Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Sophie menatap ke luar pada jalan gelap. “Jika kita pergi ke orang itu, seberapa banyak kau akan memberikan informasi kita?”

Langdon tampak tak siap. “Percayalah. Leigh Teabing lebih tahu tentang Biarawan Sion dan Holy Grail dibandingkan siapapun di bumi ini.” Sophie menatap tajam. “Lebih dari kakekku?” “Maksudku, orangdiluar persaudaraan itu.” “Bagaimana kautahu Teabing bukan anggota persaudaraan?’ “Teabing telah menghabiskan tentang Holy Grail. Anggota kerahasiaannya.” hidupnya Biarawan untuk menyiarkan bersumpah untuk kebenaran menjaga

“Terdengar seperti konflik kepentingan, bagiku.” Langdon mengerti kekhawatiran Sophie. Saunière telah memberikan cryptex rahasia langsung kepada Sophie, dan walau dia tidak tahu apa isinya atau apa yang harus dilakukannya, dia ragu untuk melibatkan orang yang benar-benar tidak dikenalnya, mengingat kemungkinan informasi itu tertutup, naluri mungkin merupakan hal yang baik untuk didengar. “Kita tidak perlu langsung mengatakan tentang batu kunci itu kepada Teabing. Atau sama sekali tidak. Kita bisa saja ke rumahnya hanya untuk bersembunyi dan berpikir. Mungkin ketika kita berbicara dengannya tentang Grail, kau akan mulai tahu mengapa kakekmu memberikan itu kepadamu.” “Kepadakita,” Sophie mengingatkan. Langdon merasa sedikit bangga walau bertanya-tanya lagi mengapa

Saunière melibatkannya. “Kautahu sedikit banyak di mana Pak Teabing tinggal?” tanya Sophie. “Rumahnya disebut Puri Villette.” Sophie berputar dan menatap Langdon dengan tatapan meragukan. “Puri

Villette itu?” “Ya, itulah. Kautahu?” “Aku pernah melewatinya. Itu di daerah puri. Dua puluh menit dari sini.” Langdon berkerut dahinya. “Sejauh itu?” “Ya. Kau jadi punya waktu cukup untuk menceritakan apa sebenarnya Holy

Grail itu.” Langdon terdiam. “Aku akan menceritakannya di rumah Teabing. Kami berdua mengkhususkan diri pada area legenda yang berbeda, sehingga jika kau berada di antara kami, kau akan mendapatkan cenita yang lengkap.” Langdon tersenyum. “Lagi pula, Grail sudah merupakan kehidupan Teabing, dan mendengarkan cerita tentang Holy Grail dari mulutnya akan seperti mendengarkan teori relativitas dari mulut Einstein sendiri.” “Semoga saja Leigh tidak berkeberatan dengan tamu tengah malam.” “Untuk dicatat, namanya Sir Leigh.” Langdon membuat kesalahan itu hanya satu kali. “Teabing orang yang unik. Dia dinobatkan sebagai ‘ksatria’ oleh Ratu beberapa tahun yang lalu setelah menyusun sebuah sejarah yang panjang tentang House of York.”

Sophie menatapnya. “Kau bercanda? Kita akan mengunjungi seorang knight?”

Langdon tersenyurn aneh. “Kita sedang dalam masalah Grail, Sophie. Siapa yang dapat menolong kita kalau bukan seorang kesatria?”

 

52

PURI VILLETTE terhampar seluas 185 ha, terletak dua puluh menit dari barat laut Paris di sekitar Versailles. Dirancang oleh Francois Mansart pada tahun 1668 untuk Count of Aufflay, Puri Villette merupakan salah satu puri bersejarah yang penting di Paris. Dilengkapi dengan dua danau persegi dan taman rancangan Le Nôtre, Puri Villette lebih sebagai puri yang sederhana daripada sebuah rumah mewah besar. Tempat tinggal itu lebih terkenal dengan namaLaPetiteVersailles—Versailles Kecil.

Langdon menghentikan truk lapis baja itu di sebuah perhentian yang mengeriikan di ujung jalan yang sepanjang satu mil. Jauh di dalam gerbang pengamanan yang mengagumkan, tempat kediaman Sir Leigh Teabing menjulang di atas sebuah padang rumput. Tanda yang terpasang di pintu gerbang itu tertulis dalam bahasa Inggris: MILIK PRIBADI. DILARANG MASUK.

Seolah menyatakan bahwa rumahnya merupakan sebuah kepulauan Britania, Teabing tidak hanya mencantumkan tanda itu dalam bahasa Inggris, tetapi juga memasang sistementry interkom pada pintu gerbang di sisi sebelah kanan truk—sisi sebelah tempat duduk penumpang untuk setiap mobil Eropa, kecuali Inggris.

Sophie melihat interkom yang salah tempat itu dengan aneh. “Bagaimana jika seseorang datang tanpa penumpang?”

“Jangan bertanya.” Langdon sudah sangat mengenal Teabing. “Dia lebih suka segalanya seperti di negerinya saja.” Sophie menurunkan jendelanya. “Robert, lebih baik kau saja yang bicara.” Langdon menggeser duduknya, mencondongkan tubuhnya ke arah Sophie untuk menekan tombol interkom. Ketika dia menekan tombol itu, hidung Langdon mencium bau parfum Sophie, dan dia baru sadar betapa dekat posisi mereka. Langdon menunggu, kemudian ada suara aneh, sementara sebuah telepon mulai berdering melaluispeaker kecil.

Akhirrrya, interkom itu terhubung dan suara beraksen Prancis dari seseorang yang terganggu berkata: “Puri Villette. Siapa yang datang?”

“Ini Robert Langdon,” seru Langdon, menjulur melintasi pangkuan Sophie. “Aku teman Sir Leigh Teabing. Aku memerlukan bantuannya.” “Tuanku sedang tidur. Juga aku tadi. Apa urusan Anda dengan Tuanku?” “lni urusan pribadi. Salah satu hal yang sangat menarik perhatiannya.” “Kalau begitu dia pasti akan senang menerima Anda besok pagi.” Langdon memindahkan berat tubuhnya. “Ini sangat penting.” “Begitu juga dengan waktu tidur Sir Leigh. Jika Anda temannya, maka Anda tahu dia tidak terlalu sehat.” Sir Leigh Teabing menderita polio sejak kecil. Sekarang dia mengenakan penyangga kaki dan berjalan menggunakan tongkat ketiak. Namun Langdon menganggapnya sangat bersemangat dan menarik pada saat terakhir kali mengunjunginya. Sir Leigh sama sekali tidak terlihat lemah. “Jika Anda mau, tolong sampaikan saya punya informasi baru yang belum jelas tentang Grail. Informasi tersebut tidak dapat menunggu sampai besok.” Lama tak ada jawaban. Langdon dan Sophie menunggu. Mesin truk menggerum keras. Satu menit penuh berlalu. Akhirnya seseorang berbicara. “Teman baikku, aku berani mengatakan bahwa kau masih dalam standar waktu di Harvard.” Suara itu nyaring dan ringan.

Langdon menyeringai, mengenali aksen Inggris yang kental. “Leigh, maafkan aku karena telah lancang membangunkanmu pada jam seperti ini.” “Pelayanku bilang bahwa kau tidak saja di Paris, tetapi juga berbicara

tentang Grail.” “Kupikir itu bisa membuatmu bangun dari tempat tidurmu.” “Aku sudah bangun.” “Kau mau membukakan pintu gerbang untuk teman lama?” “Mereka yang mencari kebenaran lebih dari sekadar teman. Mereka

saudara.” Langdon menaikkan bola matanya ke arah Sophie. Dia sangat terbiasa

dengan kegemaran Teabing akan drama kuno. “Aku memang akan membuka pintu gerbang,” kata Teabing, “tetapi pertama-tama aku harus yakin bahwa kau jujur. Sebuah tes untuk kehormatanmu. Kau akan menjawab tiga pertanyaan.”

Langdon menggeram, berbisik pada Sophie. “Sabarlah denganku di sini. Aku sudah katakan, orang ini agak unik.”

“Pertanyaan pertama,” kata Teabing, nada suaranya seperti Herkules. “Apakah aku akan menjamumu dengan kopi atau teh?”

Langdon tahu bagaimana perasaan Teabing tentang kopi orang Amerika. “Teh,” Langdon menjawab. “Earl Grey.” “Bagus sekali. Pertanyaan kedua. Susu atau gula? Langdon ragu. “Susu,” bisik Sophie pada telinga Langdon. “Kupikir orang Inggris lebih

suka susu pada tehnya.” “Susu,” kata Langdon. Sunyi. “Gula?” Teabing tidak menjawab. Tunggu! Langdon sekarang ingat minuman pahit yang pernah disajikan untuknya pada kunjungannya yang terakhir. Pertanyaan ini, dia sadar, pastilah sebuah jebakan.“Jeruknipis!” dia berseru. “Earl Grey denganjeruknipis.”

“Betul.” Teabing terdengar senang sekali sekarang. “Dan, akhirnya, aku harus menanyakan pertanyaan yang paling menyedihkan.” Teabing terdiam, kemudian berbicara dengan nada sopan. “Pada tahun berapa pendayung Harvard terakhir kalinya mengalahkan pendayung Oxford di Henley?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.