Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Teabing berkata, “Teman-temanku dan aku ada keperluan mendadak di London. Kita tidak boleh membuang waktu. Tolong siapkan keberangkatan segera.” Sambil berbicara, Teabing mengeluarkan pistol dari mobil dan menyerahkannya kepada Langdon.

Pilot itu nembelalakkan matanya ketika melihat pistol itu. Dia mendekati Teabing dan berbisik. “Pak, dengan sangat menyesal, tetapi upah penerbangan diplomatik saya hanya berlaku untuk Anda dan pelayan Anda. Saya tidak dapat membawa tamu.-tamu Anda.”

“Richard,” kata Teabing sambil tersenyum hangat. “dua ribu poundsterling dan pistol berpeluru itu mengatakan bahwa kau bisa mengangkut tamutamuku.” Lalu dia menunjuk pada Range Rover itu, “Berikut seorang lelaki yang kurang beruntung di belakang itu.”

 

69

MESIN KEMBAR Garret TFE-731 pesawat Hawker 731 bergemuruh, memberikan tenaga kepada pesawat itu untuk mengangkasa dengan kekuatan yang memilin perut. Di luar jendela, lapangan terbang Le Bourget ditinggalkan dengan kecepatan mengejutkan.

Akulari meninggalkannegeri,pikirSophie. Tubuhnya terdorong mundur ke sandaran kursi. Hingga saat ini, dia percaya permainan kucing dan tikusnya dengan Fache akan dibenarkan oleh Kementerian Pertahanan. Aku berniat melindungi orang yang tak bersalah. Aku berusaha melaksanakan pesan terakhir kakekku. Kesempatan itu, Sophie tahu, baru saja tertutup. Dia telah meninggalkan negerinya, tanpa dokumen perja1anan, menemani seorang buronan, dan membawa seorang sandera. Jika sebuah “garis alasan” pernah ada, Sophie baru saja melewatinya.Dengankecepatansuara.

Sophie duduk bersama Langdon dan Teabing di dekat kabin depan– The Fan Jet Executive Elite Design, seperti yang tercantum pada sebuah medali emas di pintu. Kursi putar mereka yang mewah dibaut pada rel dilantai dan dapat dipindah-pindah dan dikunci lagi di sekitar meja persegi dari kayu keras. Sebuah ruang rapat mini. Namun, suasana bermartabat ini hanya menutupi sedikit saja keadaan yang kurang bermartabat di bagian belakang pesawat. Di situ, diruang duduk dekat toilet, pelayan Teabing, Remy, duduk dengan pistol di tangan, dengan setengah hati menjalankan perintah majikannya untuk menjaga biarawan celaka itu, yang sekarang terbaring di bawah kakinya seperti seonggok koper.

“Sebelum kita memusatkan perhatian pada batu kunci,” kata Teabing “aku senang jika kalian mengizinkan aku mengatakan beberapa kata.” Teabing terdengar takut-takut, seperti seorang ayah akan memberikan ceramah burungdan-kumbang kepada anak-anaknya. “Teman-temanku, aku tahu aku hanya seorang tamu dalam perjalanan ini, dan aku merasa terhormat karenanya. Tetapi, sebagai seseorang yang sudah seumur hidupnya mencari Grail, aku merasa berkewajiban untuk memperingatkan kalian bahwa kalian akan melangkah ke satu arah yang tidak ada arah kernbalinya, terlepas dari bahaya yang ada.” Dia menoleh ke arah Sophie. “Nona Neveu, kakekmu memberimu cryptrx ini dengan harapan kau akan menjaga rahasia Holy Grail agar tetap ada.” “Ya.” “Dapat dimengerti, kau merasa wajib untuk mengikuti jejaknya kemana

pun itu membawa.” Sophie mengangguk, walau dia merasa ada motivasi kedua yang membakar jiwanya. Kebenaran tentang keluargaku. Walau Langdon telah meyakinkannya bahwa batu kunci tidak ada hubugannya dengan masa lalu Sophie, dia masih merasa sesuatu yang sangat pribadi terkait dengan misteri ini. Dia juga merasa seolahcyptex yang dibuat dengan tangan kakeknya sendiri ini mencoba untuk berbicara dengannya dan menawarkan semacam pemecahan atas kekosongan yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun. “Kakekmu dan tiga orang lainnya telah tewas malam ini,” Teabing melanjutkan, “dan mereka mengalami itu demi menjaga agar batu kunci ini tetap jauh dari jangkauan Gereja. Opus Dei datang malam ini untuk memilikinya. Kuharap, kau mengerti bahwa ini menempatkanmu pada posisi tanggung-jawab yang sangat besar. Kau telah diberi sebuah suluh. Api yang berusia dua ribu tahun yang tidak boleh padam. Suluh ini tidak boleh jatuh ke tangan orang yang salah.” Dia terdiam sejenak, menatap kotak kayu mawar. “Aku tahu, kau tidak punya pilihan dalam hal ini, Nona Neveu, tetapi mengingat apa yang tengah terjadi di sini, kau harus sepenuhnya bertanggung jawab…atau kau harus menyerahkan tanggung-jawab itu kepada orang lain. “Kakekku memberikan cryptex itu padaku. Aku yakin kakekku

berpendapat aku sanggup memegang tanggung jawab itu.” Teabing tampak bersemangat, namun kurang percaya. “Bagus. Kemauan yang kuat itu penting. Walau begitu, aku ingin tahu apakah kau mengerti bahwa jika kau berhasil membuka batu kunci maka itu akan membawamu ke ujian yang lebih besar.” “Mengapa begitu?” “Sayangku, bayangkan, kau tiba-tiba memegang sebuah peta yang mengungkap tempat Holy Grail. Pada saat itu, kau akan memegang sebuah kebenaran yang sanggup mengubah sejarah selamanya. Kau akan menjadi penjaga sebuah kebenaran yang telah dicari orang lain selama berabad-abad. Kau akan berhadapan dengan tanggung jawab untuk membuka kebenaran itu kepada seluruh dunia. Orang yang melakukan itu akan dipuja oleh banyak orang dan dibenci oleh banyak orang juga. Pertanyaannya adalah apakah kau dapat memiliki kekuatan yang cukup untuk mengemban amanat itu.” Sophie terdiam. “Aku tidak yakin bahwa harus aku yang memutuskan itu.” Alis Teabing terangkat. “Tidak yakin? Jika bukan pemilik batu kunci, lalu

siapa?” “Persaudaraan yang telah berhasil melindungi rahasia itu selama ini.” “Biarawan?” Teabing tampak ragu. “Tetapi bagaimana? Persaudaraan itu telah porak poranda. Dibantai, seperti yang kausebutkan. Apakah mereka disusupi oleh semacam penguping atau oleh seorang mata-mata di tingkat mereka sendiri, kita tidak pernah tahu. Tetapi, kenyataannya seseorang telah memasuki mereka dan mengenali identitas keempat anggota tertinggi itu. Dalam hal ini, aku tidak akan mempercayai seorang pun yang mengaku sebagai anggota persaudaraan itu.” “Jadi, apa usulmu?” tanya Langdon. “Robert, kau tahu seperti juga aku, bahwa Biarawan tidak akan menyimpan kebenaran itu hingga akhir zaman. Mereka telah menunggu saat yang tepat dalam sejarah untuk membagi rahasia mereka. Saat dunia siap menerima kebenaran itu.” “Dan kau percaya saat itu telah tiba?” tanya Langdon. “Tepat. Sudah sangat jelas keadaannya. Semua tanda-tanda sejarah telah terjadi, dan jika Biarawan Sion belum berniat untuk segera membuka rahasia mereka, mengapa Gereja menyerang mereka sekarang?”

Sophie membantah. “Biarawan di belakang belum mengatakan kepada kita tujuannya.”

“Tujuan biarawan ini sama dengan tujuan Gereja,” jawab Teabing, “yaitu untuk menghancurkan dokumen-dokumen yang membuka penipuan besar. Gereja datang lebih dekát malam ini daripada sebelum-sebelumnya, dan Biarawan Sion telah mempercayakan rahasia itu kepadamu, Nona Neveu. Tugas untuk menyelamatkan Holy Grail jelas termasuk melanjutkan keinginan terakhir Biarawan, yaitu membagi kebenaran itu kepada dunia.”

Langdon menyela. “Leigh, meminta Sophie untuk membuat keputusan merupakan beban yang sangat berat bagi seseorang yang baru satu jam mengetahui adanya dokumen-dokumen Sangreal.”

Teabing mendesah. “Aku minta maaf jika aku mendesakrnu, Nona Neveu. Jelasnya, aku selalu percaya bahwa dokumen-dokumen ini harus diumumkan, tetapi keputusan itu tetap berada padamu. Aku hanya merasa bahwa kau harus mulai memikirkan apa yang akan terjadi jika kita berhasil membuka batu kunci itu.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.