Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Teabing menemukan sebuah buku besar dan menariknya luar dari tumpukan. Sebuah edisi bersampul kulit seukuran poster seperti sebuah atlas besar. Pada sampulnya tertulis The Gnostic Gospels, Injil Kaum Gnostik. Teabing membukanya, dan Langdon serta Sophie ikut melihatnya. Sophie dapat melihat buku itu berisi foto-foto dari dokumen-dokumnen kuno yang mengagumkan—papirus tersobek-sobek dengan tulisan tangan. Sophie tidak mengenali bahasa kuno itu, namun halaman-halaman disebelahnya berisi terjemahannya.

“Ini adalah fotokopi dari Nag Hammadi dan Gulungan-gulungan Laut Mati, yang tadi kuceritakan,” kata Teabing. “Ini catatan Kristen paling awal. Yang membingungkan adalah tulisan di sini tidak sesuai dengan Injil.” Teabing kemudian membuka bagian tengah buku, lalu menunjuk sebuah bagian. “Injil Philip selalu awal yang baik.” Sophie membaca bagian itu:

Dan teman Sang Juru Selamat adalah Maria Magdalena. Kristus mencintainya lebih daripada cinta-Nya kepada seluruh muridnya, dan Yesus sering menciumnya di mulut. Murid-murid yang lain tersinggung kerenanya,danmengungkapkanketidaksetujuanmereka. Merekaberkata kepada Yesus, “Mengapa Engkau lebih mencintainya daripada kami semua?” Kata-kata itu mengejutkan Sophie, namun tidak cukup meyakinkan. “Ini

tidak menyebut-nyebut soal perkawinan.” “Au contraire, sebaliknya,” Teabing tersenyum, sambil menunjuk pada baris pertama. “Seperti yang akan dikatakan oleh setiap sarjana Aramaic padamu, katateman, pada zaman itu, secara harfiah berartipasanganhidup.” Langdon mengiyakan dengan sebuah anggukan. Sophie membaca baris pertama itu lagi. Dan teman Sang Juru Selamat

adalahMariaMagdalena. Teabing membuka-buka halaman buku itu dan menunjukkan beberapa bagian lainnya yang mengejutkan Sophie, betul-betul menunjukkan bahwa Maria Magdalena mempunyai hubungan mesra dengan Yesus. Saat Sophie membaca bagian itu, dia ingat pada seorang pendeta yang marah yang menggedor pintu rumah kakeknya ketika dia masih anak sekolah.

“Apakah ini rumah Jacques Saunière?” tanya pendeta itu, sambil mendelik ke bawah pada Sophie kecil ketika gadis cilik itu membuka pintu untuknya. “Aku ingin berbicara dengannya, tentang editorial yang ditulisnya.” Pendeta itu mengangkat sebuah koran.

Sophie memanggil kakeknya, dan kedua lelaki itu menghilang ke ruang kerja kakeknya dan pintu tertutup.Kakekkumenulissesuatudalamkoranitu? Sophie langsung berlari ke dapur dan membuka koran pagi. Dia menemukan nama kakeknya pada sebuah artikel pada halaman dua. Dia membacanya. Sophie tidak mengerti apa yang dikatakan di sana, tetapi itu kira-kira tentang pemerintah Prancis yang, di bawah tekanan para pendeta, telah menyetujui larangan sebuah film Amerika yang berjudul The Last Temptation of Christ, yaitu tentang Yesus yang bercinta dengan seorang perempuan bernama Maria Magdalena. Artikel kakeknya mengatakan bahwa Gereja arogan dan keliru karena telah melarang film itu beredar. Tidakheranjikapendetaitumarahsekali, pikir Sophie. “Ini sebuah pornografi! Pelanggaran!” teriak pendeta itu, sambil keluar dari ruang kerja kakeknya dan bergegas keluar pintu. “Bagaimana kau bisa mendukungnya! Orang Amerika ini, Martin Scorsese, adalah pelaku bidah, dan Gereja tidak akan mengizinkannya untuk naik mimbar di Prancis!” Pendeta itu membanting pintu dan pergi.

Ketika Kakeknya masuk ke dapur, dia melihat Sophie dengan koran di tangannya, dan mengerutkan dahinya. “Kau cepat sekali.” Sopohie berkata, “Kaupikir Yesus Kristus mempunyai kekasih?” “Tidak, sayangku. Aku mengatakan, Gereja seharusnya tidak diizinkan

untuk mengatakan gagasan mana yang boleh dan tidak boleh kita nikmati.” “Apakah Yesus punya kekasih?” Kakeknya terdiam beberapa saat. “Apakah buruk sekali jika Dia memang

punya kekasih?” Sophie memikirkannya, kemudian dia mengangkat bahunya. “Aku tidak keberatan.”

Sir Leigh Teabing masih berbicara. “Seharusnya aku tidak membuatmu bosan dengan referensi-referensi yang begini banyak tentang hubungan Yesus dan Magdalena. Itu telah diselidiki ad nauseam oleh sejarawan modern. Namun, aku ingin menunjukkan yang berikut ini.” Dia bergerak ke bagian lain. “Ini dari injil Maria Magdalena.”

Sophie belum pernah tahu ada ajaran yang berisi kata-kata Magdalena. Dia membaca teks itu:

Dan Peter berkata, “Apakah Sang Penyelamat betul-betul berbicara

dengan seorang perempuan tanpa sepengetahuan kami? Apakah kami akanberpalingpadanyadansemuamendengarkan-Nya?Apakahdialebih menyukaidiadaripadakami?”

Dan Levi menjawab, “Peter, kau selalu tidak sabar. Sekarang aku melihatmu menentang perempuan itu seakan seorang musuh. Jika Sang Penyelamat menghormati dia, siapa sebenarnya Kau hingga berani menolakperempuanitu?PastilabSangPenyelamat mengenalnyadengan baik.Karena itulahdia mencintainyalebihdaripadakita.”

“Perempuan yang mereka bicarakan,” Teabing menjelaskan, “ada1ah Maria Magdalena. Peter cemburu padanya.” “Karena Yesus lebih sayang pada Maria?” “Tidak hanya itu. Taruhannya lebih dari sekadar masalah kasih sayang. Di titik Injil yang ini, Yesus menduga Dia akan segera ditangkap dan disalib. Sehingga, dia memberi Maria instruksi bagaimana cara melanjutkan GerejaNya setelah Dia tiada. Sebagai akibatnya, ketidakpuasannya karena merasa dinomorduakan perempuan. Aku berani berkata, Peter agak bias gender.” Peter mengungkap di bawah seorang

Sophie berusaha mengikuti uraian itu. “Ini Santa Peter itu? Bukankah ia

menjadi fondasi bagi Yesus untuk Gereja-Nya?” “Memang Peter yang itu, kecuali satu hal. Menurut Injil yang tak diubah ini, bukan Peter yang diberi petunjuk oleh Kristus untuk mendirikan Gereja Kristen. Tetapi Maria Magdalena.”

Sophie menatapnya. “Maksudmu, Gereja Kristen seharusnva dikepalai oleh seorangperempuan?”

“Itu rencananya. Yesus betul-betul memihak pada perempuan. Dia menyiapkan masa depan GerejaNya akan dipimpin oleh Maria Magdalena.”

“Dan Peter tidak setuju,” kata Langdon, sambil menunjuk pada The Last Supper. “Itu dia Peter. Kau dapat melihat bahwa Da Vinci sangat tahu bagaimana perasaan Peter kepada Maria Magdalena.”

Lagi, Sophie tak dapat berbjcara. Dalam lukisan itu, Peter mengancam dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Maria Magdalena dan mengiriskan tangannya yang seakan pisau menyembelih leher Maria. Gerakan yang sama terdapat pada lukisanMadonnaoftheRocks!

“Dan di sini juga,” kata Langdon, sambil sekarang menunjuk pada kelompok di dekat Peter. “Agak menyebalkan, bukan?”

Sophie mengernyitkan matanya dan melihat sebuah tangan menjulur keluar dari kerumunan para murid. “Apakah tangan itu memegang sebilahbelati?”

“Ya. Lebih aneh lagi, jika kauhitung tangan-tangan itu, kau akan tahu bahwa tangan itu miik … tak seorang pun. Tangan itu tidak bertubuh. Anonim.”

Sophie mulai merasa bingung. “Maaf aku masih tidak mengerti bagairnana semua ini membuat Maria Magdalena sebagai Holy Grail.

“Aha!” Teabing berseru lagi. “Di situ letak pokoknya!” Dia memutari meja itü sekali lagi dan menarik selembar kartu besar, menebarkannya untuk Sophie. Kartu itu merupakan gambar silsilah yang rumit. “Sedikit orang yang tahu bahwa Maria Magdalena, sebelum menjadi tangan kanan Kristus, sudah merupakan perempuan yang berkuasa.” Sophie sekarang dapat melihat .judul pohon silsilah itu.

RUMPUN BENJAMIN

“Maria Magdalena di sini,” kata Teabing, sambil menunjuk mendekati puncak pohon silsilah itu. Sophie terkejut. “Dia dari keluarga Benjamin?” “Betul,” kata Teabing. “Maria Magdalena adalah keturunan bangsawan.” “Aku kira Magdalena perempuan miskin.” Teabing menggelengkan kepalanya. “Magdalena diperlakukan seperti pelacur supaya menghapus kenyataan bahwa dia berasal dari keluarga yang memiliki kekuasaan.”

Sophie mengerling pada Langdon lagi, yang juga mengangguk lagi. Sophie kembali kepada Teabing. “Tetapi mengapa Gereja terdahulu peduli bahwa Magdalena berdarah bangsawan?

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.