Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Ketjka Langdon menanggalkan jasnya, Vernet bergegas kembali ke ban berjalan itu; menutup peti plastik yang sekarang sudah kosong, kemudian mengetik serangkaian perintah sederhana. Ban berjalan itu bergerak lagi, kembali ke ruang besi. Lalu dia menarik keluar kunci emas itu dan memberikannya kepada Sophie. “Kesini. Cepat.” Ketika mereka tiba di bagian dok pengangkutan dibelakang, Vernet dapat melihat kilatan lampu polisi memeriksa garasi dibawah tanah. Dia mengerutkan keningnya. Mungkin mereka menutup jalur itu juga.Apakahaku betul-betulmaumencobamelakukannya? Dia sekarang berkeringat.

Vernet menunjuk pada salah satu truk kecil berlapis baja milik bank itu. Transport sur merupakan pelayanan berikutnya yang ditawarkan Bank Penyimpanan Zurich. “Masuklah dibagian kargo,” katanya sambil membuka pintu belakang yang berat dan menunjuk pada ruang baja berkilat. “Aku akan segera kembali.”

Ketika Sophie dan Langdon naik, Vernet bergegas ke kamar pengawas melintasi dok pengangkutan, kemudian masuk, mengambil kunci truk, dan menyambar jas dan topi seragam pemudi. Setelah menanggalkan jas dan dasinya, dia mengenakan seragam tadi. Sambil berjalan ke luar, dia meraih pistol pengemudi dari raknya, lalu menguncinya dan memasukkannya ke dalam sarungnya. Kembali ke truk, Vernet menekan topi pengemudinya sedalam mungkin dan melongok ke Sophie dan Langdon yang berdiri di dalam kotak lapis baja yang kosong.

“Kalian akan lebih suka ini menyala,” kata Vernet sambil menjangkau ke dalam dan menyalakan tombol lampu di dinding sehingga sebuah lampu kecil menyala pada atap truk. “Dan sebaiknya kalian duduk. Jangan bersuara sampai keluar dari gerbang.”

Sophie dan Langdon duduk di atas lantai metal. Langdon mengayun ayunkan benda berharga itu dalam jas wolnya. Vernet menutup pintu berat itu, lalu mengunci mereka di dalam. Setelah itu, dia duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin.

Ketika mobil lapis baja itu bergerak ke jalur atas, Vernet dapat merasakan keringatnya mulai mengumpul di balik topi pengemudinya. Ternyata di depan ada lebih banyak kilatan mobil polisi daripada yang dia bayangkan tadi. Ketika truk itu menambah kecepatan, gerbang dalam mengayun ke dalam, memberinya jalan keluar. Vernet melaju ke luar, kemudian berhenti menunggu pintu di belakangnya tertutup kembali sebelum dia melanjutkan perjalanan dan melewati sensor berikutnya. Gerbang kedua terbuka, dan jalan keluar siap dilewati. Kecualibagimobilpolisiyangmemblokirjaluratas. Vernet mengusap alisnya dan meluncur lagi. Seorang petugas bertubuh kurus melangkah ke luar dan memberi isyarat padanya untuk berhenti beberapa meter dari jalan yang ditutup. Empat mobil patroli diparkir di luar gedung bagian depan.

Vernet menghentikan mobilnya. Dia menarik topi pengemudinya lebih ke bawah. Dia membuat wajahnya sekasar yang diperbolehkan oleh pendidikan budayanya. Dia tidak bergerak dari belakang kemudi, hanya membuka jendela dan menatap ke bawah pada agen polisi yang wajahnya galak dan pucat. “Ada apa?” tanya Vernet dalam bahasa Prancis. Nadanya kasar. “Saya Jérôme Collet,” kata agen itu. “Letnan Polisi Judisial.” Dia bergerak

ke bagian kargo truk itu. “Ada apa di dalamnya?” “Mana aku tahu,” jawab Vernet dalam bahasa Prancis yang kasar. “Aku

hanya pengemudi.” Collet tampak tak terkesan. “Kami sedang mencari dua orang kriminal!” Vernet tertawa “Kalau begitu kau datang ke tempat yang tepat. Beberapa dari bedebah-bedebah di sini punya begitu banyak uang. Mereka pasti kriminal.”

Agen itu mengacungkan foto ukuran paspor, foto Robert Langdon. “Apakah orang ini ada di bankmu malam ini?”

Vernet menggerakkan bahunya. “Tidak tahu. Aku hanya orang bawahan di dok. Mereka tidak mengizinkan aku berdekatan dengan nasabah. Kau harus masuk dan tanya kepada petugas di meja depan.” “Bankmu meminta surat izin penggeledahan sebelum kami boleh masuk.” Vernet membuat tarikan wajah jijik. “Administrasi. Jangan buat aku

mulai.” “Harap buka trukmu,” kata Collet sambil menunjuk kargo. Vernet menatap agen itu dan memaksakan tawa yang menjengkelkan. “Membuka truk? Kaupikir aku punya kunci? Kaupikir mereka memercayai kami? Kau harus melihat berapa aku dibayar.”

Kepala agen itu miring ke satu sisi. Keragüannya terlihat. “Kau tidak punya kunci trukmu sendiri?”

Vernet menggelengkan kepalanya. ‘Tidak untuk membuka kargo. Hanya kuncistart. Truk ini dikunci oleh mandor di dok pemuatan. Lalu truk ini diam di dok. Pada saat itu, seseorang membawa kunci kargo ke tempat tujuan. Begitu kami mendapat pemberitahuan bahwa kunci itu sudah ada pada penerima, barulah saya boleh membawa truk ini. Tidak boleh satu detik pun sebelumnya. Aku tidak pernah tahu apa yang kuangkut.” “Kapan truk ini dikunci?” “Pastilah beberapa jam yang lalu. Aku mengemudi ke St. Thurial malam

ini. Kunci kargo sudah ada di sana.” Agen itu tidak menjawab. Matanya menyelidik seolah mencoba membaca

pikiran Vernet. Setetes keringat siap-siap meluncur turun ke hidung Vernet. “Boleh?” katanya sambil menghapus hidungnya dengan lengan bajunya dan menunjuk mobil polisi yang menutup jalannya. “Jadwalku ketat.”

“Apa semua pengemudi memakai Rolex?” tanya agen itu sambil menunjuk pergelangan tangan Vernet.

Vernet melihat ke bawah dan melihat tali jam yang berkilauan dari jam tangannya yang sangat mahal itu. Jam tangannya mengintip dari bawah lengan jasnya. Sialan. “Jam murahan ini? Aku membelinya seharga dua puluh euro dari seorang pedagang kaki lima Taiwan di St. Germain des Près. Aku mau menjualnya empat puluh euro. Minat?”

Agen itu terdiam dan akhirnya melangkah ke tepi. “Tidak, terima kasih. Selamat jalan.”

Vernet tidak bernapas lagi hingga truk itu betul-betul berada lima puluh meter di jalan. Dan sekarang, dia punya masalah lain. Muatannya itu. Ke manaakuakanmembawamereka?

46

SILAS TERBARING menelungkup di atas kasur kanvas di kamarnya, membiarkan luka cambukan di punggung mengering terkena udara. Sesi kedua Disiplin malam ini membuatnya lemah dan pusing. Dia belum membuka ikatancilice-nya, dan dia dapat merasakan darah menetes di bagian dalam pahanya. Namun dia tidak membenarkan diri untuk membukanya. AkutelahmengecewakanGereja. Lebihburuklagi,akusudahmengecewakanUskup. Malam ini seharusnya menjadi penyelamatan Uskup Aringarosa. Lima bulan yang lalu, Aringarosa kembali dari pertemuan di Observatorium Vatikan. Di sana dia mengetahui sesuatu yang membuatnya sangat berubah. Setelah bersedih selama beberapa minggu, akhirnya Aringarosa menceritakan berita itu kepada Silas. “Tetapi ini tidak mungkin!” seru Silas. “Aku tidak bisa menerimanya!” “Betul,” kata Aringarosa. “Tak masuk akal tetapi betul. Hanya dalam

waktu enam bulan.” Kata-kata uskup itu menakutkan Silas. Dia berdoa memohon pembebasan dan bahkan pada hari-hari kelabu itu, kepercayaannya kepada Tuhan dan The Way tak pernah goyah. Hanya satu bulan kemudian, awan-awan itu terkuak secara ajaib dan cahaya kemungkinan memancar keluar. CampurtanganTuhan, begitu Aringarosa menyebutnya. Uskup Aringarosa terlihat penuh harapan lagi. “Silas,” dia berbisik. “Tuhan telah melimpahkan kesempatan untuk melindungi The Way. Peperangan kita, seperti semua peperangan, akan meminta pengorbanan. Kau mau menjadi prajurit Tuhan?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.