Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Silas jatuh berlutut di depan Uskup Aringarosa—orang yang telah memberinya kehidupan baru—dan berkata, “Aku domba Tuhan. Gembalakan aku sesuka hatimu.”

Ketika Aringarosa menjelaskan kesempatan yang telah muncul dengan sendirinya itu, Silas tahu ini pastilah karena tangan Tuhan. Keyakinan yang menakjubkan! Aringarosa menghubungkan Silas dengan seorang lelaki yang mengajukan rencana itu—seorang yang menyebut dirinya Guru. Walau Guru dan Silas tidak pernah bertemu muka, setiap kali mereka berbicara lewat telepon, Silas terpesona, baik karena keyakinan Guru yang mendalam maupun karena keluasan kekuasaannya. Guru tampaknya seorang lelaki yang tahu semua, lelaki dengan mata dan telinga di segala tempat. Bagaimana Guru mendapatkan informasi itu, Silas tidak tahu. Namun Aringarosa telah begitu percaya kepada Guru, dan uskup ini meminta Silas untuk juga memercayainya. “Lakukan apa yang Guru perintahkan,” kata Uskup kepada Silas, “dan kita akan menang.”

Menang. Sekarang Silas menatap lantai kosong dan takut kemenangan telah menghindari mereka. Guru telah ditipu. Batu kunci itu rnerupakan jalan buntu yang memperdayakan. Dan, dengan penipuan itu, segala harapan telah hilang.

Silas berharap bisa menelepon Uskup Aringarosa dan memperingatkannya namun Guru telah menghapus jalur komunikasi langsung malam ini. Untuk keamanankita.

Akhirnya, setelah mengatasi keragu-raguan yang luar biasa, Silas merangkak, lalu bangun dan mengambil jubahnya yang tergeletak di atas lantai. Dia merogoh telepon genggam dari sakunya. Dengan tertunduk malu, dia memutar nomor.

“Guru,” dia berbisik, “semua sudah hilang.” Dengan jujur Silas mengatakan kepada lelaki itu bagaimana dia diperdaya.

“Kau kehilangan kepercayaanmu terlalu cepat,” Guru menjawab. “Aku barn saja menerima berita. Sangat tidak terduga namun menyenangkan. Kehidupan rahasia. Jacques Saunière telah memberikan informasi sebelum dia mati. Aku akan meneleponmu segera. Pekerjaan kita malam ini belum selesai.”

 

47

NAIK MOBIL kargo di dalam ruangan yang remang-remang adalah seperti dipindahkan ke dalam sebuah sel pengasingan. Langdon berusaha mengatasi rasa cemas yang selalu menghantuinya saat dia berada dalam ruangan tertutup. Vernetmengatakandiaakanmembawakitaketempatyangjauhlagiamandi luarkota.Dimana?Seberapajauh?

Kaki Langdon telah menjadi kaku karena duduk bersilang di atas lantai metal. Dia mengganti posisinya, mengernyit ketika merasakan darahnya mengalir kembali ke bagian bawah tubuhnya. Pada lengannya, dia masih memegangi harta karun aneh yang mereka ambil dari bank tadi.

“Kurasa kita sedang berada di jalan tol sekarang,” bisik Sophie. Langdon juga merasakan itu. Setelah terhenti dengan menakutkan di atas jalur bank tadi, truk itu kini telah bergerak, berkelok ke kin dan kanan selama satu atau dua menit, dan sekarang melaju dalam kecepatan tertinggi. Di bawah mereka, roda-roda tahan peluru menderu di atas jalan halus. Langdon memaksakan diri memusatkan perhatiannya pada kotak kayu mawar dalam tangannya. membuka Sekarang dia meletakkan bungkusan berharga itu di atas lantai, bungkusan jasnya dan mengeluarkan kotak itu, lalu mendekatkannya pada tubuhnya sendiri. Sophie mendekatkan posisinya sehingga mereka duduk bersebelahan. Tiba-tiba Langdon merasa mereka seperti dua orang anak yang mengerumuni hadiah Natal.

Berlawanan dengan warna hangat dari kayu mawar kotak itu, bunga mawar di bagian dalamnya tampak diukir pada kayu yang pucat, kemungkinan abuabu, yang bersinar terang pada cahaya remang-remang. Mawar itu. Seluruh tentara dan agama telah dibangun di atas simbol ini, seperti memiliki perkumpulan rahasia.TheRosicrucians.KesatriaPalangMawar. “Ayo,” kata Sophie. “Bukalah.” Langdon menanik napas dalam. Menyentuh tutupnya, dia sekali lagi mengerling kagum pada kotak kayu yang terukir rumit itu. Setelah melepas kaitannya, dia pun membuka tutupnya, menyingkap misteri yang ada di dalam.

Langdon telah berkhayal tentang beberapa hal yang mungkin mereka temukan di dalam kotak itu, tetapi dia jelas salah total. Benda itu terletak aman di dalam kotak yang bagian dalamnya dilapisi dengan sutera tebal. Langdon tidak tahu benda apa itu.

Dibuat dan pualam putih yang halus, benda itu adalah sebuah silinder batu kira-kira seukuran kaleng penyimpan bola tennis. Walaupun begitu, benda ini lebih rumit dari sekadar pilar batu ; ia tampaknya tersusun dari beberapa bagian. Lima cakram pualam berukuran donat ditumpuk dan direkatkan satu sama lain dalam bingkai kuningan yang halus. Benda itu tampak seperti semacam pipa, kaleidoskop multi putaran. Setiap ujung dari silinder itu direkatkan dengan sebuah penutup, juga dari pualam, sehingga tidak mungkin untuk melihat ke dalamnya. Karena mendengar suara benda cair di dalamnya, Langdon menyimpulkan bahwa silinder itu berongga di tengah.

.Konstruksi silinder itu begitu menakjubkan. Walau begitu, ukiran di sekeliing silinder itulah yang menarik perhatian utama Langdon. Masingmasing cakram telah diukir dengan sangat hati-hati dengan serangkaian huruf berbeda yang sama—keseluruhan abjad. Silinder berhuruf itu mengingatkan Langdon pada mainannya di masa kanak-kanak—sebuah gulungan benang dengan tabung berhuruf yang dapat diputar untuk mengeja berbagai kata. “Mengagumkan, bukan?” bisik Sophie. Langdon menatapnya. “Aku tidak tahu. Apa gerangan ini?” Sekarang ada sinar pada mata Sophie. “Kakekku pernah membuat seperti

ini sebagai hobi. Benda ini diciptakan oleh Leonardo da Vinci.” Walau dalam keremangan, Sophie dapat melihat Langdon terkejut “Da Vinci?” Langdon bergumam, sambil melihat lagi slinder itu. “Ya. Namanya cryptex. Menurut kakekku, cetak birunya berasal dari

buku harian rahasia Da Vinci.” “Untuk apa ini?” Mengingat apa yang terjadi malam ini, Sophie tahu jawabannya mungkin memiliki implikasi menarik. “Itu tempat penyimpanan,” katanya. “Untuk menyimpan informasi rahasia.” Mata Langdon menjadi lebih lebar. Sophie menjelaskan bahwa membuat benda seperti yang ditemukan Da Vinci ini adalah salah sam hobi kakeknya yang terbaik. Sebagai seorang pengrajin berbakat yang menghabiskan waktu berjam-jam di bengkel kayu dan metalnya, Jacques Saunière menikmati peniruan karya para pakar—Fabergé, para ahli pekerjaan tangan halus, dan ahli yang kurang artistik tetapi jauh lebih praktis, Leonardo da Vinci.

Bahkan pandangan sekilas pada buku harian Da Vinci sudah bisa mengungkapkan mengapa orang termasyhur itu, selain terkenal hebat, juga terkenal buruk karena tidak melakukan tindak-lanjut atas penemuannya. Da Vinci telah membuat cetak biru dari ratusan penemuan yang tak pernah dilaksanakannya sendiri. Salah satu kegiatan pengisi waktu Saunière adalah menghidupkan ide-ide Da Vinci yang kurang jelas—jam, pompa air, cryptex dan bahkan patung kesatria Prancis yang ditiru secara lengkap yang sekarang berdiri gagah di atas meja kerja di kantor Sauniere. Patung itu dirancang oleh Da Vinci pada tahun 1495 sebagai perkembangan dari studi pertamanya dalam anatomi dan kinesiologi. Mekanisme internal robot kesatria itu memiliki sendi dan tendon yang akurat, dan dirancang untuk dapat melakukar sit-up, melambaikan tangan, dan menggerakkan kepala dengan leher yang lentur sambil membuka dan menutup rahang yang sempurna. Sophie selalu percaya, kesatria berbaju besi ini meru benda terindah yang pernah dibuat kakeknya … itu sebelumn Sophie melihat cryptex yang ada di dalam kotak kayu mawar itu.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.