Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Perempuan-perempuan itu menurunkan bola emas mereka dan semuanya mengayunkan tubuh ke depan dan belakang seperti dalam keadaan setengah sadar. Mereka memuja sesuatu di tengah lingkaran mereka. Apayangmerekalihat? Suara-suara itu menjadi semakin cepat sekarang. Lebih keras. Lebih cepat. “Perempuan yang kau lihat adalah cinta!” Para perempuan berseru,

mengangkat bola emas mereka lagi. Para lelaki menjawab, “Perempuan itu memiliki tempat tinggalnya dalam

keabadian!” Nyanyian itu menjadi tetap lagi. Menjadi cepat. Sekarang bergemuruh.

Lebih cepat. Kemudian orang-orang itu melangkah maju dan berlutut. Akhirnya, seketika itu juga, Sophie dapat melihat apa yang mereka lihat. Di atas altar rendah berhias di tengah-tengah lingkaran, berbaring seorang lelaki. Dia bugil, berbaring pada punggungnya dan mengenakan topeng hitam. Sophie langsung mengenali tubuh lelaki itu dari tanda lahir pada bahunya. Sophie hampir saja berteriak. Grand-père! Apa yang dilihatnya itu sudah membuatnya begitu terguncang karena tidak percaya, namun masih ada lagi.

Di atas kakeknya, seorang perempuan bugil mengenakan topeng putih mengangkangi kakeknya. Rambut peraknya tergerai di belakang punggungnya. Tubuhnya gemuk, jauh dari sempurna dan dia bergerak mengayun tubuhnya seirama dengan nyanyian itu—bersetubuh dengan kakek Sophie.

Sophie ingin berputar dan lari, tetapi dia tidak bisa. Dinding-dinding ruang bawah tanah itu memenjarakannya ketika nyanyian itu meninggi hingga terdengar melengking. Lingkaran orang-orang itu terdengar seperti menyanyi sekarang, dan suara itu memuncak dengan kresendo menjadi hiruk-pikuk. Dengan sebuah raungan tiba-tiba, seluruh ruangan itu terasa meledak dalam klimaks. Sophie tidak dapat bernapas. Dia tiba-tiba sadar telah menangis diamdiam. Dia berputar dan perlahan-lahan menaiki tangga itu, keluar dari rumah, dan dengan gemetar mengemudikan mobilnya kembali ke Paris.

 

75

PESAWAT SEWAAN itu baru saja melewati langit Monaco yang berkerlap kerlip ketika Aringarosa mengakhiri pembicaraannya dengan Fache untuk kedua kalinya. Dia meraih kantong mabuk udara lagi, tetapi merasa terlalu kering bahkan untuk muntah sekalipun. Biarkansajasegalanyaberakhir! Kabar terakhir dari Fache terdengar tidak dapat dibayangkan, walau semua yang terjadi malam ini memang hampir tidak masuk akal lagi. Apa yang terjadi? Segalanya berputar liar tak terkendali. Silas aku libatkan dalam peristiwaapa?Akuterlibatdalamperistiwaapa?

Dengan kaki gemetar, Aringarosa berjalan menuju kokpit. “Aku harus mengubah tujuan.”

Pilot itu mengerling melewati bahunya dan tertawa. “Kau bercanda, bukan?” “Tidak. Aku harus ke London segera.” “Bapa, ini pesawat sewaan, bukan taksi.” “Aku akan membayarmu lebih, tentu saja. Berapa? London hanya satu jam

lebih jauh ke utara dan hampir tidak mengubah arah, jadi…” “Bukan masalah uang, Bapa. Ada masalah lain.” “Sepuluh ribu euro. Sekarang juga.” Pilot itu menoleh, matanya terbelalak karena terkejut. “Berapa? Pendeta

apa yang membawa uang tunai sebanyak itu?” Aringarosa berjalan kembali ke belakang ke tas hitamnya, lalu membukanya, dan mengambil seikat surat tanggungan. Dia menyerahkannya kepada pilot itu. “Apa ini?” tanya pilot itu. “Obligasi senilai sepuluh ribu euro, diuangkan di Bank Vatikan.” Pilot itu tampak ragu. “Sama dengan uang tunai.” “Hanya tunai yang benar-benar tunai,” kata pilot itu, sambil menyerahkan

obligasi itu kembali. Aringarosa merasa lemah, sehingga dia harus bersandar pada pintu kokpit. “Ini menyangkut hidup dan mati. Kau harus menolongku. Aku harus pergi ke London.” Pilot itu menatap cincin emas uskup itu. “Berlian asli?” Aringarosa menatap cincinnya. “Aku tidak mugkin berpisah dengannya.” Pilot itu menggerakkan bahunya dan kembali memusatkan perhatiannya

pada kaca depan. Aringarosa merasa semakin sedih. Dia menatap cincinnya. Bagaimanapun, segala yang diwakili cincin itu akan segera hilang dari uskup itu. Setelah lama terdiam, dia melepaskan cincinnya dari jarinya dan meletakkannya dengan lembut pada panel instrument pesawat.

Aringarosa pergi dari kokpit dan duduk lagi. Lima belas detik kemudian, dia dapat merasakan pilot membelokkan pesawatnya beberapa derajat ke utara. Walau begitu, saat-saat kejayaan Aringarosa sedang dalam badai. Semuanya bermula sebagai alasan suci. Sebuah rencana yang diatur dengan sangat cerdas. Sekarang, seperti rumah dari kartu remi, rencana itu mulai runtuh sendiri … dan akhir dari segalanya tidak tampak sama sekali.

 

76

LANGDON DAPAT melihat Sophie masih gemetar karena menceritakan pengalamannya menyaksikan upacara tercengang mendengarnya. Tidak saja Heiros Gamos. Langdon sendiri Sophie menyaksikan ritual itu seluruhnya, tetapi juga kakeknya telah menjadi tokoh upacara … dinobatkan menjadi Mahaguru Biarawan Sion. Perkumpulan itu melibatkan orang-orang besar. Da Vinci, Botticelli, Isaac Newton, Victor Hugo, Jean Cocteau … JacquesSaunière.

“Aku tidak tahu apa lagi yang dapat kuceritakan padamu,” kata Langdon lembut.

Mata Sophie tampak berwarna hijau tua sekarang, penuh air mata. “Dia membesarkanku seperti anaknya sendiri.”

Langdon sekarang mengenali perasaan itu, yang semakin terlihat dalam mata Sophie ketika dia berbicara. Sophie menyesali sikapnya. Sangat menyesal. Dia telah menghindari kakeknya dan sekarang dia melihat kakeknya dari sisi terang yang betul-betul berbeda.

Di luar, fajar mulai menyingsing cepat, aura merah tuanya berkumpul di ufuk. Bumi di bawah mereka masih tampak hitam.

“Mau makanan, teman-teman?” Teabing bergabung lagi bersama mereka dengan membawa beberapa kaleng Coke dan sekotak kue kecil. Dia meminta maaf dengan sangat karena keterbatasan makanan sambil meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya di atas meja. “Teman biarawan kita itu belum mau bicara,” katanya, “tetapi beri dia waktu.” Dia menggigit kuenya dan melihat puisi itu lagi. “Jadi, bagaimana sayangku, sudah ada kemajuan?” katanya sambil menatap Sophie. “Apa yang mau dikatakan kakekmu kepada kita di sini? Di mana nisan itu? Nisan yang dipuja para Templar.” Sophie menggelengkan kepalanya dan tetap membisu. Ketika Teabing kembali menekuni bait itu, Langdon membuka sekaleng Coke dan berjalan ke jendela. Pikirannya terendam dalam bayangan ritual rahasia dan kode-kode yang belum terpecahkan itu.Sebuahnisanyangdipuja olehparaTemplarmerupakankunci. Langdon meneguk panjang dari kaleng itu. Sebuahnisanyangdipujaoleh paraTemplar. Cola itu hangat.

Selendang malam mulai menguap dengan cepat, dan ketika Langdon menyaksikan perubahan itu, dia melihat lautan yang berkilauan terhampar di bawah mereka.TerusanInggris. Tidak lama lagi mereka tiba di Inggris.

Langdon sebenarnya berharap, terangnya hari akan membawa penerangan pada teka-teki sajak dan kode-kode itu, tetap semakin terang di luar, dia merasa semakin jauh dari kebenaran yang mereka cari. Dia mendengar irama sajak yambe lima suku kata dan nyanyian itu, Hieros Gamos serta ritual suci, yang bergema seiring dengan derum suara mesin jet. SebuahnisanyangdipujaolehparaTemplar. Pesawat itu telah berada di atas daratan lagi ketika secercah cahaya menerpanya. Langdon meletakkan kaleng Coke kosongnya. “Kau tidak akan mempercayai ini,” katanya, sambil menoleh kepada teman-temannya. “Nisan Templar—aku sudah memecahkannya.”

Mata Teabing beralih ke piring-piring kecil di atas meja. “Kautahu di mana nisan itu?” Langdon tersenyum. “Bukandimana, tetapiapa nisan itu.” Sophie mencondongkan tubuhnya untuk mèndengarkan. “Kupikir kata headstone (nisan) di situ mengacu kepada kata stone head (kepalabatu),” jelas Langdon, dengan menikmati semangat akademikus yang biasa dirasakannya ketika berhasil memecahkan persoalan. “Bukan batu penanda makam.” “Kepala batu?” tanya Teabing. Sophie juga tampak bingung. “Leigh,” kata Langdon, sambil menoleh, “selama Inkuisi, Gereja menuduh

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.