Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Perlahan Sophie mengeluarkan kunci salib itu dari saku sweternya dan mengulurkannya ke Teabing.

Teabing mengambil kunci itu dan mempelajarinya. “Ya ampun! Segel Biarawan. Di mana kaudapatkan ini?” “Kakekku memberikannya kepadaku malam ini sebelum dia dibunuh.” Teabing mengusapkan jemarinya pada salib itu. “Kunci sebuah gereja?” Sophie menarik napas dalam. “Kunci ini memberikan akses kebatukunci.” Kepala Teabing tersentak, wajahnya liar karena tidak percaya. “Tidak mungkin! Gereja mana yang belum kumasuki? Aku sudah meneliti semua gereja di Prancis!” “Tidak di gereja,” kata Sophie. ” Di bank penyimpanan Swiss.” Tatapan gembira Teabing memudar. “Batu kunci ada di sebuah bank?” “Di dalam sebuah ruang besi,” kata Langdon. “Ruang besi sebuah bank?” Teabing menggelengkan kepalanya dengan keras. “Tidak mungkin. Batu kunci seharusnya tersimpan di bawah tanda Mawar.” “Memang,” kata Langdon. “Batu kunci itu tersimpan didalam kotak kayu

mawar berukir sekuntum Mawar dengan lima kelopak.” Teabing tampak seperti tersambar petir. “Kau sudah melihat batu kunci

itu?” Sophie mengangguk. “Kami mengunjungi bank itu.” Teabing mendekati mereka, matanya ketakutan. “Teman-temanku, kita harus melakukan sesuatu. Batu kunci ini dalam bahaya! Kita punya kewajiban untuk melindunginya. Bagaimana jika ada kunci lainnya? Mungkin dicuri dari para sénéchaux yang terbunuh itu? Jika Gereja dapat memperoleh akses ke bank itu seperti kalian—”

“Mereka akan terlambat,” kata Sophie. “Kami telah memindahkan batu kunci itu.”

“Apa! Kalian memindahkan batu kunci dari tempat persembunyiannya?” “Jangan khawatir,” kata Langdon. “Batu kunci itu tersembunyi dengan aman.” “Betul-betul amat sangat aman, kuharap!” “Sebenarnya,” kata Langdon, tak dapat menyembunyikan senyuman, “itu tergantung pada seberapa sering kau membersihkan bagian bawah kursi panjangmu.” Angin di luar Puri Villette bertiup semakin kencang sehingga jubah Silas berkibar-kibar ketika dia berjongkok di dekat jendela. Walau dia tak dapat mendengar percakapan itu dengan jelas, katabatukunci telah sering terdengar menembus kaca jendela itu. Batukunciitudidalam. Kata-kata Guru segar dalam ingatannya. Masuk ke Puri Villette. Ambil

kunciitu.Janganlukaiseorangpun. Sekarang Lângdon dan yang lainnya telah berpindah ke ruangan lain, mematikan lampu ruang kerja ketika mereka keluar. Merasa seperti seekor macan kumbang yang sedang mengikuti mangsanya, Silas memanjat jendela kaca itu. Jendela itu tidak terkunci. Kemudian dia menyelinap masuk dan menutup jendela perlahan. Dia dapat mendengar suara tak jelas dari ruang yang lain. Silas menarik pistolnya dari saku, membuka kuncinya dan mengendap-endap ke gang.

 

63

LETNAN Collet berdiri sendirian di ujung jalan menuju rumah Leigh Teabing dan menatap rumah besar itu. Terpencil. Gelap. Tertutup dengan baik. Collet mengawasi enam orang agennya yang berpencar diam-diam di sepanjang pagar. Mereka dapat melewatinya dan mengepung rumah itu dalam beberapa menit saja. Langdon tidak akan tahu darimana agen-agen Letnan Collet akan menyergap.

Collet baru saja akan menelepon Fache ketika tiba-tiba teleponnya berdering.

Seperti yang sudah dibayangkan Collet, Fache terdengar tidak senang dengan perkembangan keadaan itu. “Mengapa tidak seorangpun mengatakan kita punya petunjuk tentang Langdon?” “Anda sedang bertelepon dan—“ “Di mana kau tepatnya, Letnan Collet?” Collet memberinya alamat itu. “ Tempat tinggal ini milik seorang Inggris bernama Teabing. Langdon mengemudikan mobil cukup jauh untuk tiba di sini. Kendaraan itu ada dalam pagar pengaman, tanpa tanda-tanda masuk paksa, sehingga kemungkinan besar Langdon mengenal pemilik rumah ini.” “Aku segara ke sana,” kata Fache. “Jangan bertindak. Aku akan menangani

ini sendiri.” Collet ternganga. “Tetapi Kapten, Anda dua puluh menit dari sini! Kita harus bertindak segera. Aku telah mengurungnya. Aku bersama delapan orang. Empat orang membawa senapan dan yang lainnya memegang pistol.” “Tunggu aku.” “Kapten, bagaimana jika Langdon mempunyai sandera di dalam? Bagaimana jika dia melihat kita dan melarikan diri tanpa mobil? Kita harus bergeraksekarang! Orang-orangku sudah di tempat dan siap bertindak.”

“Letnan Collet, kau harus menungguku tiba sebelum bertindak. Ini perintah.” Fache menutup telponnya.

Letnan Collet termangu dan mematikan teleponnya. Mengapa, sih, Fache menyuruhkumenunggu? Collet tahu jawabannya. Fache, walau terkenal karena nalurinya, juga terkenal karena kesombongannya. Fache ingin dipuji untuk penangkapan ini. Setelah menayangkan wajah orang Amerika itu di seluruh saluran televisi, Fache ingin memastikan bahwa wajahnya juga akan disiarkan sebanyak itu. Pekerjaan Collet hanyalah menunggu sampai pimpinannya muncul menuntaskan pekerjaan mereka. Ketika berdiri di sana, Collet memikirkan kemungkinan alasan kedua bagi penundaan ini. Pengendalian kerusakan. Dalam penegakan hukum, keraguan menangkap buronan hanya terjadi ketika muncul ketidakpastian tentang kesalahannya. Apakah Fache mempunyai anggapan bahwa Langdon boleh jadi tidak bersalah? Pemikiran itu menakutkan. Kapten Fache telah bersusah payah malam ini untuk menangkap Robert Langdon—surveiliance cachée, Interpol, dan sekarang televisi. Bahkan, Bezu Fache tidak akan selamat dari tuntutan politis jika dia ternyata salah menyiarkan wajah seorang Amerika yang penting ke seluruh Prancis sebagai pembunuh. Jika Fache sekarang sadar bahwa dia akan membuat kesalahan, Collet untuk menunggunya sebelum maka masuk akal bila dia menyuruh bertindak. Hal yang akan paling merugikan Fache adalah jika Collet tiba-tiba menyergap masuk ke rumah pribadi seorang Inggris yang tak bersalah dan menangkap Langdon dengan todongan pistol.

Lagi pula, Collet tahu, jika Langdon memang tidak bersalah, itu akan menjelaskan pertentangan aneh dalam kasus ini: Mengapa Sophie Neveu, cucu korban, membantu orang yang disangka pembunuh kakeknya untuk kabur? Kecuali Sophie tahu bahwa Langdon tidak bersalah. Fache telah mengeluarkan segala penjelasan tentang sikap Sophie yang aneh, termasuk bahwa Sophie satu-satunya ahli waris Saunière, telah membujuk kekasih gelapnya Robert Langdon, untuk membunuh Saunière demi uang warisan. Lalu, Saunière, yang mungkin telah menduga ini semua, meninggalkan kepada polisi pesan PS.Cari Robert Langdon. Collet agak yakin ada hal lain yang tengah terjadi di sini. Sophie Neveu tampak mempunyai sifat yang terlalu baik untuk melakukan halhal yang kotor.

“Letnan?” salah seorang agen datang berlari. “Kami menemukan sebuah mobil.”

Collet mengikuti agen itu berjalan kira-kira lima puluh yard dari jalan mobil. Agen itu menunjuk ke arah tepi jalan di seberang jalan itu. Di sana, terparkir di semak-semak, hampir tak terlihat, sebuah Audi hitam. Ada pelat mobil sewaan. Collet menyentuh kap mesinnya. Masih hangat. Bahkan panas.

“Ini pasti yang digunakan Langdon tadi,” kata Collet. “Tellepon penyewaan mobil. Tanyakan apakah mobil ini dicuri.” “Ya, Pak.” Agen yang lain melambai kepada Collet agar kembali ke arah pagar. “Letnan, lihatlah ini.” Dia memberikan teropong malam kepada Collet. “Lihat pepohonan dekat ujung jalan mobil itu.”

Collet mengarahkan teropong itu ke bukit dan menyetel pemutarnya sehingga gambar tampak jelas. Perlahan, bentuk kehijauan menjadi lebih jelas. Dia mengarahkannya ke tikungan dari jalan mobil, lalu menyusuri jalan itu perlahan-lahan hingga mencapai pepohonan yang dimaksud. Apa yang dapat dilakukannya hanya menatap. Di sana, terselubung kehijauan, terparkir sebuah mobil lapis baja. Collet segera tahu bahwa itu adalah truk yang tadi dihentikannya dan dibiarkan pergi dari Bank Penyimpanan Zurich. Dia berdoa semoga ini hanyalah kebetulan yang aneh, namun dia tahu itu tidak mungkin.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.