Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Collet mendesah. Selamat merangkai semua bukti yang tampak tak ada hubungannyaini.Collet.

Menuruni gang yang lebar, Collet memasuki ruang kerja seluas ruang dansa. Disana, ketua penyelidikan PTS sedang sibuk menyapu-nyapu sidik jari. Dia bertubuh gemuk dan mengenakan tali bahu untuk menahan celaananya. “Ada yang kautemukan?” tanya Collet sambil rnemasuki ruangan. “Penyelidik itu menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang baru. Ada beberapa bukti yang dapat dihubungkan dengan yang telah ditemukan di tempat lain di rumah ini.” “Bagaimana dengan sidik jari dicilice?” “Interpol masih berusaha mengenalinya. Aku sudah mengirimkan semua

yang kita temukan.” Collet menunjuk pada dua kantong bukti yang tersegel di atas meja. “Dan ini?”

Lelaki gemuk itu menggerakkan bahunya. “Aku mengemas segala bukti yang aneh.” Collet berjalan.Buktianeh? “Orang Inggris ini memang aneh,” kata penyelidik itu. “Coba lihat ini.” Lalu dia mengayak kantong-kantong barang bukti itu dan memilih satu, kemudian menyerahkannya kepada Collet.

Foto itu memperlihatkan pintu utama katedral Gothic—pintu masuk tradisional, dengan bagian atas yang melengkung, menyempit melalui lapisanlapisan menyerupai tulang iga menuju ke ambang pintu kecil. Collet mempelajari foto itu dan menoleh lagi pada lelaki itu. “Ini aneh?” “Baliklah.” Pada bagian belakang, Collet melihat catatan yang dicorat-coret dalam bahasa Inggris, yang menggambarkan sebuah bagian tengah katedral yang panjang dan dalam sebagai penghormatan rahasia pagan kepada rahim perempuan. Ini memang aneh. Tetapi, catatan yang menggambarkan ambang pintu katedral-lah yang membuat Collet terperangah. “Tunggu dulu! Dia berpendapat bahwa pintu masuk sebuah katedral sama dengan … itunya perempuan?”

Penyelidik itu mengangguk. “Lengkap dengan daerah labial dan klitoris lima kelopak yang kecil dan manis di atas ambang pintu.” Dia mendesah. “Itu akan membuatmu rajin datang ke gereja.”

Collet mengambil kantong bukti kedua. Dari plastiknya dia dapat melihat selembar foto besar dan mengilap, sebuah dokumen tua. Judu! yang tertera di atasnya bertuliskan dalam bahasa Prancis. LesDossiersSecrets—Nomor4°Im¹ 249 “Apa ini?” tanya Collet. “Tidak tahu. Salinannya ada di mana-mana, jadi kukantongi saja.” Collet mempelajari dokumen itu.

BIARAWAN SION—PARA MAHAGURU

JEAN DE GISSORS 1188-1220

MARIE DE SAINT-CLAIR 1220-1226

GUILLAMO DE GISSORS 1226-1307

EDOURARD DE BAR 1307-1336

JEANNE DE BAR 1336-1351

JEAN DE SAINT-CLAIR 1351-1366

BLANCE D’EVREUX 1366-1398

NICOLAS FLAMEL 1398-1418

RENE D’ANJOU 1418-1480

IOLANDE DE BAR 1480-1483

SANDRO BOTTICELLI 1483-1510

LEONARDO DA VINCI 1510-1519

CONNETABLE DE BOURBON 1519-1527

FERDINAND DE GONSAQUE 1527-1575

LOUS DE NEVERS 1575-1595

ROBERT FLUDD 1595-1637

J. VALENTINE ANDREA 1637-1654

ROBERT BOYLE 1654-1691

ISAAC NEWTON 1691-1727

CHARLES RADCLYFFE 1727-1746

CHARLES DE LORRAINE 1746-1780

MAXIMILIAN DE LORRAINE 1780-1801

CHARLES NODIER 1801-1844

VICTOR HUGO 1844-1885

CLAUDE DEBUSSY 1885-1918

JEAN COCTEAU 1918-1963

Biarawan Sion? Collet bertanya-tanya. “Letnan?” seorang agen lain menjulurkan kepalanya kedalam ruangan itu. “Operator menerima telepon penting untuk Kapten fache, tetapi mereka tidak dapat menghubunginya. Anda mau menjawabnya?” Collet pergi ke dapur dan menjawab telepon itu. Dari André Vernet. Aksen halus bankir itu menutupi ketegangan suaranya. “Saya pikir Kapten Fache akan menelepon saya, tetapi sampai sekarang saya belum mendengar apa-apa dari dia.” “Kapten sangat sibuk,” jawab Collet. “Mungkin bisa saya bantu?” “Aku yakin ini dapat membantu Anda malam ini.” Untuk sesaat, Collet berpikir dia mengenali warna suara lelaki ini, tetapi dia tidak dapat mengingat di mana dia mendengarnya. “Monsieur Vernet, aku sekarang mengepalai penyelidikan di Paris ini. Nama saya Letnan Collet.”

Lelaki di seberang terdiam lama. “Letnan, aku ada telepon lain yang masuk. Maafkan saya. Saya akan menelepon Anda sebentar lagi.” Lalu dia menutup teleponnya.

Untuk beberapa detik, Collet masih memegangi telepon itu. Lalu ada yang muncul dalam benaknya. Aku tahu, aku mengenali suara itu! Ingatan itu membuatnya tergagap. Pengemudi mobillapisbaja. DenganjamtanganRolexpalsu. Sekarang Collet mengerti mengapa bankir itu cepat menutup teleponnya. Vernet telah ingat juga nama Letnan Collet—petugas yang ditipunya mentahmentah tadi.

Collet merenungkan kesimpulan dari perkembangan yang aneh itu. Vernet terlibat. Secara naluriah, dia tahu harus menelepon Fache. Namun dia merasa bahwa peristiwa menguntungkan ini akan menjadi kesempatannya untuk tampil.

Dia segera menelepon interpol dan menanyakan informasi sekecil apa pun yang dapat mereka temukan tentang Bank Penyimpanan Zurich dan presidennya, André Vernet.

 

80

“HARAP MENGENAKAN sabuk pengaman Anda,” kata pilot ketika pesawat Teabing, Hawker 731 mulai turun memasuki udara pagi yang muram dan gerimis. “Kita akan mendarat lima menit lagi.”

Teabing merasa gembira pulang ke rumahnya ketika dia melihat perbukitan Kent yang diselimuti kabut yang terentang lebar di bawah pesawat yang sedang menurun itu. Lama penerbangan ke Inggris dari Paris kurang dari satu jam, namun rasanya seperti perjalanan keliling dunia. Pagi ini, musim semi yang hijau dan lembab di tanah airnya tampak sangat ramah menyambut. WaktukudiPrancistelahselesai.AkukembalikeInggrisdengankemenangan. Batu kunci itu telah ditemukan. Pertanyaan besar tentu saja masih tersisa, seperti ke mana batu kunci itu akhirnya akan membawa mereka. Di suatu tempat di Inggris Raya ini. Di mana tepatnya, Teabing tidak tahu, tetapi dia sudah mencecap kejayaan itu. Ketika Langdon dan Sophie saling menatap, Teabing berdiri dan berjalan ke sisi lain di kabin itu, lalu mendorong ke samping sebuah panel dinding yang membuka sebuah tempat penyimpanan rahasia. Dia memutar nomor kombinasinya, membuka kotak penyimpanan itu, dan mengeluarkan dua paspor. “Dokumen perjalanan untuk aku dan Rémy.” Kemudian dia membuka sebuah tumpukan tebal berupa uang kertas lima puluh-an poundsterling. “Dan dokumentasi untuk kalian berdua juga” “Suapan?” “Diplomasi kreatif. Lapangan terbang eksekutif menagih biaya tertentu. Petugas bea cukai Inggris akan menyapa kita di hangar dan meminta izin untuk naik ke pesawat. Daripada mengizinkan dia naik, aku akan mengaku datang dengan seorang wanita selebriti Prancis yang lebih suka tidak dikenali orang ketika dia di Inggris—pertimbangan pers, kautahu—lalu aku akan menawarinya tip yang banyak ini sebagai tanda terima kasih atas kebijaksanaannya.” Langdon tampak kagum. “Dan petugas itu akan menerimanya?” “Tidak dari semua orang, tetapi orang-orang di sini sudah mengenalku. Aku bukan pedagang senjata, demi Tuhan. Aku seorang kesatria.” Teabing tersenyum. “Keanggotaan selalu punya keuntungan.”

Rémy muncul dan berjalan di gang antara kursi. Pistol Heckler Koch terayun-ayun pada tangannya. “Pak, apa yang harus saya lakukan?”

Teabing menatap pelayannya. “Kau tinggal saja di pesawat bersama tamu kita itu sampai kami kembali. Kita tidak dapat berjalan-jalan di London sambil menyeret orang itu.”

Sophie tampak waspada. “Leigh, saat. kubilang bahwa polisi Prancis akan menemukan pesawatmu sebelum kita mendarat, aku bersungguh-sungguh.”

Teabing tertawa. “Ya, bayangkan betapa terkejutnya mereka ketika mereka naik ke sini dan menemukan Rémy.”

Sophie tampak heran dengan sikap congkak Teabing. “Leigh, kau membawa sandera terlarang menyeberangi batas internasional. Ini serius.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.