Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Di bawah dewi Mesir itu, di dalam perapian, dua gargoyles— batu berukir hewan—berfungsi sebagai penopang kayu bakar. Mulut hewan-hewan ukiran itu terbuka, mempertihatkan kerongkongan mereka yang dalam dan mengancam. Gargoyles selalu mernbuat Sophie kecil ketakutan, sebelum Saunière membawanya ke puncak katedral Notre Dame di waktu hujan badai. “Putri, lihatlah makhluk-makhluk bodoh ini,” kata kakeknya, sambil menunjuk pada gargoyle yang berfungsi sebagai ujung talang air, yang menyemburkan air hujan dari mulutnya. “Kau dengar suara lucu yang keluar dari tenggorokan mereka?” Sophie kecil mengangguk, tersenyum karena suara yang seperti berkumur dari mulut hewan-hewan itu. “Mereka berkumur,” kata kakeknya. “Gargariser! Dan, dan situlah mereka mendapatkan nama bodoh itu, gargoyles.” Sejak itu Sophie tidak pernah takut lagi.

Kenangan manis itu membuat Sophie merasa sedih karena kenyataan bahwa kakeknya telah dibunuh mencengkeram perasaannya lagi. Grand-père sudah pergi. Dia membayangkan cryptex itu di bawah kursi panjang dan bentanya-tanya apakah Leigh Teabing tahu bagaimana membukanya. Atau perlukah kita menanyakannya. Kata-kata terakhir kakek Sophie telah menyuruhnya untuk mencari Robert Langdon. Kakeknya tidak mengatakan untuk melibatkan orang lain lagi. Kita perlu tempat untuk bersembunyi, Pikir Sophie, memutuskan untuk mempercayai penilaian Robert.

“Sir Robert!” sebuah suara berseru dari belakang mereka. “Aku lihat kau bepergian dengan seorang nona?”

Langdon berdiri. Sophie juga terloncat dari duduknya. Suara itu datang dari puncak tangga yang berkelok ke lantai dua yang gelap. Pada puncak anak tangga, sesosok bayangan bergerak, hanya siluetnya yang tampak.

“Salamat malam,” seru Langdon. “Sir Leigh, perkenankan aku memperkenalkan Sophie Neveu.”

“Sebuah kehormatan bagiku,” kata Teabing sambil bergerak ke tempat yang lebih terang.

“Terima kasih mau menerima kami,” kata Sophie, sekarang dia dapat melihat lelaki itu mengenakan penyangga kaki dari metal dan penopang ketiak. Sir Leigh menuruni anak tangga satu demi satu. “Aku tahu, ini sudah sangat larut,” sambung Sophie.

“Ini tidak terlalu larut, sayangku. Ini terlalu awal.” Sir Leigh tertawa. “Vous netes pas Américaine?” Sir Leigh menanyakan apakah Sophie bukan orang Amerika. Sophie menggelengkan kepalanya.“Parisienne.” “Bahasa Inggrismu sangat istimewa.” “Terima kasih. Aku belajar di Royal Holloway.” “Pantas saja.” Lalu Teabing terpincang turun lagi melewati kegelapan. “Mungkin Robert telah mengatakan, aku belajar di Oxford saja.” Teabing tersenyum nakal kepada Langdon. “Tentu saja, aku juga melamar ke Harvard sebagai cadangan.”

Akhirnya tuan rumah itu tiba di dasar tangga. Bagi Sophie, Teabing tampak lebih sebagai Sir Elton John daripada seorang kesatria. Berperut gendut dan berwajah kemerahan, Sir Leigh Teabing berambut seperti semak merah dan mata coklat yang riang, yang selalu tampak bercahaya ketika sedang berbicara. Teabing mengenakan celana panjang berlipat dan kemeja dari sutera di bawah rompi wol yang bercorak halus. Walau kakinya ditopang dengan aluminium, Sir Leigh tetap bersikap tabah, berdiri tegak penuh percaya diri, sikap yang tampaknya lebih karena nenek moyangnya yang para bangsawan tinggi daripada dibuat-buat.

Teabing tiba di bawah dan mengulurkan tangan kepada Langdon. “Robert, kau telah kehilangan berat badanmu.” Langdon tersenyum. “Dan kau menemukannya sebagian.” Teabing tertawa riang, sambil menepuk-nepuk perut bulatnya. “Touché. Satu-satunya kegemaran jasmaniahku akhir-akhir ini tampaknya hanya masakmemasak.” Sekarang dia menoleh kepada Sophie. Dengan lembut dia mengambil tangan Sophie, dan menundukkan kepalanya sedikit, bernapas ringan pada jemari Sophie tanpa menatap matanya.“M’lady.” Sophie mengerling pada Langdon. Dia ragu apakah sedang berada di

zaman lampau atau di rumah sakit gila. Pelayan yang tadi membukakan pintu masuk membawa sebuah nampan

teh, yang langsung diaturnya di atas meja di depan perapian. “Ini Rémy Legaludec,” kata Teabing, “pelayanku.” Pelayan ramping itu mengangguk kaku dan menghilang lagi. “Rémy orang Lion,” bisik Teabing, seolah itu aib yang menyedihkan.

“Tetapi dia membuat saus yang sangat ,lezat.” Langdon tampak senang. “Aku tadinya mengira kau mendatangkan

pelayan dari Inggris.” “Oh, tidak. Aku tidak mau juru masak Inggris. Hanya orang Prancis, si pengumpul pajak.” Leigh menoleh kepada Sophie. “Pardonnez-moi, Mademoiselle Neveü. Yakinlah, ketidaksukaanku terhadap Prancis hanya dari segi politik dan sepak bola mereka saja. Pemerintah Anda mencuri uangku, dan kesebelasan sepak bola Anda akhir-akhir ini mempermalukan kami.” Sophie tersenyum manis. Teabing menatapnya sesaat dan kembali ke Langdon. “Ada yang telah

terjadi. Kalian berdua tampak gemetar.” Langdon mengangguk. “Kami telah melewatkan malam yang sangat

menarik, Leigh.” “Tak diragukan. Kalian datang di depan pintuku di tengah malam dan mengatakan tentang Grail. Katakan, apakah ini memang tentang Grail, atau kau mengatakan itu hanya supaya dapat membangunkanku dari tidur di tengah malam?”

Cenderung keduanya, pikir Sophie, sambil membayangkan cryptex yang tersembunyi di bawah bangku.

“Leigh,” kata Langdon. “Kami ingin berbicara denganmu tentang Biarawan Sion.”

Alis lebat Teabing tegak karena tergugah minatnya. “Para pengawal. Jadi ini memang tentang Grail. Kau katakan tadi, kau datang membawa informasi? Ada yang baru, Robert?”

“Mungkin. Kami tidak terlalu yakin. Mungkin kami punya gagasan yang lebih baik jika kami dapat memperoleh beberapa informasi darimu lebih dulu.”

Teabing menggoyangkan jarinya. “Selalu orang Amerika yang cerdik. Baiklah. Aku siap melayani kalian. Apa yang dapat kukatakan?”

Langdon mendesah. “Aku berharap kau akan mau berbaik hati untuk menjelaskan kepada Nona Neveu sifat sesungguhnya dari Holy Grail.” Teabing menatap terpaku. “Dia tidaktahu?” Langdon menggelengkan kepalanya. Senyuman yang terkembang pada wajah Teabing bisa dikatakan hampir

nakal. “Robert, kau telah membawa kepadaku seorang perawan?” Langdon mengedipkan matanya, dan menatap Sophie. “Perawan adalah kata yang digunakan oleh peminat Grail bagi semua orang yang belum pernah mendengar cerita Grail yang sesungguhnya.”

Teabing menoleh bersemangat kepada Sophie. “Sebanyak apa yang telah kau ketahui, Nona.”

Dengan cepat Sophie mengatakan secara garis besar apa yang telah didengarnya dari Langdon sebelum ini—Biarawan Sion, Templar, dokumen Sangreal, dan Holy Grail, yang banyak orang mengatakannya bukanlah sebuah mangkuk … melainkan sesuatu yang jauh lebih berarti.

“Itu saja?” Teabing menatap Langdon marah. “Robert, kukira kau pria terhormat. Kau telah mencuranginya habis-habisan!”

“Aku tahu, kukira mungkin kau dan aku dapat … “ Langdon tampaknya memutuskan untuk tidak menggoda Sophie terlalu lama.

Teabing sekarang menatap Sophie dengan mata jenakanya. “Kau betul betul perawan Grail, Nona. Dan, percayalah padaku, kau tidak akan melupakan saat pertamamu.”

 

55

SOPHIE DUDUK di atas kursi panjang di samping Langdon. Dia meminum tehnya dan makan kue scone. Dia merasakan pengaruh kafein dan makanan yang menyenangkan. Sir Leigh Teabing tampak berseri wajahnya ketika melangkah kaku ke depan perapian. Penopang kakinya berdentingan pada batu perapian.

“Holy Grail,” kata Teabing, suaranya terdengar seremonial. “Umumnya orang menanyakan padaku di mana Grail itu sekarang. Aku khawatir itu pertanyaan yang tidak akan pernah dapat kujawab.” Dia menoleh dan menatap langsung pada Sophie. “Namun … pertanyaan yang lebih relevan adalah: Apakah Holy Grail itu?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.