Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Ketika Langdon mulai menatap hamparan lantai itu, matanya berhenti pada sebuah benda yang tak semestinya ada di atas lantai, tergeletak hanya beberapa yard di sebelah kirinya, dikelilingi dengan pita polisi. Dia berputar ke arah Fache. “Apakah itu sebuahCaravaggio tergeletak di lantai?” Fache mengangguk tanpa melihatnya. Langdon menerka, harga lukisan itu tentulah lebih dari dua juta dolar Amerika, dan tergeletak begitu saja di atas lantai seperti poster buangan. “Mengapa tergeletak begitu saja di lantai!”

Fache menggeram, sama sekali tidak bereaksi. “ini tempat peristiwa kriminal, Pak Langdon. Kami tidak boleh menyentuh apa pun. Kanvas itu diturunkan dari dinding oleh kurator itu. Begitulah caranya mengaktifkan sistem pengamanan.”

Langdon melihat lagi gerbang itu, mencoba membayangkan apa yang telah terjadi.

“Kurator itu telah diserang di kantornya, melarikan diri ke Galeri Agung, dan mengaktifkan gerbang pengaman dengan cara menurunkan lukisan dari dinding. Gerbang itu langsung turun, menutup semua jalan. Ini satu-satunya pintu keluar dan masuk galeri ini.”

Langdon merasa bingung. “Jadi kurator itu sebenarnya memerangkap penyerangnya di dalam Galeri Agung?”

Fache menggelengkan kepalanya. “Gerbang itu memisahkan Saunière dari penyerangnya. Si pembunuh terkunci di luar di gang dan menembak Saunière dari gerbang itu.” Fache menunjuk pada tanda berwarna jingga yang tergantung pada salah satu jeruji pintu gerbang yang tadi mereka selusupi. “Tim PTS menemukan residu dari senjata itu. Dia menembak melalui jeruji. Saunière tewas di sini sendirian.

Langdon mengingat foto mayat Saunière. Mereka mengatakan bahwa Sauniere melakukan itu sendiri pada dirinya. Langdon melihat ke koridor besar di depan mereka. “Jadi, di mana mayat itu tergeletak?”

Fache meluruskan penjepit dasi salibnya dan mulai berjalan lagi. “Seperti yang mungkin sudah Anda tahu, Galeri Agung sangat panjang.”

Panjang sesungguhnya, jika Langdon tak salah ingat, adalah sekitar 1.500 kaki, sepanjang tiga kali Monumen Washington yang dibaringkan. Sama mengagumkannya adalah lebar koridor ini, yang dengan mudah dapat dilewati oleh sepasang kereta api berdampingan. Bagian tengah gang itu ditandai oleh patung kolosal atau jambangan porselin, yang berfungsi sebagai pemisah yang indah dan menjaga lalu lintas pengunjung agar tetap berjalan di masing-masing sisi tembok.

Fache bungkam sekarang, berjalan cepat pada sisi kanan koridor dengan tatapan tetap ke depan. Langdon merasa agak kurang ajar karena hanya berjalan cepat melewati begitu banyak adikarya tanpa berhenti, bahkan tidak untuk mengerling pun.

Bukannya aku bisa melihat dalam pencahayaan seperti ini, pikirnya. Pencahayaan remang-remang ini sialnya, telah mengingatkannya kembali pada pengalamannya di ruang redup di penyimpanan arsip rahasia, Vatikan Secret Archives. Keadaan seperti ini sangat mirip dengan kejadian ketika dia hampir tewas di Roma. Bayangan Vittoria berkelebat lagi. Vittoria telah menghilang dari mimpi-mimpinya selama beberapa bulan terakhir ini. Langdon tak dapat percayai kalau Roma baru berlalu setahun; rasanya seperti sudah satu dekade. Kehidupanyanglain. Surat-menyurat terakhirnya dengan Vittoria adalah pada bulan Desember__selembar kartu pos mengatakan bahwa Vittoria sedang menuju ke Laut Jawa, untuk melanjutkan penelitiannya dalam fisika yang rumit … tentang penggunaan satelit untuk mengikuti perpindahan ikan paus manta yang besar. Langdon tak pernah membayangkan seorang perempuan sepenti Vittoria Vetra dapat hidup bahagia bersamanya di asrama perguruan tinggi, namun pertemuan mereka di Roma telah membuat Langdon merasakan hal yang tak pernah ia bayangkan bisa ia rasakan. Kebahagiaan hidup melajang seumur hidupnya dan kebebasan sederhana akhirnya tergoyahkan … berganti dengan rasa kekosongan yang tampaknya berkembang selama satu tahun ini.

Mereka melanjutkan berjalan cepat, tetapi Langdon belum juga melihat mayat itu. “Jacques Saunière berjalan sejauh ini?”

“Pak Saunière menderita karena ada sebutir peluru di perutnya. Dia tewas perlahan-lahan sekali. Mungkin lebih dari 15 sampai 20 menit. Dia pastilah seorang lelaki yang kuat.” Langdon menoleh, terkejut. “Petugas keamanan membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai ke sini?” “Tentu saja tidak. Petugas keamanan Louvre langsung bereaksi ketika alarm berbunyi, dan mendapatkan galeri itu terkunci. Melalui gerbang itu, mereka dapat mendengar seseorang bergerak-gerak di ujung gang dan di koridor, tetapi mereka tidak dapat melihat siapa dia. Mereka berteriak, tetapi tak dijawab. Mereka mengira itu seorang penjahat. Mereka mengikuti peraturan dan menelepon Polisi Judisial. Kami tiba di tempat dalam waktu lima belas menit. Ketika kami tiba, kami menaikkan gerbang itu sedikit, cukup untuk diterobos dari bawah, dan saya mengirim dua belas petugas bersenjata ke dalam. Mereka memeriksa galeri ini untuk menangkap penyusup itu.” “Dan?” “Mereka tidak menemukan siapa pun di dalam. Kecuali…” Dia menunjuk agak jauh ke dalam gang. “Dia.” Langdon mengangkat pandangannya dan mengikuti arah jari Fache. Pada mulanya, dia mengira Fache menunjuk pada patung pualam besar di tengah gang. Ketika mereka bergerak lebih lanjut, Langdon mulai melihat melewati patung itu. Tiga puluh yard di gang itu, sebuah lampu dengan tiang yang dapat dipindah-pindahkan menyorot ke bawah, menciptakan bentuk pulau cahaya putih di dalam galeri merah tua itu. Di tengah-tengah cahaya itu, layaknya seekor serangga di bawah mikroskop, mayat sang kurator tergeletak bugil di atas lantai parket.

“Anda sudah melihat foto itu,” ujar Fache, “jadi ini tidak mengejutkan lagi.”

Langdon merasa menggigil ketika mereka mendekati mayat itu. Baginya, ini adalah bayangan teraneh yang pernah dia lihat.

Mayat pucat Jacques Saunière tergeletak di atas lantai parket, persis seperti yang. terlihat di foto. Ketika Langdon berdiri di dekat jenazah itu dan agak memicingkan matanya karena sinar lampu yang terlalu terang, dia terpikir sesuatu, dan heran juga, bahwa Saunière telah menggunakan beberapa menit di akhir hidupnya untuk mengatur tubuhnya sendiri berpose begitu aneh.

Saunière tampak sangat sehat untuk lelaki seusianya … dan semua ototnya terlihat jelas. Dia telah menanggalkan setiap helai pakaiannya, meletakkannya dengan rapi di atas lantai, dan berbaring terlentang di tengah-tengah koridor yang lebar itu, tepat segaris dengan poros panjang ruangan itu. Tangan dan tungkainya terentang lebar seperti sayap elang, seperti posisi malaikat salju yang dibuat anak-anak ..,. atau, mungkin lebih tepat, seperti seorang lelaki yang ditarik dan dipotong menjadi empat oleh kekuatan yang tak tampak.

Tepat di bawah tulang dada Saunière, noda darah menandai titik di mana peluru itu menembus dagingnya. Anehnya, luka itu tak mengeluarkan banyak darah, hanya membentuk kolam kecil darah kehitaman.

Jari telunjuk tangan kiri Saunière juga berdarah, tampaknya telah dimasukkan ke lubang tempat peluru menembus untuk menciptakan aspek yang paling mengguncangkan dari kematiannya yang sangat méngerikan itu; menggunakan darahnya sendiri sebagai tinta, dan memakai perut bugilnya sebagai kanvas, Saunière telah menggambar sebuah simbol sederhana di atas jasadnya— lima garis lurus saling berpotongan membentuk sebuah bintang lima titik.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.