan dengan sangat cermat, Sophie merasa bersemangat dan bergegas mendahului mereka, berjalan memintas ke arah lima makam patung kesatria di sebelah kiri.

Sophie meneliti kelompok makam pertama ini. Dia melihat kesamaan dan perbedaan di antara kelimanya. Setiap kesatria berbaring terlentang, tetapi tiga dari lima kesatria kakinya terjulur lurus, sedangkan yang dua lainnya bersilang. Keanehan itu tampaknya tidak ada hubungannya dengan bola yang hilang. Sophie lalu meneliti pakaian mereka. Dia menemukan bahwa dua dari kesatria itu mengenakan tunik di atas baju besi mereka, sedangkan yang tiga lainnya mengenakan jubah panjang semata kaki. Lagi, ini sama sekali tidak ada gunanya. Kemudian Sophie mengalihkan perhatiannya pada perbedaan yang jelas—posisi tangan mereka. Dua orang kesatria memegang pedang, dua lagi berdoa, dan yang satu meletakkan lengannya di sisi tubuhnya. Setelah lama melihat tangan-tangan itu, Sophie menggerakkan bahunya. Dia tidak melihat petunjuk yang jelas tentang bola yang hilang itu.

Karena merasa beban cryptex di dalam sakunya, Sophie lalu melirik pada Langdon dan Teabing. Kedua lelaki itu bergerak lambat, masih berada pada kesatria ketiga, tampaknya juga tidak beruntung. Sophie tidak ingin menunggu. Dia berpaling dari mereka lalu bergerak ke kelompok makampatung kedua. Ketika dia melintasi ruangan terbuka, perlahan dia mengucapkan puisi yang tadi dibacanya, beberapa kali sehingga dia hafal sekarang.

DiLondonterbaringseorangkesatriayangseorangPauskuburkan. BuahperbuatannyakemarahanSucimuncul. Kaumencaribolayangseharusnyaadadiatasmakamnya. ItumenyatakanragaRosi danrahimyangterbuahi

Ketika Sophie tiba pada kelompok kedua, dia melihat kelompok ini sama dengan kelompok pertama. Semuanya terbaring dengan posisi tubuh yang berbeda, mengenakan pakaian besi dan pedang. Itu sudah semuanya, kecuali makam kesepuluh, terakhir. Sophie bergegas ke sana, lalu menatap ke bawah. Tidakadabantal. Tidakadabajubesi.Tidakadatunik.Tidakadapedang. “Robert? Leigh?” panggil Sophie, suaranya menggema di sekitar ruangan

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.