Baca Novel Online

The Da Vinci Code

“Jelas sekali,” kata agen itu, “Langdon telah menggunakan truk ini untuk melarikan diri dari Bank.”

Collet tidak dapat berkata apa-apa. Dia memikirkan pengemudi truk yang tadi dihentikannya di Ketidaksabarannya untuk kargonya. penghalang jalan. Jam tangan Rolex itu. segera pergi. Aku tidak pernah memeriksa isi Collet percaya ada orang di bank yang berbohong kepada DCPJ tentang keberadaan Langdon dan Sophie dan membantu mereka melarikan diri.Tetapi siapa?Danmengapa? Collet bertanya-tanya apakah mungkin ini alasan Fache menyuruhnya untuk tidak bertindak dulu. Mungkin Fache tahu ada orang lain selain Langdon dan Sophie yang terlibat. Dan, jika Langdon dan Neveu tiba denganmobillapisbaja,lalu siapayangmengemudiAudi?

Ratusan mil ke arah selatan, sebuah pesawat carteran Beechcraft Baroon 58 terbang ke arah utara melintasi Laut Tyrhenia. Walau langit tenang, Uskup Aringarosa memegangi kantong mabuk udara, untuk jaga-jaga. Percakapannya dengan Paris sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya.

Sendirian di dalam kabin kecil, Aringarosa memutar-mutar Cincin emas pada jarinya dan mencoba menenangkan perasaan takut dan putus asanya yang meluap-luap. Di Paris segalanya berjalan kacau. Dia menutup matanya, lalu berdoa agar Bezu Fache berhasil membereskannya.

 

64

TEABING DUDUK di atas bangku panjang, menimang-nimang kotak kayu itu di atas pangkuannya dan mengagumi tutupnya yang dihiasi ukiran Mawar. Malaminitelahmenjadimalamyangpalinganehdanajaibdalam hidupku. “Buka tutupnya,” bisik Sophie, dekatnya, di samping Langdon. Teabing tersenyum.Janganmemburu-buru aku. Dia sudah menghabiskan satu dekade mencari batu kunci itu, sekarang dia ingin menikmati setiap milidetik dari peristiwa ini. Tangannya mengusap tutup kotak itu, merasakan tekstur ukiran mawarnya.

“Mawar,” Teabing berbisik. Mawar itu adalah Magdalena, adalah Holy Grail. Mawar itu adalah kompas yang memandu jalan. Teabing merasa bodoh. Selama bertahun-tahun dia telah melakukan perjalanan dari katedralkatedral dan gereja-gereja di se1uruh Prancis, membayar izin masuk khusus, memeriksa ratusan lengkungan di bawah jendela mawar, mencari sebuah batu kunci berukir.Laclefdevoute—sebuah batu kunci di bawah tanda Mawar. din Teabing perlahan membuka pengunci tutup kotak itu dan menaikkannya. Begitu matanya akhirnya melihat isi kotak itu, dia tahu segera, itu pastilah batu kunci yang dicarinya. Teabing memandangi sebuah batu berbentuk silinder, dengan lempengan-lempengan bertulisan yang saling menyambung. Benda itu, anehnya, seperti sudah biasa dilihatnya.

“Dirancang dari buku harian Da Vinci,” kata Sophie. “Kakekku membuatnya karena hobi.”

Tentusaja, Teabing tahu. Dia pernah melihat sketsa itu dan cetak birunya. Kunci untuk menemukan Holy Grail terletak di dalam batu ini. Teabing mengangkat cyptex berat itu dari kotaknya, memeganginya dengan lembut. Walau dia tidak tahu bagaimana cara membuka sunder itu, dia merasa bahwa takdirnya ada di dalam silinder itu. Pada saat-saat kegagalannya, Teabing mempertanyakan apakah permintaan hidupnya akan pernah dikabu1kan. Sekarang keraguan itu hilang untuk selamanya. Dia dapat mendengar kata-kata kuno … dasar legenda Grail: VousnetrouvezpasleSaint-Graal,c’estleSaint-Graalquivoustrouve. KautidakmenemukanGrail. Grailmenemukanmu. Dan malam ini, luar biasa, kunci untuk menemukan Grail telah berjalan masuk melalui pintu depan rumahnya. Ketika Sophie dan Teabing duduk dengan cyptex dan berbicara tentang cairan cuka itu, lempengan-lempengan, dan kemungkinan kata kuncinya, Langdon membawa kotak kayu mawar itu melintasi ruangan ke meja yang diterangi lampu, supaya dapat dilihat dengan lebih baik. Sesuatu yang baru saja dikatakan Teabing sekarang berputaran dalam benaknya. KuncimenujuGrailtersembunyidibawahtandaMawar. Langdon memegangi kotak kayu itu ke dekat lampu dan memeriksa simbol Mawar itu. Walau dia terbiasa dengan benda-benda seni, itu tidak termasuk ukiran kayu atau perabot ukiran. Langdon teringat pada langit-langit keramik pada sebuah biara di Spanyol di luar kota Madrid. Di sana, tiga abad sete1ah pembangunannya, langit-langit itu mulai runtuh, memper1ihatkan teka-teki suci yang ditulis oleh biarawan-biarawan pada semen dibawah keramik itu. Langdon melihat lagi Mawar itu. DibawahMawar. SubRosa. Rahasia. Suara jatuh di gang di belakangnya membuat Langdon menoleh. Dia hanya melihat kelebatan bayangan. Mungkin saja pelayan Teabing yang lewat. Langdon kembali ke kotak kayu. Dia mengusapkan jarinya pada tepi ukiran yang halus itu, bertanya-tanya apakah dia dapat melepaskan Mawar itu. Namun, ukiran itu tampak begitu sempurna. Dia bahkan meragukan silet akan bisa mencungkil bagian antara Mawar dan dasarnya.

Dia membuka kotak itu, dan memeriksa bagian dalam tutupnya. Rata. Ketika dia mengubah posismya, di bawah sinar, dia dapat melihat seperti ada lubang kecil di bagian bawah tutup itu, tepat di tengah. Dia lalu menutup penutup itu dan memeriksa bagian atasnya. Ternyata tidak ada lubang. Lubangitutakdapatditembus. Langdon meletakkan kotak itu di atas meja, lalu mengamati sekeliling ruangan dan melihat setumpukan kertas dengan penjepit kertas. Dia mengambil penjepit itu, membuka kotak itu, dan mengamati lubang itu lagi. Dengan berhati-hati dia meluruskan penjepit kertas itu dan menyelipkan satu ujungnya ke lubang itu. Dia menekannya dengan lembut. Dia mendengar ada yang berkertak lembut di atas meja. Langdon menutup penutup kotak itu untuk melihat. Ternyata sepotong kecil kayu, seperti sepotongpuzzle. Ukiran mawar itu terlepas dan jatuh ke atas meja.

Tanpa kata-kata, Langdon menatap bagian tutup kotak yang sekarang tak tertutup oleh ukiran mawar lagi. Di sana, terukir pada kayunya, tertulis tulisan tangan yang rapi sekali, empat baris teks berbahasa asing yang belum pernah dilihat Langdon.

KarakterhurufnyasepertiSemit, pikir Langdon pada dirinya sendiri,tetapi akutidakmengenalibahasanya.

Gerakan yang tiba-tiba di belakang Langdon menarik perhatiannya. Entah dari mana, sebuah pukulan keras menghantam kepala Langdon, membuatnya jatuh tersungkur.

Ketika jatuh, dia sempat mengira telah melihat hantu pucat berdiri di dekatnya sambil memegang pistol. Lalu semuanya menjadi gelap.

 

65

SOPHIE NEVEU, walau bekerja sebagai penegak hukum, belum pernah ditodong senjata sampai malam ini. Hampir tak dapat dibayangkan, Sophie menatap sebuah pistol sang dipegang olèh tangan pucat dari seorang albino yang besar berambut putih panjang. Albino itu menatap Sophie dengan mata merahnya yang memancarkan sinar menakutkan dan seperti hantu. Mengenakan jubah wol dengan ikat pinggang dari tali, orang itu tampak seperti pendeta abad pertengahan. Sophie tak dapat membayangkan siapa lelaki itu, namun tiba-tiba Sophie menghargai dugaan Teabing akan keterlibatan Gereja dalam kasus ini. “Kalian tahu aku datang untuk apa,” kata biarawan itu, suaranya dalam. Sophie dan Teabing duduk di atas bangku panjang dengan tangan mereka terangkat ke atas seperti yang diperintahkan orang itu. Langdon terbaring mengerang di atas lantai. Mata biarawan itu segera mengarah pada batu kunci di atas pangkuan Teabing Nada suara Teabing menantang. “Kau tidak akan dapat membukanya.” “Guruku sangat bijak,” biarawan itu menjawab, bergeser mendekat sedikit

sedikit, sambil pistolnya terayun antara Teabing dan Sophie. Sophie bertanya-tanya ke mana pelayan Teabing. Apakah dia tidak

mendengar Robertjatuh? “Siapa gurumu?” tanya Teabing. “Mungkin kita bisa membuat kesepakatan

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.