Baca Novel Online

The Da Vinci Code

harga.” “Grail tak ternilai harganya.” Biarawan itu bergerak mendekat. “Kau berdarah,” kata Teabing tenang, sambil mengangguk ke mata kaki

sebelah kanan biarawan itu yang tampak meneteskan darah. “Dan pincang.” “Kau juga,” kata biarawan itu sambil menunjuk pada tongkat metal di

sebelah Teabing. “Sekarang, serahkan batu kunci itu padaku.” “Kau tahu tentang batu kunci?” kata Teabing, terdengar kaget. “Tidak penting apa yang kutahu. Berdirilah perlahan, dan serahkan

padaku.” “Berdiri sulit bagiku.” “Tepat. Aku lebih senang jika tidak ada yang bergerak cepat.” Teabing menyelipkan tangan kanannya pada salah satu tongkatnya dan memegang batu kunci dengan tangan kirinya. Dia lalu bangkit berdiri, tegak, sambil menggenggam silinder yang berat itu pada tangan kirinya dan bertumpu tidak pasti pada tongkat sebelah kanannya.

Biarawan itu mendekat sampai beberapa kaki, sambil tetap mengarahkan pistolnya ke kepala Teabing. Sophie menatap, merasa tak berdaya ketika biarawan itu mengulurkan tangannya untuk mengambil silinder itu.

“Kau tidak akan berhasil,” kata Teabing. “Hanya yang bérhak yang dapat membuka batu ini.” HanyaTuhan yangmenentukansiapayangberhak, pikir Silas. “Agak berat,” kata Teabing, lengannya bergetar sekarang. “Jika kau tidak segera mengambilnya, aku takut akan menjatuhkannya.” Dia terhuyung hampir jatuh.

Silas cepat melangkah ke depan untuk menerima batu itu, dan begitu dia melakukannya, lelaki bertongkat itu kehilangan keseimbangannya. Tongkatnya meluncur dari bawahnya, dan dia mulai tumbang ke sebelah kanan. Jangan! Silas bergerak untuk menyelamatkan batu itu, dan senjatanya bergerak turun ketika itu juga. Namun batu kunci bergerak menjauh darinva sekarang. Ketika Teabing jatuh ke sisi kanan, tangan kirinya mengayun belakang, dan batu kunci terlempar dari tangannya dan mendarat di atas bangku panjang. Pada saat yang sama, tongkat metal yang meluncur dari Teabing bergerak cepat, memotong melengkung ke depan, ke arah kaki Silas.

Kesakitan yang luar biasa merobek tubuh Silas ketika tongkat metal itu memukul tepat pada cilice-nya, menenggelamkan duri-durinya lebih dalam pada daging yang sudah terluka itu. Dia terbungkuk, lalu roboh tersungkur, mengakibatkan cilice itu mengirisnya lebih dalàm lagi. Ketika Silas roboh, pistolnva meledak dengan suara yang memekakkan telinga. Pelurunya menembus lantai, tidak melukai siapa pun. Sebelum Silas dapat mengangkat pistolnya dan menembak lagi, kaki Sophie melayang tepat mengenai rahangnya.

Di ujung jalan, Collet mendengar suara tembakan. Ledakan itu membuatnya panik sekali. Dengan Fache masih dalam perjalanan, Collet telah melepaskan harapannya untuk mendapatkan Langdon malam ini. Namun penghargaan pribadi atas penangkapan dia akan celaka jika keegoisan Fache membuatnya berhadapan dengan Dewan Pertimbangan Menteri karena kelalaian petugas polisi dalam bertugas.

Sebuah senjata telah meletus di dalam sebuah rumah pribadi? Dan kau menunggudiujungjalan?

Collet yakin kesempatan untuk mendekat secara diam-diam sudah hilang. Dia juga yakin jika dia tetap berdiri diam saja disini, kariernya akan hilang sama sekali keesokan harinya. Sambil mengamati pintu gerbang besi itu, dia membuat keputusan. “Ikat, dan tarik hingga roboh.”

Di kejauhan, dalam benaknya yang masih puyeng, Robert Langdon mendengar suara tembakan. Dia juga mendengar teniakan kesakitan. Suaranya sendiri? Sebuah palu besar telah melubangi tempurung kepalanya. Terdengar tak jauh, ada orang berbicara. “Kau di manasih tadi?” bentak Teabing. Pelayan lelaki itu datang bergegas. “Apa yang terjadi? Oh, Tuhan! Siapa

ini? Saya akan telepon polisi!” “Jangan telepon polisi! Buat dirimu berguna dan ambilkan kami sesuatu

untuk mengikat monster ini.” “Dan es batu!” seru Sophie dari belakangnya. Langdon jatuh pingsan lagi. Ada lebih banyak suara. Gerakan. Sekarang dia didudukkan di atas bangku panjang itu. Sophie memegangi kantong es batu pada kepala Langdon. Kepalanya sakit. Ketika menjadi terang, dia menatap sesosok tubuh di akhirnya pandangannya atas lantai. Apakah aku berhalusinasi? Tubuh biarawan albino yang besar itu tergeletak terikat dan mulutnya tersumbat dengan pita berperekat. Dagunya terbuka, dan jubah disebelah paha kanannya basah oleh darah. Tampaknya dia juga mulai sadar. Langdon menoleh kepada Sophie. “Siapa dia? Apa … yang terjadi?” Teabing terpincang-pincang mendekat. “Kau baru saja diselamatkan oleh

seorang kesatria bersenjatakan sebuah Excalibur buatan Acme Orthopedic.” Hah? Langdon mencoba duduk tegak. Sentuhan Sophie bergetar, namun lembut. “Tenanglah dulu sebentar,

Robert.” “Rasanya,” kata Teabing, “aku baru saja memamerkan keuntungan dari kondisiku di depan teman perempuanmu.”

Dari duduknya di atas bangku panjang itu, Langdon menatap ke bawah pada biarawan itu dan mencoba membayangkan apa yang baru saja terjadi. “Dia mengenakan sebuahcilice.” Teabing menjelaskan. “Sebuah apa?” Teabing menunjuk pengikat dari kulit berduri yang tergeletak di atas lantai. “Sebuah pengikat disiplin. Dia mengenakannya pada pahanya. Aku tadi membidiknya dengan tepat.”

Langdon mengusap kepalanya. Dia tahu apa itu pengikat disiplin. “Tetapi, bagaimana … kau tahu?”

Teabing tersenyum. “Kristen adalah lapangan penelitianku Robert, dan ada beberapa sekte tertentu yang mengenakan hati mereka pada lengan mereka.” Dia menunjuk dengan tongkat metalnya pada jubah biarawan yang bersimbah darah itu. “Seperti ini tadi.”

“Opus Dei,” bisik Langdon, sambil mengingat laporan media akhir-akhir ini tentang beberapa pengusaha penting di Boston yang juga anggota Opus Dei. Beberapa rekan kerja mereka telah secara terbuka dan tanpa bukti menuduh mereka mengenakan pengikat disiplin di bawah tiga potong pakaian jas mereka. Kenyataannya, ketiga orang itu tidak mengenakan benda semacam itu. Seperti banyak anggota Opus Dei, pengusaha-pengusaha ini berada di tingkat ‘supernumeracy’ dan sama sekali tidak melaksanakan mortifikasi. Mereka merupakan pemeluk Katolik yang taat, ayah yang peduli terhadap anak-anak mereka, dan anggota masyarakat yang baik. Tidak mengherankan, media hanya menyoroti tanggung jawab spiritual mereka secara singkat sebelum bergerak menyoroti “numerary” yang lebih keras nilai mengejutkan dari anggota-anggota dari sekte itu … anggota-anggota seperti biarawan yang tergeletak di atas lantai di depan Langdon.

Teabing sedang mengamati dengan cermat pengikat berdarah itu. “Tetapi, mengapa Opus Dei mencari Holy Grail? Langdon terlalu pening untuk memikirkannya. “Robert,” kata Sophie berjalan ke arab kotak kayu. “Apa ini?” Sophie memegang Mawar kecil yang tadi dicungkil Langdon dari tutup kotak kayu itu.

“Itu tadi menutupi ukiran pada kotak itu. Kupikir teksnya mungkin memberi tahu kita bagaimana membuka batu kunci itu.”

Sebelum Sophie dan Teabing menjawab, lautan cahaya biru lampu mobil polisi dan sirene yang meraung-raung memotong percakapan mereka, berasal dari bawah bukit dan mulai merayap naik ke jalan mobil sepanjang setengah mil itu.

Teabing mengerutkan dahinya. “Teman-temanku, tampaknya kita harus memutuskan sesuatu. Dan cepat.”

 

66

COLLET dan agen-agennya menyerbu dari pintu depan tempat tinggal Sir Leigh Teabing dengan senjata terhunus. Mereka menyebar, dan mulai meneliti semua ruangan di lantai pertama. Mereka menemukan lubang peluru di lantai ruang duduk, tanda-tanda perkelahian, sedikit ceceran darah, pengikat kulit berduri yang aneh, dan pita berperekat yang sudah dipakai sebagian. Keseluruhan lantai tampaknya sudah ditinggalkan.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.