Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Langdon tidak tahu, namun dia dapat membayangkan hanya satu alasan pertanyaan ini diajukan. “Tentu saja parodi seperti itu tidak pernah terjadi.”

Pintu gerbang itu terbuka. “Hatimu memang jujur, temanku. Kau boleh masuk.”

 

53

“MONSIEUR VERNET!” manajer malam Bank Penyimpanan Zurich merasa lega suara presiden banknya di telepon. “Anda pergi ke mana tadi, Pak? Polisi di sini. Semua orang menunggu Anda!”

“Aku punya masalah kecil,” kata presiden bank itu, terdengar sedih. “Aku perlu bantuanmu segera.”

Anda punya lebih dari sekadar masalah kecil, pikir manajer itu. Polisi telah mengepung keseluruhan bank itu dan mengancam mendatangkan kapten DCPJ sendiri dan membawa surat izin penggeledahan yang diminta bank tadi. “Bantuan apa yang harus saya lakukan, Pak?” “Truk lapis baja nomor tiga. Aku harus menemukannya.” Dengan bingung, manajer itu memeriksa daftar pengiriman. “Ada di sini,

Pak. Di bawah, di dok pemuatan.” “Tidak. Truk itu dicuri oleh kedua buronan polisi itu.” “Apa? Bagaimana mereka bisa keluar?” “Aku tidak dapat menjelaskan dengan rinci di telepon, tetapi kita ada

masalah yang kemungkinan besar dapat mendatangkan kerugian pada bank.” “Apa yang harus saya lakukan, Pak?” “Aku mau kau mengaktifkan transponder darurat pada truk itu.” Mata manajer malam itu bergerak ke kotak pengendali Lojack di seberang ruangan. Seperti banyak mobil lapis baja, setiap truk bank telah dilengkapi dengan peralatan radio-kontrol yang dapat djaktifkan secara jarak jauh dari bank. Manajer itu hanya pernah menggunakan satu kali sistem darurat itu, setelah terjadi suatu pembajakan, dan alat itu berfungsi dengan sempurna— mencari lokasi truk itu dan mengirimkan kordinasi kepada yang berwenang secara otomatis. Namun, malam ini, manajer itu menarik kesan bahwa dia perlu bersikap lebih bijaksana. “Pak, Anda tahu bahwa jika saya mengaktifkan sistem Lojack, alat transponder itu akan sekaligus menginformasikan kepada pihak yang berwenang bahwa kita punya masalah.”

Vernet terdiam beberapa detik. “Ya, aku tahu. Kerjakan saja. Truk nomor tiga. Aku perlu tahu lokasi truk itu secara tepat. Aku tunggu sekarang.” “Segera, Pak.”

Tiga puluh detik kemudian, empat puluh kilometer jaraknya dari Bank, tersembunyi di bawah truk berlapis baja, sebuah transponder kecil berkedip menya1a. KETIKA LANGDON dan Sophie mengendarai truk lapis baja itu di sepanjang jalan yang kiri-kanannya diapit pepohonan, ke arah rumah itu, Sophie merasa otot-ototnya menjadi lebih kendur. Dia merasa lega telah keluar dari jalan umum, sehingga dia dapat memikirkan beberapa tempat lainnya yang aman bagi mereka, selain tempat tinggal berpintu gerbang milik orang asing yang ramah itu.

Mereka membelok mengikuti jalar yang memutar, dan tampaklah Puri Vilette di sebelah kanan. Bertingkat tiga dengan panjang setidaknya enam puluh meter, gedung itu dihiasi dinding batu kelabu yang disinari oleh lampu sorot di luar. Bagian depan gedung yang kasar itu rapi sejajar, menghadap ke taman yang indah dan danau yang bening. Lampu dari dalam rumah baru saja dinyalakan. Langdon tidak menghentikan mobilnya di depan pintu. Dia meneruskannya hingga ke tempat parkir yang berada di bawah pepohonan yang selalu rindang. “Jangan sampai mobil ini terlihat dari luar,” kata Langdon. “Atau, Leigh bertanya-tanya mengapa kita datang dengan truk berlapis baja yang hancur begini.”

Sophie mengangguk “Bagaimana dengan cryptex ini? Kita tidak dapat meninggalkannya di sini, bukan? Tetapi jika Leigh meilihatnya, dia pasti akan bertanya.”

“Jangan khawatir,” kata Langdon, lalu dia menanggalkan jasnya sambil keluar dari truk itu. Dia kemudian membungkus kotak kayu itu dengan jasnya dan membawa bungkusan itu seperti menggendong bayi. Sophie tampak ragu. “Hampir tidak kentara.” “Teabing tidak pernah menanyakan apa-apa pada tamunya; dia lebih suka mempersilakan tamunya masuk. Aku akan menemukan tempat untuk menyembunyikan ini di dalam, sebelum dia menemui kita.” Langdon terdiam sejenak. “Sebenarnya, aku harus mengatakan ini sebelum kau bertemu dengan Sir Leigh. Dia punya selera humor yang biasanya dianggap orang agak…aneh.”

Sophie ragu apakah masih ada yang lebih aneh daripada semua yang dialaminya malam ini.

Jalan kecil menuju pintu rumah itu dibuat dari bebatuan bulat yang diatur dan dipasang dengan tangan. Lalu jalan itu membelok menuju pintu dari kayu ek dan ceri yang diukir dan diberi hiasan pengeruk dari kuningan seukuran buah anggur. Sebelum Sophie dapat meraih pengetuk itu, pintu besar itu sudah terbuka ke dalam.

Seorang pelayan lelaki yang tampak kuno dan anggun berdiri didepan mereka, sambil memperbaiki dasi putih dan jas tuxedonya, walau sesungguhnya dia sudah sangat rapi. Pelayan itu tampak berusia sekitar lima puluhan, dengan penampilan yang necis dan tarikan wajah yang tegang. Langdon merasa seakan kehadiran mereka sangat mengganggunya. “Sir Leigh akan segera turun,” katanya. Aksen Prancisnya sangat kental. “Beliau sedang berganti pakaian. Beliau tidak suka menyambut tamu dengan hanya mengenakan baju tidur. Boleh saya ambil jas Anda?” Dia mengerutkan dahinya sambil melihat gulungan jas di tangan Langdon. “Tidak perlu. Aku tidak apa-apa,” kata Langdon. “Tentu saja. Silakan lewat sini.” Pelayan itu membawa mereka melewati sebuah ruang depan yang serba pualam ke sebuah ruang duduk yang sangat mewah dan diterangi dengan lembut oleh lampu-lampu antik zaman Ratu Victoria. Udara di dalam ruangan itu beraroma kuno, walau anggun. Aroma tembakau dan pipa, daun teh,sherry untuk masak dan aroma tanah yang berasal dari arsitektur bebatuan. Pada dinding yang jauh, di antara dua cerobong surat dari metal, terletak perapian yang cukup besar untuk memanggang seekor sapi jantan yang tersusun dari bebatuan yang ditata kasar. Si pelayan berjalan ke arah perapian tersebut, berjongkok dan menyentuh sebuah korek api sambil mempersiapkan balok kayu ek dan ranting-ranting. Tak lama kemudian api menyala.

Pelayan itu berdiri, merapikan jasnya. “Tuanku meminta anda untuk berlaku seperti di rumah sendiri.” Setelah itu dia pergi meninggalkan Langdon dan Sophie sendirian.

Sophie bingung juga harus memilih duduk di mana di antara kursi-kursi antik di dekat perapian itu. Apakah dia akan duduk di kursi panjang beludru zaman Renaissance, atau kursi goyang cakar elang yang tampak sudah berkarat, atau sepasang bangku gereja dari batu yang mungkin saja diambil dari sebuah kuil zaman Bizantinum.

Langdon membuka bungkusan cryptex, berjalan kea rah kursi panjang beludru, lalu menyelipkan kotak kayu itu di bawahnya sehingga tak terlihat dari luar. Kemudian dia mengibaskan jasnya dan mengenakannya lagi. Setelah itu dia tersenyum kepada Sophie dan duduk di atas kursi panjang itu, tepat di atas harta karun yang disembunyikannya. Akupilihkursipanjangitu, pikir Sophie, lalu duduk disamping Langdon. Ketika Sophie menatap api yang membesar dan menatap kehangatannya, dia merasa bahwa kakeknya pasti menyukai ruangan ini. Panel kayu berwarna gelap itu dihiasi dengan lukisan-lukisain karya pakar-pakar lama. Sophie mengenali salah satunya, sebuah lukisan Poussin, pelukis kesayangan kakeknya yang kedua. Pada rak di atas perapian, sebuah patung torso Isis dari batu pualam mengawasi ruangan.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.